Metaruang | Nathan Gray, “Feral Hymns”
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16861
post-template-default,single,single-post,postid-16861,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Nathan Gray, “Feral Hymns”

Album: Feral Hymns
Artis: Nathan Gray
Tanggal Perilisan: 19 Januari 2018
Label: End Hits Records
Jumlah Track: 12 track
Durasi: 39:18
Genre: punk, accoustic, atmospheric
Produser: Nathan Gray dan Pete Steinkopf
Mixing: Pete Steinkopf
Mastering: Matthias Lohmöller

 

Nathan Gray bukanlah seorang Don Quixote dari distrik Mancha dengan segala karnaval kegilaannya. Dia tidak sedang menempuh perjalanan kekesatriaan yang luhung bersama seorang Sancho Panza dan Keledai tunggang bernama Rocinante. Dia pun tidak sedang main-main dengan gejala-gejala skizofrenik yang meningkar hari-harinya. Bahkan Nathan tidak terbiasa dengan baju zirah dan lars berlumut, sedangkan Don Quixote pun bukanlah seorang punk. Namun dari epik majenun imajinatif yang dikisahkan sahibul hikayat Sayid Ahmad Benegeli itu, kita akan sama-sama mafhum bahwa upaya merayakan banalitas hidup di usia senja adalah pertautan Nathan dan Don Quixote. Jika Don Quixote merayakannya dengan menempuh perjalanan menuju Toboso untuk mencari Dulcinea, maka Nathan melakukannya dengan terus merilis album di tiap tahun—baik bersama band maupun proyek solonya.

Berbicara mengenai sosok Nathan Gray, tentu kita tidak bisa mengabaikan Boysetsfire. Hal itu tak terlepas dari bagaimana kiprah Nathan di Boysetsfire semenjak awal pembentukannya hingga sekarang. Nathan yang menjadi juru rakit lirik Boysetsfire sedari album The Day the Sun Went Out (1997), pada akhirnya memberikan corak politis tersendiri bagi medan lirikal Boysetsfire. Nama Boysetsfire pun kemudian dikenal sebagai “band emo yang politis”. Mereka dikenal sebagai band yang mengampu lirik-lirik kanon dalam magasin albumnya. Kendati demikian, Boysetsfire dikatakan telah purna masanya kala mereka merilis album The Misery Index: Notes From The Plague Years pada tahun 2006. Meskipun setelah itu mereka masih merilis dua album baru, namun tetap saja the golden era dari Boysetsfire tak akan bisa terulang kembali.

Selama masih di Boysetsfire, Nathan pun menginisiasi proyek lain semisal The New Recruits, The Casting Out, I Am Heresy, hingga yang terbaru yakni Nathan Gray Collective. The New Recruits sendiri memainkan musik gospel punk, The Casting Out menggedor dengan beat-beat melodic punk a la Bad Religion, I Am Heresy menggelap dengan eksplorasi chaotic metalnya, sedangkan Nathan Gray Collective merupakan proyek duo darkwave industrial antara Nathan dengan multi-instrumentalis bernama Daniel E. Smith.

Bahkan selama di I Am Heresy, Nathan berkarya bersama anaknya sendiri, Simon Gray, yang sebelumnya menjadi pembetot bass di band metalcore The May 4th Massacre. Pantas jika Nathan disebut sebagai musisi prolifik. Tahun ke tahun dilalui Nathan dengan rilisnya album baru bersama band-band proyekannya. Secara kualitas pun, album-album yang dirilis tidak bisa kita sepelekan begitu saja. Namun terakhir ini, Nathan merilis album solonya tidak lagi di bawah nama Nathan Gray Collective. Nathan kukuh mengusung namanya sendiri sebagai kreator utama.

Tepat 19 Januari 2018, label End Hits Records merilis album Feral Hymns dari Nathan Gray. Pete Steinkopf dari The Bouncing Souls dipercaya untuk memproduseri album ini bersama dengan Nathan pula. Di album ini berisi 12 track yang separuh di antaranya diaransemen-ulang dari lagu milik Boysetsfire, The Casting Out, dan Nathan Gray Collective. Sedangkan separuh lagi adalah lagu baru yang Nathan ciptakan wabil khusus untuk album barunya. Dalam pengerjaan album ini pun ada seorang Matthias Lohmöller yang menukangi dapur mastering. Sedangkan untuk urusan sampul album, foto-foto dalam sleeve, hingga desain dan layout, dikerjakan oleh Tom Bejgrowicz (Man Alive Creative).

Kendati Feral Hymns digadang sebagai album solo, namun dalam proses pengerjaannya, Nathan melibatkan beberapa kawannya pula saat rekaman. Terhitung mulai dari Elyse Mitchell yang mengisi cello, Jesse Skokos di piano, Becky Fontaine dan Darren Deicide di vokal latar, hingga Pete Steinkopf pun tak ayal turut pula mengisi gitar di beberapa nomor. Selain nama-nama itu, tersempil pula seorang Rebekah Latshaw di deretan kawan yang membantu Nathan kala proses rekaman. Rebekah sendiri adalah adik ipar dari Joshua Latshaw, gitaris dari Boysetsfire. Di Feral Hymns sendiri, Rebekah berperan sebagai song writer untuk salah satu nomor berjudul “Damascus”.

Nomor pembuka di album Feral Hymns diisi oleh “As the Waves Crash Down”. Sound gitar Nathan niscaya mengantarkan kembali pendengar akan nuansa musikal “Walk Astray” dari album The Missery Index (2006), juga atmosfer serupa yang kita temui sebelumnya di “My Life in the Knife Trade” dari album After the Eulogy (2001). Nomor ini memang layak dijadikan pembuka karena elan empowerment yang begitu kentara. Nathan seolah tengah menggedor kembali tiap pintu rumah kawan-kawannya yang kemarin hari dipancangi teralis apatisme. Suar perlawanan yang selama ini meredup, dia kobarkan kembali lewat lagu ini.

Bahkan avant-propos pada nomor pembuka itu tengah memberi peringatan dini: “Better toughen up kid, this is war / Wolves are scratching at your door / You can find a way to run or learn to struggle through / Where this all leads is up to you”. Ketika suar itu telah disulut ke banyak kawan, lirik selanjutnya kemudian mengajak mereka untuk menghimpun harapan yang masih tersisa, untuk siap dicor menjadi sebilah katana: “There’s no turning back / Raise your fist, stand proud as the waves crash down / We can die in silence, or we can live out loud as the waves crash down”.

Tiga menit sebelas detik yang menghantam sebagai pembuka album. Dan di verse akhir lagu itu, Nathan berseloroh tentang sebuah pilihan—apakah bergabung di barikade para kombatan atau berlutut mencium dampal kaki rezim penindas: “Yeah it all gets bad then it gets worse / So better hope to hell you’re well-rehearsed in the art of standing up / When everyone else kneels / […] Gotta learn to thrive in these killing fields”.

Nomor berikutnya di album Feral Hymns yang bertajuk “Echoes” menawarkan kegetiran yang tiada dua. Sayatan EBow dari Pete Steinkopf sedari menit awal kian memberi sentuhan tragis akan vokal Nathan. Sedangkan penggalan refrain “beyond the echoes in the dark” yang dinyanyikan berulang, semakin membuat lagu ini umpama suara lirih dari sebuah catatan perjalanan seorang tualang. Vokal Nathan berangsur semakin lirih kala menyanyikan bagian lirik “Here in my heart, I’ve carved the words “you don’t own me” / And well-divided scars have read the names of every journey”. Sampai pada verse terakhir yang berbunyi “And this is all that we have left, inside these walls of loneliness”, dedak-dedak kesepian yang menyergap di sepanjang perjalanan itu kemudian menempias.

Pada nomor “Walk”, Nathan dibantu Becky Fontaine pada vokal latar. Sedangkan pada “Burn Away”, hadir pula Jesse Skokos mengisi piano dan Darren Deicide yang turut menyumbang vokal. Dua nomor itu cukup anthemic dan menjadi lagu dengan refrain yang mudah diingat serta dinyanyikan bersama di atas panggung. Tekstur atmospheric dari gitar Nathan masih terus dipertahankan. Aksentuasi di beberapa kata dalam penggalan lirik dilakukannya dengan cukup rapih. Alhasil, meskipun nuansa yang dibangun kedua lagu itu begitu murung, namun komposisi lirikal keduanya menyimpan aura progresif.

Lanjut pada nomor “Wayward Ghost”, lagu ini diprediksikan bakal mengubah atmosfer Feral Hymns menjadi begitu gelap. Bukan tanpa sebab, lagu ini berasal dari album Until the Darkness Takes Us (2017) milik Nathan Gray Collective. Nyaris seperti itu anggapan awal sebelum mendengarkan lagu ini. Namun kemudian Nathan mengaransemen-ulangnya dengan sangat apik. Yang pada awalnya lagu ini memang menyimpan halimun kegelapan, namun lewat gubahan Nathan di Feral Hymns, lagu ini justru terdengar begitu anthemic. Bahkan chorus semisal “Kissing corpses on display mouthing only words of agony” pun bisa jadi sedemikian masygul. Belum lagi verse penutup yang berbunyi “For wayward ghosts from whitewashed graves / Tragic lives still begging to be saints”, malah semakin membuat atmosfer lagu ini justru semakin tragis.

Masih ada satu nomor lagi di Feral Hymns yang diaransemen-ulang dari lagu milik Nathan Gray Collective. Nomor yang dimaksud adalah “Damascus”—yang juga menyimpan atmosfer serupa lagu sebelumnya. Lagu ini sendiri ditulis oleh Rebekah Latshaw. Intertekstualitas dalam lirik lagu ini tidak secara eksplisit bercerita tentang Ibukota Suriah. Namun apabila dilihat dari diksi-diksi yang termaktub dalam lirik, lagu ini tengah berbicara ihwal medan puputan dan maut dengan segala enigmanya. Nomor ini adalah satu-satunya lagu yang punya impresi orkestral. Sedangkan nomor “Light and Love” di daftar selanjutnya, memberikan warna tersendiri dengan sentuhan EBow atmospheric yang diisi refrain apik “Yeah, there is a light where the darkness feels no shame / There is a love that never has to fade”.

“Across Five Years” menjadi satu-satunya nomor Boysetsfire yang diaransemen-ulang Nathan di album Feral Hymns. Pada nomor yang berasal dari album After the Eulogy (2001) ini, Pete Steinkopf mengisi suara piano. Lagu ini punya impresi yang mendalam. Ia semacam memento mori atau pengingat maut bagi seseorang, terlebih saat memasuki verse yang berbunyi “Whatever poison you may drink / Another list of “no’s” persist / Antique and out of reach / I lose my life and take it back”.

Dalam album Feral Hymns pun, ada tiga nomor The Casting Out yang diaransemen-ulang oleh Nathan. Ketiga lagu itu adalah “Alone” dari Self Titled EP (2017), serta “Ebbing of the Tide” dan “Quixote’s Last Ride” dari album Go Crazy! Throw Fireworks! (2008). Ketiga versi asli lagu itu punya aura yang lebih energik tinimbang nomor-nomor lain yang diaransemen-ulang di Feral Hymns. Tentu hal itu tak terlepas dari corak sound The Casting Out yang melahirkan beat-beat khas melodic punk a la Bad Religion hingga Rise Against. Namun Nathan tetap konsisten untuk menaruh sentuhan getir di hampir semua nomornya. Gubahan Nathan dan Petr Steinkopf betul-betul serius mengeksplorasi sound yang murung, akan tetapi mereka tetap menjagai elan progresifnya bekerja di medan lirikal.

“Ebbing of the Tide” adalah satu lagi nomor yang bernapaskan “Walk Astray” dari Boysetsfire. Titik berangkat lagu ini seolah bertolak dari kondisi yang paling runtuh. Hal itu secara apik dilantunkan Nathan pada bagian chorus “Through these years, this is my last tragic embrace / My last reason to stay / I’m getting over dramatic, but kinda like it that way”. Lagu ini pula semacam serenada yang dinyanyikan di tengah sengkarut ketimpangan ekonomi dan politik hari ini. Ia kemudian menyaru sebagai miasma yang menyatroni kerongkongan para tiran di malam-malam paling lebam. Dalam hitungan dua-tiga kerjap mata, bersamaan dengan hook akhir lagu ini dan vokal latar Becky Fontaine yang demikian lirih, miasma itu kemudian bekerja.

Satu-satunya nomor di Feral Hymns yang dibiarkan tetap mempunyai atmosfer pizzicato—atau yang menguarkan semangat dari versi awalnya—tak lain adalah “Quixote’s Last Ride”. Kali ini Pete Steinkopf yang berkesempatan mengisi gitar, sedangkan Nathan fokus mengisi vokal utama. Dari judulnya, lagu ini mungkin bisa dimaknai sebagai deklamasi seorang gaek punk di ujung kembaranya. Ia umpama manifesto musikal seorang Nathan di senjakala usianya. Namun semoga asumsi itu meleset. Barangkali Nathan memang hendak berkisah tentang ujung tualang Don Quixote yang baru menyadari bahwa semua kegilaannya mesti dipulangkan. Verse awal lagu ini menggambarkan hal itu dengan begitu apik, sangat Quixotic: “Dear anybody who will listen to me whine / This letter was written as a warning to those left behind / But what a royal mistake it was to see things as they are / Cause this world is a cesspool and love has surely died”.

Upaya Don Quixote mencari Dulcinea hanya perjalanan menuju liyan yang tak mungkin. Dulcinea ternyata hanya komplemen bagi mimpi kekesatriaan Don Quixote. Ia bukanlah masa depan dan mimpi dari pengembaraannya selama ini. Justru yang menjadi mimpi Don Quixote adalah perjalanan kekesatriaannya itu sendiri. Sampai di sini, refrain lagu “Quixote’s Last Ride” menemukan celah berdentamnya: “So don’t look to me for sympathy / Everybody knows it’s not so damn easy / Oh no, you’ve got to bleed a little every day / And let the memories fade / Fuck hope, signed me / Yeah, fuck hope, signed”.

Dari penghujung hikayat Don Quixote, Nathan tak hanya menampilkan selaksa kemajenunan dalam lirik lagunya. Dia justru hendak menyampaikan bahwa sebetapapun gilanya iman dan cinta Quixote pada kegaiban yang purna (dalam hal ini Dulcinea), ada hal yang setidaknya bisa kita insafi. Kendati perjalanan Don Quixote hanya perbendaharaan kelakar dan olok-olok akan hidup, namun gairah untuk tidak sekedar menjalani hari-hari yang berulang itulah yang kemudian menjadi entitas krusial dalam kisah Don Quixote. “Don’t let another angry word fall from your mouth / You know it’s not worth it / This wasn’t perfectly unkind / Don’t let another empty word fall from your mouth / You know that no one will listen, they’re too busy / Denying what they’ve found” pungkas Nathan di verse akhir lirik lagunya.

Nomor penutup pada album Feral Hymns diisi oleh lagu berjudul “Blue Hearts & Shades of Grey”. Nomor pamungkas ini begitu afirmatif. Ia semacam catatan retrospektif dari fragmen-fragmen kisah di lagu sebelumnya. Nathan menutup track manis ini dengan verse apik yang menyuling tenaga kuatren: “As the curtain raised up and my heart hit the ground / You found your way home as I spiraled back down / And now I find I have nothing left to say / The horror scream of blue hearts and shades of grey”.

Lewat Feral Hymns, Nathan membuktikan bahwa dirinya belum habis. Nathan yang sebelumnya gandrung dengan wacana satanisme—bahkan tercermin dari dimensi kegelapan pada proyeknya di I Am Heresy dan Nathan Gray Collective—akhirnya kembali merilis karya dari magasin politisnya. Dia menyeret kembali semangat 4 album awal Boysetsfire supaya ingsut pada setiap materi dalam Feral Hymns. Nathan menaruh epos kemarahan dan emosional khas Boysetsfire lewat cara dan komposisi yang dipilihnya sendiri. Dengan rilisnya Feral Hymns, apa yang sebelumnya menjadi sempadan pada genre setiap proyek band yang diinisiasi Nathan, bisa dirubuhkan dengan gubahan apiknya bersama Pete Steinkopf.

Mungkin bisa saja apa yang dilakukan Nathan disebut sebagai upaya Quixotic. Namun di tengah banalitas hidup yang kian menjadi, Nathan tak sedikitpun membiarkan gairahnya untuk terus berkarya meranggas seketika. Dengan con molta passione yang menyembul di tiap lagu, performa Nathan seolah kembali seperti energinya sedekade silam saat tengah di Boysetsfire. Feral Hymns layak didengarkan bukan hanya sebagai album pendamping perjalanan, namun juga sebagai magnum opus yang diciptakan seorang gaek punk yang tugur menghajar jalanan.

 

Fajar Nugraha

Lahir di Bandung, 22 Juni 1996. Pecinta masakan Ibunda

No Comments

Post A Comment