Loader

Murray Bookchin

Murray Bookchin terlahir di tengah kehidupan liberal umat Yahudi. Bagi seorang tokoh ekologi-anarkis ini, dunia tumbuh kembangnya tak bisa dilepaskan dari pengaruh sang nenek. Adalah Zeitel Carlat, seorang sekuler yang mengenyam pendidikan liberal sebagai bagian dari Haskalah—ritus pencerahan bagi umat Yahudi. Ia mempelajari ilmu sains, matematika dan sastra, di saat yang sama menolak tradisionalitas agama Yahudi dan memiliih untuk menggunakan pakaian modern. Bahkan, ia meremehkan bahasa Yiddish yang mendukung Rusia, bahasa Oikumenis, bahasa Pushkins dan Nekrasov. Tumbuh sebagai sebuah harapan besar, Zeitel merasa bahwa dirinya akan menyaksikan era baru, di mana orang-orang Rusia akhirnya akan mencapai emansipasi. Sebagai seorang intelektual muda, ia membaca Alexander Herzen dan Nikolai Chernyshevsky dan menjadi narodovoltsy—sebutan bagi mereka yang mendukung kehendak masyarakat—atau menjadi populis revolusioner (Biehl, 2015, hlm. 13).

Pada tahun 1881, beberapa narodovoltsy merasa bahwa pemberontakan petani terlalu lambat. Pada bulan Maret, sekelompok dari mereka memutuskan untuk menyulut pemberontakan: mereka membunuh Tsar sang pembebas, Alexander II. Tetapi, alih-alih membawa pergolakan revolusioner yang telah lama dinanti, tindakan teror ini membuat proses liberalisasi Rusia terhenti. Kaisar amat sangat murka kepada orang-orang Yahudi, menyalahkan mereka atas pembunuhan tersebut. Orang-orang Rusia yang marah melakukan pogrom—bahasa lain dari pembunuhan massal—di Shtetls (sebuah wilayah kecil bagi Yahudi di Eropa Barat). Tsar selanjutnya, Alexander III, menutup akses pendidikan bagi Yahudi dan melarang Yahudi untuk masuk dalam berbagai profesi, serta mengeluarkan keputusan represif yang tidak dapat ditolerir. Orang-orang Yahudi mulai beremigrasi ke Barat secara massal.

Pada tahun 1902, Zeitel dan suaminya Moishe bergabung dengan Partai Sosialis Revolusioner, inkarnasi terbaru populisme Rusia, terilhami oleh gagasan Marxis untuk menarik pertumbuhan populasi pekerja perkotaan dan juga kaum tani. Pada tahun 1905, angkatan kerja perkotaan memasang serangkaian pemogokan dan pemberontakan yang merupakan revolusi baru melawan absolutisme Tsar. Untuk membantu gerakan tersebut, Zeitel mengirim senjata ke seberang perbatasan, menahan mereka di tempat persembunyian dimana para kameradnya diam-diam dapat mengambilnya untuk dipergunakan. Dalam rekaman Janet Biehl, dijelaskan saat revolusi 1905 meletus, dan segera setelah itu Moishe meninggal karena kanker kandung kemih. Zeitel ditinggalkan bersama dua anak mereka, Rose atau Rachel (yang lahir tahun 1894) serta Dan (lahir setahun kemudian). Dia berharap membentuk keturunannya menjadi revolusioner yang disiplin dan mengorbankan diri seperti dirinya sendiri. Tapi sayangnya, keduanya tidak mewarisi temperamennya, kemampuannya untuk menunda kepuasan tanpa batas demi satu tujuan yang besar.

Rose, ibu dari Murray Bookchin kini menjadi seorang milliner (pembuat topi perempuan) dan kemudian bergabung dengan Wobblies, atau Industrial Workers of The World (IWW). Saat menghadiri kegiatan perkemahan musim panas pemuda Komunis, dia bertemu dengan Nathan Bookchin, seorang imigran Yahudi-Rusia, umurnya dua tahun lebih muda darinya. Dengan Nathan, dia bisa berbicara bahasa Rusia; Bersama-sama mereka bernostalgia tentang tanah air mereka dan euforia tentang revolusi yang menggetarkan dunia. Mungkin dia mengenakan salah satu pakaian blus Rusianya pada hari dia mengusulkan pernikahan dan dia menerimanya. Ibunya tidak menyukai pemuda itu, tapi terlepas dari ketidaksukaan Zeitel—atau mungkin karena itu—Rose dan Nathan akhirnya menikah (Biehl, hlm. 15).

Sekitar tahun 1920, keluarga tersebut bergerak ke Utara untuk merasakan udara segar wilayah Bronx, yang memiliki jalur kereta bawah tanah yang baru, Third Avenue El, yang memungkinkan mereka untuk bolak-balik bekerja di distrik garmen Manhattan setiap hari. Newlywed Rose dan Nathan pindah ke lantai dasar sebuah flat kereta api di 1843 Crotona Avenue di East Tremont, sementara Zeitel dan Dan menyewa sebuah apartemen di dekatnya. Di East Tremont, mereka memiliki tetangga orang-orang Rusia yang baik dan nyaman, sebuah desa etnis Yahudi yang dipenuhi tradisi-tradisi Dunia Lama (Biehl, 2015, hlm. 16). Namun, tetap memiliki suasana yang radikal—Worker’s Circle Club, serikat buruh penduduk lokal, dan ruang pertemuan sosialis, lebih banyak dan berpengaruh di lingkungan itu dari pada Sinagoge.

Pada tanggal 14 Januari 1921, Murray Bookchin lahir. Sebagai seorang pewaris tradisi Haskalah, ia tidak diberikan pendidikan Yahudi. Ia tidak akan menjadi bar mitzvahed. Mereka memutuskan untuk tidak merayakan dan melakukan ritual hari raya. Mereka juga tidak berusaha meng-Amerika-kan Murray Bookchin.

Murray Bookchin mendapatkan dukungan dari neneknya, Zeitel yang terobsesi dengan semangat revolusi yang hendak ia wariskan kepada keturunannya. Bookchin, sebagai seorang cucu dari Zeitel, berhasil mengembalikan harapan neneknya untuk meneruskan perjuangan dan semangat revolusi yang telah lama padam. Bookchin diajarkan oleh neneknya bahwa semua agama hanyalah takhayul belaka; mengajarinya tentang tradisi revolusioner Rusia, mengajarinya tentang populisme dan chernyi peredel, the black redistribution, dan tentang kehidupannya sebagai seorang revolusioner sosialis, hingga strategi tembak-menembak yang ditambah dengan strategi rahasia di tengah gelapnya malam (Biehl, hlm. 17). “Keluarga saya mendidik saya dalam revolusi, terutama revolusi terbesar dalam sejarah”, ungkap Bookchin dalam wawancara bersama Janet Biehl. Sebelum Bookchin muda mengenal Washington dan Presiden Lincoln, dia mengenal Lenin terlebih dahulu, juga pemimpin revolusioner Jerman, Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht. Bookchin mengagumi seorang Leon Trotsky, karena berhasil merekayasa pengambilalihan Bolshevik, lalu mengorganisir Tentara Merah.

Pada suatu malam di bulan Agustus di tahun 1927, mereka mendengar suara loper koran yang berlari sepanjang Crotona Avenue meneriakkan kabar mengerikan bahwa Sacco dan Vanzetti telah dieksekusi. Negara bagian Massachusetts telah mencoba dan menghukum dua orang anarkis imigran Italia tersebut, karena membunuh seorang pejabat bank. Pengadilan mereka secara terang-terangan tidak adil—hakim yang menjatuhkan hukuman mati, ternyata membual untuk menyingkirkan “bajingan-bajingan anarkis itu” (Biehl, 2015, 18). Sekarang mereka telah dieksekusi. Zeitel bergegas keluar untuk mendapatkan koran, melihat tetangga mereka menangis di jalan. Ketika kembali ke flat, dia mengangkat halaman depan koran—ada dua orang pria di kursi listrik—Zeitel menanamkan doktrin kepada cucunya seolah hal tersebut benar-benar mutlak. “Inilah yang dilakukan kapitalisme terhadap orang-orang yang bekerja. Jangan pernah lupa!” ucap Zeitel kepada Bookchin. (Biehl, 2015, hlm. 18).

Pada umur sembilan tahun, Bookchin mengalami kekacauan dalam hidupnya. Depresi menghampiri dirinya, ketika ia menyaksikan nenek kesayangannya, Zeitel, yang dengan sangat semangat mengajarkan banyak hal tentang revolusionerisme kepada dirinya, kini telah tiada karena serangan jantung. Bersamaan dengan hal tersebut, terjadilah krisis sosial, yakni serangan Great Depression di Amerika Serikat. Jatuhnya Pasar saham pada Oktober 1929, disusul dengan penutupan bank dan pabrik-pabrik. Beberapa bulan setelah kepergian neneknya, Bookchin bertemu dengan seorang pemuda yang umurya lebih tua dua tahun dari dirinya, membawa sebuah majalah dengan nama New Pioneer. Pemuda tersebut memberikan salinan majalah tersebut kepada Bookchin. “It tells young people the truth about what’s going on in America … that Washington was a drunkard, and Jefferson owned slaves” (Biehl, 2015, hlm. 19). Majalah tersebut memberikan pengaruh cukup besar bagi Bookchin, memberikan informasi bahwa demokrasi Amerika Serikat adalah hoax, bahwa orang-orang kaya, seperti Rockefeller, Vanderbilt, the Goulds menguasai ekonomi Amerika Serikat. Pemuda pembawa majalah itu kemudian mengajak Bookchin untuk bergabung dengan Young Pioneers yang sering mendiskusikan permasalahan-permasalahan yang ia lihat pada majalah tersebut.

Pada awal tahun 1930-an, gerakan komunis sangatlah radikal. Faktanya, gerakan tersebut merupakan gerakan politik ultra-kiri dalam sejarah Amerika Serikat, dua organisasi pemuda, yakni The Pioneers dan Young Communist League (YCL) merupakan gerakan paling ultra-kiri. Bahkan (dalam Biehl, 2015, hlm. 21) The Pioneers disebut oleh Bookchin sebagai super-revolutionaries. Pada tahun 1928, Stalin mengumumkan kepada seluruh komunis di seluruh dunia bahwa kapitalisme berada pada akhir hayatnya; akhir revolusi sudah di tangan komunis. Bersamaan dengan krisis ekonomi di Amerika Serikat pada awal tahun 1930-an, gerakan komunis di Amerika Serikat tumbuh dengan cepat. Banyak dari para pekerja yang kehilangan pekerjaan, menggantungkan harapan mereka pada komunisme sebagai jawaban atas krisis yang terjadi. Hal tersebut menyebabkan Communist Party of the United States of America (CPUSA) berhasil merekrut 50.000 anggota sejak tahun 1930 hingga 1934. Akibat tekanan ekonomi yang cukup tinggi, akhirnya pada tahun 1932/1933, Bookchin mendapatkan pekerjaan sebagai seorang loper koran kebanggaan kaum komunis, yakni Daily Workers dan berjualan di sekitaran wilayah tempat tinggalnya.

Pengaruh pandangan ekologi sosial yang terus dikembangkan oleh Murray Bookchin, akhirnya menempatkan gagasan ekologi sosial dalam ranah akademik yang lebih mapan. Pada tahun 1974, Institute for Social Ecology (ISE) didirikan di Goddard College, Plainfield, Vermont, oleh seorang ahli antropologi budaya Daniel Chodorkoff dan Murray Bookchin. Bookchin yang berhasil mendirikan dan mengarahkan ISE yang kemudian memperoleh reputasi internasional untuk kursus lanjutannya dalam ekofilosofi, teori sosial, dan teknologi alternatif.  ISE mulai terlepas dari Goddard College pada tahun 1981, mendirikan kampusnya sendiri di sebuah peternakan di Plainfield. ISE  telah terlibat dalam eksplorasi pendekatan ekologis terhadap prosuksi pangan, teknologi alternatif, dan desain perkotaan. Selain itu, ISE turut serta dalam Gerakan Anti-Nuklir pada tahun 1970-an, Gerakan Keadilan Global tahun 1990-an dan Gerakan Occupy untuk menantang nuclear power, global injustice dan unsustainable biotechnologies, sambil membangun komunitas alternatif berbasis partisipatori. ISE pun telah menyelenggarakan seminar intensif untuk Occupy New York City, sambil mendorong pembangunan gerakan strategis yang sedang berjalan di New York. Selama satu deakde terakhir, fokus utama aktivisme ISE adalah menentang rekayasa genetika pada makanan dan pepohonan, memperlihatkan mitos bioteknologi lebih luas, tergabung pula dalam gerakan keadilan iklim, dan membawa masyarakat yang terpusat pada akar rumput untuk turut serta dalam berbagai isu sosial dan ekologi.

Pada tahun 1974, selain mengajar di ISE, Bookchin mulai mengajar di Ramapo College of New Jersey, dan menjadi guru besar teori sosial. Dia pensiun pada tahun 1983 dan beralih ke status emeritus. Pada tahun 1970, Bookchin aktif dalam gerakan anti-nuklir dan berpartisipasi dalam Aliansi Clamshell, menentang reaktor nuklir Seabrook di New Hampshire. Dalam The Ecology of Freedom: The Emergence and Dissolution of Hierarchy pada tahun 1982 (diterbitkan tahun 1991 dan 2005), karya Bookchin yang satu ini memantik ragam diskusi yang berkenaan dengan ekologi dan hierarki sosial-politik, antropologi, psikologis dan ilmiah. Bookchin mengeksplorasi gagasan tentang dominasi alam dan kemunculan historisnya, terutama dari dominasi sosial manusia, terutama di negara-negara gerontokrasi, patriarki, dan yang ketat strata hierarkinya. Bookchin menganggap, bahwa hierarki dan dominasi adalah bentuk penindasan yang lebih mendasar daripada kelas dan eksploitasi.

Dia tahun 1990, Bookchin memutuskan pensiun dari kehidupan politik. Sang guru besar emeritus ini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menulis. Dengan rekan dan kolaboratornya, Janet Biehl, Bookchin mencurahkan perhatiannya pada empat puluh isu buletin teoritis Green Perspectives (kemudian berganti nama menjadi Left Green Perspectives). Murray Bookchin meninggal pada 30 Juli 2006 di usianya yang ke-85 tahun, akibat gagal jantung di rumahnya, di Burlington, Vermont, Amerika Serikat. Legasinya terus hidup, semangat eko-anarkismenya memberi banyak pelajaran berharga bagi dunia pergerakan dan intelektual.

 

Pustaka

Biehl, Janet. (2015). Ecology or Catastrophe: The  Life of Murray Bookchin. New York: Oxford University Press.
Situs: petanihuruf.wordpress.com/2017/06/30/bertaaruf-dengan-murray-bookchin/

___

Visual: F. Ilham Satrio

 

No Comments

Post A Comment