Loader

Puisi: Di Klub Malam – Hadiah – Berjalan di Kepala Penyair

 

Di Klub Malam

*
Seperti botol pada lengkung jemarimu
Malam itu
udara mengikat tali di leherku
Dan kau tak tahu, tak akan tahu

“Masih ada embun,” katamu,
“mengalir dari bibir botol bir”

Tapi adakah, adakah sunyi
menari di sudut
lantai dansa itu?

**

Di sini pikiranku berputar seperti bulan
perak yang menebar kuning
kunang-kunang mengitari langkah kaki

Lalu aku bayangkan musik
bersijingkat di lantai
dansa itu dan mengajakku menari

***

Setelah sloki ketiga
sebenarnya  aku ingin berbisik:
“Kita hanya orang asing”
Tapi panas wiski juga bibirmu
menghanguskan suaraku

“Dan kita bahagia, bukan?”

2016

 

Hadiah

Kupotong kedua tanganku
sebagai hadiah untukmu
Sebab air mata tak mampu
menghapus dosa penipu

2015

 

Berjalan di Kepala Penyair

Berjalan di kepala penyair.
Aku melihat lahar gunung
api menjalar

di sebuah kota.
Manusia tak saling peduli,
memeluk dirinya sendiri.

Di matanya, dunia begitu berbeda.
Kadang hitam-putih,
kadang warna-warni.

Aku seperti
berada
di dunia fantasi.

Mulutnya melahirkan kata-kata
yang mengajakku menari
seperti Rumi.

Kepala penyair
adalah
surga dan neraka.

2015

 

Ilustrasi: Vina Nurviani

 

No Comments

Post A Comment