Metaruang | Motor Skena dan Pengorganisiran, Sebuah Wawancara Bersama Taxlan & Rian Pelor
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16899
post-template-default,single,single-post,postid-16899,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Motor Skena dan Pengorganisiran, Sebuah Wawancara Bersama Taxlan & Rian Pelor

Nama Taxlan dan Rian Pelor sudah tak lagi asing di telinga teman-teman Palembang maupun tanah air. Keduanya telah lama berkecimpung di skena musik dan pergerakan. Taxlan (Sangkakalam) dan Rian Pelor (Rimauman Music)  juga menjadi motor aktif penggerak skena Palembang yang rajin menghelat sekaligus mengorganisir pelbagai hajatan. Dari mulai Festival Taman Kota, sampai gerakan Stand With Cinde belakangan ini.

Passion yang bergelora dari kedua insan inilah yang membuat rubrik wawancara kali ini memuat dua orang sekaligus. Berbicara tentang skena Palembang, mau tak mau mengikutsertakan kiprah Taxlan dan Pelor di dalamnya. Meski tak terbatas pada kedua insan ini, di atas segalanya, Palembang telah menciptakan apinya.

Fajar Nugraha dari Metaruang berkesempatan mewawancarai Taxlan dan Rian Pelor melalui surel dan rekaman. Simak wawancaranya di bawah ini.

 

Metaruang

Apa latar belakang kalian berdua hingga memutuskan untuk jadi anak band, hingga akhirnya membentuk sebuah lingkar komunitas musik yang nampaknya polah-petingkahnya tak hanya berkisar di tataran kultural (musik, mabuk, senang-senang) namun juga merambahi ranah sosial-politik?

Taxlan

Kedekatan dengan musik yang pasti. Pertama masuk dan berprosesnya yah di musik, berproses dalam artian senangnya, bukan hanya denger musik, akhirnya juga pengen buat yang dirasa pas. Memulai dengan zine dan mendengarkan banyak band, ada selang panjang sebenarnya dari intens berkutat dengan musik sampai akhirnya memutuskan untuk membuat satu band. Yah walaupun memang sedari awal itu juga terpikirkan, entah kenapa butuh alasan lebih atau juga bertemu dengan partner yang pas ketika akhirnya memutuskan benar-benar mengorganisir band. Itu sih influence sih yah, entah selera apa bukan, karena memang tertariknya itu pada gerak-gerak band yang memang tak hanya berhenti di hanya musik, musik untuk musik istilahnya, karena secara personal musik juga jadi penghantar ke banyak hal di luar itu, yah ketika membentuk satu atau menciptakan atmosfir yang pas adalah dengan hal tak jauh berbeda : musik untuk melampaui musik itu sendiri. Niatnya sih itu lah yah 🙂

Rian Pelor

Apa yah yang mutusin buat jadi anak band. Awalnya gak kepikiran jadi anak band. Karena kalo buat saya pribadi, hal yang diperkenankan di rumah untuk minta uang lebih adalah kaset dan buku. Jadi musik adalah satu hal yang menjadi ruang sakral, sanctuary buat saya, istilahnya, di antara tekanan dan lain-lain, dan terutama karena hidup di keluarga militer. Jadi dan komunitas muncul sesudahnya yang jelas musiknya yang mempengaruhi saya, kaset pertama saya ketika SD, dari ranah musik metal ada SLAYER “Seasons In the Abyss”. Kemudian bicara mengenai untuk lingkar komunitas adalah ketika pindah ke Medan saya udah mulai suka dengan Punk Rock ketika SMP dan ketika di Medan saya menonton konser yang benar-benar konser dari band-band lokal saya melihat band-band dari Banana Split, Bad Radio dll dan menonton konser Puppen di sana, dan ternyata ada komunitasnya kemudian saya pindah ke Pelembang. Baru di Palembang lah kemudian memulai, apa yang kemudian awal dari pertemanan. Karena waktu pindah sekolah itu, “wah anak tentara pindah-pindah ya” ketika itu saya, wah siapa nih, saya berteman di sekolah, kemudian ada orang jadi saya. Dia ke sekolah dengan skateboard-nya sebagai outcast di sekolahan, saya pikir hanya dia temen saya. Dan ketika dari situlah apa yang so-called Punk Scene di Palembang menemukan embrionya hingga kemudian saya pindah ke Jakarta. Kalau bicara mengenai Punk dan Metal kayaknya awareness dan juga musiknya berjalan seiring kalau menurut saya. Hanya tinggal pilihan apakah kemudian mau hanya secara estetika musiknya atau secara lifestyle atau sebagai movement-nya. Tapi kalo buat saya pribadi, saya tumbuh di era 1998 dan terlibat di demonstrasi mahasiswa oleh komunike dan segala macam itu yang membentuk kesadaran saya untuk kemudian awareness dan musik ya adalah satu hal yang berjalan seiringan bagi saya pribadi.

 

Metaruang

Tradisi musik yang jadi medan gumul juang artistik kalian, musik rock itu, lahir dari rahim para pembangkang kultural. Seperti halnya skena hardcore punk “merah” Belanda dengan para eksponennya mulai dari Lärm, Rondos, hingga ManLiftingBanner, yang tak hanya memprovokasi di tataran estetika, namun merangsek pula di medan sosial dengan Red Rock Collective-nya. Atau kolektif Positive Force dari skena DC Punk yang berjuang dengan prinsip otonomnya. Bisa kalian ceritakan titik awal serta sejauh mana skena punk Palembang merubuhkan dinding dikotomial antara musik dan aktivisme?

Taxlan

Semenjak memang itu selalu bisa berhubungan, selalu menemukan korelasinya tersendiri. Kerja-kerja kreatifnya juga di situ-situ aja, beririsan tebal dengan keduanya. Ketemunya apa, penyemangatnya apa, dan kerja berikutnya juga gak jauh dari sana. Dan gimana untuk tak membuat dinding itu sendiri, jadi yah tinggal apa yang bisa dikontribusiin dan tidak saja, ajakan untuk berbagai kawanpun begitu, kesalahan kadang selalu ada di pemaksaan etika yang memang kita gak mesti kita pahami sama semua lah, tapi urgensi yang memang harus kita penuhin bersama. Berangkatnya dari itu, jadi menciptakan atmosfir aktivisme yang benar-benar inklusif, tapi tak juga menganggu etik utama dari itu semua. Sejauh ini kami juga gak begitu berhasil kami pikir, entah mungkin belom begitu, tapi setidaknya ada beberapa catatan terakhiran yang kami tambahkan dalam perkara merubuhkan dinding dikotomial itu menjadi gerak yang emansipatoris dan inklusif.

Rian Pelor

Hmmmm… seperti yang ada kaitannya dengan yang dimulai tadi, saya secara gak langsung menjadi bidan dengan beberapa kawan generasi awal dari scene punk di Palembang. Sehingga ketika saya pun pindah ke Jakarta untuk kuliah kemudian bekerja kemudian fucked-up juga di Jakarta. Setiap pulang itu ke rumah tongkrongan saya ada Yudhis, Oki, yang sekarang menjadi Rumah Jaba* itu setiap pulang saya membawakan zine kemudian rekaman-rekaman kaset, dari CD, Mixtape, dan segala macamnya. Di antara semua itu, di atas kesukaan kita dengan musiknya, juga sebagai lifestyle-nya, awalnya harus lifestyle dong yah. Provokasi orang dengan tampilan yang Mohawk, rambut berwarna, spikey jaket, yang kayak gitu. Ada juga terselip dari fanzine-fanzine yang dibawa jelas ada kayak, misalnya hanya sebuah newsletter dari banyak sekali yang konten-kontennya jelas ketika karena waktu itu di era 98 politics itu adalah bagian dari youth culture, suka atau tidak suka; mau atau enggak mau. Jadi, antara lifestyle dan juga awareness terbangun dari, apalagi kita dimulai dari, apa yah, kita gak tahu mau apa dulu waktu kita memulai itu. Yang kita tahu adalah semua liriknya berbicara secara politics. Dan ketika bergulir, bergulir itu hingga sekarang, kita selalu coba guyub. Tidak menciptakan sekat, terutama karena sejak di awal dulu sah menjadi sebuah scene ataupun kancah yang ada movementnya itu di Palembang itu ada temen-temen membuat namanya Independent Youth Society. Yang isinya ada punk, grunge, hardcore dan juga skinhead, kayak gitu. Jadi kita coba ngumpul, membaur, untuk bisa berkomunikasi, melakukan sesuatu. Jadi memang, dan di situ juga temen-temen ada yang apolitis, ada yang politis, ada yang just for fun, ada yang kemudian juga, ya apa yah, hanya mencoba mengikuti trend. Ya tapi kemudian karena bisa ngumpulnya gak ada batasan, jadi ketika berjalan, kesadaran dan musik itu menjadi suatu panggilan. Jadi kita gak pernah bayangkan bahwa kemudian ketika kemudian bikin sesuatu yang sifatnya food not bomb misalnya, main band indie pop, ya karena kita di sini coba merespon atau pun terlibat, atau pun berkontribusi, begitu pun temen-temen yang lain tanpa melihat batasan musikal. Kayak FNB, bukan hanya melulu crust punk yang terlibat. Banyak sekali macem-macem dari punks, perempuan, skateboarder, anak BMX. Karena apa, kami gak punya privilage untuk menarik sekat atau membuat pemisahan. Privilage yang kami punya adalah untuk meng-create. Untuk melakukan.

 

Metaruang

Menurut kalian berdua, bagaimana pengimplementasian sebuah “musik protes” yang sesungguhnya?

Taxlan

Ia bisa jadi katalis untuk apapun perihal hal di luar musik itu sendiri. Dari sesederhana itu. Membawanya ke ranah paling fundamental, sebagai basis pembekalan personal tiap dari penggubah musik itu, sampai akhirnya bisa ditularkan ke ekosistem lingkar terdekatnya. Dan sampai akhirnya si musik itu sendiri bisa melampaui ruangnya dari studio rekaman, ruang showcase, gigs untuk benar-benar jadi medium menyuarakan pendapat dan merealisasikannya. Karena jika memahami musik sebagai benar-benar metode protes juga kurang tepat, dia hanya salahsatu bagian dan salahsatu pintu masuk yang selalu relevan mengenai protes.

Rian Pelor

Musik protes… hmmmm. Saya pikir satu yah, musik itu adalah bahasa yang sangat universal. Apapaun bahasa yang dipakai orang akan bisa mengerti musik. Berbicara mengenai musik protes, kalo ia ditempatkan sebagai musik protes ia akan menjadi begitu dangkal. Kalo saya pikir musik itu adalah sebuah outlet atau sebuah medium yang bisa menyampaikan kegelisahan kita. Karena saya pribadi, ketika saya tumbuh di remaja era orde baru. Gak pernah terbayangkan kemudian mendengarkan lirik kayak seperti fuck politic, fuck religion, fuck…..dari Chaotic Dischord itu sangat sangat in your face gituh. Wooww! Kemudian lirik-lirik dari Bad Religion, Dead Kennedys, yang lebih banyak mengajarkan lebih banyak hal tentang sosio-politik daripada pelajaran PMP ataupun penataran P4 yang saya terima di sekolah, yang sangat hipokritikal, terus kemudian hanya sebagai untuk memuluskan kekuasaan uhmmm… diktatorial-konstitusional dari Soeharto dan kroninya. Jadi, saya pikir, bila ingin mengatakan sebagai musik protes saya pikir term musik protes itu akan sangat dangkal. Karena apa, manusia akan mengalami perubahan. Tiap manusia akan melalui prosesnya. Saya pikir biarkan musik menjadi medium untuk mengutarakan kegelisahan, kalo kegelisahan kita bersifat protes ya ia akan menjadi protes. Tapi kalo mengkhususkan bahwa ia akan menjadi musik protes, hello? Bob Dylan udah sangat jauh dari apa yang di sampaikannya ketika di awal. Iwan Fals sudah begitu nyaman dari apa yang diteriakkanya dari era-era awal. Jadi, ia akan menjadi protes karena seorang seniman menjadikan itu sebagai penuang dari kegelisahan, apa yang dilihatnya, apa yang dirasakannya. Ya; musik akan menjadi musik. Protes akan menjadi kontennya. Tapi musik protes, secara spesifik, man, itu aku pikir terlalu apa yah, terlalu hal yang simplistis. Ya; karena we have to walk the walk, talk the talk. Yang kalo kita buat protes, ya musik itu adalah mediumnya.

 

Metaruang

Seberapa besar pengaruh tradisi power violence di kerja musikal dan elan pembangkangan kalian?

Taxlan

Maksudnya Hardcore/Punk yah? Powerviolence gak begitu ada semacam ethic sih setahu saya, kasarnya hardcore/punk dengan tempo lebih cepat itu yah powerviolence. Kalo bicara kerja dan semacamnya kebanyakan yah dapatnya itu dari Hardcore/Punk / DIY Ethic semacam itu. Dan kalo bicara pengaruh, yah besar banget, hampir kesemuanya apa yang jadi semacam pilihan saya sekarang itu kepikirannya karena pengaruh berbagai etika itu. Dari membuat sesuatu dan menghancurkannya sendiri, membuatnya sejelek apapun itu, menghantam apapun tanpa itervensi apapun, upaya berjejaring dan berkomunikasi seluasnya dan sekuatnya, semisalnya beberapa itu. Kalo powerviolence sendiri musiknya, MANEKIN juga maen powerviolence, karena saya dan Imam senangnya gak jauh dari itu. Ketika bikin band yah begitu.

Rian Pelor

Power violence yang saya tahu ada ethos hardcore punk, atau ada ethos punk-nya dengan Do It Yourself. Karena power violence saya pikir adalah sebuah subgenre, tak lebih dari itu, yang untuk menggambarkan musik-musik yang dimulai oleh Man is the bastard dan segala macem band sejenis itu jadi saya gak tahu itu tradisi power violence. Maksudnya apa? Singkat-cepat-padat? Kalo dikerjakan kayak gitu kita bisa belepotan juga. Jadi kalo berbicara mengenai tradisi ethos hardcore punk, dengan do it yourself, dengan melakukannya dengan teman-teman, dengan ethos swatantra, swadaya, saya pikir ia lebih signifikan. Kalo tradisi power violence saya pikir apa yah… mungkin tradisinya tradisi do it yourself, ethos do it yourself dari punk. Bila berbicara di konteks itu ya jelas besar sekali. Karena apa, kita melakukan ini semua sendiri, terus kemudian juga meneriakkan segala macam hal yang tidak kita sepakati. Itu terbentuk karena kita tidak ada pilihan lain, kita tak bisa menunggu. Kita menunggu DPR yang melakukannya? Lembaga yang mestinya mengontrol pemerintah aja mesti dikontrol. Di Indonesia kan seperti itu, begitu banyak lembaga yang mesti mengontrol mesti dikontrol. Ketika corong-corong itu tersendat, hal yang mesti dilakukan adalah ya pembangkangan sipil. Seperti kayak Henry David Thoreau bilang, itu adalah suatu kewajiban bagi seorang warga apabila terjadi permasalahan dalam tata laksana kehidupan permasyarakatannya untuk membangkang.

 

Metaruang

Jika diperhatikan, komunitas yang kalian gerakkan itu secara inheren juga mewujud sebuah ikhtiar perlawanan dan kerja pengorganisiran. Ia tak hanya bujuk persuasi untuk menarik massa ke arena moshpit, melainkan mengorganisir pula kawan lainnya untuk turut mempraktikkan gagasan-gagasan politis dalam setiap karya kalian. Bagaimana persisnya kok bisa jadi seperti itu? Apakah medium juang yang kalian tempuh itu betul-betul efektif untuk menumbuh-kembangkan kesadaran kritis kawan-kawan lainnya akan realitas ketertindasan di sekitarnya? Atau bahkan lebih jauh, menjaring lebih banyak kawan bergabung pada barisan front?

Taxlan

Seperti yang tadi saya sebut, musik hanya salahsatu metode, perkara itu efektif atau tidak, bagaimana lagi si musik itu berproses dan berdinamika, terlebih dari para pelaku musiknya sendiri. Sekeren apapun bisa kok  musik hanya berhenti di musik saja. Dan kalo memang ditilik, saya pikir memang tak terlalu kuat relevansi musik daripada metode lain, dibanding aksi langsung semisal. Tapi musik jadi salah satu pintu masuk dan perkenalan yang konkrit dari semua itu. Yah saya gunain itu, saya ambil posisi di situ. Dinamikanya juga beragam.

Rian Pelor

Wuah. Ini pertanyaan yang cukup apa yah, yang tidak bisa dijawab secara singkat. Karena ia proses. Proses dari dialog, proses dari pertemuan-pertemuan tatap muka di kancah perhelatan musik. Proses yang mulai dari diskusi-diskusi, proses yang di-trigger dengan agitasi dan juga propaganda, lewat media sosial dan juga outlet-outlet berupa kayak lirikal di musik. Kalo berbicara militansi, kita tidak bisa memaksakan militansi, sama seperti kayak Vladimir Ilych Ulyanov, jelas semuanya ada proses. Kalau ditanya praktek revolusioner tanpa teori revolusioner adalah omong kosong; dan teori revolusioner tanpa praktek revolusioner adalah nol besar. Istilahnya seperti itu lah. Kenapa bisa terjadi seperti itu ya aku pikir karena satu hal. Karena ada frekuensi yang jalan, dan ada keguyuban yang memungkinan untuk suatu isu menembus lintas sektoral, linta komunitas, itu kemudian yang terjadi di lapangan. Apa yang terjadi di garis depan hanyalah titik kecil dari gunung es, dari apa yang sudah dimulai sejak tahun 1996 di Palembang. Kemudian salah satu hal yang paling utama adalah ketika tahun 2012 scene di Palembang iu sangat diwarnai dengan violence dan sangat destruktif, mau gak mau gig itu mesti dirahasiakan. Tiket dijual baru dikasih tahu venue-nya. Ya dari situ mungkin membangun ikatan-ikatan emosional, ikatan-ikatan individual, ikatan-ikatan kolektif yang lebih erat. Kuncinya adalah ya karena tiada sekat. Sekarang ketika semuanya menjadi lebih sehat, ia jelas membawa efek yang cukup besar juga ke rasa memiliki akan scene dan kancah ini, membuka ruang buat temen-temen baru, ruang buat mereka-mereka yang lebih muda, regenerasi, bersamaan dengan itu pula terjadi transfer awareness dan segala macem. Sehingga ketika ada suatu isu ya seperti melemparkan gula yang kemudian rekan-rekan dan termasuk saya, semut-semut ini akan merapat mendekat. Dimulai dari Punk Against Rape, kemudian sebuah solidaritas untuk desa Simpang Bayat, awareness akan krisis ekologi, pembakaran hutan, kabut asap, isu-isu kekerasan terhadap perempuan. Dan satu hal kita terlibat, mau peduli dengan itu adalah tujuannya adalah untuk menciptakan ekosistem dan juga habitat yang lebih nyaman buat kita untuk bisa mengaktualisasi diri di scene. Nah, ketika ini kemudian ini bersifat sebagai sebuah movement ataupun gerakan yang besar, satu yang paling menarik ialah ia dibuat sedemikian rupa, ia menjadi cool, sekaligus menjadi bentuk perlawanan. Ya sekarang kalo semuanya dikemas dengan begitu kaku ataupun disuarakan dengan begitu kaku, ya tidak akan menarik untuk orang-orang, rekan-rekan, atau pun temen-temen kita yang lebih muda untuk bisa terlibat.

 

Metaruang

Kawan-kawan di Palembang juga telah lebih dahulu menggelar Festival Taman Kota pada 2014 sebagai pengaktivasian (juga upaya merenggut kembali) ruang publik yang diprivatisasi oleh pemerintah. Bagaimana awal mula pengorganisiran festival itu hingga akhirnya melibatkan kawan-kawan lintas jejaring lain di Palembang?

Taxlan

Datang dengan ide awal sederhana: bersenang-senang. Bagaimana melihat banyak juga kawan-kawan dengan selnya masing-masing sering berkegiatan di taman, di sisi lain merespon aktivitas kawan-kawan berkegiatan selalu terhalau ruang, dari sekian banyak opsi yang ada dulu, 1 dekade terakhir itu semakin berkurang, entah karena tutup, izin, atau privatisasi tadi yang terang-terangan terjadi. Sebagai kontemplesi, masalah merebut ruang ini pun jadi perbincangan,  mengkampanyekan itu semua juga jadi urgensi lain. Jadi secara tak sadar, ide awal itu langsung nyambung ketika di-floor ke kawan-kawan komunitas lain, ada sekitar 5 lebih komunitas pada obrolan pertama, sisanya itu diajak lagi dari 5 yang ada itu tadi, tim kebutuhan bersama diambil delegasi dari tiap komunitas, untuk menyiapkan kebutuhan bersama kek tata letak, sign name, backdrop, kelistirikan dan semacamnya. Sisanya karena memang setiap dari komunitas ini juga sudah sering berkegiatan dan merespon ruang publik, tinggal tentuin tata-letak, langsung gerak sendiri aja sih. Dan sesuai dengan sub-kerja komunitas masing-masing. Semisal yang biasa organizer gigs, itu nyiapin live music; yang bersentuhan dengan karya, art itu publikasi, poster dan semacamnya, begitupun literasi dan lainnya untuk ambil ranah kepenulisan. Terus untuk yang memang diliat komunitas sering berkegiatan juga ditawarin, dengan konsep festival bersama tadi. Senang ketika sadar saya menjadi bagian dari itu semua, itu bukan karena peran beberapa orang saja, tapi memang inisiatif dari setiap komunitasnya memang tinggi. Itu semua terbentuk karena ada itu, karena  ada kebutuhan dan urgensi bersama. Ada api inklusifitas sedari Festival Taman Kota, menjaganya adalah PR bagi kami semua.

Rian Pelor

Nah Festival Taman Kota ini seru banget. Itu inisiatif dari multikomunitas, dari Taxlan terlibat penuh. Dan saya terlibat waktu itu sebagai host, sebagai pembawa acara selama dua hari. Awal pengorganisirannya sebenarnya sederhana, cuma ngontakin komunitas-komunitas yang ada itu, Taxlan yang ngelakuin dan kawan-kawan. Kita duduk bareng, kita diskusi, jebred, setting, apa yang dipunya, udah. Enggak gini-gitu. Sederhana. Apabila komunikasi lintas komunitas terbuka, tidak ada sekat, seperti tadi saya bilang. Lempar aja gula, semua semutnya akan merapat. Sesederhana itu sebenarnya. Dan salah satu tujuannya juga adalah karena pada waktu itu terjadi kebuntuan di ranah scene karena scene waktu itu diwarnai kekerasan,. Daripada kita mandek, ya kenapa enggak kemudian kita membangun komunikasi lintas komunitas. Karena apa ya, movement itu mesti, prinsipnya mesti kayak ikan hiu putih. Gerakan DIY, so-called DIY itu, kita mesti terus berenang dan bergerak kalo engga akan tenggelam. Makanya itu kok, scene di Palembang kayak hiperaktif. Sebenarnya hal-hal tersebut sederhana. Asal tidak ada sekat. Semuanya begitu sederhana untuk di movement. Nah masalah militansi terbangun atau tidak ya lanjutan terakhirnya masing-masing individu. Tapi untuk berbicara festival taman kota sebenarnya sesederhana itu.

 

Metaruang

Untuk Taxlan, bagaimana awal mula menginisiasi Sangkakalam hingga akhirnya punya andil besar sebagai moda distribusi wacana dan gagasan? Baik dalam lingkar skena Palembang, maupun ke jejaring kawan lain di luar kota.

Taxlan

Saya orang terakhir yang bergabung sebenarnya, ada 2 orang yang memulai di awal, digabung 1 orang lagi bergabung, dan 1 orang lagi terakhir. Baru saya akhirnya. Sangkakalam itu kan gabungan dari nama Sangkakala (Trumpet) dan Kalam (Buku/Ilmu), lebih ke penyebaran informasi lah. Standar. 1 Dekade lebih dari sekarang ketika zine itu begitu kencang, setidaknya memang lebih kencang dari sekarang, kebutuhan akan satu wadah komunikasi itu juga kan muncul, juga untuk merilis dan mendistribusikan zine itu sendiri, bersama kawan-kawan zinester lokal lain juga bergeliat akan gelombang yang begitu besar dan menyenangkan itu. Ditambah sebagai media alternatif itu sendiri, kontra media-konvensional yang memang tak pernah meliput, mengulas dan mempublikasikan apa yang dilakukan kawan-kawan. Kita bikin corong kita sendiri. Sangkakalam muncul di atas itu semua. Dalam prosesnya, 2 orang sebelum saya tadi memang kencang berkomunikasi dengan lingkar zine di luar Palembang, sampai ada satu kali kaget poster sangkakalam dicetak besar di zine fest, padahal kita lagi memang gak ikut gabung tuh. Yah senang lah. Setelah 2010an, pasca reclaiming Rengas dari PTPN VIII, juga ikut terlibat dalam banyak hal masalah publikasi, dari booklet, poster, sampai film dokumenter pendeknya. Dari situ seperti ada urgensi lain yang harus juga signifikan dikabarkan, berangkat dari sekedar wacana media alternatif itu sendiri, akhirnya mencoba melampaui itu untuk benar-benar mengabarkan konflik-konflik yang ada sebagai sekaligus ajakan solidaritas, pun juga pemerataan informasi mengenai itu sendiri.

 

Metaruang

Untuk Rian, di salah satu wawancara, bung menyebutkan bahwa label Rimauman Music yang terus digaspol berikhtiar merilis talenta-talenta muda yang memang dianggap potensial. Bahkan anda pun menganalogikan upaya melahirkan roster-roster via Rimauman Music ibarat laju lokomotiv yang ketika menepi di satu stasiun, lokomotiv itu meninggalkan gerbong paling belakang yang nantinya akan menjadi gerbong yang pertama. Adakah misi lain dari Rimauman selain menjadi wadah empowerment bagi pembangunan komunitas—khususnya skena musik bawah tanah Palembang?

Rian Pelor

Wah sepertinya kalian sudah menjawab sendiri pertanyaan kalian. Misi lain dari rimauman selain wadah empowerment, ya itu misinya wadah empowerment bagi pembangunan komunitas, mencoba mengkontribusikan. Ketika awal itu dibuat sebenernya inisiatifnya seperti apa yang dilakukan oleh Neurosis dengan Neurot recording. Bagaimana caranya kita untuk mengembalikan kembali, waktu Auman masih aktif, apa yang kita dapat di Auman, berupa cash, terutama berupa hal yang finansial, untuk bisa kita kembalikan kembali ke scene. Seperti itu. Ya dengan membuat record labels, rimauman music. Selain juga ya sebuah unit ekonomi alternatif, ya sebenernya bukan ekonomi alternatif juga. Karena menjalankan record label itu adalah investasi yang buruk sebenernya. Tapi tujuannya itu sudah kalian jawab, wadah empowerment bagi pembangunan komunitas. Men, uhhmmm… local label yang mau mendorong band yang underated, yang tidak dikenal sebelumnya adalah kerja yang sangat luar biasa PR. Ya kalo label-label lain mungkin mikir “wah ini keren nih dirilis.” Kalo saya, “wah ini keren nih orang gak tahu ini yuk rilis terjual apa enggak urusan belakangan.” Crazy gitu ya. Dan ya… kadang pernah. Terutama kalo kemudian rilis band nya cukup punya komitmen dan persistensinya cukup besar, bagus. Tapi juga kejadian juga ketika dirilis band nya malah bubar, vakum, ya tapi itu adalah resiko. Jawabannya ya seperti itu tadi sebagai wadah empowerment. Empowement kita gak bisa main itung-itungan, hanya sebagai sebuah effort, sebuah usaha yang kita lakukan untuk coba mendorong kultur yang sehat untuk band di Palembang. Bahwa ngeband itu merekam, merilis, tur, sesederhana itu.

 

Metaruang

Untuk Taxlan, salah satu lagu Manekin yang berjudul “Violence be Built as Embers be Blown” lahir dari solidaritas akan penggusuran yang terjadi di Bulogading, Makassar. Lagu ini bisa pula jadi semacam mars anti-penggusuran yang sekarang ini tengah masif di banyak titik api. Adakah pesan yang ingin disampaikan bagi rakyat dan kawan-kawan solidaritas perlawanan yang tengah berjuang mempertahankan lahannya, baik di urban perkotaan maupun di desa?

Taxlan

Violence di situ lebih diartikan kerusuhan yang terorganisir, kerusuhan yang hadir di tengah antara tuntutan penggusuran dan lahan penggusuran, antara rakyat yang mempertahankan ruang hidupnya dan aparatur yang mempertahankan sistem yang ada. Dan kerusuhan itu tak bisa ada begitu saja, terlebih dengan kawan-kawan yang ikut terlibat mengorganisir itu, banyak variabel. Tapi tak juga hanya kerusuhan yang begitu, “Violence” di situ juga kami artikan kerja-kerja yang dilakukan kawan-kawan, banyak hal, hampir semua hal. Dan memang tak bisa langsung jadi, itu benar-benar dibangun dengan konsistensi dan militansi mewaktu, meniupnya pelan untuk jadi api, bak bara jadi api. Tak ada harapan selain dari untuk diberi kekuatan untuk terus bisa berharap, dari kesemua ketidaktakmungkinan, menuntut yang tidak mungkin ada realistis, bukan? Makanya kami juga masukkan suara dari perlawanan Bulogading, sebuah perlawanan emansipatoris memukul balik ancaman yang datang pada mereka. Pesannya kesatuan itu semua, agar kawan-kawan dan siapapun sekarang untuk tetap saling dikuatkan dan menguatkan, menjaga api dan berbagi api pada represi yang sama, untuk melemparkan api yang sama pada selanjutnya.

 

Metaruang

Untuk Rian, salah satu lagu Dètention yang berjudul “Politiestaat” didedikasikan untuk Rumah Api Kuala Lumpur yang pada 28 Agustus 2015 mengalami tragedi yang membuat kawan lain seantero Asia pun terpukul. Bahkan kawan-kawan di Palembang pun menggelar serangkaian benefit gigs untuk Rumah Api. Bisa bung ceritakan proses kreatif menulis lagu itu dan kaitannya dengan kejadian penggerebekan semena-mena, penyitaan alat-alat, hingga penutupan Rumah Api oleh polisi sektor setempat dan aparatus negara terkait?

Rian Pelor

Politiestaat awalnya kita mengerjakan lagu itu adalah di malam ketika paginya kemudian paginya kami tahu di malam itu Rumah Api digeruduk oleh polisi. Ketika itulah oke lagu ini didedikasikan untuk Rumah Api. Walaupun inspirasinya jelas bukan hanya dari Rumah Api tapi apa yang terjadi kayak di Bandung dengan Ultimus. Di beberapa tempat kejadian, dan mungkin juga sempat ada di Jambi, di rumah Pirata, segala macem. Lagu itu didirikan untuk polisi yang menjadi anjing penjaga negara yang kadang semena-mena. Hanya dengan asumsi, dengan hanya surat perintah bisa dilakukan, dan juga kriminalisasi kawan-kawan yang berada di organisasi-organisasi perlawanan. Jadi bukan spesifik Rumah Api, tapi trigger utamanya kami dedikasikan untuk Rumah Api adalah ketika kejadian Rumah Api itu digerebek kami bikin lagu. Lagu itu malamnya, dan paginya kami tahu, langsung kami publish dan kami dedikasikan sebagai bentuk support buat temen-temen di Rumah Api. Dan kita organize beberapa seri dan mengsinkronasikannya dengan beberapa kota-kota lain di Sumatera yang mengadakan acara solidaritas untuk dialokasikan, untuk membantu temen-temen di Rumah Api menebus alat-alat yang disita oleh polisi diraja Malaysia pada waktu itu.

 

Metaruang

Bisa ceritakan awal mula kalian menginisiasi gerakan Stand With Cinde?

Taxlan

Stand With Cinde. Isu penggusuran pasar tradisional tengah kota ini kan sebenarnya dah lama. Ada kawan-kawan yang mendampingi itu bersama-sama pedagang. Di satu waktu, saya tanya sama kawan-kawan di lapangan, apa yang kawan-kawan komunitas dan saya bisa bantu untuk ini. Mengambil bagian untuk mengemas ini dan meneruskan pada publik seluasnya, berbagai agenda pun direncanain. Mengajak beberapa komunitas untuk terlibat, dengan tentu spesifikasi otentik komunitas tersendiri, dari yang biasa mengorganisir pertunjukan musik, yang biasa dengan literatur dan kepenulisan, juga yang biasa berkecimpung dengan karya rupa dan gambar,  di floor, semua tertarik dan bersemangat merespon isu kota itu. Kerja partisipatoris serupa ini juga buah besar dari festival taman kota, sejak itu kawan-kawan terbiasa bekerja dengan berbagai komunitas secara bersama, mengambil perannya masing-masing untuk digabungkan jadi sebuah kesatuan kegiatan. PR awal pengorganisiran itu pun banyak terjawab akhirnya.

Rian Pelor

Menginisiasi gerakannya ini adalah respon, bentuk respon kami sebagai warga masyarakat Palembang menyikapi bahwa waktu itu ada gerakan dari para akademisi, para praktisi budaya, dan juga beberapa lembaga swadaya masyarakat, yang menentang rencana pemerintah provinsi Sumatera Selatan dan juga pemerintah kota Palembang untuk, bahasanya, dalam kurung, revitalisasi pasar Cinde menjadi mall. Yah, sebagai warga Palembang pasar Cinde itu bagian dari denyut kehidupan saya. Ibu saya sebelu stroke kerap berbelanja di sana, dia punya langganan di sana, yang hubungannya itu sudah sangat personal. Bukan sebegitu steril seperti kita belanja di pusat perkulakan. Hingga untuk beberapa hal selalu berbelanja di tempat yang sama. Tujuannya menginisiasi itu untuk mencoba membumikan isu yang bisa kita bilang satu-satunya adalah sebagai cagar budaya dimajukan adalah karena ia satu-satunya yang memiliki kekuatan hukum, selain isu ekonomi kerakyatan. Dan isu itu jelas di level yang wah, di level pemahaman yang begitu tinggi. Nah kami merespon itu lewat gerakan di sosial media, kelompok-kelompok diskusi, acara-acara perhelatan kesenian di level grassroot untuk bisa membumikan isu tersebut hingga orang-orang seperti saya, temen-temen yang lebih muda paham sebenernya yang terjadi di sana. Bahwa ada usaha privatisasi ruang ekonomi kerakyatan. Ada usaha penghancuran sejarah. Ada usaha pengerdilan, penghancuran cagar budaya, pengerdilan pemahaman akan sebuah warisan budaya pada masyrakat, dan itu bergulir secara spontan dan spontanitas itu kemudian membangun momentum, hingga beragam inisiatif yang muncul hingga sempat juga ada dari musisi. Dari situ tadi bahkan menularkan hingga ada temen-temen dari ranah musik folk kemudian diakomodir oleh Rimauman Music untuk bikin kompilasi Stay With Cinde, Save Pasar Cinde. Ada 4 band bahkan memperluas itu dari solidaritas, dari temen-temen di luar Palembang sebagai bentuk respon. Jadi meresponnya tanpa menjadi reaksioner, tapi membangun momentum yang sudah terbangun dan memperkuatnya.

 

Metaruang

Masif hormat pada kawan-kawan Palembang yang menginisiasi resital musik dengan mengokupasi Sudirman Walk sebagai bentuk solidaritas untuk Cinde. Bisa dibayangkan bagaimana beragam audiens yang datang menyaksikan penampilan kalian waktu itu. Hal-hal apa saja yang kalian dapati saat resital yang mengokupasi ruang publik itu tengah berlangsung maupun ketika selesai dihelat?

Taxlan

Beragam. the master’s tools will never dismantle the master’s house? Kawan-kawan malah gunain alat pemerintah sendiri untuk protes tentang kerja mereka sendiri di situ. Dan efektif kali ini. Telak. Sudirman Walk kan produknya pariwisata lokal, sempet memang ada penolakan di awal untuk tidak ada kegiatan yang berbau “politik” di sana, tetap jadikan sudirman walk itu pure entertainment gitulah, itu sih kata mereka. Kawan-kawan bermain kan di tengah itu: antara seni dan protes. Mereka gak bisa apa-apa ketika pengunjung yang datang pun menikmati itu sebagai hiburan, mau ngomong apa pas lihat ibu dan kedua anaknya duduk disamping ampli gitar untuk perhatiin musik yang meracau, sampai para komika memberikan materi mereka di selah-selah kegiatan untuk juga mengundang tawa. Represi dari persiapan, publikasi sampai hari H tuh banyak, dari masuk laporan kepolisian, pengamanan ketat, ancaman pembubaran, dan sebagainya. Karena tadi kawan-kawan ada di tengah hiburan dan protes tadi, mereka juga gak bisa gerak. Semua ada di situ, yang walaupun kami gak bisa jamin juga mereka ngerti terutama dengan musiknya. Tapi semuanya tersampaikan lewat microphone di berbagai sela, tentang kerasahan dan ketidaksepakatan akan proyek Cinde itu tersampaikan di telinga mereka malam itu. Poinnya terpenuhin. Bonusannya dari situ kan banyak komunitas juga di luar lingkar terdekat yang ikut, dari situ terbentuk lagi simpul-simpul baru lagi. Poin terakhir ini yang saya catat sebagai pencapaian terbaik dari itu.

Rian Pelor

Wuooohh… Banyak sekali yang dihadapi. Dari mulai kami mesti mendekati, penetrasi, ke kawan-kawan dari mulai stand up komedian yang memiliki ruang di sana, sampai kemudian audiensi ke dinas pariwisata, yang kemudian dari dinas pariwisata memberikan warning untuk tidak boleh ada sinyalemen tapi kayaknya bodo amat, hingga kemudian tekanan yang semakin kencang mendekati hari-H. Dan ketika di tempat pun menghadapi penentangan juga. Menghadapi sikap yang lebih keras dengan poster-poster disuruh turun, simbol-simbol disuruh turun. Walaupun ternyata kekuatan massa tidak bisa membungkan mulut kita untuk menyuarakan itu di lapangan. Hingga seorang sekretaris daerah nongol di malam minggu untuk memberikan sepatah-dua patah kata, men, sebegitu kebarakan jenggotnya pihak aparatur akan apa yang dilakukan di occupy sudirman waktu itu. Dan sebegitu masif juga ternyata dukungan dari teman-teman, orang-orang muda di Palembang dan itu sangat menarik sekali sebagai sebuah eksperiman sosial dan sebagai salah satu bentuk gerakan untuk membangun opini publik.

 

Metaruang

Baik dalam karya band dari Taxlan dan Rian, sepertinya ada semacam referensi dari dunia sastra yang menjadi bahan lirikal kalian. Memangnya, seberapa jauh pengaruh sastra bagi kerja artistik kalian? Penulis atau buku apa saja yang punya signifikasi tersendiri bagi kalian.

Taxlan

Saya total dari lirik kebanyakan dapetnya, pembelajaran artistik saya mengenai lirik itu yah dimulai dari Fat Mike, sebrengsek apapun dia, dia itu penulis lirik yang ulung. Selanjutnya Ian MacKaye, Greg Graffin, sampai Lyxzen. Kerja astistiknya kebanyakan dari situ. Sama produk-produk tulisan Crimethinc. Kalopun itu memang bisa dimasukkan sebagai karya sastra. Apa yang berikutnya saya pahami sebagai sastra dan saya gunakan untuk lirik saya itu masuk lewat pintu berbeda. Pembelajaran itu masuk lewat melalui coretan-coretan dinding Paris ’68, lirik Nofx, Crass dan Situtationist International.

Rian Pelor

Eh saya tadi udah bilang yah.  Saya tumbuh dengan buku, ketika kecil selalu tinggal di daerah yang terpencil, tidak ada toko buku, saya berlangganan katalog gramedia, memesan dengan wesel pos. Jelas literasi sangat berpengaruh buat saya. Karena buku itu, saya pindah-pindah terus, sebagai anak militer, sahabat saya adalah, adik-beradik saya, hewan peliharan, buku dan kaset. Itu sanctuary, ruang sakral saya. Saya membaca maka saya menulis. Dan itu pula yang saya lakukan di luar. Pengaruh sastra ya yang awal-awal ya saya baca, kalo di sekolahan, saya baca buku Mochtar Lubis, Sutan Takdir Alisjahbana, Hamka, Maxim Gorky, kemudian John Steinbeck, ya banyak sekali lah ya. Tapi, yang paling signifikan jelas adalah seorang Charil Anwar buat saya pribadi. Karena apa, dia mengajarkan saya kelugasan, dan juga betapa kerennya penggunaan bahasa indonesia, di mana saya baru menggunakan bahasa indonesia itu ketika di Auman bahkan meleburnya dengan bahasa indonesia dengan bahasa inggris, di Dètention saya menggunakan bahasa inggris. Tapi saya personal saya menulis puisi. Tidak saya publish, saya simpan sebagai penuang kegelisahan. Bagi saya mungkin penulis yang cukup signifikan pengaruhnya bagi saya pengaruhnya di Indonesia ya adalah Chairil Anwar. Dan kalo buku yang punya signifikansi tersendiri wah banyak sekali. Dari buku Herbert Marcuse, Wilhelm Friedrich Nietzsche, tulisan-tulisan beliau, Stephen Hawking, Jared Diamond, tapi kalo secara spesifik penulis mana yang paling berpengaruh terhadap saya secara lirikal ya Chairil Anwar. Kalo dari luar mungkin, seorang ini yah, saya suka banget tulisan dan puisi-puisinya Octavio Paz, orang Meksiko itu.

 

Metaruang

Album apa saja yang paling berpengaruh bagi kalian berdua? Khususnya yang telah melecut elan kreatif dan perlawan kalian lewat musik. Lantas kemudian, Ada cerita apa di balik pengalaman auditif kala mendengarkan album-album penting dalam hidup kalian itu?

Taxlan

Repeater + 13 Songs-nya Fugazi, The Shape Punk to Come-nya Refused, Fighting Music punya Neandhertal, Full Discography-nya Crossed Out. Sisanya banyak sih, tapi yang paling kepikiran itu. Dari akhirnya kepikiran bikin band gimana itu dari itu-itu. Album-album visioner yang akhirnya bikin klasifikasinya tersendiri untuk periode setelah mereka, yang ngasih respon sama setelah berapapun kali didengerin : “kok bisa yah bikin musik sebangsat ini?”

Rian Pelor

Banyak yah. Yang pertama jelas, Slayer yang “Seasons in the Abyss” karena itu kaset kencang saya yang pertama ketika masih SD kelas 4 atau kelas 5 dibelikan oleh Om saya. Kemudian Bad Religion “Recipe for Hate”, Dead Kennedys yang “Fresh Fruit for Rotting Vegetables” itu tiga top three. Itu ya mungkin tiga album yang paling kepikiran di kepala saya kalo ngomongin yang paling berpengaruh. Terutama secara lirikal, dan ya jangan dulu kalo dengerin album mesti utuh. Gak ada yang dengerin satu track dua track. Sekaset, sealbum. Secara keseluruhan album itu melengkapi, dari musiknya keren, dari liriknya, urghhh! Frontal, dan lugas dan keras, Slayer mengungkapkan hal-hal yang ekstrim untuk kita melihat bahwa dunia tidak baik-baik saja. Bad Religion dengan begitu briliannya, baca lirik Bad Religion mesti buka oxford dictionary, men, anjir. Ya mungkin “Recipe for Hate” dan “Suffer”, dua album itu saya suka banget. Kalo Dead Kennedys, men, wuohh,, mendengar suara Jello aja udah begitu berkarakter. Dan satir dan sarkasme dalam lirik-liriknya itu, brilian banget.

 

Metaruang

Selain tetap menggarap karya musikal, mengoperasikan Sangkakalam (Taxlan), melanjutlan merilis album berbahaya lain di Rimauman Music (Rian), dan tetap terjun di gerakan, adakah hal lain yang hendak kalian garap ke depannya?

Taxlan

Tahun ini saya punya banyak waktu senggang karena tak lagi kerja penuh-waktu, banyak waktu saya untuk membawa materi tentang kelompok/organisasi alternatif (kolektif) dan media alternatif (zine) itu melampaui banyak medium, saya sudah coba itu di beberapa kampus dan medium awal tahun ini, hasilnya cukup baik, gak tau nantinya gimana, karena dari situ mungkin juga bisa dirumuskan metode alternatif baru. Gak tau, makanya dicoba. Ada rencana sama gitaris saya juga, Imam untuk bikin toko kecil rilisan musik dan literasi, dah lama gak ada kedai khusus rilisan fisik musik dan literasi, banyak yang bilang susah karena daya beli untuk itu kan kurang jauh sekarang, yah tapi tetep pengen coba, kejer bebrapa bulan kedepan juga. Pengen punya porsi lebih besar tahun ini ke Sangkakalam, ada banyak plan sama tim yang lain. Tur band lagi pertengahan tahun ini, merencanakan 2Minggu-14Show setiap harinya begitu mendebarkan kami akhir-akhir ini, garap album baru lagi sepulangnya.

Rian Pelor

Yah, mencangkul untuk kehidupan lah.. hahaha. Karena baru kali ini punya jaminan kesehatan. Ya kemudian yah, hal-hal yang personal sih yah lebih banyak. Saya udah mulai mendekati 40 tahun. Walaupun bukan berarti akan mengendor, tapi banyak hal-hal dan perbaikan secara personal, karena apa yang saya jalanin sekarang juga setelah melewati suatu turning point yang begitu, hidup saya nyungsep, terutama ketika karena masalah drugs dulu sekitar sepuluh tahun lalu. Jadi sekarang set di jalan yang lebih konstruktif buat hidup.

 

___

Foto oleh Dotsuffer (Prathama Riezky)

Metaruang, 2018

Metaruang

Bergerak, mengakar, kritis.

No Comments

Post A Comment