Loader

Puisi: Langit Iris – M’ Isolo E Vivo – Dago Pakar, Suatu Ketika

 

Langit Iris

Langit menyerupai kelopak iris
merekah di bubungan rumah
hari masih pagi ketika halaman
penuh buket bunga dan pigura airmata

lembar kesekian lektur lara
terbuka embus angin daratan biru
dingin bagai napas biduan sendu

semalam purnama tertutup mega zirah

hidung bangir dan buai senyum
bibir berembun membangunkan tidurku
dengan kecupan-kecupan ranum
berubah mimpi kegelapan tiang pancang

malam itu, kau mengaku bernama Saint Joan
kuda kekar menhir bangkit dari gulita kastil
segenggam firman, sebilah pedang St. Catherine
seruncing mata janji mengarah jantung Burgundi

dengan gemuruh artileri dan pataka berkobar
kau bakar harapan sepanjang bulevar
hingga pucuk poplar

setiap teriakan menumpahkan anggur darah
setiap ledakan menghamburkan akar kehidupan

Jeanne, Jeanne, mengapa kau begitu rusuh
di restoran dan bar tak ada Charles ketujuh
tak ada yang menyembunyikan busur panah
tak semua perjamuan bernampan bidah

ini kotaku, bukan negeri di atas jubah saudara

sehampar tanah dengan pilar pusaka, dermaga
musim kupu-kupu, bangunan-bangunan neoklasik
sungai yang menghubungkan setiap rumah ibadah

malam itu, kau adalah seorang gadis Barrois Mouvant

sembilan belas tahunmu tumbuh di ladang dendam
sembilan belas tahunmu tumbang di ladang dendam

dengan hoskut kelabu dan membara lili perisai
memasuki aula seolah Reims di balik tirai
La Vie En Rose bagai instrumen Karl Mayer

Jeanne, Jeanne, sekam apa merungkupi matamu
lantai pertunjukan bukan marmar Rouen
para mustamik tak mengenal Pierre Cauchon
mereka cemas mencari cawan suci dan pintu azali

bukankah kita sama-sama menyalakan lilin
di bawah bintang dan bulan yang satu
tapi mengapa kau padamkan cinta di kotaku
yang kini tinggal sepenggal luka

aku pun terbangun tanpa senandung burung gereja

langit menyerupai kelopak iris
merunduk ke barat laut
hari masih pagi ketika lembar kesekian lektur lara
penuh pecahan purnama, beranda membeku

dan isak tangis Edith dalam batinku.

2015 

 

M’ Isolo E Vivo

Parterre selepas hujan
di depan patung perawan
jantungku bagai prasasti kelabu

patahan ranting dan tubuh kupu-kupu
gemericik air dan marmar bangku
sedingin terali besi waktu

sebeku lembar sunyi kabarmu

di permukaan kolam
tak ada alis berkilauan
di lengang tangga Isola
tak ada teduh pergola
di dinding vila Baretty
tak ada pahatan janji

di taman tua utara kota
seribu senja berhamburan di atas sepatuku
yang kini menjadi debu

bagaimana aku bercerita
jika kau tak mendengarnya
ke mana muara airmata
jika tiada kutatap cahaya

di antara lebat lampu
hanya warna saputanganku
di bawah pohon natal
hanya doa-doa yang kekal
di dalam batang usia
hanya segumpal getah sepia

di taman tua utara kota
langit berkeping-keping di undakan batu
yang kini menjadi kakiku

Putri Dominique, Putri Dominique
aku kini sendiri dan bertahan
dan berserpihan!

2015 

 

Dago Pakar, Suatu Ketika

Armor, begitu unik nama kafe ini
mengingatkan pada masa remaja kakek kita
bermain bandering di belakang meriam

bukankah menggelikan dan mengerikan

goa itu terhalang rimbunan kaliandra
dan lebih tiga puluh anak tangga, tak usah
sungkan melepas tawa lantas berkata “lada”

apakah kita perlu tamasya
atau menjadi pecinta alam sebagaimana
pasangan remaja umumnya

menyaksikan drama dan komedi
berkunjung ke museum dan berselfie
tak cukup membuat malam seperti purnama
pertama kita, tegang dan kasmaran

lihatlah, aku tak setangguh dulu, butuh lebih
seminggu menciptakan senyumanmu

seperti kuduga, kau hanya menghirup
angin Tahura berhembus dari rindang pinus
dengan lengan menindih daftar menu di tepi meja kayu

jika aku tak salah dan kau tak ragu
beberapa menit kemudian mulai mengeluhkan
pesanan yang lambat dan draf yang padat

mungkin kita perlu mencari
cara merayakan akhir pekan yang rutin ini

barangkali di atas sungai Seine
cinta menemukan muara
seperti dalam sajak Nenden
camar lari dari lautnya

atau meminum air keran emas
di Catalan, di tepi Las Ramblas

meski terdengar sentimentil, meski agak muskil

negeri ini bukan surga, bukan milik pecinta
Koes Plus terlanjur berdusta, tak ada kolam susu
kecuali tongkat kayu dan lontaran batu

setiap saat kita dipaksa keras kepala
belajar menyangkal rambu demi rambu
seperti seorang gadis membenci kenanga
bagai jarak mengingkari rindu

goa itu cukup jauh dari kafe separuh kesunyian ini
namun begitu dingin dan gelap tatapanmu

apakah waktu memudarkan wajahku?

2015

 

 

Ilustrasi: Yogi Rachmat Arighi

 

No Comments

Post A Comment