Metaruang | Puisi: Rumah – Semangka – Daun – Gerimis – Surat Cinta Tanpa Alamat
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
53
post-template-default,single,single-post,postid-53,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Puisi: Rumah – Semangka – Daun – Gerimis – Surat Cinta Tanpa Alamat

 

Rumah

Ia melindungimu 367 kali putaran bumi
dari tikaman hujan dan sengat matahari
dan takkan mengubah dirinya menjadi limbubu
atau bom paku yang ledakan sebuah kafe,
mesjid dan gereja kelabu.

Ia hanya memberimu buku-buku tua
gramofon kaca yang memutar lagu malam
gelisah matamu terpejam
atau aroma masakan di meja makan:
nasi liwet ayam bakar sayur lodeh
sambal goang wedang teh
hingga lidahmu meleleh
dan jendela yang tercipta dari udara;
burung dara di pohon cemara
sepasang kelinci dan bunga-bunga lili
kolam ikan serta senyum mungil
di muka halaman.

Ia pun tak pernah mengeluh saat sepi
seketika mencekik lehernya
tapi ia bisa saja menjadi taring serigala
atau desis ular kobra saat piring dan gelas
terhempas ke udara, memecah jerit ibumu
di ruang tamu, dan selembar kenangan
masa kecil dalam pigura
memberimu rasa sakit tanpa jeda.

2016

 

 

Semangka
:Nirwan Dewanto

Sebilah pisau membara, menatap hijau tubuhku setajam cakar hiena.
Perlahan, kau tancapkan runcingnya di ranum jantung. Hingga amis
musim dalam urat nadi meruap ke senyap ruang. Terbukalah merah
senjakala, merah malam enam lima, merah yang menghantuimu di
rimba usia. Merah akan menjelma firdaus di merah lidahmu. Lalu
dengan hati-hati, kau singkirkan biji-biji bulan hitam padam yang
menggantung di dadaku dan akan menghambat kuning napasmu.
Kau potong-potong dagingku dalam bentuk dadu atau sabit. Mata
sipitmu runcing garpu di selaput mataku. Kau pun menerkamku,
membenamkan gerigi sepi pada merah paling lezat yang sempat
dirawat dengan baik oleh Pak Tua itu.

2016

 

 

Daun

Pada bening muka kolam
ia lihat garis-garis usia di wajahnya
serupa guratan di daun-daun kuning
yang tergeletak di hamparan rumput
dan ia mendesau “adakah aku takut?”

Kemudian ia ingin sebuah pelukan
yang bisa mengakhiri gigil sepi di tubuhnya.
Ia pun teringat: sepasang mata remaja
secerlang bintang-bintang,
sepasang bibir yang mencecap
madu cinta di mambang petang.

“Ah, kenapa yang sementara
selalu menyisakan nestapa
di sepanjang usia?”

Dan saat selirih angin memetik selembar daun terakhir
di pucuk ranting kering, lalu menyentuh pucat kening
seketika ia merasa seakan ada yang menunggunya
di ujung jalan, mengenakan jubah putih
dan ia pun mendesau “mungkin aku takut.”

Hingga sebelum malam menghamburkan pekat miasma
sebelum taman semakin jauh meninggalkannya
pada gelap paling cekam
ia lipat luka di daun-daun trembesi
dan melangkah pergi, tergesa
seakan ada yang dengan tajam melihatnya.

2016

 

 

Gerimis

Adakah gerimis sembunyikan tangis? katamu.
Aku hanya memandang bayang-bayang
malam merayap perlahan di halaman
rumahmu. Lampu-lampu sedikit redup,
sayup-sayup muazin menggetarkan batin.

Mungkin, ya, mungkin memang gerimis
menyembunyikan tangis saat tuberkulosis
makin pahit di lidah dan kita tak lagi
percaya pada kata, pada sebuah dongengan
berulangkali ibu bapak kita ceritakan
sebelum dewa-dewa yang bijaksana itu
menutup matanya pada nasib manusia.

Tapi bisakah gerimis menghapus tangis? katamu.
Aku terdiam, kugenggam tangan kirimu kian gemetar
seakan matamu menjelma kidung paling murung
saat malam mencapai pintu bersama angin
menyisipkan jarum ke paru-paruku yang rentan
dan kematian tercermin pada setiap genangan.

2015

 

 

Surat Cinta Tanpa Alamat

Manisku yang kupuja seperti puisi
manja serupa warna bunga-bunga
di kota ini segalanya terlalu cepat berubah
seperti cuaca juga cinta pandangan pertama
kota kembang yang teduh, di mana kutemui

Sumbi dan kelinci bermata merah jambu
membawa aku dan Alice ke sungai mimpi
kini tinggal riuh mesin dan asap pabrik
melulu merobek udara Tangkubanperahu.

Tiada, tiada lagi tanaman padi
bintang mayang atau kicau murai di ranting akasia
disulap menjadi gedung-gedung kaca
reklame-reklame kecantikan di sepanjang jalan
anak-anak melupakan bangku dan buku
dan seorang perempuan tertidur pulas
tanpa kehangatan di trotoar Braga.

Manisku yang bercahaya seperti bianglala
wajahmu secerah Ratu Saba senantiasa
menggubah jiwaku yang murung
menjelma rama-rama menari di kebun anggur
hingga kutulis surat ini dan ingin kutinggalkan kesedihan
yang telah lama kupelihara di negri rusuh ini
kesedihan yang pemarah dan pemalu
selalu menggigit jantungku dengan runcing
giginya hingga pecah dan daun-daun kersen
berguguran dari sepasang mataku.

Kutulis surat ini kala senja mencair di gelas kaca
burung-burung kenari kembali bernyanyi
dan ingin kulupakan hari-hari lalu berlari menujumu
menggenggam lembut tanganmu walaupun aku tahu
akan selalu ada Rahwana siap memangsa
manakala kutempuh bentang jarak ini;
tapi adakah yang lebih berarti dari cinta?
yang lebih surga dari sepasang mata?

Sepanjang malam insomnia merawatku
selalu terkenang wangi kerudungmu
yang terembus angin utara di taman Isola.

Kau tahu semua itu membuatku sedih dan bahagia
jika aku penyair seperti Zamzam atau Rumi
telah kuabadikan mawar senyummu dalam seribu puisi
jika aku musisi seperti Lennon atau Dylan
telah kunyanyikan langit matamu dalam seribu lagu
jika aku pelukis seperti Matisse atau Modi
telah kupahat sejuk lekuk tubuhmu dalam seribu patung
tapi aku hanya mampu mengenangmu dalam putih purnama
semoga kau tak kecewa, Manisku
dan aku tahu kau takkan pernah kecewa
sebab aku kira kau pun mencintaiku
sejak perjumpaan pertama kita
kala kemarau mendesau di rimbunan cemara.

 

2015

 

Illustrasi: Rudy Nurahman

Dedi Sahara

Dedi Sahara lahir di Bandung. Redaktur Jurnal Sosialis, bergiat di FNKSDA. Menulis puisi dan esai. Beberapa karyanya dimuat dalam buku antologi puisi bersama.

No Comments

Post A Comment