Metaruang | Puisi: Kenangan – Sujud Batu
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
147
post-template-default,single,single-post,postid-147,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Puisi: Kenangan – Sujud Batu

 

Kenangan

Ia bisa datang kapanpun
meski lebih sering pada malam hari
saat aku memandangi wajah sepi
dan memancar senyum Ibu
di langit pikiranku.

Ia pun datang saat aku menyusuri
jalan Setiabudi, mengajakku bercakap-cakap;
jika aku tak mau mendengar ceritanya
dan memalingkan wajah darinya
ia akan merengek dan meremas
paru-paruku hingga lepas.

Dan pada tanggal duapuluh tiga
ia pasti datang memakai mantel hitam
memberiku bunga mawar yang durinya
melukai sudut mataku.

2015

 

Sujud Batu

Sujudku basah
menetes bulir-bulir rindu
dari sepasang mataku
di atas sajadah waktu.

Sujudku basah
melantunkan mutiara
ayat-ayatMu
yang tak pernah fasih
kubaca.

Sujudku basah,
meski tak sempurna
sujud batu.

2015

 

Ilustrasi: Lana Syahbani

Hilda Fauziah

Hilda Fauziah, bergiat di ASAS UPI. Beberapa karyanya pernah dipublikasikan di Majalah Deras dan Majalah Literat.

No Comments

Post A Comment