Metaruang | Leila Khaled: Perempuan Laras Senapan
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
87
post-template-default,single,single-post,postid-87,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Leila Khaled: Perempuan Laras Senapan

 

Judul : Leila Khaled: Kisah Pejuang Perempuan Palestina
Penulis : Sarah Irving
Penerjemah : Pradewi Tri Chatami
Penerbit : Marjin Kiri
Cetakan : I, Januari 2016
Halaman : i-x + 198 halaman
ISBN : 978-979-1260-51-0

 

Dibalut kefiyeh yang menyisakan poni hitam di dahinya, ia genggam senapan Kalashnikov hitam itu. Pendar matanya tak ia arahkan pada lensa kamera. Tulang pipinya agak menonjol, kedua alisnya tegas, ia mengenakan parka. Jurnalis Guardian mengomentari foto ikonik Leila Khaled itu: “Paras anggun Audrey Hepburn yang menolak memandang matamu.”

Diambil oleh Eddie Adams pada tahun 1969 selepas Leila membajak pesawat, foto itu menjadi lambang perjuangan rakyat Palestina selama lebih dari lima dekade. Wajahnya jamak ditemukan pada poster, selebaran dan grafiti, di sepanjang tembok perbatasan Tepi Barat dan Gaza, yang juga tercetak dalam halaman-halaman jurnal perlawanan yang beredar di Amerika Latin.

Sarah Irving, penulis buku berjudul asli Leila Khaled: Icon of Palestinean Liberation, tak hanya menawarkan Leila ibarat sebuah ikon yang diberhalakan seolah liputan khusus selebriti. Meski Leila sendiri tak menampik bahwa sosoknya begitu sentral (2016: 182), penulis mencoba mengetengahkan Leila sebagai manusia pada masanya, sebagai perempuan pada umumnya.

Sarah Irving menyoroti seorang Leila sebagai perempuan yang juga sama-sama merasakan cinta dan kesedihan, juga kengerian di tengah-tengah medan perang Intifada. Memang sekali kandas tak membuatnya patah arang, barulah di kali kedua pernikahannya Leila diberkahi dua buah hati.

Buku ini bukan hanya merangkum perjuangan Leila. Sarah Irving menceritakan kembali perjuangan sebagian besar rakyat Palestina, sebagai titik berangkat Leila Khaled berperang. Avant propos pun dibuat dengan menarik. Pembaca tiba-tiba merasakan suspense, ibarat membaca sebuah novel, sejak paragraf kali pertama dihidangkan. Bab pertama yang bertajuk Haifa, Libanon, Kuwait, membawa pembaca pada latar kisah, tempat di mana Leila Khaled lahir dan tumbuh, hingga tergerak untuk berjuang.

Irving pun tak lupa memberikan landasan sejarah dan politis. Asal-usul partai tempat Leila bernaung, PFLP (Popular Front for the Liberation of Palestine; al-Jabhah al-Sha’biyyah li Tahrir Filastin), tak luput dijabarkan dengan merujuk pada sumber-sumber literatur ilmiah. Pertalian politik dan kuasa mengisi sebagian besar porsi buku ini. Memberi pembaca tak hanya sesosok individu, melainkan harapan rakyat Palestina secara garis besar.

Walaupun konflik Palestina – Israel kerap diidentikan dengan tegangan eskatologis, Leila ternyata punya argumen tersendiri tentang itu. Ini ditampakkannya sesaat setelah dirinya babak-belur selepas pembajakan kali kedua gagal. Pesawat yang ditumpanginya saat itu mendarat di Inggris, namun Leila tengkurap dengan muka lebam. Ia pingsan dengan tangan terikat dasi para penumpang. Setelah siuman di rumah sakit, seorang polisi memberitahunya bahwa dokter yang menanganinya barusan merupakan seorang Yahudi. Dalam keadaan letih, Leila hanya menjawab: “Aku tak keberatan. Aku anti-Zionis, bukan anti-Yahudi” (2016: 73).

Nyata bahwa pemahaman Barat (juga kita di Timur) masih bias menyoal konflik di Palestina. Leila Khaled tegas dalam menyikapinya, sebab menurutnya ini soal pendudukan paksa, soal rasisme. Ada politik makro dengan siasat gigantik yang bekerja di balik layar, sementara kita, seperti yang sudah-sudah, hanya dipertontonkan tragicomedy-nya saja jika bukan tayangan komersil belaka. Sarah Irving juga menempatkan, walau tidak sebanyak kiprah Leila di PFLP, konflik internal ragam organisasi perlawanan di Palestina, seperti kisruh Fatah kontra Hamas yang tak kalah berlarut-larut.

Selain menyajikan sepak-terjang Leila Khaled sebagai pejuang garda depan, Irving juga mendekatkan Leila pada gerakan feminisme. Suatu ide yang masih disebut-sebut produk impor dari Eropa, dari jazirah Barat. Sejenak memang, Leila sendiri tak peduli atau bahkan buta sama sekali tentang gagasan itu. “Kubilang, ‘Aku ini prajurit, aku mau pegang senjata.’ Mereka menjawab, ‘Kau juga seorang perempuan, kau harus memperjuangkan hak-hak perempuan.’ Aku lalu bilang, ‘Aku tidak bisa melakukannnya. Itu adalah sebuah misi yang berada di luar jangkauanku, dan aku tidak menyukainya’” (2016: 130).

Tak pelak, sosok Leila Khaled akhirnya menyediakan feminisme dalam bentuk yang berbeda dari apa yang Morgan Robin, penulis The Demon Lover: On the Sexuality of Terrorism, seorang feminis-kultural, yang menentang habis-habisan pandangan Leila menyoal emansipasi perempuan. Leila Khaled jelas berjuang berdasar titik tolak nasionalisme, harkat dan martabat bangsa, logika hukum dan hak asasi manusia, sedang Robin berupaya menyodorkan kesadaran tubuh.

Berbeda halnya dengan Fatah dan Hamas, PFLP adalah gerakan sekuler yang dekat dengan Marxisme meski bukan didaulat sebagai pandangan resmi partai. Leila Khaled pun tak menunjukkan dirinya terobsesi dengan gagasan kekirian, selain yang sifatnya nasionalistik atau yang disebutnya sebagai ‘kemanusiaan’. Namun, ambivalensinya –jika kita runut lewat Marxisme—keacuhannya terhadap feminisme bisa dibilang titisan dari sebuah ide besar dalam Marxisme, yang lebih memfokuskan dirinya terhadap basis material ketimbang suprastruktur.

Kesadaran kultural bisa menyesatkan siapapun jika dibungkus dengan elok. Dalam hal ini, Leila tahu persis mana yang perlu dibela dan mana yang ditinggalkan. Gerakan feminis kini tentu bisa mereguk banyak contoh sekaligus pelajaran tentang dirinya. Bukan hanya kesetaraan di hadapan pria yang mesti dilampaui, namun juga ide besar yang bahkan sangat mendasar, yakni harkat kemanusiaan. Sayang kepenulisan Sarah Irving kurang begitu menggigit. Mungkin ia menulis dengan cara yang amat hati-hati, sehingga segan untuk berkomentar, dan membuat buku ini mirip kumpulan komentar dari pelbagai penulis dan surat kabar, yang bercampur dengan rekaman-rekaman wawancara dari berbagai sumber tentang Leila Khaled.

Meski begitu, dengan terbitnya buku penting ini ke dalam Bahasa Indonesia oleh Marjin Kiri (2016), telah menambah satu lagi khazanah pengetahuan bagi kita. Di dalamnya terkandung taktik politik, ragam gagasan, sekelumit daya juang, dan peran perempuan-perempuan pemberani. Kerja keras penerjemah patut diacungi jempol. Kalimat mengalir, tidak canggung, dan tentu saja enak dibaca. Di masa kini saat tema-tema keperempuanan baru terbatas pada ranah budaya, sosok Leila Khaled telah menjawabnya dengan tegas dan jelas: “Ini perjuangan kelas global”.

 

F. Ilham Satrio

F. Ilham Satrio (Juni, 1989) | buruh pabrik onderdil

No Comments

Post A Comment