Loader

Mengenal Sosialisme Abad ke-21

Njoto (Marxisme, Ilmu dan Amalnya, 1962) berucap Sosialisme merupakan suatu konstruksi sosial atau sistem masyarakat yang berdasarkan pemilikan bersama atas alat-alat produksi. Jadi Njoto melihat jika yang dimaksud dari pemilikan bersama adalah; alat-alat produksi. Jadi, pemilikan bersama ini bukan atas meja-kursi, buku-buku, tempat tidur, sepeda, dan jauh berbeda dari simplifikasi atas pemaknaan terkait “sama rata”.

Di dalam sosialisme sendiri proses produksi berlangsung dan mengedepankan prinsip sosial, demikian juga hasil yang diproduksi, digunakan juga secara sosial untuk kepentingan khalayak umum. Secara dasar sosialisme itu bukan kapitalisme yang produksinya berlangsung sosial, ini dapat dilihat dalam keberadaan kaum buruh yang membludak, produksi dalam kapitalisme tidak ada artinya tanpa buruh. Suatu penghisapan hingga menjadi nilai lebih, ada karena relasi keberadaan buruh dan produksi.

Kemudian kapitalisme bekerja dengan menghisap buruh, memisahkan alat produksi dengan menciptakan suatu perspektif, jika buruh bekerja dengan tenaganya. Maka tenaga itulah yang dilihat sebagai jasa, atau lebih sederhananya tenaga merupakan hal yang dijual oleh buruh dalam sistem produksi. Sialnya, seberapa kuat buruh berusaha, tetapi hasil-hasil yang mereka produksi, akhirnya masuk ke kantong penguasa produksi atau para kapital. Sistem tersebut jelas kontradiktif dengan prinsip sosial, sehingga kapitalisme menghasilkan budaya sosial.

Menurut Njoto sendiri, sosialisme tidak boleh disimplikasikan sebatas pernyataan “sama rata-sama rasa,” di mana ada suatu pemahaman jika orang yang bekerja keras berhak makan dan orang yang malas bekerja juga berhak makan, meski dia tidak menghasilkan apa-apa. Kemudian ada juga pemahaman, di mana seorang yang rajin mendapatkan hasil yang sama dengan seorang yang tidak melakukan apa-apa. Maka harus diluruskan, tesis yang disampaikan tadi jelas kontradiktif dengan sosialisme yang sesungguhnya. Di dalam sosialisme sendiri menyatakan jika yang hanya bekerjalah yang berhak makan, sedang yang tidak bekerja tidak berhak makan. Lalu, beranjak pada yang tidak melakukan apa-apa, ia pun tidak akan mendapat sama dengan yang bekerja.

Secara pendekatan dasar, yang rajin dan berusaha akan mendapatkan hasil sesuai kerja. Tetapi, dalam sosialisme mereka berproduksi secara sosial. Dikelola bersama, tanpa ada kepemilikan tunggal. Jadi pembagian kerja sesuai dengan kemampuan, serta waktu kerja dan waktu luang. Sekaligus hak dasar (kesehatan, pendidikan, dan makanan pokok) dipenuhi, sebagaimana prinsip dasar sosialisme.

Karl Marx pernah membahas, bahwa dalam sosialisme manusia bekerja menurut kemampuannya dan mendapat menurut prestasi atau hasil kerjanya. Singkat, jelas dan padat, sosialisme adalah suatu konsep masyarakat “exploitation de l’homme par l’homme,” tanpa penghisapan oleh manusia atas manusia, seperti diajarkan oleh Soekarno.

Begitupun dengan semangat Chavez di Venezuela atau Morales di Bolivia, mereka menggelorakan semangat anti-imperialisme dan anti-kapitalisme. Menolak intervensi IMF dan borjuasi raksasa Amerika Serikat, dengan semangat independensi serta solidaritas antar negara Amerika Selatan. Meneruskan semangat Simone de Bolivar untuk pembebasan Amerika Selatan, dan juga tentunya bagian dunia lainnya yang masih “dikuasai” oleh Imperialis-Kapitalis Global. Baik secara lebih progresif maupun hanya sebatas semangat pembakar jiwa.

Sosialisme dalam Implementasinya

Mengenal sosialisme haruslah utuh, dengan melihat perspektif secara ortodoks yang berdasar pada pemikiran Marx. Marxisme (Sosialisme) adalah suatu bentuk pedoman gerak untuk beraksi, sebab itulah tidak ada pandangan yang setara dengan persoalan mistifikasi sosialisme. Seperti perilaku imateril, supaya membeli tumpukan-tumpukan mantra atau jampi. Guna menggeneralisir, mendiskreditkan pemikiran sosialisme tanpa basis argumentasi logis. Marxisme sendiri baru ada gunanya, jika diterapkan secara kreatif.

Marxisme merupakan pedoman umum, yang sangat universal. Karena itulah, untuk memenangkan revolusi Indonesia, Marxisme harus disesuaikan dengan adat atau lokalitas komprehensif. Marx pun beranjak dari kajian di Eropa, kemudian ia mencetuskan sebuah pemikiran yang sangat sesuai dengan kondisi di Eropa. Karena jika pemikiran Marx diterapkan mentah-mentah, jelas tidak sesuai dengan kondisi di Indonesia. Maka akan penuh kecacatan, dan cukup kaku, sehingga ranah gerak akan terpengaruh.

Dengan berpegang teguh pada ajaran-ajaran dasar Marxisme (sosialisme), kaum Marxis Indonesia harus secara kreatif menentukan sendiri platform politik, baik taktik atau strategi yang akan dibentuk sesuai kondisi perjuangan dan khususnya pengembangan strategi dan taktik Marxisme sendiri berdasarkan keadaan-keadaan konkrit di Indonesia (Aidit, Tentang Marxisme, 1963).

Hal ini juga dapat dilihat dari sebuah pernyataan mengenai apa sebenarnya pokok sosialisme. Perbedaan pemahaman sosialisme dari Saint-Simon dan Owen, yang sangat berbeda dengan Marx dan Engels dalam keberhasilan menangkap kenyataan perjuangan kelas proletariat-kapitalis. Dan berbeda dengan pemikiran sosiali “Utopis” (mimpi siang bolong), Marx menyadari pentingnya perjuangan politik revolusioner yang berlandaskan praksis gerak, solidaritas dan aksi nyata, jikalau dalam konteks kultur Eropa Barat berbasis massa proletariat.

Hal ini diperlihatkan oleh Marx, karena pada abad ke-19, karakter masif dan politis dari perlawanan kelas pekerja terlihat begitu progresif. Maka dari itu pokok sosialisme ada teori yang selalu diperbarui sesuai realitas, adanya praktik nyata dan langkah kreatif. Teori merumuskan gerak sebagai praksis, sebagai suatu implementasi. Secara tidak langsung sosialisme harus menjadi sentrum, membuka afinitas, serta sifatnya kontemplatif-proyektif-implementatif.

Elemen penting sosialisme adalah MDH (Materialisme-Dialektika-Historis), ekonomi-politik sebagai basis suprakstruktur, gerakan masif sebagai infrastruktur. Melihat basis persoalan serta problem yang aktual, bukan terjebak dalam romantisme anakronis. Sebagaimana ungkapan Njoto bahwa Sosialisme harus dijalankan sesuai ilmu dan diamalkan, dalam suatu upaya pembebasan. Tidak sebatas diucap, didiskusikan, tapi memperluas jaringan solidaritas agar tercapai sebuah pemikiran yang implementatif. Menciptakan basis-basis pemikiran kritis, memupuk kepedulian, menanamkan nilai-nilai lokal yang relevan, merupakan bagian dari pengalaman. Karena sosialisme dengan corak khas, harus dicapai dengan demokrasi dan lokalitas.

Namun yang terpenting dalam membahas sosialisme ialah memperluas wawasan, memupuk kepedulian, menghancurkan kepala batu agar dapat menerima realitas kekinian. Supaya tidak terjebak ke dalam romantisme sejarah, hingga terbuai dalam candu sesat hingga sosialisme hanya berakhir dalam kalimat suci revolusi atau hanya sebatas gurauan.

Terpenting dalam pengalaman teoritik, ialah mempertajam pemikiran dan gerak konkrit. Memperluas solidaritas, turun baisis dan tidak bias perspektif. Martha Harnecker (2015) mengungkapkan jika sosialisme dengan jargon revolusi seharusnya dapat menarik simpati dan empati, jika revolusi sebatas menakuti, maka perlu dipertanyakan lagi revolusimu.

Bolshevik hadir dengan jargon Kedaiaman, tanah dan roti adalah upaya yang intinya sama dengan egalite, liberte dan fraternite. Sementara Venezuela hadir dengan persatuan nasionalnya, yang mengkombinasikan golongan buruh, tani, dan kaum miskin kota. Dengan semangat dan jargon mewujudkan revolusi Bolivarian yang berkeadilan sosial. Ide pokok sosialisme secara simbolis terlukis pada slogan untuk memperluas jejaring, hadir sebagai upaya memperbanyak kawan. Sebuah solidaritas untuk menumbuhkan simpati dan empati, yang nantinya mendobrak konstelasi yang hegemonistik.

Karena sosialisme bukan sekedar busa romantik dalam catatan buku, sekedar mengulang kegemilangan parta lalu, atau gerakan itu. Sosialisme ada karena riset, gerak dan solidaritas, paham diskursus yang kontekstual sesuai realitas. Bukan kebebalan dalam ortodoksi pemikiran, menara gading, eksklusif, elitis dan jauh dari solidaritas. Sehingga menegaskan secara rill, inti dari sosialisme sendiri adalah cinta, demokrasi, kedamaian, keadilan dan kesejahteraan.

 

 

Daftar Pustaka:

Aidit, D.N. 1963. Tentang Marxisme. Sosial Aliarcham.

Harnecker, M. 2015. Sosialisme Abad Keduapuluh Satu: Pengalaman Amerika Latin. Terj. Nug Katjasungkana dan Coen Husain Pontoh. Yogyakarta: Resist Book dan IndoProgress.

Njoto. 1962. Marxisme, Ilmu dan Amalnya: (Paparan Populer). Harian Rakjat.

___

Ilustrasi: F. Ilham Satrio

 

No Comments

Post A Comment