Metaruang | Melarat
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16854
post-template-default,single,single-post,postid-16854,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Melarat

 

Oleh Mikhail Zoschenko

 

Hei Kawan, apa kata yang lagi hits banget belakangan ini?

Hari-hari ini, kata yang jelas-jelas lagi hits banget itu, “elektrifikasi”.

Aku tidak menyangkal pentingnya penerangan yang digembor-gemborkan di Rusia. Akan tetapi hal itu menyimpan juga sisi lain yang “tidak-begitu-terang”. Kamerad, aku tidak mengatakan hal tersebut pemborosan. Memasang penerangan bukan suatu pemborosan. Yang dibutuhkan cuma uang, tidak lebih. Bukan itu yang hendak aku bicarakan.

Maksudku begini:

Aku hidup, Kamerad, di sebuah rumah yang besar. Seisi rumah “dijalankan” oleh minyak tanah. Satu orang punya sumbu lampu dalam sebotol minyak, seorang lagi—lampu togok, sementara seseorang lainnnya tidak punya apa-apa kecuali cahaya dari lilin untuk berdoa. Sempurnalah kemelaratan ini!

Namun kemudian mereka mengadakan pemasangan listrik.

Yang pertama memasang adalah para anggota dewan.

Seorang lelaki tenang, yang tak ambil peduli pada sekitar. Tepi tingkahnya kerap aneh dan selalu tampak penuh pertimbangan sambil mengendus-enduskan hidungnya.

Namun tetap saja, dia orang yang tak ambil peduli pada sekitar.

Dan kini induk semang kami tersayang, Elizaveta Ignatyevna Prokhorova, mendatangi kami dan menyarankan supaya kami memasang listrik.

Katanya setiap orang sudah memasang. Para dewan juga sudah, tambahnya. Maka, tunggu apa lagi! Lantas kami ikut memasang listrik juga.

Kami memasangnya, menyalakan lampu, dan—Alamak!—Banyak lumpur dan kotoran busuk di mana-mana.

Bayangkan setiap hari biasanya kau berangkat pagi, pulang malam, minum teh dan istirahat tidur. Dengan lampu minyak tanah kau tidak melihat yang semacam tadi. Tapi kini kita menyalakan lampu listrik, lihatlah sekeliling, ada sepatu rombeng entah milik siapa tergeletak, kain sobek dan sebagiannya tak berbentuk, kepinding kelayapan dari cahaya, di sana entah karpet siapalah, di sini genangan air liur, puntung rokoklah, kutu berloncatan…

Alamak! Cukuplah untuk membuatmu memekik minta tolong. Memandangnya saja, rasanya amat memilukan.

Sofa itu misalnya, yang ada di kamar kami. Aku kira sofa itu baik-baik saja, sofa yang bagus. Sering aku duduk di sana pada malam hari. Namun sekarang begitu kunyalakan lampu listrik dan—sungguh tak terbayangkan! Sudikah kau menatap sofa seperti itu? Semua bagiannya tak berbentuk, melendut, dan isinya berhamburan keluar. Aku tidak bisa duduk di sofa seperti itu. Jiwaku tak akan sanggup.

Baiklah, aku pikir hidup yang baik itu bukanlah begini. Menjijikan melihat semua ini. Tampaknya tidak ada hal baik lagi yang bisa kulakukan.

Induk semang Elizaveta Ignatyevna juga terlihat sedih. Ia buru-buru ke belakang merapihkan dapur.

“Apa yang mengganggumu Nyonya?” tanyaku.

Dia melambaikan tangannya.

“Aku orang baik-baik”, jawabnya, “dan tidak tahu bahwa betapa aku selama ini amat miskin.

Aku perhatikan barang-barang induk semang—memang, kukira bukan barang-barang yang berkelas: barang-barang kotor dan busuk dan bermacam kain rombeng. Semuanya terlihat terang. Kau tidak bisa tidak melihatnya.

Begitu sampai di rumah barulah bayang-bayang akan semua itu mulai samar.

Aku tiba di rumah, menyalakan lampu, mengagumi bohlam, lalu membanting badan ke kasur.

Terlintas di benakku. Aku terima upah di hari gajianku, membeli kapur, melarutkanya dalam air dan mulai bekerja. Aku melucuti jok sofa, mengusir kepinding, menyapu sarang laba-laba, menepikan sofa lantas mengecatnya, aku rapihkan segala penjuru kamar. Jiwaku bernyanyi dan bergembira.

Meskipun kelihatan bagus, semua tak ada artinya. Sia-sia belaka tanpa akhir, kawan, meski sudah kutandaskan uangku, sebab induk semang pergi dan mencabut listrik.

“Menyakitkan,” katanya. “Segalanya terlihat menyedihkan di terang lampu. Mestikah aku menyalakan lampu dalam kondisi amat melarat begini? Semuanya hanya akan membuat para kepinding menertawakan.”

Oh aku memohon dan berdalih, tetapi tak banyak yang bisa diperbuat.

“Kau bisa pindah ke tempat lain,” tegasnya. “Aku tidak sudi hidup dengan serba terang. Aku tidak punya uang untuk menata ulang dekorasi rumah ini.”

Kau kira ini mudah Kamerad? Pindah di saat kau sudah menghabiskan semua uang yang kupunya untuk mendekorasi? Aku cuma bisa pasrah.

Hei, kawan—penerangan listrik itu baik, tapi tidak untuk keadaanku.

 

 

Mikhail Mikhailovich Zoshchenko (lahir 10 Agustus 1895 – meninggal 22 Juli 1958) adalah seorang penulis dan satiris asal Soviet. Zoshchenko lahir di St.Petersburg, Rusia, menurut otobiografinya yang tercetak pada tahun 1953. Ayahnya, yang berkebangsaan Ukrainia, adalah seorang seniman dan mosaikis yang menangani dekorasi eksterior Museum Suvorovdi Saint Petersburg. Ibunya adalah orang Rusia. Seorang penulis yang mengenyam pendidikan tinggi di Fakultas Hukum Saint Petersburg University, namun tidak lulus karena kekurangan biaya. Selama periode Perang Dunia 1, Zoshchenko bertugas di ketentaraan sebagai opsir lapangan, terluka fisik dalam aksinya, dan telah memperoleh banyak penghargaan. Dia bergabung dengan Serapion Brothers dan memperoleh popularitas pada tahun 1920-an sebagai satiris, tetapi, setelah surat keputusan dalam putusan Zhdanov, Zoshchenko jatuh miskin dan hidup melarat. Dia mendapatkan dana tunjangan beberapa bulan sebelum kematiannya.

Sumber: situs shortstoryproject.com

Diterjemahkan oleh Asra Wijaya

___

Ilustrasi: F. Ilham Satrio

 

Asra Wijaya

Penulis lahir 12 Juli 1993. Diberi nama Asra Wijaya oleh orangtuanya. Mencintai buku dan film. Saat ini menjadi editor dan penulis di ISH Review.

No Comments

Post A Comment