Metaruang | Puisi-Puisi Harold Pinter
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16839
post-template-default,single,single-post,postid-16839,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Puisi-Puisi Harold Pinter

 

Ventriloquists

 

Aku embusan sendawa di mulutmu

Kau ucapan syukurnya

 

Aku Pangeran Cannizzaro

Kau Takhta Agung Tuan Putri Augusta

 

Aku rentetan selebrasi spektral

Kau pemilik opera kaca dan kartu-kartunya

 

Kau wujud nyanyian tak terduga
Aku dirigennya

 

Kau benih tak kasat mata
Aku pohon Timour dari Tartarnya

 

Kau pemain golf paling ulung
Aku caddy tak kenal lelah

 

Aku boneka terkutuk
Kau manekin jahanamnya

 

 

Bom

 

Tak lagi ada kata yang memuat makna

Yang tersisa bagi kita hanyalah bom

Meletuskan kepala kita berhamburan

Yang tersisa hanyalah bom

Melumat habis tetes-tetes darah

Memulas kilap tulang-belulang

 

 

Pemerintah

 

Apa kau sanggup memerintah?

Tak ada yang peduli pada perintah

Tidak aku tak mampu memerintah

Tidak aku tak ada urusan dengan pemerintah

Dan ketika segalanya tampak,

Dan tidak tampak, untuk diperintah,

Pemerintah mengukuhkan pemerintah lain
Yang lebih pemerintah
Dan pemberontak bikin gemuk perut pemerintah

Dan pemerintah menumbalkan darah pemberontak

Dan ‘kemerdekaan’ dan tai dan orang-orang suci

Pemberontak adalah peminta-minta
Di pojokan ruang gelap gulita

Sementara pemerintah adalah bangkir
Dalam brangkas bunting

Pembangkang adalah janin dalam rahim dingin beku

Pemerintah adalah serdadu dalam kuburan beracun

 

 

Sajak

 

Pejamkan matamu.

Dunia tengah berangsur meletus berserakan.

Pejamkan matamu.

Dunia tengah berangsur menghempas semua
Cahayanya kemudian menjejalkan kita
Ke lubang sempit paling gelap,

Yang suram, pekak dan menyesakkan
Dan kita akan saling membunuh, mati
Begitu saja, menari atau lenyap
Atau menjerit, merengek, memekik
Seperti segerombolan tikus
Untuk kembali bertanya tentang harga

kelahiran kita.

 

 

Kematian Bisa Saja Bertambah Tua

 

Kematian bisa saja bertambah tua
Namun dia masih kuasa

 

Dan kematian melucutimu

Dengan cahaya jernihnya

 

Dia pandai muslihat
Dan kau telak dibuat dungu

 

Dia setia mengitarimu

Membujuk kehendakmu

Dan berangsur menelanjangimu
Menyibak ranum tubuhmu

 

Tapi dia berbaik hati

Mengijinkanmu bersiap diri

 

Sementara dia menyesap madu

Dari putik sari bunga-bunga milkmu

 

 

Pengintai

 

Jendela tertutup dan ia yang tak melihat

datang dari langit

Malam tiba pekat namun dia tetap saja

mematikan

Cahaya bulan tanpa terduga menyeruak

seisi kamar

Menerpa wajahnya—wajah yang tak

kasat mata

Aku tahu betul dia tak melihat

Namun terus saja aku diintainya

 

 

Kriket Malam Hari

 

Mereka masih saja bermain kriket malam hari

Mereka main gelap-gelapan

Mereka berbaris menghadang terjangan terang

Mereka kalah angka di laga yang panjang

Mereka tekun menyimak bagaimana gelap bekerja

Membantu yorker menjaga titik aman

Mereka mencari-cari cara

Di gerak bola ke dalam gelap dari cahaya

Mereka bersikeras melukis adegan hitam

Tapi semesta hitam diporak-poranda putih

Mereka sekarat mengikuti aturan baru

Dimana kebutaan didaulat sebagai penglihatan

Mereka masih saja bermain kriket malam hari

 

___

Catatan:

Semua puisi termuat dalam Collected Poems and Prose of Harold Pinter (New York: Grove Press, 1995).

Harold Pinter lahir di Hackney, London, pada 10 Oktober 1930. Ia wafat pada 24 Desember 2008 (78 tahun) manakala berjuang melawan kanker yang dideritanya. Ia mati meninggalkan seorang istri yakni Antonia Fraser, anak kandung bernama Daniel dari pernikahan pertamanya dengan Vivien Merchant, serta enam anak tiri dari Antonia. Selain dikenal sebagai sosok dramaturg penting Britania, Harold pun seorang aktor, penulis naskah drama, sutradara teater, sekaligus dikenal pula sebagai penyair. Ia adalah anak dari orang tua yahudi yang berprofesi sebagai penjahit, serta melewati masa tumbuh kembangnya di pemukiman miskin London. Sebelum menjadi penyair kaliber dunia dan mencecap pendidikan aktor serta teater, jejak riwayat Harold semasa remaja justru bermula dari bakatnya sebagai pelari marathon dan pemain kriket ulung di sekolah grammarnya.

Manakala memulai pendidikan di Royal Academy of Dramatic Art, kerja artistiknya sebagai aktor dan sutradara dimulai. Di atas panggung, ia dikenal sebagai David Baron. Naskah drama penuh pertamanya yang berjudul “The Birthday Party”, yang ia tulis di kisaran 1957, berhasil memukau publik London yang membuat Harold bergelimang pujian. Dari pencapaian itulah kemudian naskah drama Harold menjadi milestone bagi kancah teater Britania pada masanya—khususnya di medio 1950-1970. Penghargaan pertama yang ia sabet dari kerja artistik sebagai sutradara dan penulis naskah, ia dapat dari “The Caretaker” (1960) dan “The Homecoming” (1965). Keduanya mengantarkan Harold untuk meraih penghargaan Tony Award dan Broadway, serta ditampilkan pula di teater Broadway.

Sederetan penghargaan telah diterima Harold dari rentang tahun 1995 sampai tahun-tahun terakhir menjelang mangkat. Mulai dari dianugerahi penghargaan David Cohen Prize pada tahun 1995, Laurence Oliver Award pada tahun 1996, Companion of Honour pada tahun 2002, lantas selanjutnya dianugerahi penghargaan Nobel Kesusastraan pada tahun 2005. Dalam penghargaan Nobel yang diraih Harold, Akademi Swedia menyebut karyanya “berhasil menyingkap ngarai di bawah lelucon keseharian serta segala bentuk penindasan yang sulit didedahkan”. Di tahun 2007, Harold pun diganjar penghargaan Légion d’honneur dari Perdana Menteri Perancis, Dominic de Villepin, atas karyanya yang tegas mengkritisi agresi militer Inggris pada Iraq di bawah komando Tony Blair. Lewat sikap politis itu pula yang kemudian mengantarkan Harold bergabung dengan sederetan sastrawan lain dalam The Angry Young Men: sebuah kolektif sastrawan Britania progresif yang diinisiasi John Osborne dan Kingsley Amis pada medio 1950.

Sikap politis Harold semakin eksplisit tercermin dari karya-karya di senjakala usianya. Hal itu tersingkap tak lama setelah ia didiagnosa kanker di tahun 2001. Wabil khusus dalam puisi yang berjudul “God Bless America”, Harold melabeli George W. Bush dan Tony Blair sebagai ‘teroris’ yang sebenarnya. Membaca puisi-puisi Harold Pinter tak ubahnya upaya avontur yang menghadirkan tragedi dan humor gelap yang berjejal di setiap jengkal perjalanannya. Puisi-puisi Harold Pinter adalah perbendaharaan keterselubungan yang menyimpan desing armamen peperangan hingga dagelan hidup yang menggantang ancaman.

___

  • Ilustrasi: Lana Syahbani

 

 

Penerjemah partikelir | Bergiat di komunitas Anak Semua Bangsa | prasetyodamnagus@gmail.com

No Comments

Post A Comment