Metaruang | Politik Alternatif (?)*
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17164
post-template-default,single,single-post,postid-17164,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Politik Alternatif (?)*

*Catatan redaksi: Di bawah ini merupakan kiriman naskah berupa tanggapan atas tulisan tim Militansi Metaruang bertajuk Golput dan Politik Alternatif. Muatan dalam esai ini sepenuhnya tanggung jawab penulis.

 

Dalam tulisan bertajuk Golput dan Politik Alternatif, tim Militansi memberikan sebuah langkah konkrit, ketika kita tak bisa lagi berharap pada elit politik dan partai politik borjuis: golput hanyalah omong kosong tanpa membangun kekuatan rakyat; melakukan pengorganisasian massa, membangun partai politik Rakyat miskin untuk mengintervensi parlemen. Tentu, saya mengamini dengan langkah yang ditawarkan. Karena pemilihan elektoral layaknya pilkada ataupun pemilu yang dikumandangkan sebagai pesta demokrasi rakyat, sepenuhnya adalah ilusi. Pemilihan itu tak lebih dari sekedar ajang konsestasi para elit oligarki untuk kepentingannya.

Kendati rakyat miskin mendapatkan keadilan politik dalam pemilihan—semua orang memiliki suara yang sama—namun hanya segelintir orang yang memiliki kekuasaan untuk menjalankan negara. Kekuasaan rakyat miskin sebatas memasukkan surat suara ke dalam kotak suara lima tahun sekali.

Dan sepanjang sejarah pasca 1965 hingga saat ini, kita dapat melihat, tak ada satupun kebijakan politik yang berpihak kepada rakyat miskin, tak ada satupun partai politik borjuis yang mewakili kepentingan rakyat miskin. Perampasan lahan terjadi di mana-mana, pembangungan infrastruktur demi kepentingan akumulasi kapital semakin massif, kebijakan politik upah murah yang menyengsarakan kelas pekerja terus direproduksi. Melihat hal tersebut, membangun partai alternatif yang berasal dari persatuan Rakyat miskin akan menjadi langkah konkrit untuk menandingi kekuatan politik borjuasi.

Namun sayang, wacana yang ditulis oleh tim Militansi memiliki kegamangan. Ada pertanyaan besar atas gagasan yang hendak ditawarkan. Partai politik alternatif seperti apakah yang dimaksud? Hal ini berangkat dari pernyataan salah satu narasumber, Herry Sutresna dalam tulisan tersebut, “Golput sama sekali tak berguna bila tidak dibarengi dengan seruan mengorganisir kekuatan rakyat secara otonom dalam skala besar,” yang kemudian dihubungkan dengan pernyataan dari Roy Murtadho dan Sarinah, pada intinya adalah membangun partai politik yang berasal dari persatuan rakyat miskin untuk kemudian mengintervensi parlemen yang ada.

Diksi “Otonom” di sini masih sangat ambigu. Apakah pengorganisasian kekuatan Rakyat secara otonom masih terjalin dengan partai alternatif? Atau ia tidak terjalin langsung dengan partai alternatif seperti yang diwacanakan penulis.

Pengorganisasian kekuatan rakyat secara “otonom” bisa diartikan hanya sekedar membangun aliansi rakyat atau sekedar membuat album kompilasi lagu progresif. Jika yang dimaksud demikian, maka akan kontradiktif jika para penulis mencoba menghubungkan hal itu dengan membangun partai politik yang berasal dari kekuatan rakyat.

Membangun partai politik alternatif yang berasal dari persatuan Rakyat bermakna ia tidak terlepas dari pengorganisasian massa yang terjalin kelindan dengan partai. Dengan demikian, partai politik alternatif yang diusung tidak hanya sekedar mewakili kepentingan rakyat miskin pada pemilu dalam kancah politik parlementer. Lebih dari itu, partai politik alternatif ini akan menjadi garda terdepan membangun gerakan sosialis yang mengakomodir partisipasi rakyat dari bawah.

Pengalaman gerakan kiri di Venezuela

Di awal tahun 1900an, Kegagalan pemberontakan bersenjata Hugo Chavez bersama kelompok Pergerakan Revolusioner 200 (MBR-200), telah menginsyafi satu hal; revolusi tak akan bisa diperoleh tanpa gerakan massa Rakyat. Menyadari kegagalan itu, di tahun 1994, setelah kelompok MBR-200 dibebaskan, Chavez bersama kelompok MBR-200 melakukan pengorganisasian di pelosok-pelosok Venezuela menghimpun kekuatan Rakyat dengan membentuk komite-komite Bolivarian dan menyerukan pembentukan majelis konstituante. Bersama gerakannya, Chavez menjalankan program-program yang tersusun secara sistematis untuk mengetahui harapan dan keinginan massa Rakyat, melakukan kerja-kerja nyata untuk mengubah kondisi Rakyat.

Hingga di tahun 1997, Chavez bersama MBR-200 memutuskan untuk maju ke dalam pemilu. Sebagai kendaraan politiknya, mereka membangun sebuah partai alternatif yang dinamakan Movimiento V [Quinta] República (MVR). Partai alternatif yang menawarkan ide populisme pro-Rakyat miskin dengan figur Simon Bolivar, tokoh pembebas dari Amerika Latin. Chavez bersama gerakannya sadar di bawah cengkraman Neo-liberalisme: Rakyat harus berdaulat dan berkuasa di tanahnya sendiri, Rakyat harus terbebas dari kemiskinan, rakyat harus terbebas dari korupsi para Kabir (Kapitalis Birokrat) yang telah lama menjadi penyakit di Venezuela.

Di pemilu tahun 1998, Chavez maju dengan mengusung ide anti kemiskinan dan anti korupsi, Chavez berhasil memenangkan pemilu dengan perolehan suara 58%. Kemenangan Hugo Chavez disambut dengan suka cita oleh Rakyat Miskin.

Dan selama pemerintahan Hugo Chavez, Massa Rakyatlah berperan penting untuk menentukan ke arah mana pemerintahan ini akan berjalan. Hal itu terbukti dengan adanya referendum yang diadakan Chavez untuk menggugurkan konstitusi yang hanya menguntungkan kaum kapitalis dan tuan tanah di Venezuela.

Kemenangan Chavez dalam pemilu telah membuktikan; tanpa pengorganisasian massa yang terjalin langsung dengan partai alternatif maka omong-kosong kita akan mampu menandingi kekuatan politik borjuasi.

Sampai di sini, saya melihat tim Militansi terombang-ambing dengan wacana yang ditulisnya sendiri. Untuk bertarung menandingi kekuatan politik oligarki, partai politik alternatif seperti apa yang dimaksud?

Saya mengamini dengan langah konkrit yang telah ditawarkan oleh tim Militansi, di bawah tatanan ekonomi-politik kapitalisme, pesta demokrasi hanya sebuah ilusi untuk mengelabui Rakyat miskin, di bawah cengkraman kapitalisme maka langkah yang harus dikerjakan ialah membangun politik alternatif dengan pengorganisasian massa, dan persatuan Rakyat untuk menandingi kekuatan politik oligarkis. Tapi sekali lagi, politik alternatif seperti apakah yang dimaksud?

Jika partai alternatif yang ditawarkan terlepas dari basis pengorganisasian massa, maka ia tak akan lebih mirip dengan dengan partai-partai borjuis penjual obat palsu untuk menyembuhkan kemiskinan. Tak lebih dari kendaraan politik para borjuasi yang telah menjadi penabur garam di atas luka orang-orang miskin.

 

 

Artikel terkait:

Pilkada, Janji Manis Oligarkis

Golput dan Politik Alternatif

___

Ilustrasi: F. Ilham Satrio

 

Wisnu Tri

Penikmat Sheila on 7 & Chrisye yang hobi makan bakso

No Comments

Post A Comment