Metaruang | Mata Minah
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17360
post-template-default,single,single-post,postid-17360,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Mata Minah

 

SUARA DANGDUT KOPLO di sudut gang itu berhenti, orang-orang yang sedang menggoyangkan telunjuk dan pantatnya juga terhenti, bukan karena suara azan atau tangan pemain organnya keram, melainkan ada seseorang yang berdiri di atas genteng, menenteng sebotol arak dan berteriak keras, “hayang paeh, emak!*”.

Orang itu bukan Kurt Cobain, melainkan Agus yang setiap malam duduk di atas genteng sambil menenggak satu atau dua botol arak sambil melihat bulan yang belum bulat sepenuhnya. Dipikirannya selalu terbayang Minah, pelacur itu: Betisnya kecil tak seperti pemain bola, pahanya putih mulus, lekuk pinggulnya seramping biola, buah dadanya busung ke depan, bibirnya semerah biji saga, dan matanya. Ah mata itu

***

Saat itu Agus sedang duduk setengah teler sambil memotong wortel untuk membuat gorengan. Gawai Agus berdering, tak ada nama yang tertera pada layar gawainya.

“Siapa ini, sialan!”

Agus tenggelam mendengarkan suara yang tak asing baginya. Muka dan matanya memerah, ia menggigit bibirnya. Telepon itu ditutup, dan kemudian kenangan berderai di kepalanya seperti serpihan kaca yang terinjak. Darah yang keluar dari bibirnya terasa asin.

“Bangsat, kenapa tidak mati saja!”

“Kau ini uring-uringan saja bisanya. Ada apa lagi?” tanya Mak Iyam, ibu Agus, “Belum selesai juga wortel itu kau potong?”

“Itu mak, ah itu si bangsat. Dia sakit dan aku disuruhnya ke sana, ia bilang ada hal penting yang harus dibicarakan denganku.”

“Siapa si bangsat?”

“Bapak, mak.”

“Anjing, mau apa lagi dia?” Mulutnya monyong. Ini kesalahan fatal, pikir Agus. Maknya selalu sentimen mengenai hal ini. Pasti setelah itu, ketika Agus meminta uang, Maknya selalu bilang, “minta saja pada bapakmu!” Alhasil, Agus tak merokok seharian.

“Sudah kubilang mak, dia mau bertemu denganku, setidaknya untuk terakhir kali katanya.”

“Itu juga yang dia bilang ketika terakhir kali sakit, sudahlah jangan percaya bapakmu. Dia tak akan mati, malaikat malas mencabut nyawanya.” Begitu Mak Agus bilang, kemudian dia pergi ke kamarnya, mengunci pintu dan memutar lagu dangdut dengan volume tertinggi. Tapi Agus tahu, disela-sela lekukan suara penyanyi dangdut, ada suara lirih tangisan maknya.

Agus kembali memotong wortel. Biasanya, ketika Agus sedang memotong wortel, Agus selalu memikirkan impian yang akan merubah nasibnya. Revolusi, ya revolusi. Agus selalu berharap, kelak ketika revolusi terjadi, Agus ingin dirinya jadi petani wortel, bukan pemotong wortel. Namun sayang, kini kenangan ketika sedang bersama bapaknya hinggap, menggantikan impian yang indah itu.

Bapaknya adalah tabib hebat dan terpandang sangat alim, kata warga kampung ia bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Sebab itulah, Bapak Agus, yang biasa disebut Ki Obar sangat disegani oleh orang-orang di kampung tersebut. Agus sendiri bangga pada bapaknya karena bagi Agus bapaknya sederajat dengan Dokter, tak peduli perbedaan metode apa yang dipakai dokter dan bapaknya, yang penting sama-sama dapat menyembuhkan. Namun, kebanggaan itu runtuh ketika kejadian itu terjadi. Kejadian yang mengubah seluruh hidupnya.

Agus masih ingat betapa gemparnya warga kampung ketika melihat bapaknya tergeletak di teras rumah pelacur itu. Mereka berkerumun untuk melihat seorang Ki Obar meringkuk seperti kelabang yang sudah diinjak. Ki Obar tak melakukan apa pun selain memanggil nama pelacur itu, “Minah, Minah, Minah…”

Saat itu Agus sedang asik membaca komik Jaka Tarub Mencari Cinta, sementara ibunya sedang mencuci baju di kamar mandi. Agus dan Ibunya panik ketika melihat Ki Obar terbaring di lantai rumahnya. Namun kepanikan itu berubah menjadi kemarahan yang luar biasa ketika orang yang membopong Ki Obar menceritakan semuanya.

Anjing!” teriak Mak Iyam. Ia ingin sekali menangis tapi segera diurungkan, ia tak mau air matanya tumpah begitu saja gara-gara pembohong ini. Lantas Mak Iyam mengambil air satu ember dan mengguyur muka Ki Obar. Sendok, garpu, gelas, piring, pisin, asbak, beserta semua kawannya dilemparkan Mak Iyam ke muka Ki Obar. Mak Iyam melirik ke kanan dan ke kiri, mencari apa yang bisa dilemparnya lagi, tapi ternyata tak ada, sebab hanya itu yang mereka punya. Tv di sebelah Mak Iyam bisa saja ia lemparkan, namun ia berpikir dua kali, tagihannya belum lunas.

Ki Obar tersontak bangun, segera menghindar dari serangan Mak Iyam. Kau tahu? gerakannya seperti petinju yang sudah mau gontai, kedua lengannya dipakai menutupi mukanya yang semraut, menyedihkan sekali. Ki Obar masih mencari-cari jawaban kenapa istrinya bisa semarah ini, namun setelah ingat apa yang telah terjadi sebelumnya, Ki Obar langsung memeluk istrinya.

“Tunggu, Yam, jangan salah paham,” kata Ki Obar “tunggu aku jelaskan dulu, ini semua tidak seperti yang kau lihat.”

Mak Iyam sudah tak mau mendengarkan perkataannya, segera Mak Iyam melepaskan pelukan itu. Kaki Mak Iyam melancarkan tendangan tepat di tengah selangkangan Ki Obar. Ia menekuk perutnya, kedua tangannya menebah selangkangan, parasnya memucat: Ki Obar tumbang.

“Indit siah, bangsat!**” suaranya begitu melengking hingga kaca rumahnya ikut bergetar.

Masih merasa kesakitan, Ki Obar pergi tanpa mengatakan apa pun. Ia juga tak diberi kesempatan berkemas, tak satu pun baju ia bawa.  Kerumunan para tetangga yang sedari tadi menonton adegan itu kecewa, jarang sekali melihat drama hebat seperti itu. Satu persatu dari mereka bubar, membayangkan kelanjutan drama Mak Iyam dan Ki Obar.

Tinggal rumah pecah dan Agus yang tersisa, mulutnya menganga, tak mengerti karena saat itu Agus masih kecil dan belum tahu apa-apa.

Agus ingat petuah teman kampusnya sebelum ia dikeluarkan karena tak bisa membayar uang kuliah. Temannya membuat teori sederhana bahwa kebahagiaan dasar lelaki adalah wanita, maka orang berlomba mencari uang untuk mendapatkannya. Agus diajak ke tempat pelacuran dan ditraktir untuk merasakan lubang wanita. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa, teori itu entah wahyu dari langit ke berapa. Pantas saja bapakku bertekuk lutut di bawah kaki pelacur itu, ia sedang memperjuangkan lubang surga sebenarnya, pikir Agus.

Agus melempar pisau yang digunakannya untuk memotong wortel dan segera pergi menemui Ki Obar. Alamat rumah yang diberi tahu bapaknya ketika menelepon tadi tak jauh dari rumahnya, hanya harus naik bus selama dua jam. Dua jam itu Agus berpikir keras, apa yang harus ia lakukan ketika bertemu bapaknya? Barangkali membunuhnya.

Agus sampai di rumah Ki Obar, tanpa banyak pikir lagi ia masuk. Terlihat bapaknya terbaring lemas, tersenyum padanya.

“Duduklah, nak.” Ki Obar memulai percakapan. Agus tak mau duduk, ia hanya memandang wajah bapaknya. Bapaknya sudah jauh lebih keriput dibanding terakhir kali ia melihatnya

“Aku tahu kau masih membenciku, tapi syukurlah, setidaknya kau datang, bapakmu ini mungkin tak lama lagi akan mati.” Suaranya begitu serak dan lambat.

“Sebenarnya aku ingin menjelaskan hal yang tak mungkin dulu kujelaskan.”

Suara bapaknya dipotong bunyi tokek lima kali. Pertanda buruk, pikir Agus.

“Saat itu sebenarnya aku mencoba menutup tempat pelacur di dekat perkampungan kita. Aku ingin membubarkan tempat maksiat itu dan membuat para pelacur itu bertaubat. Namun, semua itu tak berjalan lancar ketika pelacur yang bernama Minah menemuiku. Dengar, Gus, ia punya ilmu sihir yang membuat siapa pun bertekuk lutut di hadapannya. Tubuhnya menggunakan susuk, sehingga membuat pandanganku terus melekat pada tubuhnya, dan ia punya ilmu sirep yang membuat siapa pun bisa menjadi buta. Aku tak bisa mengalahkannya.”

Agus bengong, tak berkata apapun.

“Aku tahu kau tak akan percaya, jadi lebih baik kau temui saja pelacur itu. Kau bisa menemuinya di tempat pelacuran dekat kampungmu, kau pasti tahu tempatnya. Kuharap kau bisa membunuhnya demi aku atau setidaknya demi kehancuran keluargamu. Aku hanya berpesan satu hal. Jangan memandang matanya.”

Hening. Di luar terdengar rintik hujan yang sudah mulai turun. Agus tak menjawab apapun, ia pergi begitu saja.

“Anjing, omong kosong dengan bapakku. Aku harus menemui pelacur itu dan menanyakan yang sesungguhnya, lalu kubunuh lelaki busuk itu.”

Agus masuk ke tempat pelacuran itu, dilihatnya kucing melintas di antara pelacur-pelacur yang menjajakan tubuhnya, lucu sekali. Ia bertanya pada lelaki yang sedang sibuk memilih pelacur.

“Itu kucing jenis apa?”

“Itu kucing jenis pelacur.”

Kepala Agus mendidih, dihajarnya lelaki itu dengan sekali pukulan, dilanjutkan dengan tendangan, pas pada bagian rusuk kiri. Lelaki itu jatuh ke lantai, Agus tak berhenti di situ, dihajarnya lagi dengan tangan kanan, kena hidungnya. Bocor.

“Bangsat, aku bertanya serius, kucing apa itu?”

“Sumpah aku tak tahu, mungkin kucing blasteran, atau kucing kampung, atau kucing orang kaya dibuang ke kampung. Aku tak tahu, sumpah.”

“Kau tahu pelacur bernama Minah?”

Memang sebelumnya Agus belum pernah sekalipun bertemu dengan Minah, ia hanya sering mendengar namanya dari orang lain.

“Dia ada di kamar khusus dekat toilet, tolong jangan pukul aku lagi.”

Agus mendaratkan bogemnya sekali lagi, lalu pergi ke kamar Minah.

Minah sedang duduk santai dengan rokok di sela-sela jarinya. Pelacur itu tersenyum tipis, matanya memandang Agus tanpa kecurigaan apapun, namun Agus terus tertunduk, hati-hati jika ternyata ia punya ilmu sirep seperti apa yang di katakan bapaknya. Ia melihat ke bawah, pada betisnya yang kecil, tapi matanya bergerak naik ke atas, pada pahanya yang putih mulus, pada pinggulnya yang ramping, naik lagi pada dadanya yang busung ke depan. Agus menahan matanya dengan sekuat tenaga, tapi matanya tak berhenti dan terus bergerak ke atas melihat lehernya, rambutnya, dagunya, bibirnya, hidungnya, dan matanya. Mata itu menusuk mata Agus.

Agus bergetar, pandangannya menjadi kabur, semakin kabur, dan kemudian gelap. Ia buta.

 

Bandung, 2016

 

Catatan:

*Ingin mati, mak!

**Pergi kamu, bangsat!

___

Ilustrasi: F. Ilham Satrio

 

Rifal Nur Goib

Rifal Nur Goib, lelaki kelahiran Cianjur, 31 Oktober 1996. Lahir terlempar begitu saja dan ga minta. Studi di Sastra Indonesia UPI. Kini sedang giat menulis prosa dan terobsesi menjadi penyair ikan yang handal.

No Comments

Post A Comment