Loader

Osamu Dazai

 

Di sebuah pagi yang buta seorang petani menemukan sepasang tubuh telungkup di pinggir Kanal Tamagawa. Saat itu langit senyap, angin dingin berembus tenang di antara pepohonan,sementara pakaian si lelaki sedikit rapih dan si perempuan tampak anggun dengan kimono yang digunakannya. Petani itu tak tahu apa yang dilakukan pasangan lelaki-perempuan dengan pakaian basah kuyup. Setelah meniliknya dari dekat, barulah ia sadarbahwa keduanya adalah sepasang kekasih romantik yang barangkali mencoba mengkongkretkan madah Shakespeare. Mereka menenggelamkan diri bersama ke dalam luapan air bendungan irigasi setelah frustasi memahami tujuan hidup yang tak satu Heidegerian pun tahu. Pemuda itu adalah Osamu Dazai, sementara perempuan yang bersamanya adalah Tomie Yamazaki.

Dazai dan Yamazaki adalah sepasang manusia yang mungkin tak pernah berharap dilahirkan di dunia. Mungkin tak seorang pun pernah berharap dilahirkan di dunia. Dazai yang selalu gelisah, terhitung telah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak tiga kali. Pada percobaan bunuh dirinya yang ke tiga kalinya itu –dengan menggantung diri di sebuah apatemen di Tokyo—kembali gagal dan sialnya, ia pun tetap hidup. Hingga sampailah ia dipaksa menjalani rehabilitasi di sebuah sanatorium khusus bagi para penderita gangguan mental. Dazai terisolasi selama setahun dalam sanatorium dengan keputusasaan. Diperburuk lagi oleh ulah istrinya yang berselingkuh dengan sahabatnya. Seolah tak mau kalah, Dazai pun lalu berselingkuh dengan Yamazaki, seorang janda perang yang ditinggal mati suaminya.

Setelah dinyatakan pulih, Dazai kembali melakukan percobaan konyolnya dan kali ini ia berhasil. Kejenakaannya dalam empat kali percobaan bunuh diri harus dipahami sebagai seorang samurai yang kehilangan separuh martabatnya sebagaimana pendahulunya yang sangat ia kagumi, Ryunosuke Akutagawa, yang mengakhiri hidupnya dengan jalan kesatria Jepang. Begitulah; terkadang riwayat hidup seorang pengarang hadir dengan kemuramannya. Mungkin hidup memang tak pernah lepas dari ironi.

Dazai lahir pada tahun 1909, dari rahim zaman yang tengah depresi. Dalam hal ini –meminjam istilah Kurt Vannegout—zaman yang sedang melakukan percobaan bunuh diri peradaban eropa untuk yang kedua kalinya.Hidup yang menanggung penuh, carut-marutdegradasi mental dalam skalanya yang masif. Dekadensi Dazai sendiri diawali dari pola hidup borjuis keluarga besarnya yang kaya mendadak. Pada era perang, seorang pengusaha jika memiliki akses, akan meraup keuntungan yang melimpah dari bisnisnya. Ayah Dazai adalah seorang tuan tanah. Kekayaan yang melimpah ruah membuat keluarga Dazai tersohor dan amat dihormati di desanya. Keluarga besarnya kerap mengadakan pesta besar. Hingga teman sekolahnya secara berlebihan menaruh hormat pada dirinya. Dari situlah, tak lama Dazai menemukan dirinya terasing di tengah dekadensi orang-orang sekitarnya.

Friedrich Nietzsche, filsuf religius yang dengan gigih mengkritik moralitas modern, mengakui bahwa dirinya tak bisa terlepas dari cacat yang diidap oleh zaman di mana ia hidup. Alih-alih berusaha mengatasinya seperti Nietzsche, Dazai malah terpesona dengan kecacatan hidup. Ia dianggap sebagai salah satu penulis besar Jepang yang berhasil mengeksplorasi dekadensi manusia dengan sangat menawan. Teknik penulisan prosa yang menggunakan dekadensi sebagai tema sentralnya ini dikenal sebagai Buraiha.Dazai pun digadang-gadang sebagai ikon yang mengusung kembali teknik Buraiha dalam penulisan prosa Jepang.  Teknik yang mengutamakan eksplorasi dekadensi dalam kepribadian manusia, yang lahir dari transisi bentuk pemerintahan Jepang di era kekaisaran Meiji.

Kepekaannya dalam menggali cacat moral dalam individu dan sosial mampu melahirkan daya empatik yang esensial bagipara pembacanya. Seakan-akan menjadi nada solidaritas terhadap yanglain. Bahkan,reputasinya melampaui dua penulis besar Jepang pemenang nobel sastra, Ryunosuke Akutagawa dan Kenzaburo Oe.

Dekadensi yang sarat perasaan murung dan putus asa ditemui hampir di seluruh karyanya. Pada tahun 1948, No Longer Human(Ningen Shikkaku) lahir sebagai representasi puncak keputasaan itu. Sang tokoh utama hidup dalam kegagalan memahami makna dan prospek sosial yang dibangun di atas norma-norma. Prosa Dazai, seperti halnya puisi-puisiRimbaud, pun sarat dengan humor satir dan frustatif dalammenghadapi kehidupan yang menjelma neraka. Hal didaktis dan kebermaknaan sangatlah jauh dari karyanya. Tentu saja, moral dalam prosa tak bisa dipaksakan.

Dazai juga diakui sebagai narator yang jenius. Dalam karyanya,Fairy Tales (Otagizoshi) yang terbit tahun 1945, ia menceritakan kembali dongeng-dongeng leluhurnya dengan sangat cerdas dan jenaka. Penggunaan sudut pandang orang pertama dan teknik naratif, menjadikan dongeng yang diceritakan kembali seakan-akandekat dengan situasi zaman yang berbeda. Di salah satu ceritanya, ia menggambarkan seorang anak yang mendengarkan dongengnamun imajinasinya malahmelayang melampaui apa yang diceritakan. Dazai nampaknya memang paham,bahwa tak sepenuhnya alur bisa dikunyah sedemikian persis sebagaimana keinginan si pencerita, apalagi dengan perbedaan zaman.

Pada tahun 1942 dan 1944, Dazai dua kali bermigrasi setelah serangan udara Amerika meratakan rumahnya. Ia pun hidup dalam keterasingan, bahkan menjadi pecandu obat-obatan. Hal yang akan terasa dalam novel semi-autobiografinya, No Longer Human. Oba Yozo, sang tokoh utama, secara tragis menganggap dirinya tidak kapabel menjadi manusia yang wajar untuk menjalankan norma-norma sosial. Begitu pula dengan tanggapannya atas bentuk sosial yang membuatnya frustasi, untuk kemudian menjadikanyan hal puitik, yang diamini para pembaca yang notabene merasakan hal serupa dengannya.

Selain sebagai ikon penggunaan teknik Buraiha dalam prosa, Dazai disebut juga penulis paling berhasil dalam genre “I—Novel”. Genre yang menitikberatkan pada personalitas penulis—I yang berarti aku—yang mengungkapkan kedalaman penderitaan yang dialaminya semasa hidup. Genre itu bahkan diakui sebagai trademark gaya kepenulisannya. Kepolosannya dalam mengungkapkan apa yang ia rasakan, dan kesan yang timbul dalam benaknya menghadapi keadaan sekitar, diungkapkan tanpa sekat sama sekali dalam novelnya. Adalah aib, keputusasaan, dekadensi moral, cacat mental, dan ketidak becusan dalam menjalani hidup normal menjadikan Dazai sebagaigarda depan penolakmoralitas ganda yang secara naif seringkali dipaksakan secara mentah. Dalam hal inilah, Yozo (juga Dazai),adalah sosok yang diterima, sekaligus ditolak,atas alasan kemuakan kaum konservatif.

Tak hanya pandai bersedih, rupanya Osamu Dazai juga pernah melibatkan diri pada partai politik sayap kiri, yang saat itu keberadaannya sangat dilarangpemerintahan Jepang. Berbeda dengan temannya, ia malah merasa limbung seperti orang tuli di suatu pesta dansa. Lebah hitam Amazon hinggap di benaknya setiap kali ia mendengarkan orasi pemimpin partai tersebut. “Bagaimana orang bisa merasa begitu yakin dengan masa depan, sementara banyak di sekitarnya orang yang disia-siakan oleh kehidupan.” Begitulah menurutnya hidup, ia memang tak pernah tanpa sedikitpun ironi. Sebagai penghargaan atas dedikasinya terhadap kesusastraan, tanggal kematiannya, 3 Juni 1948, yang sekaligus kelahirannya, kini diperingati sebagai hari perayaan Osamu Dazai. Sebuah museum khusus dibangun atas nama dirinya. Osamu Dazai Prize menjadi penghargaan bergengsi kedua setelah Akutagawa Award. Sayangnya, semasa Dazai hidup ia tak pernah mendapatkan penghargaan dalam bidang kepenulisan. Reputasinya justru barumencapai puncak seperempat abad setelah kematiannya. Setelah seperempatabad itu, ditemukanlah sepucuk surat yang ia tulis untuk salah satu juri sayembara Akutagawa Prize. Isinya, agar memasukannya (Dazai) sebagai nominator pemenang penghargaan tersebut.

Keberadaan Osamu Dazai di hati para pembaca, sungguh menjadikan dia penulis paling wahid yang dikagumi di Jepang. Sikapnya yang memandang ironi pada hidup dan merasa empati pada orang-orang yang tersingkir, dianggap sebagai bentuk solidaritas yang penuh perasaan. Maka tak salah jika seorang penulis dan dramawan, Hisashi Inoue, menyebut tulisan Dazaisebagai “malaikat penjaga bagi orang-orang mubazir yang hidupnya semrawut tak karuan, lemah, dan urakan, sebagaimana dirinya, yang gagal untuk hidup wajar di tengah masyarakat.”

 

Tags:
No Comments

Post A Comment