Metaruang | Puisi-Puisi Warsan Shire
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16612
post-template-default,single,single-post,postid-16612,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Puisi-Puisi Warsan Shire

oleh Fajar Nugraha

____________________________________________

YANG MEREKA PERBUAT SORE KEMARIN

 

Orang-orang membakar rumah bibiku

aku menangis meniru artis perempuan di televisi

menyelip di sela ruang tengah

seperti selembar uang lima pound.

kutelpon laki-laki yang mencintaiku

menyetel suaraku agar terdengar ‘oke’

kukatakan halo

dia bertanya, ada apa Warsan, apa yang terjadi?

 

aku senantiasa berdoa,

beginilah kiranya doaku;

tuhan sayang

aku berasal dari dua negara

yang satu dilanda kehausan

yang lainnya dilahap kebakaran

kini keduanya membutuhkan air.

 

ketika malam telah larut

aku membuka atlas di atas pangkuanku

telunjukku menyusuri seluruh penjuru bumi

dan aku berbisik

di manakah letak perih sebenarnya?

 

atlas menjawab

di mana-mana

di mana-mana

di mana-mana.

 

 

WHAT THEY DID YESTERDAY AFTERNOON

 

they set my aunts house on fire

i cried the way women on tv do

folding at the middle

like a five pound note.

i called the boy who use to love me

tried to ‘okay’ my voice

i said hello

he said Warsan, what’s wrong, what’s happened?

 

i’ve been praying,

and these are what my prayers look like;

dear god

i come from two countries

one is thirsty

the other is on fire

both need water.

 

later that night

i held an atlas in my lap

ran my fingers across the whole world

and whispered

where does it hurt?

 

it answered

everywhere

everywhere

everywhere.

 

____________________________________________

 

PERCAKAPAN-PERCAKAPAN TENTANG KAMPUNG HALAMAN

 

(Di Pusat Deportasi)

Kukira beginilah cara kampung halaman memuntahkanku seumpama seceret ludah, pemadaman lampu dan jerit sirine bagaikan ngilu lidah karena gigi yang koyak. Tuhan, kau tahu betapa nyeri mempercakapkan peristiwa dimana rambutmu dijambak dan kau diseret oleh orang-orang sekotamu; melewati penjara terlantar, melewati gerbang sekolah, melewati mayat-mayat yang dibakar dan diberdirikan bak tiang bendera? Apabila bertemu orang-orang sepertiku, aku melihat kerinduan, kehilangan, dan ingatan yang musnah menjadi abu di wajah mereka. Tak ada orang yang berkenan meninggalkan kampung halaman kecuali jika kampung halaman adalah mulut ikan hiu. Sejak lama telah kupancang lagu kebangsaan di kerongkonganku. Tak ada ruang untuk lagu lain, lidah lain, atau bahasa lain. Aib membungkus tubuhku, demikian likat. Kurobek dan kutelan paspor milikku di kamar penginapan. Perutku kembung oleh bahasa yang tak kuasa aku enyahkan.

*

Mereka bertanya, bagaimana bisa aku sampai di sini? Tidakkah kau melihat jawab di tubuhku? Gurun Libya merah darah oleh jasad para pengungsi, teluk Aden bergejolak, kota Roma tanpa jaket. Aku harap petualangan ini lebih dari sekadar jarak bermil-mil, karena semua anakku telah hanyut. Aku pikir laut jauh lebih aman tinimbang daratan. Aku ingin bercinta, namun rambutku menguar aroma perang dan pelarian dan pengungsian. Aku ingin berbaring, namun negara adalah paman yang menjamahmu saat kau masih gadis dan terlelap. Lihatlah semua perbatasan ini, mulutnya berbusa, disesaki tubuh penuh luka dan putus asa. Akulah warna matahari terbakar di wajah; mayat ibuku membusuk tanpa ada yang memakamkan. Aku menghabiskan hari dan malam di perut truk; aku tak pernah keluar dengan diri yang sama. Kadang-kadang aku merasa sebagai orang lain yang mengenakan tubuhku.

*

Aku tahu beberapa hal yang bisa menjadi kenyataan. Aku tak tahu ke mana aku akan pergi, tempat asalku telah lenyap. Di sini aku tak diinginkan dan apa yang kubilang cantik adalah kebalikannya. Tubuhku hangus oleh rasa malu karena aku tak lebih dari budak yang tak memiliki apapun; tubuhku adalah gumpalan keinginan. Aku adalah dosa dan ketiadaan ingatan. Aku menonton berita dan mulutku sontak menjadi wastafel yang bergelimang darah. Barisan orang-orang mengantre, surat resmi dan formulir, orang-orang di meja kerja, kartu nama, petugas imigrasi, mata di jalanan, dingin yang bermukim di sumsum-tulang, kelas bahasa Inggris malam, jarak jauh antara aku dan kampung halaman. Namun Alhamdulillah, semua itu lebih baik tinimbang aroma perempuan yang dipanggang api; atau truk pepat oleh pria yang mirip ayahku, yang merontokkan gigi dan mencerabuti kukuku; atau empat belas lelaki di antara kedua pahaku; atau laras senapan; atau janji-janji; atau kebohongan; atau nama ayah; atau kebengisannya di mulutku.

*

Aku mendengar mereka mengusirku, aku mendengar mereka mengatakan imigran bajingan, pengungsi jahanam. Apakah mereka sungguh seangkuh itu? Apakah mereka tidak tahu bahwa kenyamanan tidak lebih dari seorang belahan jiwa dengan mulut ayu memelukmu beberapa detik; setelahnya kau adalah tubuh gemetar yang terkulai di lantai serupa puing-puing reruntuhan dan mata uang usang yang menunggu bisa bernilai kembali. Tiada bisa kuucapkan selain aku pernah seperti kau, tak acuh, malang, tidak tahu berterima kasih, dan sekarang kampung halamanku ialah mulut ikan hiu. Sekarang kampung halamanku ialah moncong senapan. Aku akan menjumpaimu kembali di kesempatan lainnya.

 

 

CONVERSATIONS ABOUT HOME

 

(at the Deportation Center)

Well, I think home spat me out, the blackouts and curfews like tongue against loose tooth. God, do you know how difficult it is to talk about the day your own city dragged you by the hair, past the old prison, past the school gates, past the burning torsos erected on poles like flags? When I meet others like me, I recognize the longing, the missing, the memory of ash on their faces. No one leaves home unless home is the mouth of a shark. I’ve been carrying the old anthem in my mouth for so long that there’s no space for another song, another tongue, or another language. I know a shame that shrouds, totally engulfs. I tore up and ate my own passport in an airport hotel. I’m bloated with language I can’t afford to forget.

*

They ask me, How did you get here? Can’t you see it on my body? The Libyan Desert red with immigrant bodies, the Gulf of Aden bloated, the city of Rome with no jacket. I hope the journey meant more than miles, because all my children are in the water. I thought the sea was safer than the land. I want to make love, but my hair smells of war and running and running. I want to lie down, but these countries are like uncles who touch you when you’re young and asleep. Look at all these borders foaming at the mouth with bodies broken and desperate. I’m the color of hot sun on my face; my mother’s remains were never buried. I spent days and nights in the stomach of the truck; I did not come out the same. Sometimes, it feels like someone else is wearing my body.

*

I know a few things to be true. I do not know where I am going, where I have come from is disappearing, I am unwelcome and my beauty is not beauty here. My body is burning with the shame of not belonging; my body is longing. I am the sin of memory and the absence of memory. I watch the news, and my mouth becomes a sink full of blood. The lines, the forms, the people at the desks, the calling cards, the immigration officer, the looks on the street, the cold settling deep into my bones, the English classes at night, the distance I am from home. But Alhamdulilah, all of this is better than the scent of a woman completely on fire; or a truckload of men who look like my father, pulling out my teeth and nails; or fourteen men between my legs; or a gun; or a promise; or a lie; or his name; or his manhood in my mouth.

*

I hear them say, go home; I hear them say, fucking immigrants, fucking refugees. Are they really this arrogant? Do they not know that stability is like a lover with a sweet mouth on your body one second and the next you are a tremor lying on the floor covered in rubble and old currency waiting for its return. All I can say is, I was once like you, the apathy, the pity, the ungrateful placement; and now my home is the mouth of a shark, now my home is the barrel of a gun. I’ll see you on the other side.

 

____________________________________________

 

KETIKA KALI TERAKHIR KAMI MELIHAT AYAHMU

 

Di parkiran rumah sakit, dia duduk saja

dalam mobil yang direntalnya, dia menatap lekat

pada jendela-jendela bangunan, menerka kilau mana

yang memijarkan dosa-dosanya.

 

 

WHEN WE LAST SAW YOUR FATHER

 

He was sitting in the hospital parking lot

in a borrowed car, counting the windows

of the building, guessing which one

was glowing with his mistake.

 

____________________________________________

 

MINUM TEH BERSAMA NENEK

 

Pagi itu haboobamu mati

Aku membayangkan ayeeyoku, seorang wanita

Yang menamaiku, Warsan Baraka,

kulitnya sehitam asam jawa,

ia mati saat tengah menumbuk kapulaga

sembari menantikan anak-anak pulang

dan

makin sesak juga kesepian yang mereka

torehkan;

 

atau ibu dari ibuku, Noura

dengan tawa ayunya, ia

mengupas kulit-kulit kayu manis dengan

telapak tangannya, merawat suaminya

yang stroke, adik perempuannya yang kanker, dan

punggungnya yang encok bersama

Swahili miskin dan orang Italia keras kepala;

 

dan Doris, Ibu dari

mawar Inggrismu, dinamai setelah

anak perempuan dari Oceanus dan Tethys

keturunan Wales mengaliri darahmu, dari

tanah asal

Cymry, nenekmu yang

memimpikan gumpalan krim dalam tehnya

menyusup melewati gempuran diabetes;

 

lalu haboobamu Al-Sura,

Tuhan menjagainya, dengan tiga garis

di kedua bilah pipinya, jaminan atas keselamatan,

wanita yang meniupi tehmu,

menuangkannya dengan begitu telaten

di antara mangkuk dan cangkir, hingga

buihnya

menguap seperti hantu.

 

 

 

-Habooba— Panggilan bahasa Arab untuk wanita kesayangan, biasa dipakai sebagai panggilan untuk Nenek di Sudan.

-Ayeeyo— Nenek dalam bahasa Somalia.

 

 

TEA WITH OUR GRANDMOTHERS

 

The morning your habooba died

I thought of my ayeeyo, the woman

I was named after, Warsan Baraka,

skin dark like tamarind flesh,

who died grinding cardamom

waiting for her sons to come home

and

raise the loneliness they’d left

behind;

 

or my mother’s mother, Noura

with the honeyed laugh, who

broke cinnamon barks between

her palms, nursing her husband’s

stroke, her sister’s cancer and

her own bad back with broken

Swahili and stubborn Italian;

 

and Doris, the mother of your

English rose, named after

the daughter of Oceanus and Tethys

the Welsh in your blood, from the

land

of Cymry, your grandmother who

dreams of clotted cream in her tea

through the swell of diabetes;

 

then your habooba Al-Sura,

God keep her, with three lines on

each cheek, a tally of surviving,

the woman who cooled your tea

pouring it like the weight of deeds

between bowl and cup, until the

steam

would rise like a ghost.

 

____________________________________________

 

SUVENIR

 

Kau hadirkan perang

tanpa tahu, barangkali, pada kulitmu

pada kopor yang berjibun tak karuan

pada lembar foto-foto

likat di seluruh tubuhmu

di balik kuku-kukumu

dan mungkin mengalir di darahmu.

 

Sesekali kau datang dengan keluargamu,

sesekali tanpa siapapun, tidak pula bayanganmu

mendarat di negeri tak terjamah sebagai penakluk

bagai jeans ketat dan senyum putus asa,

hendak berbaur, bekerja keras

lupakan perang

lupakan darah.

 

Perang tugur di pojokan kamar tamumu

tertawa bersamamu kala menyaksikan siaran televisi

mengisi setiap sela-sela percakapanmu

berkeluh dalam jeda panggilan telepon

memberimu alasan untuk lari dari berbagai keadaan,

rapat pertemuan, orang-orang, negara, cinta;

perang berbaring di antara kau dan rekan-rekanmu di kamar tidur

berjaga di belakangmu ketika berada di wastafel

bahkan ketika dokter gigi melompat dari lubang cacing

mulutmu. Kau terhenyak

barangkali itu memang benar perang yang dilihatnya,

banyak darah bergelimang.

 

Kau tahu kedamaian adalah soal bertahan

dalam perang tak berkesudahan,

semua diputuskan saat tiba waktu yang tepat

sebab segalanya kini menguarkan pertanda peperangan

yang bisa terjadi kapan saja;

kau tahu betapa mudah memulai peperangan;

sejenak tenang, kemudian berdarah-darah.

 

Perang mewarnai suaramu, bahkan menghangatkannya.

Tak ada kepastian apakah kau

pembunuh atau orang yang tengah berkabung.

Tak seorang pun bertanya. Barangkali kau adalah keduanya.

Kau belum mencium siapapun sementara ini.

Bagimu, apapun terasa seamis darah.

 

 

SOUVENIR

 

You brought the war with you

unknowingly, perhaps, on your skin

in hurried suitcases

in photographs

plumes of it in your hair

under your nails

maybe it was in your blood.

 

You came sometimes with whole families,

sometimes with nothing, not even your shadow

landed on new soil as a thick accented apparition

stiff denim and desperate smile,

ready to fit in, work hard

forget the war

forget the blood.

 

The war sits in the corners of your living room

laughs with you at your tv shows

fills the gaps in all your conversations

sighs in the pauses of telephone calls

gives you excuses to leave situations,

meetings, people, countries, love;

the war lies between you and your partner in the bed

stands behind you at the bathroom sink

even the dentist jumped back from the wormhole

of your mouth. You suspect

it was probably the war he saw,

so much blood.

 

You know peace like someone who has survived

a long war,

take it one day at a time because everything

has the scent of a possible war;

you know how easily a war can start

one moment quiet, next blood.

 

War colors your voice, warms it even.

No inclination as to whether you were

the killer or the mourner.

No one asks. Perhaps you were both.

You haven’t kissed anyone for a while now.

To you, everything tastes like blood.

 

____________________________________________

 

 

WASIAT IBU KETIKA BAPAK MINGGAT

 

Aku tidak menahan kepergiannya karena

Telah aku panjatkan doa

Agar Tuhan berkenan mencegahnya.

 

 

WHAT YOUR MOTHER TOLD YOU AFTER YOUR FATHER LEFT

 

I did not beg him to stay because

I was begging God

that he would not leave.

 

____________________________________________

 

PERTANYAAN-PERTANYAAN UNTUK MIRIAM

 

Pernahkah kau kesepian?

 

Pernahkah kau wartakan pada orang-orang bahwa nyanyian

tidak sepadan dengan

tubuh yang hangat, bibir yang

lembut?

Apakah kau tahu bagaimana menampik

pria-pria muda

yang menangis di luar kamar hotelmu?

Apakah kau mendengar lagu-lagu yang mereka

ciptakan,

bibir-bibir berliur pujian yang dipanjatkan padamu?

 

Apa nama bar padat pengunjung tempat pertama kali kau manggung?

Apakah kau saksikan cengkeraman tangan

mereka,

bulu roma mereka berdiri manakala

notasi-notasimu berseliweran

di atas kepala mereka?

Apakah kau tahu gadis-gadis yang bernyanyi

hingga mereka mengepal tangannya

menirukan kepiawaianmu?

 

Apakah mereka tahu bahwa kau hanya seorang

manusia biasa?

Orang tuaku memutar musikmu manakala

di pernikahan mereka.

Memanggilmu Makeba, tak pernah Miriam,

tak pernah nama depan,

selalu penyanyi. Tak pernah menganggapmu istri, anak perempuan,

Ibu,

tidak pula seorang pecinta, apalagi pesakitan.

 

Pernahkah kau wartakan pada orang-orang bahwa nyanyian

tidak sepadan dengan

tubuh yang hangat, bibir yang lembut?

Miriam,

aku telah mendengar orang-orang memakai lagumu

sebagai doa,

memohon pada Tuhan dalam falseto. Kau nyatanya memang kota

 

yang terasing dari kulit. Mulutmu

gereja yang terbakar.

 

 

QUESTIONS FOR MIRIAM

 

Were you ever lonely?

 

Did you tell people that songs

weren’t

the same as a warm body, a soft

mouth?

Did you know how to say no to

young men

who cried outside your hotel rooms?

Did you listen to the songs they

wrote,

tongues wet with praise for you?

 

What sweaty bars did you begin in?

Did you see them holding bottles by

the neck,

hair on their arms rising as your

notes hovered

above their heads?

Did you know of the girls who sang

into their fists

mimicking your brilliance?

 

Did they know that you were only

human?

My parents played your music at

their wedding.

Called you Makeba, never Miriam,

never first name,

always singer. Never wife, daughter,

mother,

never lover, aching.

 

Did you tell people that songs

weren’t the same

as a warm body or a soft mouth?

Miriam,

I’ve heard people using your songs as

prayer,

begging god in falsetto.You were a

city

 

exiled from skin, your mouth a

burning church.

 

____________________________________________

 

DI DAPUR

 

Separuh pepaya dan sesendok minyak wijen;

akhir-akhir ini, pikiran suamimu tengah kalut.

 

Kurma legit, susu kambing;

kau sudah enggan menyulut pertengkaran.

 

Kelapa dan margarin;

Dia mengecup punukmu kala di depan kompor.

 

Merica merah dan kacang eru bakar;

kau sodorkan rongga kerongkonganmu.

 

Kunyit dan rosemary;

kau tidak bertanya siapa wanita itu.

 

Daun-daun anggur dan minyak zaitun;

kau biarkan dia memangkumu perlahan.

 

Kayu manis dan asam jawa;

lantas membaringkanmu pada meja dapur.

 

Kacang almon direndam dalam air mawar;

suamimu kelaparan.

 

Mangga manis dan lemon bergula;

dia telah lupa setiap jengkal kelezatan di tubuhmu.

 

Adonan asam dan jinten;

namun wanita itu tak mampu membujuknya makan, sebagaimana kau.

 

 

THE KITCHEN

 

Half a papaya and a palmful of sesame oil;

lately, your husband’s mind has been elsewhere.

 

Honeyed dates, goat’s milk;

you want to quiet the bloating of salt.

 

Coconut and ghee butter;

he kisses the back of your neck at the stove.

 

Cayenne and roasted pine nuts;

you offer him the hollow of your throat.

 

Saffron and rosemary;

you don’t ask him her name.

 

Vine leaves and olives;

you let him lift you by the waist.

 

Cinnamon and tamarind;

lay you down on the kitchen counter.

 

Almonds soaked in rose water;

your husband is hungry.

 

Sweet mangoes and sugared lemon;

he had forgotten the way you taste.

 

Sour dough and cumin;

but she can not make him eat, like you.

 

____________________________________________

Karya yang Diterjemahkan:

  1. What They Did Yesterday Afternoon” termuat di laman www.poemhunter.com.
  2. Conversations About Home” termuat dalam Our Men Do Not Belong to Us (New York: Slapering Hol Press, 2014).
  3. When We Last Saw Your Father” termuat dalam Our Men Do Not Belong to Us (New York: Slapering Hol Press, 2014).
  4. Tea With Our Grandmothers” termuat dalam Teaching My Mother How to Give Birth (United Kingdom: Mouthmark Series, 2011).
  5. Souvenir” termuat dalam Teaching My Mother How to Give Birth (United Kingdom: Mouthmark Series, 2011).
  6. What Your Mother Told You After Your Father Left” termuat dalam Teaching My Mother How to Give Birth (United Kingdom: Mouthmark Series, 2011).
  7. Questions for Miriam” termuat dalam Teaching My Mother How to Give Birth (United Kingdom: Mouthmark Series, 2011).
  8. The Kitchen” termuat dalam Teaching My Mother How to Give Birth (United Kingdom: Mouthmark Series, 2011).

____________________________________________

Warsan Shire adalah penyair perempuan berkebangsaan Inggris namun lahir di Kenya, 1 Agustus 1988. Ia tinggal dan dibesarkan di Somalia, lantas menjadi pengungsi mengikuti kedua orang tuanya akibat konflik bersenjata di Somalia, sebelum akhirnya menjadi warga negara Inggris. Puisi-puisi Warsan banyak mengangkat tema-tema konflik di Somalia—mulai dari soal kelaparan, perang saudara, pertikaian etnis dan agama, hingga eksploitasi sumber daya alam. Karena puisi-puisinya, Warsan dianugerahi penghargaan Brunel University African Poetry Prize. Pada 2012, Warsan mewakili Somalia di Poetry Parnassus. Puisi-puisi Warsan telah menginspirasi Beyonce dalam penggarapan album Lemonade.

Dalam kerja kepenyairannya, Warsan mampu menangkap celah estetis yang menggemparkan selubung ideal kehidupan glamor urban. Nadanya yang satir akan membuat siapapun terhenyak dan bertanya “Bagaimana mungkin dia menanggungkan kesengsaraan sebegitu rupa?”. Lewat Warsan, kita bisa memahami bahwa hidup dan negara memang layak untuk diumpat.

___

Ilustrasi: F. Ilham Satrio

 

Fajar Nugraha

Lahir di Bandung, 22 Juni 1996. Pecinta masakan Ibunda

Tags:
No Comments

Post A Comment