Metaruang | Parijs Van Java: Sepotong Paris di Tanah Priangan
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16975
post-template-default,single,single-post,postid-16975,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Parijs Van Java: Sepotong Paris di Tanah Priangan

Paris punya beragam makna, tergantung bagaimana kamu memandangnya. Bagi peminat ilmu politik, Paris adalah kota yang melahirkan Trias Politika dan semboyan “kebebasan, persaudaraan, kesetaraan”. Banyak orang ingin berkunjung ke Paris sebelum mati menjemput. Untuk duduk menikmati keindahan Sungai Seine dengan jalur-lebar pejalan kaki di tepiannya. Untuk menyusuri trotoarnya; menjumpai katedral dan bangunan-bangunan tua. Lalu deretan kafe pinggir jalan yang pernah diakrabi Hemingway, Gertrude Stein, dan Picasso. Untuk membayangkan mereka duduk dan membicarakan apa saja hingga larut malam. Paris adalah sastra dan filsafat, film dan seni visual, tari dan fashion.

Orang Bandung yang benaknya penuh nostalgia senang membanggakan kotanya sebagai Parijs van Java, Paris dari Jawa. Julukan itu tepatnya menunjuk pada bagian kota bertata-letak Eropa, dengan rumah-rumah besar yang juga bergaya Eropa. Termasuk kawasan dengan banyak pohon peneduh yang terentang dari Jalan Setiabudi sampai Dago-Riau. Maka, jika berbicara tentang Paris van Java, janganlah sekali-sekali menyinggung tentang pasar becek Cigondewah dan neraka kemacetan perapatan Kopo. Bandung seabad yang lalu adalah kota impian para pedagang, tuan-tuan dari perkebunan Preanger, dan pejabat kolonial Hindia Belanda. Dibangun saat uang bukan masalah besar, karena ada keuntungan yang melimpah dari perkebunan-perkebunan partikelir di pegunungan Priangan.

Tetapi, uang mungkin bukanlah satu-satunya faktor yang memungkinkan Parijs van Java terbangun. Jadi, bolehlah kita menduga-duga sebab lainnya. Barangkali, para pejabat kolonial di Batavia mungkin sudah jengkel karena sering digigit nyamuk dan semakin muak dengan udara panas negeri tropis.  Para tuan kebun di pucuk-pucuk pegunungan Garut dan Pangalengan barangkali sudah kenyang setiap hari memandangi ilalang dan hampir mati karena bosan. Mereka semua menginginkan imitasi sempurna dari kehidupan kota Eropa. Untuk memanggil ingatan akan negeri asal nun jauh di seberang lautan. Boleh jadi pula, di lubuk hati kaum kurang hiburan ini terpendam perasaan iri-hati bercampur kagum, akan Paris yang modern, anggun dan berbudaya. Saya kira, kurang-lebih itulah asal-mula dari Parijs van Java.

***

Jika belum pernah singgah di Paris, tidak apa, jangan kecil hati. Temukan saja gantinya. Di Bandung ada sepotong kecil Paris. Terletak  di Jalan Sukajadi, hampir setengah jam berkendara dari gerbang tol Pasteur. Namanya adalah Paris van Java Mall, atau biasa disingkat PvJ. Ini adalah sebuah mall belanja empat lantai. Seperti mall pada umumnya, PvJ adalah kumpulan toko yang terpusat di satu tempat. Artinya, tidak ada bedanya dengan Pasar Sederhana, pasar rakyat yang diurus pemerintah daerah, yang jaraknya hanya sekitar 15 menit berjalan-kaki dari mall tersebut. Bedanya adalah: mall berkonsep open-air ini menghadirkan suasana Paris.  Dipersembahkan untuk segmented-market yang ingin menikmati pengalaman berbelanja produk berkelas, fine dining, serta beragam entertainment. Kira-kira begitu. Temukan sendiri brosur lengkapnya kalau ingin informasi lebih banyak, dan kalau cukup tabah untuk membaca bualan pemasaran penuh istilah Inggris.

PvJ hanyalah salah satu mall di antara sekian mall baru sejenis di Bandung. Dan Pemilik PvJ Mall hanyalah salah satu di antara sekian pemain properti (dan pedagang-eceran) yang berbondong datang ke Bandung, sesudah tuntasnya pembangunan Jalan Tol Padalarang-Cileunyi (1991) dan kemudian Jalan Layang Pasupati (2005). Khusus dalam hal penuntasan pembangunan Jalan Layang Pasupati, selayaknyalah segenap komunitas bisnis dan warga Bandung pada umumnya mengucap syukur dan terimakasih atas kucuran dana dari Kuwait, dan kesediaan penduduk Gang Cimaung-Cihampelas untuk digusur. Pengorbanan dan kerja keras mereka semua tak sia-sia. Karena, habis pembangunan jalan toll dan layang, terbitlah bisnis properti. Semua yang dianggap lahan tidur (rebah-rebahan, tidur ayam, tertidur biasa, dan tidur lelap), segera dibangunkan. Selanjutnya, Terusan Pasteur yang semula sunyi gelap gulita kemudian bertabur cahaya terang, dari gedung-gedung bertingkat, hotel kecil-kecilan, dan hotel-hotel besar merek ternama. Salah satu yang terlihat menonjol adalah Gateway, apartemen tinggi menjulang yang dibangun oleh Istana Group.

Lomba borong lahan di Terusan Pasteur (dan cabang olahraga ikutannya: gusur-menggusur kampung kota), belakangan tampak mengendor. Lahan semakin habis. Satu-satunya bentang lahan luas yang belum berpindah ke tangan pengusaha properti adalah pekuburan umum Pandu. Belum ada pengusaha yang tertarik membangun hotel/apartemen di atas lahan bekas kuburan atau pinggir kuburan. Paling tidak sampai sekarang. Keadaan nanti mungkin berubah, bila kelak para pengembang berhasil meyakinkan orang bahwa bermukim atau bermalam apartemen/hotel bekas kuburan merupakan wisata spiritual yang cool, inspiring, daring and exciting (ingat, brosurnya harus pakai kata-kata Inggris).

Tapi di berbagai bagian lain kota, lomba terus berlangsung. Lahan dan rumah-rumah besar sepanjang Dago-Riau, kian berubah wajah menjadi factory outlet, pusat belanja, dan hotel. Dulu kawasan ini diisi deretan kantor berbagai urusan ketentaraan, dianggap tuna aktivitas ekonomi. Maka, daripada dipakai sekedarnya untuk klinik berobat prajurit rendahan, atau hanya digunakan satu-dua hari dalam sebulan untuk para jompo yang mengantri ambil uang pensiun, lebih baik dialihkan menjadi tempat usaha. Singkat kata, para prajurit rendahan dan para jompo diminta untuk memberi jalan, bagi berlangsungnya liga kecil dan liga besar lomba borong lahan. Semua pemain properti saling bersaing, sekaligus bergotong-royong untuk mewujudkan Bandung Juara sebagai kota kunjungan wisata (belanja, religi, kuliner, apapun) dan ekonomi kreatif.

***

Kembali ke Parijs van Java Mall. Mulai dibangun tahun 2000 dan resmi beroperasi pada 2006. Dibangun di atas lahan seluas hampir 5000 meter persegi bekas markas dan asrama polisi. Markas polisinya dipersilahkan menyingkir ke Cicalengka, kawasan indah-permai pinggir kota yang mengoleksi banyak cerobong asap pabrik. Mencomot nama Paris, mall ini berdiri di kampung Cipedes. Pada proses pembangunannya, tanah dikeruk untuk ruang parkir bawah tanah, menyebabkan debu beterbangan dan mematikan sumber-sumber air. Penggunaan alat-alat berat dan pemasangan tiang pancang menimbulkan bising. Sempat ada protes, karena pengembang mall memonopoli penggunaan jalan Karang Tingal, yang merupakan jalan umum. Protesnya sudah lama padam. Diperkirakan sesudah beberapa omong-omong musyawarah, jabat tangan, dan senyam-senyum. Tapi cerita ini belum seluruhnya selesai. Saat ini pun PvJ terus melakukan perluasan. Artinya, tak lain tak bukan, siap menyergap lahan-lahan di sekitarnya. Jangan remehkan PvJ. Kuasa mereka merembes sampai luar mall. Mereka berhak mengatur-atur siapa boleh berhenti berapa lama di sebuah sudut di Jalan Karang Tingal, yang bukan bagian dari PvJ. Larangangan ditulis dalam Ingris, agar mudah dipahami oleh para multi-lingual Cipedes.

Karena mall tersebut sudah terbangun dan beroperasi , maka sudah waktunya untuk bertanya, seberapa Pariskah mall itu? Sedikit nasehat untuk pelancong dari Jakarta, datanglah pada waktu yang tepat. Jika tidak, anda akan terhalang kemacetan khas akhir minggu Bandung di sekitar Pastur-Sukajadi. Jika anda sial terperangkap macet, maka tak perlulah mengharapkan romantisme Sungai Seine. Uniknya pula, salah satu sumber kemacetan adalah antrian keluar-masuk mobil pengantar barang dan kendaraan pengunjung dari mall itu sendiri. Sampai di sini, anggap saja anda sudah berada di Paris (yang kabarnya juga sudah didera macet dan polusi).

PvJ menyediakan lahan parkir luas di halaman depannya.  Apa boleh buat, yang terparkir kebanyakan mobil merek Jepang. Tapi sudahlah, yang penting tersedia lahan parkir. Lahan parkir itu penting.  Pengunjung mall adalah segmented-market, pemilik mobil dengan mobilitas tinggi. Mobilitas mereka harus dibekukan agar mereka berhenti bergerak, agar singgah dan berbelanja. Itu sebabnya PvJ harus membangun tempat parkir bertingkat-tingkat, berbentuk mirip rantang susun.

Berkunjung ke mall ini Maret 2018 lalu, saya mulai merasakan atmosfir Paris waktu menjejakkan kaki di sayap depan mall, yang dihuni beberapa restoran dan kedai-kedai kopi berdinding plaster.  Lorong-lorongnya yang beratap langit mengingatkan pada trotoar Paris. Dengan toko-toko yang menjual Aigner dan Lacoste, juga Nike, Converse, dan Auntie Anne’s. Menaiki tangga berjalan saya menjumpai Carefour. Luar biasa. Selain menyediakan restoran  fine-dining,  PvJ tak melupakan para ibu rumah tangga yang perlu mengisi lemari-es dan lemari dapurnya dengan bahan pangan dan susu bayi, selain mungkin sabun cuci dan saklar lampu.

Di lantai yang lain saya menjumpai counter Sogo (merek Jepang), dengan banyak kotak etalase kaca yang memajang beragam produk kecantikan. Jangan khawatir, Lancome dan L’Oreal tersedia di sini. Kalau tak malas, bisa menjelajahi lantai atas. Di sana ada sinema dan taman burung.  Untuk tidak merusak suasana Perancis, saya menghindar mampir di restoran kecil yang menghidangkan ayam penyet super pedas. Malangnya, mata saya akhirnya tertumbuk juga pada seorang ibu berkebaya, menempati satu sudut yang benar-benar kurang strategis, yang menjual tahu gejrot asam pedas Cirebonan. Menerbitkan air liur, tapi sama sekali tidak Perancis. Tapi sudahlah. Bukankah gairah Perancis juga dinyalakan oleh eksotisme perempuan Vietnam, aroma bumbu masak negeri-negeri Magribi, dan gemuruh genderang Afrika?  Meninggalkan PvJ, saya kembali menjumpai udara panas Bandung bulan Maret. Kembalilah saya ke pemandangan harian, kemelut biasa di tempat parkir, dan kesulitan menemukan uang recehan dari kantong untuk bayar parkir. Di kepala saya terngiang “I love Paris in the springtime….

***

Di abad lalu entah berapa banyak lahan rakyat yang diambil untuk perkebunan, Jalan Raya Pos (1820an); jalur kereta, dan stasiun kereta Bandung (1870). Cerita berikutnya adalah Jalan Tol Padalarang-Cileunyi; jalan toll yang dibangun demi konektivitas, sekaligus tanggul yang bikin susah karena menciptakan genangan banjir Bandung Timur. Sementara pembicaraan tentang kereta cepat dan mewah Bandung-Jakarta belum usai, Summarecon sudah membangun kerajaan di Gedebage. Di tempat lain, para perencana wilayah dengan optimis mengedarkan Peta Jaringan Kereta Ringan Bandung Raya 2020. Seperti biasa, optimisme ugal-ugalan ini akan dilanjutkan dengan kerja mengasongkan proposal pencarian dana investasi, rapat koordinasi lintas sektor, disusul gemuruh mesin alat-alat berat. Tidak sulit membayangkan bahwa semuanya akan berakhir dengan penggusuran dan bencana ekologis, yang nanti dipulihkan dengan sulap-sulap keuangan.

Paris punya beragam makna, tergantung bagaimana kamu memandangnya. Bagi sebagian orang, ini adalah kota abad kuna yang lapuk dan basi. Sehingga, sebagaimana David Harvey mencatatnya, perlu terlebih dahulu digerinda dan diamplas secara kreatif, untuk memberi ruang bagi boulevard raksasa berhias lampu terang, sebuah menara besi dan kereta bawah-tanah metro. Adalah kota tempat seorang perempuan separuh baya yang saya kenal tertegun mendapati bibit rasisme berkecambah awal 1980an, saat dia ditolak masuk di ambang pintu taksi karena wajahnya yang Asia. Serupa yang terjadi di sini sekarang, Paris semakin dibakar kebencian, dan orang menaruh bom di teater Bataclan (2015). Sama saja dengan di sini, hidup di Paris semakin sulit bagi kaum pekerjanya. Jangan heran bila dalam dua tahun terakhir terjadi dua kali mogok kerja buruh-buruh (transportasi) yang melumpuhkan seisi kota. Tentu saja mereka marah,  karena hak-haknya digergaji perdana menteri yang lalu, dan dilanjutkan oleh pejabat yang sekarang. Sementara bagi sosialita kampungan dari negeri terbelakang, Paris ibukota fashion adalah surga belanja untuk memborong Dior dan Yves St. Laurent terbaru. Dengan uang dari penambangan batubara dan spekulasi lahan.

Jika bertandang ke Bandung, temukanlah sepotong Paris di Kampung Cipedes, dan khayalan lainnya di sudut-sudut Parijs van Java. Tempat arsitek Kamil sibuk menghias-hias kota. Dulu dengan menara bambu bercita-cita estetika etnik di perempatan jalan menuju stasiun kereta. Berikutnya, boneka raksasa dinosaurus metalik yang mengangakan moncong di tengah bising kolong jembatan layang (sudah dibongkar). Dan yang lebih baru adalah imitasi ganjil Arc de Triomphe di dekat Simpang Dago. Entah apa lagi sesudahnya.

 

___

Dokumentasi: Rinaldi Fitra Riandi

 

Sesekali menulis tapi mencari uang dengan menjadi penerjemah dan penyunting buku. Sejak remaja tinggal di Bandung dan tetap cinta Bandung.

2 Comments
  • Fajar Martha
    Posted at 12:20h, 25 April Reply

    Esai yang sangat bagus! Semangat samg penulis mengingatkan saya pada Walter Benjamin yg peduli pada hal-hal kecil dan remeh (yg sejatinya tidak kecil dan remeh) dalam tulisan-tulisannya.

  • Jamin Subarkah
    Posted at 16:40h, 25 April Reply

    Esai ini menyiratkan sedekat apa sang penulis memahami kotanya. Cara berkisahnya lamat-lamat mengingatkan saya pada Tristes Tropiques-nya Levi Strauss.

Post A Comment