Loader

Putih Abu yang Bukan Abu-Abu

Sudah tiga tahun lamanya para pelajar di Bandung ini bersikukuh pada tujuan yang ingin mereka capai. Dari menagih perbaikan sistem penilaian dan administrasi sekolah (sebagai hal yang elementer); turut menjadi pengingat dalam bagaimana pemerintahan memberlakukan demokrasi, hingga ikut berjuang di berbagai titik api terutama di Bandung.

Pelajar ini tergabung di Aliansi Pelajar Bandung (selanjutnya APB) yang jadi motor penggerak pelajar di berbagai kota . Mereka terlahir dari realitas keadaan yang dirasa setiap kali menginjakkan kakinya di sekolah. Keadaan yang menampar keseharian setiap kali menjalani hidup. Dari yang pedagogis, kurikulum, dan aturan-aturan yang mengarah pada penyesuaian kepentingan salah satu kaum. Kita sendiri dapat melihat bahwa institusi pedidikan lebih cocok disebut pabrik penunjang pasar tenaga kerja ketimbang mencerdaskan, meski beberapa, tinimbang sebagai sarana pengembangan potensi diri.

Rekam jejak APB tidak usah diragukan lagi. Sudah berbagai aksi diikuti—dari aksi kecil sampai aksi skala nasional. Namun keberadaan APB  tidak selalu mendapat sambutan baik khususnya untuk masyarakat yang begitu konservatif seperti Indonesia. Banyak sekali “sanjungan” datang dari mereka yang terlanjur tua, hingga bahkan para pelajar sendiri, terhadap sepak terjang APB.  Misalnya, keberadaan seragam putih-abu di gelombang aksi Reformasi Dikorupsi kemarin pun tak lepas dari gunjingan media massa hingga mahasiswa yang terlibat aksi.

Tidak berhenti di situ, bentuk ancaman dari pihak sekolah juga marak terjadi. Sosialisasi pelarangan Aliansi Pelajar Bandung oleh kepolisian ke hampir seluruh sekolah di Bandung disinyalir menjadi muasalnya.

Bentuk ancaman dari pemerintah, pihak sekolah, dan kepolisian pun tidak tanggung-tanggung. Mereka tidak segan mengeluarkan pelajar yang ketahuan mengikuti kegiatan APB,  juga tuduhan yang dilansir di Jabar Sindonews menyoal ideologi Anarko yang diusung APB. Di mana akhir-akhir ini kelompok anarko selalu dikaitkan dengan segala biang kegaduhan masyarakat. Tujuannya hanya satu: membuat jarak antara APB dengan simpati masyarakat.

Tapi pembungkaman demokrasi secara sistematis itu  tidak membuahkan hasil apa-apa. Segala bentuk intimidasi yang dilakukan negara melalui senjata-senjatanya tidak sedikitpun mengalahkan daya pikir kritis mereka. Tindakan seperti itu malah menyulut kemarahan yang lebih ganas dengan membuat mereka belajar sendiri bagaimana bentuk fasisme akut di indonesia.

“Usia tidak mejadi penentu bagus tidaknya melakukan aksi, itu hanya bagi mereka yang dihantam gengsi karena dipikul beban usia  tua saat kalah dengan waktu,” ujar salah satu bagian APB (yang tidak ingin dituliskan namanya).

Pada Minggu tanggal 17 November 2019 tepat pukul 08.05 WIB di CFD (Car Free Day)  Dago, mereka memperbesar simpul solidaritas menggunakan momentum INTERNATIONAL STUDENTS DAY. Bukan sebagai helatan selebrasional, melainkan menebar semangat emansipatoris dengan mengajak dan melibatkan mahasiswa serta buruh melalui diskusi kecil-kecilan di beberapa kampus pra-aksi di hari sebelumnya.

Mereka mencoba mengubur dalam-dalam sekat perjuangan sektoral. Hanya saja memang kita terproyeksi oleh hingar-bingar yang kapitalisme sajikan, ketimpangan sosial-ekonomi yang kian dilanggengkan, dan pembatasan imajinasi yang kian membungkam elan emansipatoris.

Dalam aksi International Students Day, semua hal itu seakan diluluh-lantakkan oleh Aliansi Pelajar Bandung. Mereka mengajak turun bersama dengan menggaet setiap sektor dari mulai buruh, mahasiswa, sampai warga yang terdampak penggusuran untuk ikut andil menuntut yang sebenarnnya menjadi hak hidup mereka.

Kita dihadapkan dengan situasi di mana hak kita sebagai manusia untuk mendapat akses pendidikan layak dan baik tidak sepenuhnya bisa dirasakan. Karena pendidikan kini telah beralih rupa menjadi salah satu sektor bisnis yang mudah dimonopoli dan sangat menjanjikan keuntungan, sehingga  aksesnya  hanya bisa dicecap oleh segilintir orang. Apalagi kini terlihat jelas sengkarut kecamuk sosial-politik, resesi yang melahirkan kesenjangan ekonomi kronis, hingga beragam kebijakan yang mendorong rakyat bisa tetap hidup dan bekerja dalam kesengsaraan. Sehingga bukan hanya pelajar yang terkena imbasnya, tetapi semua elemen masyarakat menengah ke bawah.

Poster tuntutan dan seruan penuh warna terpampang seraya iring-iringan memutari CFD Dago. Yang menarik perhatian mungkin poster bertuliskan “Tidak Mungkin hanya berlaku bagi orang-orang (yang) kurang imajinasi.” Gelora Paris 1968 langsung terbersit bagi siapapun yang mengetahuinya. Karena poster yang dibawa Aliansi Pelajar Bandung ini tidak salah lagi berasal dari slogan graffiti Paris ’68 yang versi aslinya adalah “L’imagination prend le pouvoir!”, yang artinya adalah “imajinasi berkuasa” atau bentuk yang lebih sarkas dari “soyez realistes demandez i’impossible” yang artinya adalah (realistislah, tuntut seagala ketidakmunkinan).  Dua graffiti itu sering ditemukan ketika gelombang aksi dan perlawanan kepada segala bentuk kekuasaan otoriter rezim De Gaulle di Paris. Di mana pada saat itu gelombang aksi di Paris digerakkan oleh pelajar dan mahasiswa ketika menuntut pembebasan moral sekaligus menentang masyarakat konservatif, konsumtif, nilai-nilai kolot, dan yang terpenting kapitalisme. Dan tentu saja hal itu pun tak lepas dari andil Situasionis Internasional yang terkenal dengan praktik politik revolusioner lewat tradisi seni radikal.

Dari hal itu, tentu saja mampu memberikan penjelasan bahwa Aliansi Pelajar Bandung bukan organisasi yang terkekang ideologi. Mereka murni gerakan pelajar yang membebaskan orang-orang di dalamnya untuk memiliki ide atau pakem ideologinya masing-masing, selama masih sepakat pada tujuan organisasi dalam mewujudkan pendidikan gratis, demokratis, kerakyatan, dan ramah gender, yang juga siap berada di barikade kelas tertindas.

“Kami tidak terpaku pada satu gagasan. Seperti dalam membaca segala sesuatu, kita harus mencerna kembali apa yang terkandung. Tidak boleh menelan mentah-mentah apa yang ada dalam buku. Jadi kami belajar di sejarah dan mengembangkannya,” papar salah satu bagian APB. Cara mereka menyikapi sejarah dan gagasan lama maupun baru itu dengan menyeleksi lewat analisa ekonomi-politik, dan dibuktikan dengan melihat relavansinya langsung dengan situasi hari ini. “Garis pembeda dari revolusioner dan kontra revolusioner adalah keinginan untuk belajar dari kesalahan sebelumnya,”  tutup salah satu bagian APB.

Bukan seberapa berani mereka berhadapan dengan polisi atau seberapa penting mereka, tetapi tentang mereka yang pingsan menahan kelaparan, bersesak panas di jalanan, melempar batu dibalas moncong senjata, dan tidak sudi berepelukan dengan musuh yang sama. Mereka hanya ingin seluruh masyarakat sepakat ihwal apa yang ingin mereka capai: pendidikan bagi seluruh umat manusia.

No Comments

Post A Comment