Loader

Puisi: Dream State – Perempuan dalam Puisiku – Stasiun Penghabisan – Di Zihuatenejo

 

Dream State
–Breton—

Pada dinding kamar
ada yang terasa menggetar
mungkin bayangan atau sebuah gempa
dari tempat yang jauh tak kukenali.
radio memberi jeda, gema juga rima
dari sebuah alarm tua.
bertikai, memantul dalam tungkai mimpi
menjelma buntaran keringat di jidat
dan sisa kilat di gordin.

entah siapa telah memutarkan
siaran yang membeku di televisi.
pukul 02.55 suara pun berhenti
memainkan jarum jam yang telah mati
di dalam selimut dan bantal berduri
aku melihat dirimu mengigil keras sekali.

 

Perempuan dalam Puisiku

Kamu pernah jadi perempuan pertama
yang menancapkan bisa kata dalam puisiku

seperti seekor ular yang merayap dalam hening
di setiap sisik yang memantulkan cahaya bulan
kau simpan seluruh hasrat para pemburu

kamu pernah jadi patung paling lempung dalam puisiku
yang ingkar menyebut sebuah nama
bayi yang dilahirkan gerhana
di dadamu bulan tertidur
seperti adam yang sedang menyusu batu
di setiap sesapnya kau mengaduh
mengeluhkan malam yang selalu menawarkan luka
para biksu

kamu pernah jadi batu, mirip ibuku

 

Stasiun Penghabisan
Nenden Lilis A

i
Di stasiun penghabisan
orang-orang menunggu januari
dengan mantel dan kaki yang gemetar

bulan pun tebal dalam natal
seolah dingin tak berkesudahan
yang mewarnai punggungmu
dengan kembang api juga bekas keringat
yang menyerupai jejak seorang penyair
di stasiun penghabisan
tak ada alasan untuk membuka peta
apa lagi untuk mengungkapkan cinta
atau merayakan perpisahan
dengan kata-kata using
yang berjatuhan dari satelit mati

sebab malam ini tercipta
dari langkah gerimis yang tertahan
dan suara besi yang bertabrakan

ii
di stasiun penghabisan
rel berhenti memanjang
dan kereta membeku di kejauhan

tapi terus saja ada yang berguguran
dari jemarimu yang menunduk ke tanah
yang setiap tahun berganti wajah

iii
setelah kereta tak lagi bernama
entah siapa lagi akan mengerti
arti kerinduan selain engkau
selain jam yang tercekik
di stasiun penghabisan

 

Di Zihuatenejo
…kepada siapa cinta ini
harus kutembakkan

i
Setelah malam-malam menggila
tak bisa lagi kubedakan
mana kantung darahku
dan mana hitam
yang benar-benar nisan

segalanya mudah sekali berlubang
dan tak mungkin disentuh

mengapa baru saat ini kuketahui
apa yang dibenci oleh cinta

apa yang berpintu
saat langkah-langkah gemetar
membiru

ii
setelah burung-burung berkabung
menuju pulau yang disisakan ombak
dan mata meringkus kantuk
yang direbahkan seseorang
di tangan waktu

saat kedua telapak
tanganku terbakar
dan cinta benar-benar
menembusmu
di atas sini
siapa lagi siap menunggu

 

Ilustrasi: Azhar Natsir Ahdiyat

 

No Comments

Post A Comment