Metaruang | Membedah Kambing, Menaksir Hujan
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
142
post-template-default,single,single-post,postid-142,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Membedah Kambing, Menaksir Hujan

/1/

Nama Mahfud Ikhwan mungkin tidak terlalu dikenal dalam jagat kesusastraan Indonesia, namun novelnya yang ketiga, Kambing dan Hujan membuat namanya mulai dipertimbangkan. Kambing dan Hujan berhasil mendapatkan penghargaan pertama pada sayembara Dewan Kesenian Jakarta mengalahkan Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, Napas Mayat karya Bagus Dwi Hananto, dan Puya ke Puya karya Faisal Oddang. Tidak selesai dengan sayembara DKJ, Kambing dan Hujan juga dipilih sebagai karya sastra terbaik 2015 versi Jakartabeat.

Kendati pun terdapat label sebuah roman pada novel Kambing dan Hujan, dengan alur dan gaya bahasanya yang sederhana, novel ini tidak terkesan picisan. Roman merujuk pada kisah hidup beberapa tokoh dengan segala permasalahannya. Roman merupakan karya yang dekat dengan kenyataan, penggunaan latar tempat, waktu, hingga kondisi sosial harus sesuai dengan apa yang juga kita ketahui2. Di dalam novel beberapa kali disinggung persoalan roman seperti, Sebab tak ada biografi tanpa sebuah roman! (Kambing dan Hujan, hlm. 72)

Predikat novel yang bernafas Islami tidak membuat Kambing dan Hujan bercerita dengan cara mengkhotbah atau bahkan menutup-nutupi prasangka yang dinilai tabu bagi beberapa pihak. Dengan mengalir, tokoh-tokoh dalam novel ini dihadapkan pada sebuah situasi tertentu untuk mencari nasib mereka sendiri, tentu saja situasi yang dihadapkan merupakan cermin ̶ meskipun tidak sempurna ̶   dari realitas sosial yang terjadi saat itu3.

Sebagai roman, Kambing dan Hujan pun memiliki teknik penceritaan yang lumayan bagus. Posisi pencerita dalam novel Kambing dan Hujan bersifat campuran. Pertama adalah penggunaan sudut pandang orang ketiga; narator menjadi pencerita maha tahu yang tidak terlibat dalam cerita.  Hal ini ditandakan dengan penggunaan deiksis persona diaatau mereka.

Sehabis Isya, mereka makan malam bersama. Sesuatu yang sangat jarang dilakukan keluarga tersebut—juga oleh keluarga-keluarga Centong lainnya. (hlm. 23)

Penggunaan sudut pandang orang ketiga ini dominan dalam novel Kambing dan Hujan, walau ada pula beberapa fragmen yang menggunakan sudut pandang aku atau orang pertama, untuk mempermudah penceritaan. Meski demikian, di awal kita akan kebingungan untuk mengikuti alur cerita, karena tidak adanya deskripsi yang cukup. Hingga di pertengahan cerita, teknik bercerita dengan sudut pandang orang pertama ini akan menjadi jelas, pergantian pusat pengisahan disiasati dengan cara penyebutan nama tokoh yang berbeda, misal tokoh Iskandarmenyebut Fauzan dengan Moek sedangkan Fauzan menyebut namanya dengan Mad.

Iskandar:

Aku sangat ingin melanjutkan sekolah -semua orang tahu itu. Tapi, tak bisa. Bagaimana lagi? Aku iri dengan anak macam Moek… (hlm. 64)

Fauzan mencoba menyembunyikan identitasnya dalam ceritanya kepada Fauzia:

Abah dulu punya teman. Namanya -sebut saja- Mat. Mat punya sahabat. Namanya Is (hlm. 53)

Komposisi keberadaan tokoh dalam novel ini pun dibuat berimbang, antara masjid utara (pembaharu) dan masjid selatan (tradisional). Meskipun masjid selatan memiliki pengikut yang mayoritas di Centong termasuk perangkat desa seperti Pak Kades, Pak Carik, dan Pak Kamituwo tetapi masjid utara tidak serta-merta menjadi inferior karena Cak Ali ternyata mendapat dukungan dari tentara dan kecamatan. Dan saat Iskandar memiliki Cak Ali sebagai guru mengaji kebanggaannya, Fauzan juga memiliki Mas Ali atau Ali Qomaeruli, seroang guru dari pesantren di Jombang. Nantinya dua orang ini yang menjadi kejutan bagi warga Centong saat Mif dan Fauzia menikah.

Terakhir, dari pihak Fauzia memiliki orang yang paling menonjol menolak hubungannya dengan Mif, yaitu kakaknya Fuad, sedangkan dari pihak Mif terdapat juga tokoh yang paling sering menyinggung masjid utara dan sering bertindak gegabah, yaitu Suyudi. Kedua tokoh ini di pertengahan dijelaskan berposisi sama yaitu sebagai bagian dari birokrat dan suatu partai politik.

Sejengkal tanah pun kau menginjak halaman rumah ini tak rela aku! Haram kau masuk ke rumahku! Suara hardikan Fuad itu masih tetap segar terngiang di telinganya. (hlm.303)

Tentu saja penengah dari keduanya adalah Anwar yang memiliki hubungan kekerabatan antara Iskandar dan Fauzan. Anwar merupakan tokoh yang netral, namun hal ini yang menyebabkan Anwar tidak diterima oleh dua belah pihak. Keberpihakan Anwar sebenarnya telah dibangun saat Anwar remaja, di akhir novel dijelaskan bahwa Anwarlah yang mengembalikan tongkat untuk khotib berkhutbah sebelum salat jumat.

/2/

Nahdlatul ‘Ulama (NU) dan Muhammadiyah adalah dua organisasi islam terbesar di Indonesia, namun islam yang mereka yakini dan praktikan tidak selalu sama, hal yang paling sering menjadi perdebatan adalah masalah khilafiyah. Perbedaan paham antara mana yang mubah dan bidah.

K.H. Hasyim Asy’ari beserta beberapa orang lain membentuk organisasi NU tanggal 31 Januari 1926, dan memilih K.H. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar. NU sendiri menganut ahlussunnah wal jama’ah sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Selain Al-Quran dan Sunnah, NU juga mempertimbangkan realitas empirik sebagai sumber pemikiran4.

Sebelum itu, 18 November 1912, Muhammad Darwis yang kemudian berganti nama menjadi K.H. Ahmad Dahlan merasa khawatir akan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada umat islam di Indonesia. Beliau akhirnya membentuk organisasi Muhammadiyah untuk menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. ‘Munkar’ di sini terkait dengan syirik, bidah, dan kufarat5.

Perbedaan paham ini, meskipun secara sekilas tidak terlalu kontras, namun pada realitasnya menyebabkan dua organisasi ini terlibat kooperasi, kompetisi, bahkan konfrontasi. Masalah khilafiyah dalam novel Kambing dan Hujan dijelaskan dari kutipan berikut.

Pada sebelas bulan lainnya, orang-orang mungkin hanya teringat pada qunut pada shalat subuh dan dua adzan pada shalat Jumat. Begitu Ramadan memasuki malam pertamanya, puluhan perbedaan yang sengit dan genting segera diingat dan ditegaskan. Jumlah rakaat Tarawih secara keseluruhan, jumlah rakaat pada setiap bagian, bacaan-bacaan di sela-sela Tarawih, pelafalan niat berpuasa, bacaan tarhim sebelum adzan Subuh, hal-hal yang membatalkan puasa, soal pada malam ke berapa lailatul qadar kemungkinan besar diyakini akan turun, kapan waktu terbaik zakat fitrah diberikan dan bagaimana cara membagikannya, tempat shalat ‘Id dilaksanakan, hingga -puncaknya-  perihal kapan dan dengan cara apa 1 Syawal ditentukan kedatangannya.(hlm. 233-234)

Seperti yang telah dijelaskan bahwa penulis dengan sangat berhati-hati mengomposisikan antara pihak Nahdliyin dan juga Muhammadiyah. Bahkan olok-olokan terkait dengan khilafiyah digambarkan secara berimbang. Konflik itu bukan hanya terdapat dalam kisah-kisah fiksi semata, salah satu konflik antar dua organisasi islam ini sempat diteliti dalam sebuah karya ilmiah berupa skripsi oleh Shodiq Rahardjo. Hal yang menjadi penyebab konflik adalah persoalan bedug dan berujung pada konflik fisik6.

Permasalahan khilafiyah ini mau tak mau pasti terjadi. Di zaman yang dinamis, syari’at tak pelak dibenturkan dengan permasalahan-permasalahan yang akhirnya timbul atas keterdesakkan7. Alhasil, tidak semua muslim menyetujuinya, karena menganggap bahwa syariah itu bersifat Illahiyah8.

Meskipun perbedaan pendapat menjadi pemicu konflik horizontal antara NU dan Muhammadiyah, namun dalam novel Kambing dan Hujan, pengarang mencoba untuk menjelaskan bahwa konflik khilafiyah ini bukan satu-satunya pemicu. Justru hal-hal lain yang menyebabkan konflik membesar. Masalah yang coba dihadirkan adalah masalah komunikasi antara Fauzan dan Iskandar yang tidak selesai.

Ini mungkin bukan sekadar sebuah sejarah lokal Islam tradisional versus modern versi lain, sebagaimana yang disangkanya. Bukan pula sejarah kecil tentang genealogi perselisihan dua masjid di sebuah komunitas santri masyarakat tegalan. Bagaimana kalau ini sebuah biografi?  Dan, semua tetek bengek perselisihan antara modenis-tradisionalis ini tak lebih dari latar belakang? (hlm.72)

Ini bukan lagi tentang masjid yang berbeda atau ormas yang saling bersaing, Mif. Ini tentang luka hati yang dalam dan tersimpan puluhan tahun, kata suara di kepalanya. (hlm. 182)

Permasalahan ini akhirnya menjadi jelas, ketika dua sahabat ini, Iskandar dan Fauzan terpaksa kembali angkat bicara setelah berpuluh tahun saling mendiamkan diri. Sebuah babak yang berakhir dengan pernikahan Mif dan Fauzia, atau perdamaian antara NU dan Muhammadiyah di Centong. Kedua pihak masih mempertahankan keyakinannya, Mif dengan salat subuh tanpa qunutnya dan Fauzia dengan niat salat yang dikencangkan suaranya.

/3/

Kambing dan Hujan adalah novel yang cukup segar karena mengangkat isu antara NU dan Muhammadiyah secara lugas dan tidak ditutup-tutupi. Permasalahan khilafiyah yang sepele, tapi nyatanya begitu sensitif untuk diutarakan. Komposisi antara pihak tradisionalis dan pembaharu dapat dikatakan seimbang. Hal itu menyebabkan pembaca tidak merasa diceramahi atau diberikan doktrin tertentu. Pengarang tidak terlihat bertendensi kepada salah satu di antara dua belah pihak.

Sebagai roman, persoalan yang diangkat terbilang dekat dengan pembaca khususnya masyrakat Jawa. Di daerah pedesaan masih terjadi konflik terkait masalah khilafiyah ini. Sementara itu, dibubuhi persoalan tentang PKI di antara kisah antara Iskandar dan Fauzan, merupakan konsekuensi atas latar tempat yang dihadirkan, yakni tahun 1965. Para kaum tua menganggap PKI sesat, sehingga Cak Ali sempat dituduh sebagai anggota dari PKI karena dia tidak menggunakan qunut saat salat subuhnya.

Sedangkan Mif sebagai sarjana sejarah menganggap bahwa isu PKI tidak lain hanyalah permainan politik dari pemerintah. Mif sendiri sadar bahwa isu PKI merupakan isu yang sensitif, maka Mif mengelabui Pak Nasrullah yang hendak menjodohkan Mif dengan Diah, anaknya.

“Dan, bahwa pembantaian itu sama sekali tak terkait dengan agama dapat kita lihat pada kasus pembantaian PKI di Bali.” (hlm. 275)

Dalam hal ini, Mahfud Ikhwan mencoba bersifat objektif atau menghindari anakronisme. Hanya saja, yang disayangkan adalah sikap penulis dalam menghadirkan tragedi 1965 itu tak lebih dari sekedar varian daripada mencoba untuk men-dsitorsi sejarah yang ada selama ini. Tanpa disadari Ikhwan pun turut melegitimasi kekerasan budaya yang selama ini dilakukan oleh pemerintahan Orde Baru, dan sesudahnya.

Kambing telah sedemikian dibedah dan Hujan telah pula ditaksir. Walau tak lagi bisa dipungkiri, dalam kondisi saat ini, di mana maraknya radikalisme agama muncul, novel Kambing dan Hujan ikut membedah dan menaksir kejumudan budaya kita yang telah mendarah-daging. Tentu kita semua mengharapkan terjadinya dialektika berkesinambungan antara kedua belah pihak yang berbeda laku dan tafsir itu, agar senantiasa hadir daripadanya sintesa-sintesa kebaikan, bagi zaman dan umatnya.

 

———————————————————————

 

Catatan:

1Judul merupakan perumpamaan dalam mengaji novel Kambing dan Hujan. Makalah ini disampaikan saat Reboan ASAS tanggal 3 Ramadhan 1437 Hijriah

2Benarlah menurut harapan pembaca roman harus mendekati kenyataan dunia roman yang disajikan dalam roman harus kita kenali dan harus akrab dari segi kenyataan. Tempat terjadinya peristiwa harus sesuai dengan tempat kediaman manusia yang kita ketahui, jalan waktu cerita harus sesuai dengan jalan waktu yang kita alami secara wajar, manusia dan alam yang kita temukan  dalam roman harus cocok dengan pengalaman kita. (A Teeuw, Sastera dan Ilmu Sastera: 189)

3Pengarang besar tentu saja tidak sekadar menggambarkan dunia sosial secara mentah. Ia mengemban tugas yang mendesak: memainkan tokoh-tokoh ciptaannya itu dalam suatu situasi rekaan agar mencari “nasib” mereka sendiri — untuk selanjutnya menemukan nilai dan makna dalam dunia sosial. Sastra karya pengarang besar melukiskan kecemasan, harapan dan aspirasi manusia; oleh karena itu barangkali, ia merupakan salah satu barometer sosiologis yang paling efektif untuk mengukur tanggapan manusia terhadap kekuatan sosial. (Sapardi Djoko Damono, Sosiologi Sastra: 19)

4http://www.nu.or.id/about/paham+keagamaan

5http://www.muhammadiyah.or.id/content-178-det-sejarah-singkat.html

 

6 Konflik antara NU dan Muhammadiyah (1960-2002) Studi Kasus di Wonokromo Pleret Bantul Yogyakarta oleh Shodiq Raharjo

(http://digilib.uin-suka.ac.id/1084/1/BAB%20I%2C%20V%2C%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf)

7Maka tampaknya umat islam lebih baik terus-menerus berpura-pura tidak melanggar syari’ah sebagai satu-satunya hukum yang mempunyai otoritas fundamental dan menghindar untuk mempraktikannya dengan menarik ke arah doktrin keterdesakkan (dharurat), daripada mencoba untuk menyesuaikan hukum tersebut dengan berbagai problem dan kebutuhan kehidupan kontemporer. (Anderson dalam Abdullah Ahmed An-Na’im, Dekontruksi Syariah: 12

8Bahwa sejatinya hukum publik syari’ah bukanlah hukum yang semua prinsip khusus dan aturan rinciannya langsung diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Jika dapat diyakinkan bahwa syariah itu disusun oleh para ahli hukum islam awal berdasarkan interpretasi sumber asasinya, yaitu Al-Qur’an dan sunnah, umat Islam kontemporer niscaya akan lebih terbuka menerima kemungkinan reformasi syari’ah secara substansial. (Abdullah Ahmed An-Na’im, Dekontruksi Syariah: 20)

M. Adhimas Prasetyo

M. Adhimas Prasetyo adalah ketua ASAS UPI. Karyanya tersebar di beberapa media cetak seperti Indopos dan Pikiran Rakyat. Puisi dan cerpennya dibukukan dalam antologi bersama berjudul Nun. Nominasi pemenang LMCR 2013.

No Comments

Post A Comment