Metaruang | Menjadi Anak Papua di Tanah Jawa
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17512
post-template-default,single,single-post,postid-17512,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Menjadi Anak Papua di Tanah Jawa

DENGAN mata kepalanya sendiri, di hadapannya, Akithen melihat kakaknya dikeroyok.

Sambil memukuli kakaknya mereka berteriak, “Kamu monyet! Kamu monyet!”

Semua berawal ketika belasan, mungkin puluhan, orang yang mengaku sebagai anggota ormas dan utusan Pak Camat Tambaksari, Surabaya, itu mampir di rumah kontrakan yang ditinggali Akithen dan mahasiswa-mahasiswa Papua lainnya pada Rabu, 15 Agustus 2018. Mereka meminta untuk memasang bendera merah-putih di halaman rumah tersebut.

“Oke, gak apa-apa. Bisa, kok. Tapi kalau boleh, dekat pagar,” balas salah seorang mahasiswa penghuni kontrakan kepada para utusan camat dan anggota ormas, seperti yang diceritakan Akithen ketika dihubungi Metaruang pada Senin, 19 November 2018.

Namun yang terjadi selanjutnya sama sekali tidak dipahami oleh Akithen, atau teman-temannya. Ketika negosiasi masih berlangsung, seorang anggota ormas itu pergi ke depan halaman rumah. Kepada wartawan-wartawan yang ternyata sudah berkumpul, laki-laki itu mengumumkan: mahasiswa-mahasiswa Papua ini menolak untuk pasang bendera merah putih.

Baku hantam pun terjadi tak lama kemudian. Beberapa orang terluka, berdarah dan memar-memar. Rumah kontrakan mereka dikepung hampir seharian; Akithen dan teman-temannya tidak bisa pergi kemana-mana, bahkan tidak untuk membeli bahan makanan ketika para mahasiswa merasa lapar.

Malam harinya, sejumlah 49 mahasiswa Papua diangkut Dalmas ke Polsek setempat. Akithen melihat sendiri di berita daring, bagaimana mereka diberitakan menolak untuk memasang bendera merah-putih dan menyerang warga Surabaya dengan ganas.

Yang dialami Franz dan teman-temannya, mahasiswa Papua yang tinggal di Malang, tak jauh berbeda. Ketika menggelar diskusi Biak Berdarah pada Minggu, 1 Juli 2018, rumah kontrakan mereka didobrak, digeledah; buku-buku, laptop dan ponsel diambil. Gelas dan piring-piring dibanting dan dipecahkan. Mereka dipukul dengan galon, dipukul dengan besi hingga berdarah.

“Sampai berdarah. Dipukul di dekat leher, belakang kepala,” ucap Franz ketika dihubungi pada Selasa, 13 November 2018.

Yang memukul dan mengacak-ngacak rumah kontrakan mereka lagi-lagi adalah aparat dan anggota ormas. Mereka datang membawa surat edaran. Isinya, warga sekitar meminta diskusi tidak dilaksanakan.

Janggalnya, Franz masih ingat betul soal apa yang dikatakan seorang penjaga warung beberapa hari lalu. Penjaga warung itu memiliki relasi yang cukup baik dengan para mahasiswa; karena jaraknya yang dekat, Franz dan teman-temannya sering berbelanja di sana. Ini yang penjaga warung katakan: bahwa akan ada konflik di rumah kontrakan mahasiswa Papua, konflik yang sudah direncanakan dan disiapkan oleh orang di luar warga sekitar.

Ada hal lucu yang juga Franz ingat dari kejadian ketika itu. Di tengah-tengah negosiasi bersama aparat, Franz melihat salah seorang utusan Camat berbicara sembari melihat ke sebuah kertas di tangan; ia tengah berbicara mengikuti apa yang tertera di “naskah.” Franz pun yakin. Konflik ini memang benar-benar sudah direncanakan hingga ke detail terkecil soal apa yang harus disebut dan tidak boleh disebut, layaknya sebuah pertunjukan teater.

Tak jauh dari Malang dan Surabaya, mahasiswa Papua yang tinggal di Yogyakarta juga menerima perlakuan serupa. Awalnya para mahasiswa Papua yang menamai diri sebagai Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat (PRPPB) berniat melakukan aksi long march sebagai dukungan terhadap ULMWP untuk bergabung di Melanesian Spearhead Group pada Jumat, 15 Juli 2016.

Aksi ini sudah mengikuti prosedur; mereka telah menyampaikan surat pemberitahuan ke Polda Yogyakarta. Tidak ada satupun aturan yang mereka langgar dalam melakukan aksi.

Namun sebelum aksi tersebut dimulai, aparat kepolisian yang berjumlah ratusan mengepung asrama. Kata-kata yang dilontarkan para aparat dan anggota ormas dari pagar asrama kepada para mahasiswa pun lagi-lagi sama: “Dasar monyet! Celeng! Asu!”

 

Karena tidak bisa keluar dari asrama selama seharian penuh, para mahasiswa kelaparan. Namun warga sekitar, yang memiliki relasi sangat baik dengan para mahasiswa, mengirimkan bantuan makanan dan minuman. Sayang, bantuan makanan ini dihadang aparat.

Oby Kogoya, mahasiswa Papua yang di pagi hari pergi ke pasar untuk membeli ubi agar teman-temannya di asrama Yogyakarta itu bisa makan, dihadang aparat dan dikeroyok. Ia dipukuli, kepalanya diinjak dan tubuhnya ditendang, lagi-lagi sambil diteriaki ‘monyet.’ Akhirnya delapan mahasiswa ditangkap. Oby dijadikan tersangka.

‘Kami diperlakukan seperti tidak manusia’

Tiga cerita ini hanyalah bagian kecil dari potret keseluruhan diskriminasi rasial dan represi yang diterima oleh orang-orang Papua tiap harinya, yang tinggal di tanah Indonesia.

Makian dan cacian bernuansa rasis bukanlah suatu hal yang baru bagi Oby Kogoya dan anak-anak Papua lainnya yang tinggal di Indonesia. Tiap menggelar diskusi, acara nonton film bersama, atau sekadar perayaan musik bersama teman-teman, kehadiran anggota ormas dan aparatus negara seperti tentara dan polisi bukanlah hal yang asing.

Ketika menonton Persipura di stadion, mahasiswa Papua dilempari kulit pisang, diteriaki monyet. Orang Papua juga acap diberi predikat bau, kotor, dan jorok; Franz bercerita bagaimana orang-orang Indonesia seringkali pergi, bermuka masam dan menutup hidung ketika ia dan teman-temannya ikut duduk di suatu tempat, atau naik di kendaraan umum.

Mereka bercerita sering diawasi, dimata-matai aparat atau penjaga keamanan setempat karena menerima kecurigaan yang sangat tinggi dari orang Indonesia. Kegiatan apapun yang mereka lakukan sering diprasangkai orang Indonesia sebagai sesuatu yang buruk.

“Seolah-olah kami itu selalu melakukan tindakan kekerasan, kriminal,” kata Franz.

Kebanyakan mahasiswa Papua juga kesulitan sekali untuk menemukan tempat tinggal di Jawa. Ketika mencari tempat tinggal dan menghubungi pemilik rumah kontrakan, pertanyaan pertama yang mereka dengar adalah: Kamu orang mana? Ketika menjawab, “Orang Papua,” sambungan telepon langsung diputus.

“Saya dan kawan-kawan itu mencari tempat tinggal saja susah setengah mati,” tutur Franz.

Franz juga bercerita bahwa para pemilik kos atau rumah kontrakan sering berdalih bahwa rumah mereka sudah penuh, atau sudah ada yang menempati, ketika didatangi para mahasiswa Papua. Meski sudah menjadi mahasiswa selama berbulan-bulan, banyak mahasiswa Papua yang masih belum menemukan rumah kos-kosan yang mau menerima mereka.

Dari seluruh pengalaman-pengalaman kekerasan fisik, verbal, hingga bentuk-bentuk diskriminasi dan penolakan sosial dari lingkungannya sendiri selama bertahun-tahun tinggal di Malang, Franz tahu bahwa orang Papua tidak dipandang sama dengan orang Indonesia.

“Kami diperlakukan seperti tidak manusia,” ucap Franz. “Dipandang sebelah mata, seakan-akan kami bukan manusia sama dengan yang lain…”

 

 

___

  1. View this post on Instagram

    "Tiap kami mau mendiskusikan tentang Papua, membicarakan kebenaran tentang Papua, atau kami mau aksi, selalu saja direpresi . . . Mereka lebih mementingkan ekonomi daripada manusia-manusia Papua itu sendiri." Selama ini narasi tentang orang Papua selalu ditulis oleh orang Indonesia. Sejarah orang Papua kita hapus dan tulis dengan versi kita sendiri; identitas mereka kita timpa dengan identitas yang Indonesia buat. Pemberitaan media seringkali hanya menghimpun informasi dari tentara, polisi, atau pemegang kekuasaan di Indonesia. Ketika berdiskusi soal Papua, kita bertanya pada akademisi, politikus, dan pakar-pakar segala ilmu; tapi tak pernah orang Papua itu sendiri dilibatkan dan diberi ruang bicara. Di sisi lain, tiap orang Papua mau berbicara, mau berdiskusi, mau mengutarakan pendapat, kita halang-halangi mereka, kita tak pernah mau dengar. Teman-teman, kita itu selalu salah memahami Papua. Waktunya orang Papua sendiri yang menulis sejarahnya, dan menentukan nasibnya. Created by: @bakar_barak #1desember #freewestpapua #papuamerdeka

    A post shared by Metaruang (@metaruang) on

___

Ilustrasi: Pacific News Minute

 

Dipanggil Stik. Sehari-hari kegiatannya ngejar-ngejar narasumber dan berusaha nulis berita secepatnya pakai dua jempol.

No Comments

Post A Comment