Metaruang | Puisi-Puisi Adrienne Rich
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17088
post-template-default,single,single-post,postid-17088,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Puisi-Puisi Adrienne Rich

 

HIDUP DALAM GUA

Membaca Alegori Gua

ketika hidup dalam gua,

lumut hitam

mematikan langkah kakiku

lilin menusuk-nusuk tebing batu

mengaburkan mataku

Inilah yang mengelilingiku, dengan

persyaratan harian:

isi aku, kosongkan aku

bicara padaku, hangatkan aku, biarkan aku

menghisapmu

Setiap dari mereka punya sebuah rencana yang bergantung padaku

stalaktit ingin menjadi

stalagmit

urat-urat bijih

membayangkan betapa berharganya mereka

lilin melihat dirinya terlepas dari tubuh

menjadi gas

dan terbang

kelelawar menggelayut bermimpi

dari dunia yang lapang

Tak ada dari mereka, tak satupun

melihatku

seperti aku melihat mereka

 

1972

 

 

PERKOSA

Ada seorang polisi yang perampas sekaligus pembela:

dia berasal dari blokmu, tumbuh bersama abang-abangmu,

punya ideal tertentu.

Kau hampir tak mengenali dia dalam sepatu bot dan lencana peraknya,

di atas kuda, satu tangan mengokang pistolnya.

 

Kau hampir tak mengenalnya tetapi kau harus mengenalnya:

dia punya akses ke mesin yang bisa membunuhmu.

Dia dan kuda jantannya seperti panglima perang di antara sampah,

cita-citanya menjulang di udara, suatu awan beku

dari antara bibirnya yang tanpa senyum.

 

Maka, ketika saatnya tiba, kau harus berpaling kepadanya,

sperma si maniak masih mengolesi pahamu,

pikiranmu berputar seperti orang gila. Kau harus mengaku

Baginya, kau bersalah atas kejahatan itu

karena telah dipaksa.

 

Dan kau melihat mata birunya, mata biru dari semua keluarga

yang kau kenal, menyempit dan berkilau,

tangannya mengetik rincian-rinciannya

dan dia menginginkan semua

tetapi histeria dalam suaramu amat menyenangkan dia.

 

Kau hampir tak mengenalnya tetapi sekarang dia pikir dia mengenalmu:

dia telah mengambil momen terburukmu

pada mesin dan memasukkannya ke dalam berkas.

Dia tahu, atau mengira dia tahu, seberapa banyak yang kau bayangkan;

dia tahu, atau mengira dia tahu, apa yang kau diam-diam inginkan.

 

Dia memiliki akses ke mesin yang bisa membuat kau tersingkir;

dan jika, dalam cahaya yang memuakkan dari kantor polisi,

dan jika, dalam cahaya yang memuakkan dari kantor polisi,

rincianmu terdengar bak sebuah potret pelapormu,

apakah kau akan menelan, apakah kau akan menyangkalnya, apakah kau akan berbohong sekembalimu ke rumah?

 

1972

 

MENYELAM KE DALAM KARAM

Mula-mula melahap buku mitos,

dan mengemas kamera,

dan memeriksa ujung mata pisau,

Aku memakai

pelindung tubuh dari karet hitam

alas renang konyol

topeng aneh dan berat.

Aku harus melakukan ini

tidak seperti Cousteau dengan

tim telatennya

naik ke kapal yang bermandikan matahari

tapi di sini sendiri.

 

Ada tangga.

Tangganya selalu ada di sana

menggantung dengan tanpa dosa

dekat dengan sisi sekunar.

Kami tahu untuk apa,

kami yang pernah menggunakannya.

Jika tidak

itu adalah bagian dari benang maritim

semacam peralatan gala.

 

Aku turun.

Janjang demi janjang dan diam

oksigen membenamkanku

cahaya biru

atom-atom yang jelas

dalam udara manusia kita.

Aku turun.

Alas renangku melumpuhkanku,

Aku merangkak seperti serangga menuruni tangga

dan tidak ada seorang pun

untuk memberitahuku kapan lautan

akan bermula.

 

Pertama udaranya biru dan kemudian

membiru dan kemudian hijau dan kemudian

hitam dan aku pingsan dan meski

topengku sangat kuat

itu memompa darahku dengan kuatnya

laut adalah cerita lain

laut bukanlah masalah kekuasaan

Aku harus belajar sendirian

untuk mengubah tubuhku tanpa paksaan

dalam elemen yang dalam.

 

Dan sekarang: mudah untuk lupa

untuk apa aku datang

di antara begitu banyak yang selalu

tinggal di sini

mengayunkan kipasan kakunya

di antara terumbu karang

dan selain itu

Kau bernafas berbeda di sini.

 

Aku datang untuk menjelajahi karam.

Kata-kata adalah tujuan.

Kata-kata adalah peta.

Aku datang untuk melihat kerusakan yang telah terjadi

dan harta yang tersimpan.

Aku mengayunkan sorot lampuku

perlahan di sepanjang sisi

sesuatu yang lebih permanen

dari ikan atau rumput liar

 

suatu sebab kenapa kudatangi:

karam dan bukan kisah kecelakaan karamnya

hal itu sendiri dan bukan mitos

wajah tenggelam yang selalu menatap

menuju matahari

bukti kerusakan

usang oleh garam dan goyah ke dalam keindahan tambal sulam ini

rusuk-rusuk bencana

melengkungkan pernyataan mereka

di antara penghuni sementara.

 

Ini tempatnya.

Dan aku di sini, putri duyung yang rambutnya gelap

bergelombang hitam, duyung dalam tubuh zirahnya

Kami berputar pelan-pelan

di sekitar karam

kami menyelam ke dalam palka.

Akulah dia: akulah ia

 

yang wajahnya tenggelam tidur dengan mata terbuka

yang payudaranya masih menanggung tekanan

yang muatan perak, tembaga, perunggunya terletak

secara tak kasat dalam tong

setengah terjepit dan dibiarkan membusuk

kami adalah instrumen setengah hancur

yang pernah sekali dalam sebuah gelanggang

kayu gelondongan yang dimakan air

kompas kotor

 

kami, aku, kau

dengan kepengecutan atau keberanian

orang yang menemukan jalan kita

kembali ke adegan ini

membawa sebuah pisau, sebuah kamera

sebuah buku mitos

yang dengannya

nama-nama kami tak muncul.

 

1972

 

 

Catatan:

  • Diterjemahkan oleh Arif Abdurrahman dari Living in the Cave, Rape, dan Diving Into the Wreck dalam kumpulan puisi Adrienne Rich.
  • Adrienne Rich adalah suara tunggal dari generasinya dan salah satu penyair Amerika paling penting. Ia membawa diskusi tentang gender, seksualitas, ras, dan kelas ke garis depan wacana puitis. Misi Panjang dan mendesaknya adalah untuk mengartikulasikan dan mengukuhkan sebuah visi progresif untuk bahasa dan untuk hidup. Visi utamanya, dalam redaksi kata-katanya sendiri: “Penciptaan masyarakat tanpa dominasi.” Pada tahun 1974, Diving Into the Wreck memenangkan National Book Award, penghargaan besar bagi seorang penyair. Tetapi Rich menolak penghargaan itu, sebagai individu. Sebaliknya, ia menerimanya atas nama semua penulis wanita yang tak dikenal. Itu adalah sikap publik yang berani pada waktu yang bergejolak itu. Ada banyak hal yang terjadi di Amerika Serikat ketika puisi ini ditulis. Ada Perang Vietnam, perjuangan untuk hak-hak perempuan, dan gema Gerakan Hak Sipil tahun 60-an. Dalam banyak hal, Rich adalah bagian utama dari dunia itu. Dia adalah seorang penyair yang sangat politis. Dia geram akan perang, dan dia juga seorang feminis bandel. Rich tak sungkan menghubungkan pekerjaannya sebagai seorang penyair dengan perasaannya tentang keadilan sosial. Jilid puisi lainnya termasuk A Wild Patience Has Taken Me This Far (1981), The Fact of a Doorframe (1984), Atlas of the Difficult World (1991), Tonight No Poetry Will Serve (2011), dan koleksi anumerta Later Poems: Selected and New (2012). Adrienne Rich meninggal pada 27 Maret 2012, di usia 82 tahun di rumahnya di Santa Cruz, California. Putranya, Pablo Conrad, melaporkan bahwa kematiannya disebabkan oleh rheumatoid arthritis menahun. Melalui esai, artikel, dan ceramahnya, Rich berkontribusi pada perdebatan feminis. Of Woman Born (1976), masih menjadi salah satu penaksiran feminisme yang paling sensitif tentang keibuan: “Semua kehidupan manusia di planet ini lahir dari wanita,” tulisnya. “Satu-satunya pengalaman yang menyatu dan tak terbantahkan yang dimiliki oleh semua wanita dan pria adalah bahwa selama berbulan-bulan yang kita habiskan berlangsung di dalam tubuh wanita. Namun ada kekurangan penjelasan yang aneh untuk membantu kita memahami dan mempergunakannya.”

___

Ilustrasi: Lana Syahbani

Arif Abdurahman

Arif Abdurahman. Lahir 10 Jumaddil Awal 1414 H. Bergiat di Komunitas Aleut! dan bergerilya di Visceral Realist cabang Bandung.

No Comments

Post A Comment