Loader

Membangun Alat Perjuangan Massa

“Bersama PEPPSI[1], FSPK[2], KSN Hancurkan Neoliberalisme dan Oligarki!”

Kata-kata tersebut terpampang dalam sebuah spanduk yang digantung di sudut ruangan, menyambut kami ketika memasuki sekretariat Konfederasi Serikat Nasional (KSN)[3] yang terletak di kawasan industri Rancaekek, Kabupaten Bandung.

Di dalam, sejumlah orang tengah berkumpul, merokok dan minum kopi. Kami mengamati sekitar. Di antara kepulan asap rokok kami mengenali wajah Ketua KSN yang baru saja dilantik 11 Februari 2018 kemarin, Hermawan. Memang, menemui Hermawan merupakan salah satu alasan kedatangan kami ke sini. Pertemuan ini merupakan upaya kami untuk menemui Hermawan setelah berulang kali gagal menemuinya.

Pertemuan yang berlangsung pada Jumat, 2 Maret 2018 itu dihadiri oleh beberapa aktivis serikat buruh dan mahasiswa dari beberapa kampus di Bandung, seperti UIN Sunan Gunung Jati, UNPAD dan UNPAS. Mereka saling berbaur, duduk melingkar tanpa beralaskan apapun, membuat suasana semakin akrab.

Hermawan pun membuka pembicaraan.

“Saya kadang merasa bingung dengan mahasiswa,” ujar lelaki itu. “Mereka diskusi panjang lebar mengenai rakyat dengan bahasa ilmiah yang kadang sulit dimengerti. Tapi kadang tak tahu soal nasib buruh yang bekerja di kampusnya.”

Sontak para mahasiswa yang hadir dibuat tertawa. Beberapa diantaranya tampak mengangguk, tanda bahwa mereka mengamini kritiknya terhadap mahasiswa.

Bukan tanpa alasan Hermawan berkata seperti itu. Menurutnya, para aktivis dan mahasiswa kadang cenderung reaksioner ketika menghadapi masalah-masalah yang ada. Baik para aktivis maupun mahasiswa yang sudah sadar bahwa sistem kapitalisme menyengsarakan rakyat, sebaiknya melakukan kerja pengorganisiran jauh hari sebelum kasus itu datang.

“Kalo saya bilang sih, jadinya seperti ‘Aktivis Kagetan.’ Mereka sadar bahwa kelak ada penggusuran,  atau kelak ada PHK. Tetapi tidak mempersiapkan alat perjuangan rakyat. Barulah ketika kasus datang, mereka datang layaknya pahlawan,” lanjut Hermawan.

Argumennya ini bukan berarti menganggap apa yang sudah dikerjakan oleh kawan-kawan aktivis dan mahasiswa tak ada gunanya. Memang, merespon kasus-kasus yang terjadi adalah suatu hal yang penting. Namun, seharusnya upaya membangun alat perjuangan bagi massa sudah terlebih dahulu dilakukan. Dengan demikian, ketika krisis kapital itu mulai meluas, massa dapat merespon itu dengan perlawanan yang terorganisir.

Alat perjuangan itu, menurut Hermawan, adalah organisasi. Dalam organisasi, massa belajar untuk membangun solidaritas pada lingkungan terdekat, mengumpulkan massa, dan belajar untuk menganalisa apa yang sebenarnya terjadi pada ruang hidupnya.

Pada kasus buruh, melalui serikat, buruh belajar untuk peduli terhadap kawan di lingkungan kerjanya. Melalui pendidikan dan aksi buruh dipantik kesadarannya bahwa mereka tertindas dan harus melawan.

Apa yang telah Hermawan paparkan, nampaknya telah dialami pula oleh Ari. Ia bersepakat untuk membangun organisasi sebagai alat perjuangan massa. Oleh sebab itulah menurutnya, ketika para buruh mendapat intimidasi dari pihak kampus, mereka tetap teguh melawan. Karena dalam organisasi, buruh belajar bahwa solidaritas antar sesama buruh maupun dari mahasiswa, mampu memperkuat perlawanan mereka.

Ari merupakan salah satu dari anggota KMU (Konsolidasi Mahasiswa UNPAD) Ari bercerita keterlibatannya dalam kerja membantu aksi buruh UNPAD yang tergabung dalam Konsolidasi Pekerja Universitas Padjadjaran (KOPERDJA). Koperdja sendiri berdiri pada tanggal 8 Oktober 2016 sebagai bentuk kesadaran atas kondisi kerja di lingkungan UNPAD. Buruh yang tergabung dalam KOPERDJA saat ini mencapai 200 orang, dari sekitar 400 orang jumlah buruh K3L (Kebersihan, Keindahan, dan Kenyamanan Lingkungan) UNPAD.

Di KOPERDJA, buruh belajar untuk menyadari hak-haknya. Mereka akhirnya sadar bahwa selama puluhan tahun mereka bekerja di institusi pendidikan yang dinaungi negara tidak menjamin hak-hak mereka terpenuhi.

“Gaji mereka itu hanya berkisar Rp. 400.000-500.000 perbulan. Untuk rokok dan makan saja kurang. Apalagi melihat perlakuan mahasiswa kepada mereka. Pernah saya melihat setumpuk dedaunan kering yang dikumpulkan susah payah oleh petugas kebersihan kampus, berserakan begitu saja ketika dilibas oleh mobil yang dikendarai mahasiswa. Itu otaknya gak tahu di mana itu,”  tutur Ari saat menceritakan nasib buruh yang bekerja di UNPAD.

Itu sebabnya buruh yang tergabung di KOPERDJA akhirnya memutuskan untuk menuntut hak-hak mereka pada momentum hari pendidikan nasional. Pada aksi tersebut KOPERDJA berhasil meloloskan tuntutan mereka soal jam kerja, THR dan upah. Dalam aksi ini juga Ari ikut terlibat. Keterlibatan Ari bermula ketika ia bergabung dengan KMU yang ikut membantu mendirikan KOPERDJA. Dari sinilah Ari mulai sadar akan pentingnya kepedulian terhadap buruh-buruh yang bekerja di kampusnya.

Beberapa hari menjelang aksi, buruh mendapat intimidasi berupa teror sms, ancaman pembunuhan oleh orang suruhan dari pihak kampus. Atas kejadian ini beberapa kawan KMU akhirnya memutuskan untuk menjaga anak dan istri para buruh di rumahnya, untuk mengantisipasi intimidasi. Untungnya intimidasi itu tak berlanjut. KOPERDJA akhirnya dapat memenangkan tuntutan diantaranya mendapatkan THR, jam kerja yang berkurang dan kenaikan upah.

Tak hanya para buruh yang mendapat intimidasi. Panggilan dari pihak birokrat kampus bahkan menjadi hal lumrah bagi para mahasiswa yang membantu KOPERDJA. Ari bahkan sempat disuruh untuk cepat-cepat lulus. Namun, tekad untuk membantu rakyat tertindas sejak di lingkungan terdekatnya tak membuatnya mudah tergiur atau takut oleh tawaran dan ancaman pihak kampus. Kini Ari masih aktif  membantu KOPERDJA bersama mahasiswa yang tergabung dalam KMU.

Pada pukul 00.00 WIB, tampak beberapa kawan mulai bergegas. Menandakan pertemuan akan disudahi dalam beberapa menit lagi. Satu persatu kawan mulai pamit, lalu Hermawan mengajak kami pindah ke ruangan lainnya. Pria berkacamata itu tak kuasa menahan udara dingin yang menusuk, kendati telah berupaya melindungi tubuhnya menggunakan sarung. Tak terasa berbincang seputar topik sehari-hari, waktu sudah menunjukan pukul 02.00 WIB. Pertanda bahwa kami mesti segera berkemas dan pulang menuju Bandung.

Kami akhirnya berpamitan dengan Hermawan. Suara katak, jangkrik dan pemandangan hamparan sawah menemani perjalanan kami menuju jalan raya yang mengarah ke Bandung. Ada kritik, pengalaman dan pelajaran yang bisa kami petik dari sekretariat yang dikelilingi persawahan itu. Tetapi, pekerjaan rumah membangun perlawanan dari lingkungan sekitar dan membuat alat perjuangan massa adalah pekerjaan yang harus kami lakukan untuk memperbaiki kerja-kerja pengorganisiran yang selama ini dikerjakan.

 

Catatan:

[1] Persatuan Perjuangan Pekerja Seluruh Indonesia (PEPPSI).

[2] FSPK (Federasi Serikat Buruh Kerakyatan).

[3] Konfederasi Serikat Nasional (KSN) adalah konfederasi dari beberapa federasi serikat buruh yang di deklarasikan pada 11-13 Nopember 2012 di Parung. Beberapa federasi yang tergabung diantaranya FSPK, GSBN, FSBM dll.

___

Disusun oleh Militansi: Astika, Syawahidul, Ilyas Gautama, Rinaldi Fitra

Foto dokumentasi: Militansi, Metaruang 2018

 

No Comments

Post A Comment