Metaruang | Lucy Gonzales Parsons
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17046
post-template-default,single,single-post,postid-17046,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Lucy Gonzales Parsons

Menantang seksisme pada masanya, Lucy Parson binti Waller, istri salah seorang martir Haymarket, Albert Parsons, adalah salah satu perempuan paling berpengaruh dalam gerakan anarkis maupun buruh Amerika Serikat (AS) di abad ke-19.

Sayangnya, sebagaimana kita tahu, Lucy Parsons yang seorang aktivis afro-amerika pertama dan yang paling penting bagi gerakan kiri AS itu, dokumentasi historis tentang dirinya amatlah minim dijumpai. Sumber yang kredensial barangkali tidak sekaya dan sebanyak bahasan tentang Emma Goldman atau Rosa Luxemburg. Namun bukan berarti sumbangsih dan legasi Lucy kalah penting.

Perempuan berambut ikal dengan rahang yang tampak kokoh ini lahir di sebuah perkebunan di wilayah Hill County, Texas, sekitar bulan Maret 1853—bersamaan dengan era Perang Sipil. Hal tersebut menjadi salah satu bukti, ihwal terbitnya kemungkinan bahkan kasak-kusuk perihal orang tua Lucy yang tak lebih dari budak. Atas alasan keselamatan, sepanjang hayat Lucy rajin memakain nama samaran, menggunakan banyak nama pseudonym untuk menyamarkan asal-usul rasialnya dalam masyarakat. Ia sering menggunakan nama Lucy Gonzales untuk menyangkal ras African-America, dan mengklaim warna kulitnya yang gelap berasal dari turunan Meksiko.

Sekitar tahun 1870, Lucy sempat hidup sementara waktu bersama Oliver Gathing. Namun, kebersamaan mereka tidak bertahan lama, hingga kemudian ia menikah dengan Albert Parson di tahun 1871. Pernikahan Lucy dan Albert dinilai ilegal di mata hukum, karena mereka melakukan pernikahan antar ras. Hal itu diperkuat oleh hukum segregasi Jim Crow yang berlaku di wilayah Selatan AS tahun 1872. Selain itu, eksistensi serta kemunculan Ku Klux Klan di Texas yang sangat kuat memaksa pasutri ini menyeret kopor ke Chicago pada tahun 1873.

Kedatangan pasangan anarkis di Chicago bertepatan dengan krisis ekonomi AS (Depresi Ekonomi tahun 1873) dan kerusuhan buruh yang sedang marak terjadi. Mereka hidup dalam komunitas miskin, kemudian tergabung dalam Partai Sosial Demokrat yang berasosiasi dengan sosialisme Marxis. Kemudian, mereka bergabung dengan Workingmen’s Party of the United States (WPUSA)—setelah tahun 1892 dikenal dengan nama Socialist Labor Party, atau SLP. Pertemuan-pertemuan partai sering dilakukan di rumah pasutri ini.

Albert dan Lucy dikaruniai seorang putra bernama Albert Parson Jr yang lahir di tahun 1879, dengan status ras kulit hitam dalam sertifikat kelahirannya, dan seorang putri dengan nama Lula yang lahir di tahun 1881 (namun wafat pada bulan Oktober 1889) yang pada sertifikat kematiannya tertulis status ras kulit putih. Gara-gara terlibat dalam aksi pemogokan serta serangan pekerja saat musim panas tahun 1877, Albert sang suami dipecat dari pekerjaannya. Lucy kemudian membuka toko pakaian untuk menopang ekonomi keluarga, dan bersama temannya, Lizzie Swank, menghelat pertemuan untuk International Ladies’s Garment Workers Union (ILGWU).

Di titik ini, Lucy tampak makin mantap dalam lajur politik, dan semakin jauh terlibat di dalamnya.

Lucy mulai banyak menulis publikasi radikal, termasuk surat kabar The Socialist dan The Alarm, surat kabar anarkis mingguan yang dikeluarkan oleh International Working People’s Association (IWPA), yang sempat ia dan Albert bangun di tahun 1883. Ia memiliki sedikit simpati kepada para bos yang membayar upah pekerja di bawah standar. Artikel terkenalnya, To Tramps, mengadvokasi “propaganda by the deed” (propaganda dari perbuatan), sebuah falsafah yang menyatakan bahwa aksi langsung melalui kekerasan, atau ancaman, pada akhirnya tindakan semacam itu yang akan memenangkan tuntutan para pekerja. Efeknya, Lucy sering dianggap lebih berbahaya ketimbang suaminya, karena toh ia sangat vokal dalam perjuangan membela hak-hak orang miskin. Lucy pun menggertak, bahwa ia adalah seorang perempuan militan dan radikal yang menolak mengambil peran sebagai ibu rumah tangga.

Pada Oktober 1887, setelah kerusuhan Haymarket yang menyeret delapan orang yang kemudian dikenal sebagai delapan martir Haymarket, Albert dan yang lainnya dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung setelah proses persidangan, yang tentu saja diwarnai dengan ketidakadilan. Lucy dilanda amarah sekaligus bangga, bahwa suaminya akan mati atas keyakinannya terhadap anarkisme. Ia mulai melakukan kampanye untuk grasi. Ia mengelilingi AS, membagikan informasi tentang persidangan yang tidak adil sembari mengumpulkan dana. Kemanapun ia pergi, Lucy selalu disambut oleh polisi bersenjata dan melarangnya untuk masuk ke ruang-ruang pertemuan.

Namun, upaya yang telah dilakukan Lucy tidak mengubah keputusan pengadilan. Kondisi Gubernur Illinois sendiri berada di bawah tekanan politik untuk segera mengeksekusi para tahanan. Empat orang lantas dieksekusi pada 11 November 1887. Lucy mengajak kedua anaknya menemui sang ayah untuk terakhir kalinya, namun ia ditahan bersama kedua anaknya, di bawa ke dalam penjara, dipaksa untuk telanjang, dan dibiarkan telanjang bersama kedua anaknya di dalam sel tahanan yang dingin hingga proses penggantungan suaminya berakhir. Ia menangis saat dibebaskan, dan bersumpah untuk terus melawan ketidakadilan.

Sang suami telah terbunuh. Lucy merasa takut. Ia membayangkan nasib yang sama akan menimpa dirinya. Keadaannya semakin rudin pasca kematian Albert. Hidupnya dilanda kemiskinan, ia menerima delapan dolar selama seminggu dari Pioneer Aid and Support Association, sebuah grup yang dibentuk untuk membela para keluarga martir Haymarket dan perkara-perkara sejenis.

Menjelang pemilihan umum tahun 1890, banyak faksi-faksi buruh memilih untuk berafiiasi dengan Partai Demokrat sebagai langkah pembaruan. Lucy dengan keras menentang hal tersebut, merasa bahwa reformasi hanya akan melemahkan gerakan. Orang kaya masih berkuasa atas kelas pekerja dan kolaborasi dengan partai-partai yang menindas adalah malapetaka bagi partai buruh independen setelah keberhasilan mereka dalam pemilu 1887.

Lucy memegang posisi sindikalis tanpa kompromi. Ia impikan asosiasi sukarela pekerja yang mendukung dan menegakkan peraturan umum. Perspektif politiknya benar-benar didasarkan pada kesadaran kelas—ia mengidentifikasi hirarki kelas sebagai masalah penting dalam sistem opresif pada masanya. Forum Ekonomi 1888-1889 dihelat di Chicago sebagai contoh tendensi reformis liberal baru. Meskipun mereka berusaha mengatasi masalah tenaga kerja dengan mempertemukan perwakilan dari pekerja dan pengusaha, Lucy terus mempertanyakan dan mengkritik bahwa langkah-langkah ini tidaklah cukup, karena mereka masih mempertahankan segregasi kelas dalam sistem masyarakat.

Pada Oktober 1888, Lucy bertandang ke London untuk menghadiri Liga Sosialis Inggris. Ketika kembali ke AS, ia telah mempelajari perjuangan demi kebebasan berpendapat, kemudian membandingkan kebebasan di Inggris dengan represi yang terjadi di AS. Usaha yang dilakukan Lucy untuk perjuangan kebebasan berpendapat terus-menerus digagalkan hingga ia harus didenda akibat menjual salinan pamflet Anarkisme di jalan. Bahkan, setelah hakim Tuley memutuskan bahwa para anarkis memiliki hak kebebasan berpendapat di tahun 1889, ia terus memperjuangkan hak-hak seperti demikian sepanjang karir politiknya, dalam konflik yang konstan terhadap kekuatan yang secara terang-terangan ingin membungkamnya.

Pada tahun 1890, serikat pekerja di mana Lucy tergabung harus menyaksikan kekalahan besar akibat perkembangan teknologi dan skala industri di tempat kerja. Dengan parameter baru perjuangan buruh, Lucy merasa pentingnya ruang lingkup internasional untuk gerakan ini. Pada tahun 1891, Lucy bersama Lizzy Holmes mulai menyunting surat kabar Freedom, sebuah surat kabar Anarkis-Komunis revolusioner bulanan dan mulai mewartakan perlawanan-perlawanan buruh di tahun 1892, seperti yang terjadi di pabrik baja Carnegie di Pennsylvania dan tambang perak Coeur D’Alene di Idaho, yang konon, mengisyaratkan akan datangnya revolusi.

Di lain babakan, sebagai salah satu pendiri Industrial Workers of the World (IWW), pada tahun 1905 ia berjuang atas nama para tunawisma dan para pengangguran. Lucy mulai menyunting The Liberator, surat kabar yang dipublikasi oleh IWW yang bermarkas di Chicago. Melalui medium ini, ia mengambil sikap atas isu-isu seputar perempuan, mendukung hak perempuan untuk bercerai, menikah kembali, dan memiliki akses kontrol atas kelahiran.

Pada poin ini, dapat kita garis bawahi bahwa perjuangan Lucy menempuh banyak titik multi-sektoral. Ia bisa menjadi anarkis tulen, menjadi aktivis buruh, bahkan aktivis HAM. Ia berada pada garda buruh, kultural-politis (free speech etc.), juga di saat yang sama menolak domestifikasi harkat dan martabat perempuan. Sebuah isu yang tampak seksi dewasa kini, yang sayangnya sering mendapat kritik dari sebelah kanan dan sebelah kiri gara-gara jamaknya tambal-sulam episteme filosofis, yang berujung pada kemiskinan taktik dan strategi politik, dan hanya membuat para pembelanya tampak canggung dan ‘liyan’ secara kultural.

Tetapi Lucy, selama tahun 1907-1908—periode kekacauan ekonomi—justru tetap bergerak dengan mengorganisir massa untuk melawan kelaparan dan pengangguran. Keberhasilan demonstrasi atas kelaparan di Chicago oleh Lucy di bulan Januari 1915 mendorong American Federation of Labor, Partai Sosialis, dan  Jane Addam’s Hull House untuk berpartisipasi pada demonstrasi masif pada tanggal 12 Februari tahun itu. Barulah dua minggu setelah demonstrasi, pemerintah merencanakan desentralisasi hunger policies.

Lucy juga terlibat dalam perjuangan tahanan politik dan turut serta membela anak-anak Scottsboro—sembilan anak African-American yang memperkosa dua perempuan kulit putih di kereta api tahun 1931—dan Angelo Herndon bersama organisasi hak-hak sipil sayap kiri, International Labor Defense. Kali terakhir kehadirannya di depan publik adalah saat ia berbicara di International Harvester pada Februari 1941.

Lucy Parsons wafat pada usia 89 tahun setelah api melalap rumahnya di Avondale, Chicago, tanggal 7 Maret 1942. Akibat tragedi tersebut, perpustakaan Lucy yang menyimpan 1.500 buku mengenai seks, sosialisme dan anarki hilang secara misterius, bersamaan dengan seluruh paper-papernya, serta segudang karya-karyanya. Ini pangkal masalah mengapa kita kesulitan mengakses sumber kredibel tentang Lucy Parsons. Lebih lanjut, FBI maupun kepolisian Chicago enggan memberi tahu Irving Abrams—orang yang datang untuk menyelamatkan perpustakaan Lucy Parsons—bahwa FBI telah menyita seluruh buku-buku Lucy.

Dan kita boleh menebak: abu di rumah yang terbakar itu bisa saja berbau konspirasi.

 

Dwi Nur Akbar Wijaksono lahir pada hari Senin Wage di bulan Mei tahun 1995. Seorang veteran DOTA, sejarawan partikelir dan membenci negara-bangsa. Kini masih aktif menulis untuk fanzine kebanggannya, Wijaksono. Buku berjudul Tajwid pemberian ayahandanya membua ia bercita-cita untuk Hijrah dan Naik Haji.

No Comments

Post A Comment