Loader

Maraton Puisi: Peluru Kata di Puing Kota

Puluhan orang berkumpul di gang-gang yang dikelilingi puing-puing bangunan. Petak lantai berukuran 2×2 meter dengan tinggi 50 cm sisa bangunan yang diruntuhkan, menjadi panggung bagi perhelatan Maraton Puisi di Tamansari.

Diterangi kerlap-kerlip lampu warna-warni yang menghiasi spanduk Festival Tamansari Melawan, para peserta Maraton Puisi saling bergiliran membaca puisi-puisi perjuangan rakyat di atas panggung mungil pada 8 April 2018, tepatnya Minggu malam. Puisi-puisi dari Thukul, Rendra, hingga Chairil Anwar pun dibacakan oleh para peserta. Segenap hadirin yang datang berdesakan, memilih tempat duduk di atas pecahan tembok, potongan triplek atau bekas tangga rumah yang beberapa hari lalu masih menjadi bangunan utuh warga RW 11 Tamansari.

Persis di situlah malam puisi maraton dihelat.

Di sebelah kanan panggung, mural bergambar gedung hancur oleh akar pohon yang merambat membentuk kepalan tangan kiri di bagian atasnya. Tulisan-tulisan di papan kayu bernada perlawanan menghiasi dinding-dinding rumah yang masih tersisa dari gempuran ekskavator. Sesekali, suara-suara kendaraan terdengar dari jembatan layang Pasopati yang berada tak terlalu jauh dari lokasi berlangsungnya acara.

 

“…Siapakah Kau?

Apakah Kau bersama orang-orang yang tak pernah tidur lelap?

Sebab cemas dinding akan dihancurkan tiap instruksi datang

Ataukah Kau orang yang semangat?

Menyingsingkan lengan baju, menggenggam erat senapan api, mengikat kencang sepatu bot, memastikan kancing seragammu rapih, bersiap menunggu instruksi

Untuk menghempas, untuk menghancurkan…”

 

Yang membacakan puisi di atas, acap dipanggil Tuan Brecht, seorang siswa SMA membacakan Talamariam berjudul “Gigir”. Bersama tiga peserta lainnya, Tuan Brecht silih berganti membacakan puisi dengan diiringi permainan gitar oleh salah satu personel band Eviction, Iqbal Tawakal.

Tuan Brecht membacakan puisi di urutan ke-3. Beberapa kali jari telunjuknya menuding gedung dan jembatan layang yang berdiri angkuh beberapa meter di hadapannya. Sesekali ia kepalkan tangan. Namun dengan gaya berteriak, Tuan Brecht seolah membayangkan para pemodal, aparat dan politikus-politikus yang ia benci itu hadir di hadapannya.

“Aparat itu sudah jelas memihak ke mana. Mereka memihak pemodal,” tegas Tuan Brecht saat diwawancarai Metaruang perihal penampilannya pada Maraton Puisi.

Tuan Brecht pun tercatat sebagai salah seorang relawan yang hingga kini masih mendampingi warga RW 11 Tamansari yang masih bertahan melawan penggusuran. Lewat puisi yang dibacakannya, remaja berambut mayang dan bertubuh tinggi besar tersebut ingin menyampaikan pesan bahwa kini warga Tamansari juga cemas menghadapi penggusuran. Sebagaimana kutipan puisi Talamariam berjudul “Gigir”:

“..di kolong jembatan, seorang anak digantung janggal diantara rumah-rumah miring yang esok harus hengkang entah kemana.”

Tuan Brecht mengungkapkan, warga Tamansari juga mengalami hal yang sama dengan orang-orang yang hidup di rumah-rumah miring di kolong jembatan itu. “Cemas suatu saat, pemkot dengan sewenang-wenang menggusur lahan warga yang masih bertahan kini,” jelasnya.

Tak berselang lama dari penampilan Tuan Brecht, dkk. yang diiring Eviction itu, rupanya rintik hujan menyapa para hadirin dan panitia. Dinginnya angin yang menerpa kulit di bawah gerimis hujan, sempat tak menyurutkan niat para hadirin untuk terus menyaksikan peserta membacakan puisi. Dikarenakan harus melindungi kabel, speaker, microphone dan peralatan elektronik lainnya dari air hujan, acara terpaksa dipindahkan ke lokasi yang tak begitu jauh dari tempat sebelumnya.

Mereka berpindah ke tempat yang sebelumnya pernah menjadi posyandu. Baik warga dan solidaritas semua berjibaku saling bahu-membahu di bawah hujan, memindahkan alat elektronik, memasang terpal, spanduk dan banner untuk dijadikan atap berteduh bagi para hadirin. Tak lama kemudian, acara kembali dimulai.

Kejenakaan dua orang pembawa acara mampu mengundang derai tawa segenap hadirin lewat sederetan pantun dan humor-humor mereka. Alhasil, keakraban dan kehangatan pun terjalin malam itu. Berbagai komunitas, organisasi, kolektif, serta individu semuanya berbaur. Mereka akhirnya saling berbagi informasi, bertukar gagasan bahkan sekedar membagi nomor kontak. Beberapa tampak membentuk forum diskusi kecil-kecilan yang bahkan masih berlangsung setelah acara usai.

Ferdinand, salah seorang penggagas acara Festival Tamansari Melawan, menyatakan bahwa tujuan diadakannya acara Malam Puisi di Tamansari adalah untuk mengubah lahan konflik menjadi public space. Pada ruang publik ini, tidak hanya para aktivis dan kawan-kawan solidaritas saja yang bisa berkontribusi dalam perjuangan rakyat. Siapapun, menurut Ferdinand, bisa berkontribusi lewat cara masing-masing dan kemampuan masing-masing.

“Juga kita bisa membuktikan bahwa memang hari ini ruang kota itu miskin aktivasi, tapi kaya investasi,” ucap Ferdinand. “Nah, kota sekarang seperti itu.”

Festival Tamansari yang sudah satu bulan tidak berjalan dimulai lagi dengan maraton puisi, jelas Ferdinand lebih lanjut. Tema puing kota dan ingatan, dipilih oleh para penggagas sebagai cara untuk membangkitkan kembali memori kolektif warga. Pria berlogat melayu pasar itu juga berharap bahwa Festival Tamansari Melawan bisa menjadi pemantik bagi mereka yang kelak akan menjadi korban penggusuran di Bandung.

“Sekarang ada 400 lebih titik di Bandung yang dinyatakan kumuh dan berpotensi untuk digusur. Otomatis kawan-kawan yang berada di rumahnya dan lingkungannya menjadi corong pertama untuk mengaktivasi ruang yang ada di sekitarnya, mengedukasi (tentang, red) ancaman penggusuran dan perampasan tanah,” pungkas Ferdinand.

Di malam itu juga ia ikut terlibat dalam Maraton Puisi. Dengan diiringi ukulele dari seorang kawan se-alamamaternya, pria berkepang dan rajin berbandana dengan motif pelangi itu membacakan puisi dari W.S Rendra. Kata-kata yang terlontar dari mulut Ferdinand dan para peserta, layaknya sebuah peluru di antara puing kota yang ditembakkan tepat ke wajah rezim eskavatoris. Malam itu, peluru kata ada di puing-puing kota.

___

Dokumentasi: Ilyas Gautama, Militansi, Metaruang 2018

No Comments

Post A Comment