Loader

Leonard Cohen

Leonard Cohen menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 7 November 2016. Tak mudah melupakannya dari ingatan orang-orang. Seperti dialami Laura Gibson, penyanyi yang mengidolakan Cohen itu, lewat akun instagramnya mengakui bahwa ia kembali menitikan air mata saat mendengar salah satu nomor dari Cohen mengudara dari ponsel seseorang.

Leonard Norman Cohen, sejak album Ten New Songs (2001) hingga Blue Alert (2006), nomor-nomor yang dilantunkan agaknya semakin murung. Meski yang belakangan disebut, Cohen hanya menulis lagu dan lirik tanpa sama sekali merekam vokal basnya. Tapi Cohen malah makin terasa kentara melatarbelakangi cara Anjani Thomas bernyanyi.

Kemurungan yang didapat, misalnya dari nomor In My Secret Life atau Lullaby, tampak menyiratkan Cohen sebagai solipis yang kesepian. Ia memang gemar menyendiri, bahkan seorang guru spiritual Budhis Zen-nya memangil Cohen dengan Jikan, Sang Penyendiri. Dalam kesendirian itulah, jalan setapak Cohen untuk mencintai sastra sebagaimana cintanya pada musik dengan segenap totalitas.

Rupanya sang guru benar. Keputusan Cohen untuk sejenak memarkirkan hiruk-pikuk di kepalanya, adalah yang kali kedua ia lakukan setelah pertapaan panjang di pulau Hydra, Yunani, selama kurun 1960-an.

Di Hydra, Cohen adalah pribadi yang ambisius. Seorang penyair muda yang akan mereguk dalam-dalam inspirasi, imajinasi, dan sedikit banyak kegilaan sebagai bahan bakar primer dalam berkarya. Dibuktikan dengan terbitnya novel perdana, The Favourite Game (1963), yang disusul oleh kumpulan puisi bertajuk Flowers for Hitler setahun kemudian. Pada tahun 1966 terbit novel kedua Cohen berjudul Beautiful Losers, yang memanen kontroversi di kalangan kritikus sastra akibat muatan erotiknya.

Merujuk surat-surat James Joyce kepada istrinya, dalam ulasan untuk novel kedua Cohen itu, Boston Globe menyatakan, “James Joyce tidak mati. Dia tinggal di Montreal dengan nama Cohen.” Sedemikian karena Beautiful Losers sendiri menggambarkan pertemuan kesalehan dengan hal-hal yang profan; yang mistik dan seksuil, yang secara genealogis, estetika puitiknya itu pertama kali berbiak di puisi-puisi awal Cohen semasa kuliah di jurusan sastra Universitas McGill.

Terpisah, dalam The Favourite Game Cohen justru menyaru tokoh protagonis bernama Lawrence Breavman. Seorang pemuda yang berupaya menemukan kembali identitas dan jati dirinya. Terdapat unsur psikopedagogik jika menilik khazanah spiritual yang tak jarang ditemui dalam novel bildungsroman semacam ini.

Breavman dan Cohen merupakan keturunan Yahudi. Sama-sama tumbuh di lingkungan yang tampaknya identik. Sebuah sub-urban dengan langit yang selalu mendung, dan rutinitas warga yang tak pernah jauh dari rumah-kantor-bar-sinagog-rumah. Seolah diafirmasi oleh Cohen, tiga tahun setelah novel perdananya itu terbit ia berkata pada Richard Goldstein, “Masa kecil saya sangat mesianik,” kemudian “saya diberitahukan bahwa saya adalah keturunan Harun, sang imam agung.”

Tak pernah terbayangkan bagi Leonard Norman Cohen, pria kelahiran 21 September 1934 ini, untuk melewati pergolakan iman akan sang Yahweh. Ia mengakhirinya sebagai seorang bhikku Budhis Zen. Malahan, bukan hanya urusan transenden yang ia lakoni guna mengentaskan perkara iman. Di akhir 1990-an, Cohen akui baru saja selesai dari depresi berkepanjangan. Dibarengi dengan pemakaian LSD di bawah pengawasan dokter.

Barangkali, hal inilah yang disebut-sebut filsuf rock star asal Slovenia–Slavoj Žižek–sebagai subjek yang senantiasa mengafirmasi negasi. Sejauh apapun rentang jarak yang dibuat terhadap negativitas. Momen pertamanya, adalah saat Cohen tenggelam dalam dunia kepenyairan yang subtil dan gelap. Kita ingat hal serupa pernah terjadi pada penyair Sylvia Plath. Cohen baru menemukan penanda yang pas tentang perasaan kehilangan akan sang ayah saat ia baru berumur 9 tahun.

Momen kedua, adalah saat ia terpanggil ke ranah tarik suara di atas panggung. Pada babakan ini Cohen berada di bawah pengaruh LSD, yang justru memberinya kesadaran akan “kemunafikan” dan “ilusi diri sendiri” yang, lanjutnya, “merupakan ciri khas manusia.” Apa yang membuatnya jengah ia tuangkan pada lirik. Terkadang, musiknya dekat dengan tema seuniversal cinta. Namun juga tak terperikan sebagai keterasingan, dan sama kelam dengan kematian.

Pada tahun 1967, lahir Songs of Leonard Cohen, debut album seorang bhikku dalam perannya sebagai musisi. Album bercorak folk dengan dominasi Gipsi violin, mandolin, dan akustik gitar bersenar nilon ini berisikan 10 nomor. Suara Cohen saat itu belum seberat era Various Positions (1984). Vokal baritonnya, sebagaimana Bob Dylan menyanyikan Blowin’ in the Wind, masih mampu meliuk-liuk seperti terdengar pada nomor Suzzane atau So Long, Marianne.

Meski menyimpan potensi monumental, album perdananya justru tersilap di balik semarak hippies. Album bersampul foto Cohen kalah pamor dengan nama yang lebih dulu tenar di panggung: Janis Joplin, Bruce Springsteen, Bob Dylan. Hal yang kelak berubah beberapa tahun kemudian, khususnya selama ia melakukan tur yang berlarat-larat di akhir 1960-an hingga 1970-an, sepanjang kota-kota besar di Amerika dan separuh benua Eropa.

Pada tahun 1973, bertolak belakang dengan gerakan pemboikotan produk kultural Israel yang tengah gencar pada saat itu, kontroversi pun menyambangi hidup Cohen. Ia tampil di beberapa pangkalan militer di Israel selama perang Yom Kippur berlangsung. Tak ada maksud khusus yang valid sebagai alasan dari Cohen. Kita hanya bisa berandai-andai, sebagaimana mantan murid Heidegger memergoki sang guru tengah bersembahyang, yang dijawab oleh sang guru setelah si murid itu terheran-heran, “Kadang, memang ada baiknya kita merawat ingatan.”

Mungkin, dari situlah titik berangkat Hallellujah, salah satu nomor anggun dalam kantung album Various Positions. Liriknya menggoda, bahkan mengajak malaikat untuk ikut bernyanyi. Menantang, apakah mereka yang suci itu memperdulikan musik, atau malah menganggapnya semata kebhatilan. Dibalut vokal latar yang tebal, sempurnanya orkestrasi rhytm, membuat vibe dalam nomor ini ibarat suatu perayaan akan hidup. Pantas dinyanyikan oleh kita semua tanpa harus pandang bulu.

Posisi Cohen pun menjadi jelas. Seiring umurnya yang makin senja, muatan liriknya semakin pandai meminjam nubuat-nubuat dari alkitab. Kadang ia berlagak seperti Mahdi atau Juru Selamat. Pewarta kebaikan atau penyambung lara dan nestapa segenap umatnya. Untuk itu, album terakhir Cohen, You Want it Darker, yang dilansir Oktober 2016, terdengar cukup profetik. Terlebih, Cohen sempat menyampaikan bahwa urusannya akan segera selesai.

Dan kita tahu apa yang terjadi setelahnya.

Fade out paling purna di albumnya yang pamungkas telah ia tinggalkan. Sang lirikus, sang novelis, dan sang penyendiri itu, telah beranjak dari atas panggung. Ia sang penggoda kematian, dengan rasa terbuangnya, dan cinta yang senantiasa berkobar-kobar.

Tapi, Cohen sesungguhnya tak pernah benar-benar pergi. Seperti yang selalu ia lakukan, ia mungkin kembali bertetirah. Mengungsikan tubuhnya yang telah menua dan lelah. Merumahkan suara emasnya yang berat. Namun senantiasa tabah dan dalam. Tak banyak seniman seperti Cohen yang meninggalkan kita dengan legasi artistik berlimpah, dari mulai puisi, novel, esai, catatan perjalanan, dan keajaiban bernama musik.

 

No Comments

Post A Comment