Loader

Legiun Bandit dan Sebuah Kompas

 

Oleh Hassan Blasim

 

Abu Hadid menandaskan arak yang tersisa di botol. Dengan perangai kalem selepas mengganja, ia rapatkan wajahnya ke hadapanku, lalu memberiku wejangan. “Dengar, Mahdi. Aku kira hidupku telah terlampau kacau, dan cepat atau lambat kesialan akan menimpaku. Kau masih tujuh belas tahun, dan mesti kuajari kau bagaimana menjadi penguasa. Untuk hidup di jalanan kau mesti pintar bersiasat. Bagiku tak ada bedanya kau terbunuh saat ini ataupun tiga puluh tahun kemudian. Kau mesti memikirkan hari ini, dan kau akan melihat bagaimana ketakutan terpancar di mata orang-orang. Orang yang dikuasai rasa takut akan memberikan segalanya padamu. Bila seseorang mencelamu dengan berkata, “Tuhan mengharamkan itu” atau “Kau tidak beradab”, hajar saja mereka, karena tuhan yang mereka katakan tak lebih dari omong kosong. Begitulah mereka memahami tuhan, tak usah kau hiraukan. Kau adalah Tuhan bagi dirimu sendiri, berkuasa atas hidupmu sendiri. Tuhan tak akan ada tanpa ada yang menyembahnya atau orang-orang lemah yang rela kelaparan dan menderita atas namanya. Kau mesti belajar bagaimana menjadikan dirimu Tuhan di atas bumi yang kau pijak, dan orang-orang akan menyembahmu dan menjadi pelayan setiamu. Hari ini aku tak ingin kau berbicara sepatah kata pun. Kau mesti mengikutiku apapun yang terjadi. Paham kau, tengik?”

Ia lempar botol arak ke tembok dan menghujamkan pukulan pelan namun berat pada hidungku.

Kami berjalan melalui kegelapan danjalanan berlumpur. Rumah-rumah yang porak-poranda setelah diterpa badai kembali menampakan diri seperti orang murung. Di dalamnya orang-orang tengah tertidur dan bermimpi. Semuanya tampak basah kuyup dan menyedihkan. Angin yang menghembus kelokan jalan di sepanjang sore terasa makin deras, dan berlalu meninggalkan hawa dingin mencekam yang mengambang di seluruh penjuru –pemukiman yang jenuh di mana aku akan menghabiskan seluruh hidupku.Aku selalu membayangkan bagaimana ibu dan keluarganya turun-temurun tinggal di pemukiman seperti ini. Tempat kumuh yang mencerminkan kesengsaraan. Bahkan aku tak pernah menyadari keberadaan ibu sebagai manusia. Ibu menghabiskan waktunya meringkuk dan meratap di pojok dapur seperti anjing yang dijerat untuk kemudian dipukuli.Bapak akan menyiksanya, sembari menghujaninya dengan sumpah serapah, lalu  ketika ibu merasa sudah tak tahan dan putus asa, dia akan meraung-raung, “Mengapa, ya Tuhan? Mengapa?  Tolonglah, selamatkan hambamu ini.”

Lantas bapak beranjak, melepas seutas tali dari sorban yang ia kenakan, dan mencambukibu tiga puluh menit tanpa henti; meludahinya berkali-kali.

Darah mengucur dari hidungku. Sambil tetap tengadah, aku terus melangkah mengikuti Abu Hadid. Semilir bau ikan yang dibumbuitercium dari balik jendela si Majid seorang polisi lalu-lintas. Dia pastitelah mabuk berat, menggoreng ikan tengah malam begini. Kami memasuki gang sempit yang berliku. Abu Hadid mengambil batu dan menimpuk dua ekor kucing yang tengah bertengkar di atas tumpukan sampah. Mereka lalu meloncat ke jendela rumah kosong milik Abu Rihab. Sampah menumpuk hampir sejajar dengan atap rumah. Pemerintah mengeksekusi Abu Rihab dan menyita rumahnya. Mereka berkata bahwa keluarganyatelah kembali ke negara asal di mana suku mereka tinggal. Abu Rihab mempunyai hubungan dengan partai Daawa, sebuah organisasi terlarang. Setahun setelah menjalani penyiksaan dan interogasi di berbagai tempat milik dinas militer, ia lalu didakwa sebagai pengkhianat dan kemudian ditembakmati. Sosok putrinya yang teramat cantik, Rihab, tak mungkin terlupakan. Ia bagaikan tiruan sempurna sosok Jennifer Lopez dalam film U Turn. Aku sudah menyaksikan banyak film di rumah Abbas, penyair yang tinggal di sebelah rumah itu. Ia memiliki banyak film yang takkan pernah ditayangkan stasiun tv nasional dalam kurun waktu seratus tahun. Beberapa pemuda telah mencoba melamar Rihab lewat surat-surat cinta, namun ia tak lebih seorang wanita bodoh yang tak mengerti apapun selain menyiram tanaman dan mencuci tangan ayahnya, seorang anggota partai Daawa itu, ketika ayahnya hendak bersembahyang.

Abu Hadid, kakakku yang paling besar, berhenti di depan pintu rumah Umi Hanan. Ia seorang janda dari Allawi Shukr, dan orang-orang sekitar sering mengolok-olok sosoknya memberinya nama panggilan Hanan Aleena, yangkurang lebih berarti “gampangan”.Kami masuk ke dalam dan duduk di atas bangku kayu dengan sandaran yang sudah bobrok. Umi Hanan meminta salah seorang putrinya membasuh mukaku dan memeriksa keadaanku. Putrinya lalu menyumbat hidungku dengan kapas. Umi Hanan mempunyai tiga anak gadis yang cantik, yang berpenampilan seperti suster. Kakakku tidur dengan Umi Hanan. Setelahnya, ia menyetubuhi anak perempuanUmi Hanan yang paling muda dua kali. Kemudian, ia menyuruh Umi Hanan untuk menyetubuhiku. Aku terkejut ia tidak menyuruh perempuan yang mestinya seumuran denganku. Lalu Abu Hadid merampas uang dan tiga bungkus rokok dari Umi Hanan, dan memberikan sebungkus padaku.

Kami melanjutkan perjalanan, menyusuri jalanan berlumpur. Abu Hadid memelankan langkah, lalu mengambil langkah mundur dan berhenti di pintu Abu Mohammed, seorang montir. Ia menggedor pintu menggunakan kakinya. Pria tersebut keluar dengan gamis putih sementara perut buncitnya menyembul. Matanya membelalak ketika Abu Hadid mengucapkan salam padanya. Aku dan teman-teman menjulukinya “gerbil1yang menelan melon.” Ia sering mengupahiku dan teman-teman beberapa pil sebagai imbalantelah melubangi ban-ban mobil di sekitar tempatnya agar usahanya berjalan mulus. Kami kerap berunding untuk seberapa banyak pil yang diperoleh dari ban-ban itu. Kakakku menyuruhku melepaskan baju yang telah berlumuran darah dan mengatakan pada si montir agar memberikanku baju bersih. Si gerbil patuh dan kembali dengan kauswarna biru wangi sabun. Kaus itu milik anaknya, seorang mahasiswa di perguruan tinggi medis, yang kelihatan masih baru. Aku terkejut kausnya begitu pas di badanku. Kakakku mendekat dan berbisik ke kuping si montir, lalu muka si montir seketika berubah jadi makin gelap dari biasanya.

Kami melewatijalan utama menuju ke pemukiman lain. Sepanjang jalan aku bertanya-tanya apa yang Abu Hadid bisikkan di kuping si gerbil. Abu Hadid terbatuk dengan suara keras, dan dadanya mengembik seperti traktor tua milik pamanku. Ia tak mengatakan apapunsepanjang jalan. Ia menyulut dua batang rokok bersamaan dan memberikan salah satunya padaku. Saat itu sudah lewat tengah malam. Aku tak tahu siapa yang tinggal di pemukiman ini, selain bocah bengal yang pernah satu sekolahan dengan kami. Dia pernah sekali memukulku, namun aku tak pernah berniat balas dendam dengan menyodokan jariku ke pantatnya. Ketika ia mengetahui bahwa aku adalah adik Abu Hadid, ayahnya datang ke sekolah dan memintaku memukul anaknya.

Orang-orang dibuat tak berdaya karena kebengisan kakakku. Reputasi kekejamannya menyebar di seantero kota.  Ia mampu mengelabui polisi dan aparat lain hingga bertahun-tahun—sampai suatu hari ia dihukum mati di depan umum. Bahkan musuh-musuhnya turut berduka karena hal buruk yang menimpanya itu. Selama hidupnya, ia seringkali membela orang-orang—seperti melawan kekejian partai yang sedang berkuasa. Abu Hadid tak membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Ia memiliki kegilaan tersendiri. Sekaliwaktu ia pernah melempar granat ke kantor partai ketika “kamerad”2menghukum seseorang yang mengelak dari wajib milter. Di lain waktu ia pernah memutilasi wajah seorang pedagang buah yang malang, dengan sebab sederhana, ia sangat mabuk dan sedang ingin ingin melakukan hal itu. Abu Hadid selalu membuat onar selama sekitar delapan tahun, sampaisuatu saat ia dihentikan oleh tukang cukurbernama Jhonny. Di malam saat kejadian itu Abu Hadid memperkosa anak perempuan Johnny di loteng rumahnya. Polisi menggerebek lalu menembak kakinya. Seminggu kemudian ia dieksekusi. Ibu dan ketujuh adikku meratapinya sepanjang tahun, berbeda dengan bapakku yang merasa lega karena terbebas dari kejenakaan anaknya yang selalu memberontak.

Abu Hadid mengetuk pintu berkarat yang masih menampakkan bercak cat hijau di beberapa bagian menyerupai katak. Kami disambut lelaki paruh baya berkumis tebal yang selalu menutupi giginya saat berbicara. Kami duduk di ruang tamu di hadapan televisi. Aku menyimpulkan bahwa pria tersebut tinggal sendirian. Ia pergi ke dapur dan kembali dengan sebotol arak. Botol dibuka lalu dituangkannya ke dalam gelas. Kakakku menyuruhnya untuk menuangkan segelas untukku. Kami terduduk dalam diam, lalu aku dan lelaki itu menyaksikan pertandingan sepak bola antar tim lokal, sementara kakakku menatap ke dalam tangki ikan kecil.

“Kau pikir ikan senang berada di dalam tangki?” tanya kakakku, tenang juga serius.

“Selama mereka makan dan minum dan berenang, mereka baik-baik saja,” balas si pria, tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.

“Apa ikan minum air?”

“Tentu saja. Mereka minum.”

“Bagaimana bisa ikan minum air asin?”

“Tentu mereka punya caranya. Memang bagaimana mereka bisa ada di dalam air dan tidak minum?”

“Jika mereka berada di dalam air, mestinya mereka tak butuh minum.”

“Mengapa tak kau tanyakan saja pada ikan di dalam tangki itu?”

Sebelum pria gundul itu sempat menoleh dan menatapnya, kakakku sudah lebih dulu menyergapnya bagai harimau yang geram. Ia membanting tubuhnya ke lantai, lalu  jongkok diatas dadanya dan menjepitkedua lengannya ke celahlipatan lutut kakakku. Secepat kilat ia mengeluarkan pisau dari sakunya, menodongkannya dekat mata lelaki tersebut, kemudian mulai berteriak secara histeris di hadapan wajahnya, “Jawab, kau bajingan! Bagaimana bisa ikan minum air asin? Jawab, kau anak sundal! Jawab! Ikan itu minum air atau tidak? Jawab, tolol!”

Abu Hadid menyumbatkan mentimun ke bokong lelaki itu lalu kami pergi. Aku tak pernah mengerti apa yang sesungguhnya terjadi antara lelaki itu dan kakakku. Kami menuju lapang parkir. Pemuda kurus, setahun lebih muda dari kakakku, tengah bersandar pada sebuah Chevrolet Malibu merah tahun tujuh puluhan. Ia merangkul kakakku dengan hangat, dan kurasa Abu Hadid dan pemuda tersebut adalah sahabat karib. Kami pergi menggunakan mobil itu, merokok dan mendengarkan lagu pop tentang kekasih yanghendak berpisah. Kami masuk jalan tol menuju pinggiran kota. Abu Hadid mematikan radio tape, rebahan di kursi dan berkata, “Murad, ceritakanpada adikku kisah tentang bocah Pakistan itu.”

“Tentu, tak masalah,” balas Murad Harba.

“Dengar, Mahdi. Beberapa tahun yang lalu aku nekat melarikan diri ke Iran. Aku berencana meninggalkan tempat ini dan tinggal diTurki danmelupakan negara yang telah bobrok ini. Aku tinggal di sebuah rumah kumuh di utara Iran, bersama orang-orang yang datang dari Pakistan, Afghanistan, dan Iraq, juga dari mana pun tuhan melacurkan buminya. Kami menunggu merekayang akan mengantarkan kami pada seorang pribumi penyelundup yang hendak membawa kami melewati perbatasan yang sangat ketat. Di sanalah aku bertemu bocah Pakistan. Ia seumuran denganmu, bocah yang baik, polos dan sangat tampan. Ia bicara sedikit bahasa Arab, tapi ia telah hafal al-Quran. Ia selalu merasa ketakutan. Dan ia punya benda aneh yang menjadi miliknya: sebuah kompas. Ia akan meletakkan itu di telapak tangannya seumpama kupu-kupu dan menatapnya. Kemudian, ia akan menyembunyikannya dalam sebuah kantung yang terkalung di lehernya seperti liontin emas. Ia tengah gantung diri di toilet saat petugas keamanan Iran menggerebek rumahnya. Mereka menjebloskan kami ke penjara dan kerap kali menyiksa kami. Setelah mereka merasa puas menganiaya kami, barulah kami bisa sedikit bernafas dan mulai mengenali para tahanan lainnya. Salah seorang yang mengobrol dengan kami adalah warga Iraq yang dipenjara karena kedapatan mengedarkan ganja. Ia lahir di Iran. Pemerintah mendeportasi keluarganya dari Baghdad setelah perang pecah dengan alasan ia memiliki asal-usul kebangsaan Iran. Kuberi tahu padanya tentang seorang bocah Pakistan yang gantung diri. Pria tersebut betul-betul marah atas bocah miskin itu, ia bilang bahwa sebelumnya ia pernah bertemu dengannya, bahwa ia seorang anak yang baik, dan darinya ia tahu seluruh kisah tentang kompas itu.

“Pada 1989 di kota Peshawar, Pakistan, Syekh Abdullah Azzam, bapak spiritual jihadis di Afghanistan, sedang berada di mobil dalam perjalanannya hendak beribadah di sebuah masjid yang sering dikunjungi orang-orang Afghan Arab—orang Arab yang pergi untuk berperang di Afghanistan. Mobilnya meledak bagai sedang menyebrangi jembatan di dalam beliung badai. Dua anaknya tengah bersamanya dan keduanya koyak-moyak. Berdasar muazin masjid, yang langsung bergegas ke tempat kejadian ledakan, tubuh Azzam tampaknya tak tersentuh. Tak tergores sedikitpun. Di sana hanya ada darah tipis mengalir dari tepian bibir Syekh yang sudah mati. Itu bencana yang mengerikan—al Qaeda mengaku sebagai pelaku pembunuhan syekh yang dituduh sebagai antek-antek Uni Soviet itu, mungkin untuk memberi mereka kekebalan hukum penuh sebagai organisasi.

“Sebelum semua berkumpul, Malik sang muazin mendapati kompas berada dekat dengan serpihan mobil. Ketika dia mengelap darah darinya, punggungnya langsung merinding. Itu kompas seorang tentara dengan ukiran nama Allah dan Muhammad. Jelas bagi sang muazin bahwa itu adalah kompas suci milik syekh, yang terberkati oleh tuhan dan sebagai sumber bagi mukjizat-mukjizatnya. Banyak dari para mujahidin mengklaim bahwa kompas bakal berubah menjadi merah darah seketika tuhan mengisyaratkan tentang baik dan buruk pada seseorang yang tengah membawanya. Azzam tak pernah berpisah dengan kompasnya selama hidup berjihad. Malik lantas menyembunyikannya di rumah selama sepuluh tahun. Ia membawanya setiap malam, memolesnya, lalu menatapnya, sembari menyeka air mata kesedihan atas kematian syekh sang mujahid.

“Sang muazin memberikannya pada sang anak, Waheed, dengan tulus, seperti orang yang sedang menata perhiasaan pada busananya. Waheed telah memutuskan untuk menyelundup masuk ke Inggris. Ia mungkin akan bertemu keberuntungan di sana, menolong keluarganya, dan belajar untuk menjadi dokter. Sang muazin mengatakan pada Waheed tentang rahasia kompas dan menasehatinya agar menjaganya dengan segenap hidupnya. Dengan keteguhan iman, ia mengatakan bahwa kompas itu akan menolongnya dalam menjalani hidup, dan itu adalah hal paling berharga yang bisa seorang ayah berikan pada anaknya. Waheed tak meyadari kekuatan kompas serta pengaruhnya, dia pun tak banyak tahu tentang momen-momen sakral dan khusus ketika kompas berubah merah untuk mengingatkan kebaikan atau kejahatan, hanya kepercayaan pada ayahnyalah yang membuatnya menyimpan kompas itu baik-baik. Kompas itu lalu tak terpisahkan darinya.

“Waheed sampai di Iran dan tinggal di rumah-rumah bobrok yang diurus oleh para penyelundup. Ia harus bekerja selama enam bulan untuk menabung cukup uang guna menyebrang ke Turki. Suatu hari ia pergi bersama enam pemuda Afghanistan untuk bekerja pada konstruksi bangunan. Seorang pria kaya asal Iran mengangkut mereka dengan truk kecil dan membawa mereka ke pinggiran kota, di mana ia membangun rumah besar di tengah-tengah ladangnya. Mereka bekerja dengan upah murah. Pria tersebut menurunkan mereka di ladang dan memerintahkan untuk menyingkirkan bata, perekat, karung, dan kayu-kayu yang tersisa di bangunan tersebut. Perjanjiannya adalah pria tersebut akan kembali pada sore hari dan mengantar mereka kembali ke kota. Ia memberi mereka setengah dari total gaji dan menyuruh mereka untuk membereskan pekerjaan dengan benar. Waheed dan orang-orang Afghan bekerja dengan lamban dan malas-malasan sepanjang hari. Ketika matahari tenggelam, mereka sembahyang lalu duduk bersantai di salah satu ruangan besar. Mereka menuangkan jus, melinting rokok, kemudian bercakap-cakap soal rute penyelendupan ke Eropa.Kemudian pemuda Afghanistanitu memiliki rencana buruk terhadap Waheed. Pemilik rumah terlambat datang. Para Afghan itu mengusulkan untukmelewatkan waktu sambil bermain taruhan, sebuah tipu muslihat yang sangat biadab. Terdapat kumpulan drum berisi air, dan di sampingnya beberapa karung semen. Mereka mengatakan pada Waheed bahwa permainannya adalah mereka hendak mencampur perekat dengan air dalamsebuah tong dan setiap orang akan mencelupkan lengannya pada campuran itu sampai sebatas siku, dan siapapun yang mampu bertahan paling lama akan memenangkan sejumlah uang. Mereka menyarankan Waheed-lah yang pertama. Dengan semangat serta keluguannya, Waheed berdiri dan segera mencelupkan lengannya ke dalam campuran perekat itu. Dalam beberapa menit perekat mengeras dan lengan Waheed terjebak di dalam tong. Para pemuda Afghan lalu melucuti celana Waheed dan mereka satu persatu menyodominya.”

Kami berdua telah menghabiskan sembilan batang rokok sambil mendengarkan kisah tentang bocah Pakistan itu. Murad Harbamengisahkan kisah itu dalam sekali bercerita, kemudian minum dari botol yang tersimpan di sisinya, lalu mengutuk Tuhan. Abu Hadid mengeluarkan pistol dari sabuknya lalu mengisi peluru. Cerita tentang bocah Pakistan tak berefek apa-apa padaku. Aku terpesona dengan kawan kakakku itu yang juga merupa kesempatan untuk masuk ke dalam beragam dunianya. Kami berhenti di taman yang luas dengan pepohonan yang meranggas bagai barisan tentara yang berubah menjadi batu. Murad mematikan mesin. Jantungku berdebar, dan aku penasaran apa yang hendak mereka lakukan dalam tamanyang dingin dan gelap. Jelasnya, kami tak datang dengan cara seperti ini hanya untuk mendengarkan cerita tentang bocah Pakistan. Kami keluar dari mobil. Abu Hadid mengintai keadaan sekitar sementara Murad Harba membuka bagasi mobil dan mengambil penggaruk dan sekop. Abu Hadid menyuruhku untuk membantu Murad menggali. Darahku mulai berkejaran bersama antusiasme dan rasa takut. Abu Hadid, dengan otot yang kekar, membantu menggali. Kami mulai berkeringat. Tanah itu keras. Akar-akar kusut sebatang pohon dan batu besar menghambat pekerjaan kami. Sebelum kami punya waktu untuk mengambil nafas, Murad dan Abu Hadid kembali ke bagasi mobil, sementara aku berdiri dekat lubang galian, limbung bagai orang tuli dalam sebuah pesta pernikahan. Mereka membawa seorang pria yang terikat dan tersumbat keluar dari bagasi dan menyeretnya ke lubang galian. Kakakku memintaku mendekat dan menatap mata pria tersebut. Tampaklah suatu ketakutan, mengecap dalam ingatanku bagai dicap besi. Abu Hadid menendang punggung pria itu dan membuatnya tersungkur masuk ke dalam lubang. Kami menimbunkan pasir di atasnya dan meratakannya dengan tanah.

Abu Hadid menjambak kasarrambutku laluberbisik di telingaku:

“Sekarang, kau adalah Tuhan.”

 

 

Catatan:

  1. Gerbil, mirip Hamster, adalah jenis hewan pengerat dan mereka lebih sering ditemukan di alam liar selain juga sebagai hewan peliharaan.
  2. Kamerad; panggilan untuk saudara separtai.
  3. Cerita ini bertajuk The Killer and the Compass karya Hassan Blasim. Kumpulan ceritanya berjudul The Corpse Exhibition and Other Stories of Iraq (Penguin Books, 2014) dipuji banyak kritikus sastra. Hassan Blasim adalah seorang sineas dan penulis asal Irak. Kini Blasim tinggal di Finlandia.

Sumber: The Corpse Exhibition and Other Stories of Iraq (Penguin Books, 2014)

Diterjemahkan oleh F. Ilham Satrio

___

Ilustrasi: Lana Syahbani

 

No Comments

Post A Comment