Metaruang | Migdal Bavel
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16971
post-template-default,single,single-post,postid-16971,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Migdal Bavel

 

JIKA KAU meyakini bahwa kau telah hidup di masa yang serba menjulang, tentu aku ingin menertawaimu. Aku pernah menyaksikan apa-apa yang lebih menjulang daripada apa yang kau lihat, tentu saja. Tembok Babel yang perkasa dengan bentangan jalan kereta-kereta parang, patung Zeus di tepi sungai Alfeus, taman gantung yang membuyarkan pikiranmu tentang moda transportasi paling modern yang kau tahu, juga dewa-dewa yang disembah. Kolosus Dewa Matahari, bahkan gunung buatan. Namun, ketika aku melihat kuil Artemis yang menjulang ke awan-awan, semua yang kau pikir lebih tinggi dari apapun itu, runtuh seketika. Matahari tak pernah lagi melihat apapun yang sedemikian agung, sampai aku berkata, aku telah ikut membangun Migdal Bavel.

Orang-orang pintar telah mencari asal-usul Migdal Bavel hingga saat ini. Mereka tak menemukan satu partikel pun akan tanda-tanda keberadaan menara tinggi itu. Konon, mereka menyebutkan bahwa menara itu menjulang hingga ke surga. Bahkan, kau bisa menculik gadis-gadis surga dan menantang pemilik surga dengan menaiki tangga-tangga Migdal Bavel. Menara itu dibangun dengan darah dan keringat manusia yang satu bahasa, hingga ia mencapai langit-langit bumi. Kau bahkan tak bisa membayangkan sampai ke mana ujung Migdal Bavel. Jika kau penasaran, kau bisa mendakinya barang beberapa tahun. Namun, aku tak bisa menjamin keselamatanmu. Bisa saja kau tergelincir lalu jatuh dan mati, atau kau diterbangkan angin seperti anai-anai yang berserak.

Jadi, kurasa kau sudah mulai penasaran, bagaimana aku bisa membangun Migdal Bavel bersama ratusan manusia satu bahasa lainnya, hingga kini menara itu hilang ditelan entah apa. Banyak yang berkata Migdal Bavel telah tertimbun debu, ada pula yang bilang ia diruntuhkan langsung dari surga. Tuhan telah murka pada apa yang kami lakukan atas Migdal Bavel, maka Ia pun meruntuhkannya. Migdal Bavel mungkin hanya legenda. Namun, oh demi dewa-dewi surga! Aku katakan bahwa aku membangunnya, dengan sadar, dengan keringat, dan dengan darah.

Tak ada yang tahu pasti pada masa apa kami membangun. Ini mungkin memang hanya mitos, tetapi sesungguhnya, Migdal Bavel ada di sebelah timur tanah-tanah yang telah tercerai-berai. Beberapa sisa-sisa Banjir Bah telah memutuskan untuk melakukan perjalanan, mencari tanah kosong yang masih bisa ditempati. Termasuk di dalamnya ada aku.

Kala itu, aku menggotong dua domba berbulu. Di samping kananku, ada seorang wanita menarik buah dan sayur dalam sebuah gerobak. Kami hendak mencari sebuah tempat singgah yang luas bernama Sennaar. Tanah tandus tanpa penghuni yang luas dan kosong. Sepanjang jalan, mungkin hanya dapat kau temui bangkai hewan atau tanaman berduri. Tak ada air, kecuali jika seorang rabi yang mungkin menjejak tanah itu dan memunculkan air dari pangkal kakinya. Tidak, tentu aku bukan rabi, atau nabi. Aku hanya sisaan manusia yang terselamatkan dari Banjir Bah. Maka dengan sisa-sisa kehidupan dalam Kapal Besar, aku pun migrasi bersama mereka yang juga hendak mencari tempat baru yang layak.

Aku tak ingat berapa tahun tepatnya kami berjalan di bawah Matahari, tetapi kami akhirnya sampai di tanah tandus itu. Suasana begitu sepi, begitu kosong. Angin panas bertiup, mengembuskan debu ke sana-sini. Memasuki mata, bersarang di rambut. Kami pun memutuskan, inilah dia. Tempat ini. Kami memutuskan untuk memulai peradaban baru, bertempat di Timur kota-kota penuh sisa Banjir Bah. Kami yang tersisa memutuskan untuk membangun kehidupan baru dengan pusat kota yang kami sebut Migdal Bavel.

Mula-mula hanya kerangka, lantas Migdal Bavel bergerak dari tanah menuju sepertiga langit. Berdindingkan batu bata yang dibakar, dengan kerja keras manusia Timur, kami membangun. Sepertiga langit pun bergerak hingga setengah langit. Terus membangun hingga kami tak sadar, bahwa menara pusat Timur kami telah mencapai surga.

Kami, pembangun berlomba-lomba untuk melihatnya. Bagaimana surga? Bagaimana bisa kami mencapai surga hanya dengan batu bata? Kami pun bertanya-tanya dalam satu bahasa yang kami ketahui. Kami konsisten untuk tak tercerai-berai dengan menggadaikan bahasa kami yang satu. Kami berfokus untuk mencapai konsensus. Kami akan menjadi peradaban pertama yang bisa melihat surga.

Namun, kau tahu manusia kan? Manusia memang memiliki tingkat ketamakan dan kemunafikannya sendiri. Apa yang terjadi ketika Migdal Bavel selesai? Tentu aku tak perlu meninggalkan teka-teki untuk kau tebak, bukan? Kau sendiri akan tahu, apa yang terjadi jika Migdal Bavel selesai dan benar-benar menyentuh gerbang surga. Kau sendiri tahu bahwa tak ada satu pun yang ingin ditinggal pada dasar Migdal Bavel dengan status manusia. Sennaar butuh pemimpin baru, yang bisa memegang kuasa Migdal Bavel sepenuhnya. Kuasa itu termasuk berada pada mahkota menara yang paling dekat ke surga, paling dekat ke agenda Pemilik Surga. Bisa dicuri dari bidadari, atau dari malaikat. Maka, manusia-manusia ini pun berkata, bahwa hanya ada satu yang boleh menjadi tuhan di Migdal Bavel. Hanya satu.

Tentu banyak yang tak setuju dengan pendapat ini. Migdal Bavel dibangun atas jerih payah banyak darah dan daging manusia. Banyak pula yang mati. Namun, saat konsensus ini berkata bahwa hanya satu tuhan yang boleh memimpin menara, mereka yang tidak terima akan mulai melawan.

Semua orang ingin berada paling dekat dengan gerbang surga. Walau Migdal Bavel dibangun oleh berbagai manusia, tapi tak ada yang mau mengalah jika ia bisa mencuri satu kunci akses surga. Tak ada yang mau hanya menjadi manusia. Semuanya ingin menjadi orang tertinggi, tersuci, teralim dan berpengaruh di Sennaar. Maka kemarahan Pemilik Surga yang sebenarnya pun menimpa para pembangun Migdal Bavel.

Suatu waktu, sebenarnya aku telah mengetahui bahwa takdirku setelah Banjir Bah adalah untuk menjadi manusia yang berserak di muka bumi. Namun, dengan suatu godaan untuk membuat menara tinggi yang mencapai gerbang surga, tentulah aku sedikit memiliki keinginan licik itu. Aku tak tahu kenyataannya akan jadi seperti ini. Semua orang berlomba untuk berada dekat dengan surga dan menyebut dirinya adalah pemilik alam semesta. Kau tahu? Dari Migdal Bavel, kau bisa melihat seluruh alam semesta yang iri kepadamu. Semua orang ingin berada paling dekat dengan surga, tetapi hanya satu yang berhasil membangun menara itu. Maka para pembangun menjadi jumawa. Mereka berpikir, rasanya enak juga jika menjadi sesuatu yang disembah seperti patung Zeus di tepi sungai Alfeus, atau makam raja-raja Mausolus. Ia ingin menjadi suatu simbol yang diingat dalam benak seluruh ras manusia. Namun, apa Pemilik Surga mengizinkan dirinya tidak disembah, melainkan hanya manusia yang disembah? Tentu saja tidak.

Migdal Bavel adalah coreng di wajah-Nya. Dengan segenap kekuatan, Dia turun ke Sennaar. Ia melihat sendiri bagaimana satu bahasa, satu saudara bisa semudah itu saling membunuh hanya untuk berada dekat dengan surga, gerbang surga di mahkota Migdal Bavel.

Dia turun dan menatap dari kejauhan, lantas melanggamkan satu mantra. Dia binasakan seluruh kota berikut menara agung yang telah aku dan sisa-sisa Banjir Bah bangun bertahun-tahun. Bagi-Nya, menara ini hanya seonggok batu bata yang dibakar. Tak ada yang bisa menahan-Nya dari merubuhkan Migdal Bavel hanya dengan satu tiupan angin. Setelah Migdal Bavel runtuh, orang-orang yang berdiri di tangga-tangga pun terlempar kesana-kemari bagai anai-anai. Mereka berserakan jauh, tak lagi berpusat di kota Timur. Mereka berserakan di muka bumi, kehilangan bahasa satu mereka dan jati diri mereka.

Mereka tak lebih dari sekadar manusia tak bersaudara. Mereka pun lupa, bahwa mereka pernah membangun sebuah menara yang tingginya mencapai gerbang surga. Dari pintunya, kau bisa mengintip para bidadari bersolek, para orang suci menikmati sisa hidup hingga kebangkitan, dan para malaikat melantunkan lagu-lagu lelap.

Sementara mereka menikmati surga, Migdal Bavel hanya menyisakan puing-puing. Seperti yang pernah kukatakan, jika kau berpikir ada yang lebih indah dan menjulang daripada apa yang kau puja-puja saat ini, maka tentulah itu bukan Migdal Bavel. Karena kau masih ada di bumi dan tidak menghilang bagai ras Banjir Bah, tentulah apa yang kau saksikan, tak mungkin sehebat Migdal Bavel.

 

___

Ilustrasi: Abdul Majid Gofar

 

Ayu Welirang, buruh IT kelahiran 26 tahun lalu yang tinggal di Tangerang Selatan. Gemar menulis fiksi detektif dan thriller. Telah menerbitkan dua novel berjudul 7 Divisi (2014) dan Halo, Tifa (2016). Sedang menyelesaikan naskah thriller-investigasi, juga genre cozy-mystery berjudul Pustaka Geneva. Berharap semoga tidak “dihilangkan” pasca naskah terbit. Surel: ayuwelirang@outlook.com

Tags:
No Comments

Post A Comment