Loader

Mengenang Wafatnya Sang Martir Nasionalis Papua Barat, Arnold Clemens Ap.

 

Andai saja aku burung elang

Terbang tinggi mata menelusup

Tapi sayang nasib burung sial

Jadi buruan akhirnya terbunuh

-Arnold Clemens A.P

 

Kamis 26 April, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) menghelat Panggung Budaya Papua “Bernyanyi Untuk Hidup” yang diisi berbagai apresiasi seni dan musik. Acara tersebut digelar untuk mengenang Arnold Clemens Ap, sang martir perjuangan rakyat Papua Barat yang mangkat merebut kemerdekaan.

Panggung budaya yang bertempat di Asrama Papua Jl. Cilaki Bandung itu menyuguhkan berbagai pertunjukan kesenian, mulai dari pembacaan puisi, performance art, musik, dan lapak baca gratis dari Perpustakaan Jalanan. Sekitar seratus orang dari berbagai komunitas hadir ikut menghidupkan suasana. Hari tersebut adalah momentum bersejarah bagi rakyat Papua Barat, karena tepat tiga puluh empat tahun yang lalu pahlawan cum seniman legendaris dibunuh oleh Negara Indonesia hanya karena mendambakan kebebasan dan kemerdekaan rakyat Papua Barat.

Arnold Clemens Ap kondang dikenal sebagai salah satu pengusung grup musik Mambesak. Lagu-lagu yang diciptakan Membesak amat menginspirasi gerakan Nasional Papua Barat. “Acara ini kami inisiasi untuk menyulut semangat perjuangan dan menjaring solidaritas untuk kemerdekaan rakyat Papua Barat yang selama puluhan tahun ditindas oleh Negara dan Imperialisme, meneruskan apa yang telah dimulai Arnold Clemens,” ujar Willy sebagai salah satu anggota AMP dan kordinator acara.

Bagi rakyat Papua, lanjut Willy, Arnold Clemens lebih dari sekedar tokoh kebudayaan dan intelektual, dia adalah bapak bangsa pemersatu yang menjadi nafas perjuangan rakyat melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan kekuasaan politik Negara dan Asing yang eksploitatif atas segala sektor kehidupan rakyat Papua. Arnold adalah pahlawan Nasional Papua Barat, perannya telah berhasil melampaui sekat-sekat kebudayaan dan bahasa yang menjadi batasan di antara ratusan kelompok adat yang ada di Papua Barat.

Tanggal 1 Desember 1961, Papua Barat telah dinyatakan merdeka secara De Facto dan De Jure. Sewindu kemudian, orde Indonesia mengadakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) dari 14 Juli hingga 2 Agustus yang berujung pada Aneksasi atas Papua Barat. Dalam pers rilisnya, AMP menyatakan bahwa Pepera adalah tindakan manipulatif Negara untuk menguasai Papua Barat. Penjarahan dan penjajahan atas sumber daya bangsa Papua Barat oleh Negara dan Investor yang saat ini terjadi adalah implikasi berkepanjangan dari Pepera yang merugikan rakyat Papua Barat.

Dalam pers rilisnya, AMP Komite Kota Bandung mendesak PBB beserta rezim Jokowi-JK untuk segera:

  1. Berikan hak penentuan nasib sendiri sebagai solusi demokratis bagi bangsa Papua Barat;
  2. Usut tuntas kasus pelanggaran HAM yang terjadi di seluruh daerah Papua Barat;
  3. Tarik militer (TNI-POLRI) organik dan non-organik dari tanah Papua Barat;
  4. Usut tuntas dan adili para pelaku yang terlibat dalam kasus pembunuhan terhadap Arnold C A.P dan kawan-kawannya.

 

Arnold Clemens A.P telah mati di tangan militer yang tidak bertanggung jawab. Ketiadaannya telah menjadi api bagi perjuangan rakyat Papua Barat untuk meraih kedaulatan ekonomi dan politiknya. Suaranya abadi, melantun merongrong rezim yang rakus.

 

Yang kudamba

Yang Kunanti

Tiada lain hanya kebebasan 

-Mambesak – Hidup Ini Suatu Misteri

 

___

Dokumentasi: Gia, Yagus Prasetyo

 

No Comments

Post A Comment