Loader

No Longer Human: Membaca Sisi Kelam Manusia

 

What do you think by having not faith in human beings? –Osamu Dazai

 

Saya akan mulai dengan meminjam perkataan Oba Yozo, tokoh utama dalam novel No Longer Human: “He could only consider me as the living corpse of a would-be suicide, a person dead to shame, an idiot” (1958: 144).

Demikian solilokui yang digumamkan Yozo ketika berdebat dengan sahabatnya Masao Horiki perihal kata “memalukan” dalam permainan “temukan kata: tragik atau komik”. Kalimat yang akan anda rasakan maknanya ketika menyusuri detail demi detail cerita perjalanan hidup Oba Yozo dalam novel karya Osamu Dazai ini. Novel setebal 177 halaman ini, yang terbit pada tahun 1958, menawarkan perenungan seseorang di tengah kecamuk perang dunia dua. Di mana kondisi Jepang pada saat itu berada dalam hegemoni Fasisme, yang juga berdampak pada krisis ekonomi yang mendegradasi mental penduduk Jepang.

Novel ini terdiri dari 3 buah buku catatan Oba Yozo. Ia lahir di sebuah desa terpencil daerah utara Jepang dan tumbuh dalam sebuah keluarga yang kaya. Ayahnya seorang pengusaha sukses yang seringkali membuatnya harus bepergian ke luar kota. Yozo pun memiliki seorang kaka yang tidak humoris dan tingkahnya yang sok dewasa itu seringkali membuat Yozo tak acuh. Dengan demikian Yozo tak pernah merasa akrab dengannya. Keluarga besarnya ini sangat materialistik. Sementara tetangga-tetangganya merupakan orang-orang yang gemar berbicara moral dan permasalahan ekonomi-politik. Dibesarkan dalam situasi seperti itu, membuat Yozo tumbuh dalam keterasingan.

Yozo kecil selalu gelisah setiap kali memperhatikan ekspresi  wajah orang-orang. Ia merasakan ada yang ganjil dalam diri manusia. Namun Yozo tak pernah tahu pasti apa alasannya. Sampai sepupu perempuannya datang menghampiri kamarnya suatu malam. Bercerita tentang isi hatinya yang muram sambil terisak, yang sesaat sebelumnya ia terlihat bahagia. Setelah pertemuan itu, Yozo merasa bahwa “Ada yang aneh dalam diri manusia”.

Di sekolahnya, ia cukup dihargai karena reputasi keluarganya yang tersohor. Ia merasa ganjil dengan perlakuan yang ia terima dari teman-teman dan gurunya di sekolah. Hal itu membuat Yozo selalu curiga pada setiap orang yang ia temui. Perasaan canggung yang meluap-luap memaksa Yozo berpikir untuk mensiasatinya. Hingga akhirnya Yozo membuat komik yang isinya karakter-karakter konyol. Setiap orang yang membaca komiknya, pasti akan dibuat terkekeh. Sejak saat itu Yozo mulai menikmati keberadaannya.

Ia memutuskan untuk kuliah di salah satu Universitas di Tokyo. Ia mengambil jurusan Seni Lukis. Setelah kuliah Yozo pun mengenal Horiki, salah satu senior Jurusan seni rupa, yang berusia enam tahun lebih tua dari Yozo. Hingga keduanya menjadi teman akrab. Horikilah yang memperkenalkan Yozo pada dunia alkohol, narkoba, dan prostitusi. Setiap harinya, mereka berdua sering berkunjung ke kafe Ginza, hanya untuk mabuk-mabukan sampai tak sadarkan diri.

Suatu hari Yozo tak memiliki uang untuk membeli minuman kesukaannya, Brandy. Demi sebotol minuman itu, ia mencoba merayu seorang pelayan bernama Tsuneko, agar mau memberinya minuman secara cuma-cuma. Tsuneko pun memberinya minuman itu. Melihat ketakberdayaan Tsuneko, entah kenapa Yozo merasa iba. Ia melihat Tsuneko sebagai sosok yang terbuang seperti halnya dirinya. Setelah itu, mereka pun tinggal berdua dalam satu rumah. Hingga suatu malam Yozo mengajak Tsuneko untuk bunuh diri bersama. Tsuneko menyetujuinya. Bersama-sama, mereka berdua melompat dari atas tebing. Tsuneko tewas, namun Yozo selamat.

Setelah kejadian itu, ia selalu terbayang-bayang wajah Tsuneko. Hingga suatu hari Yozo bertemu Shugeko dan ditawari untuk menjadi komikus mengisi salah salah satu feature di majalah yang dikelola Shugeko. Karena tidak memiliki tempat tinggal, Shugeko mempersilahkan Yozo untuk tinggal di rumahnya.

Selang beberapa waktu Yozo menikahi gadis lugu penjaga toko bernama Yoshiko. Yozo merasa bahagia. Ia pun berjanji pada Yoshiko akan berhenti mabuk-mabukan. Hingga Horiki, teman lama Yozo, bertamu ke rumah mereka berdua. Horiki bercerita bahwa ia sedang dalam masalah keuangan. Karena sedang tak memiliki uang Yozo menyuruh Yoshiko, istrinya, untuk menggadaikan kimononya. Tak lupa Yozo menyuruh istrinya membeli beberapa botol Brandy untuk menjamu Horiki. Istrinya adalah orang yang polos dan tak sedikit pun menyimpan rasa curiga pada orang lain.

Saat Yozo sedang asyik ditemani gelas-gelas Brendy, Horiki pergi ke dapur mengambil makanan dan menemui istri Yozo diperkosa oleh seorang bocah berumur tiga belas tahun. Yozo yang segera mengetahuinya, tidak tahu mesti berbuat apa. Dia merasa tidak ada yang salah dalam hal ini. Yozo merasa tak berhak untuk menghakimi siapa pun. “God I ask you. Is trustfulnes a sin?” (1958: 150). Begitulah pleidoi yang ia nyatakan kepada Tuhan.

Hidup dalam situasi mencekam seperti itu, membuat Yozo memandang segala hal dengan fatalis. Yozo merasa menderita dalam ketakmampuannya memahami kehidupannya yang berantakan. Melalui novel ini, barangkali kita bisa merasakan bagaimana dampak traumatik yang diakibatkan oleh tekanan sosial. Kita pun bisa memahami sisi paling kelam dalam diri manusia yang tercermin dalam diri Yozo. Sehingga setiap tindakan pembakaran buku (catatan-catatan harian) merupakan tindakan yang sungguh mengkerdilkan kemanusian.

 

Tags:
1 Comment
  • john doe
    Posted at 12:21h, 10 February Reply

    Salah pengetikan kah pada kalimat “Saat Yozo sedang asyik….tiga belas tahun”?

Post A Comment