Loader

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi: Sebuah Dongeng Rasa Sop Buah

 

Judul: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi
Penulis: Yusi Avianto Pareanom
Berat: 0.5 kg
Dimensi: 14×21 cm
Tahun Terbit: 2016
Jumlah Halaman: 450
Penerbit: Banana

 

Di tahun 2016 ini, ada seorang pendongeng yang akan membuatmu terkagum-kagum. Ya, dia adalah Yusi Avianto Pareanom, seorang mantan wartawan majalah Tempo. Beberapa cerpennya sering muncul di beberapa media dan dalam buku kumpulan cerpennya yang berjudul Rumah Kopi Singa Tertawa (Banana, 2011).

Ketika para penulis lain sibuk memikirkan atau membuat pelbagai ramuan yang baru di dunia kesusastraan, Yusi justru muncul dengan Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi yang dengan bangga ia akui sebagai dongeng. Dongeng, seperti kamu ketahui sendiri, merupakan bentuk sastra lama yang mengisahkan kejadian yang luar biasa atau fantasi yang dianggap orang sebagai cerita yang tidak benar terjadi. Yusi tidak mencoba meyakinkan apa yang ditulisnya ini benar-benar terjadi. Rendah hati memang.

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi yang terbit bulan Maret tahun ini, mengundang rasa penasaran banyak orang. Banyak sekali pujian untuk novel itu. Ada yang menyebutnya sebagai novel yang wajib dibaca dan karya terbaik dalam dunia kesusastraan kita. Dan benar, aku sudah membuktikannya dan kamu juga harus membuktikannya. Percaya atau tidak, ketika kamu membacanya, matamu akan terus terpaku pada novel itu, duduk di satu tempat yang nyaman, dan terus mengikuti jalan ceritanya. Sungguh, kamu tidak akan bangkit dari tempatmu membaca sebelum cerita itu selesai, kecuali jika terpaksa harus membunuh kecoa yang melintas di kakimu atau harus mengangkat telepon dari seorang gebetan yang kamu tunggu sekitar empat tahun.

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi dikisahkan oleh Sungu Lembu. Walaupun novel itu berjudul Raden Mandasia, tapi Sungu Lembu—selain sebagai narator—adalah tokoh utama dalam dongeng ini. Ia, Sungu Lembu, adalah seorang pangeran dari kerajaan Banjaran Waru. Ia juga pintar karena dibekali ilmu-ilmu yang didapatkan dari buku-buku Lembu Kuning (ayahnya) dan Banyak Wetan (pamannya). Selain ilmu yang didapatkan dari buku-buku, Sungu Lembu juga dibekali ilmu bela diri dan keahlian untuk mengenali racun yang diajarkan oleh pamannya.

Awalnya, kehidupan Sungu Lembu berjalan baik-baik saja. Kegiatannya sehari-hari hanya dihabiskan dengan membaca dan berlatih. Sampai suatu ketika, para prajurit kerajaan Gilingwesi mendatangi rumah pamannya Banyak Wetan. Pamannya dianggap pemberontak oleh kerajaan Gilingwesi sehingga ia ditangkap, rumahnya diobrak-abrik, dan istrinya mati terbunuh dalam kejadian itu. Melihat kejadian tersebut, Sungu Lembu menyimpan bara dendam kepada kerajaan Gilingwesi dan bertekad untuk memenggal kepala rajanya yaitu Watugunung.

Untuk membalaskan dendamnya itu, Sungu Lembu pergi ke Kotaraja Gilingwesi. Namun, sesampainya di sana, ia tidak tahu di mana letak istana Watugunung. Hampir setiap bangunan di Gilingwesi seperti istana kerajaan. Akhirnya, ia pun keluar dari Kotaraja Gilingwesi lalu terdampar di Kelapa dan singgah di rumah dadu. Rumah dadu itu milik Nyai Manggis, seorang perempuan yang digambarkan sangat cantik. Sehingga setiap lelaki yang melihat kecantikannya akan menelan ludah dan tersedak ludahnya sendiri. Di rumah dadu itu, Sungu Lembu bertemu dengan Raden Mandasia, salah satu pangeran kerajaan Gilingwesi.

Awalnya Sungu Lembu ingin menghabisi Raden Mandasia, hanya saja dicegah oleh Nyai Manggis yang waktu itu telah memiliki hubungan khusus dengan Sungu Lembu. Sampai suatu peristiwa besar terjadi, saat rumah dadu itu diserang oleh segerombolan orang—yang diketahui sebagai prajurit Gilingwesi—hingga Nyai Manggis terluka dan mati dalam pelarian bersama Sungu Lembu, Raden Mandasia, dan Barja. Sungu Lembu pun pergi mengikuti Raden Mandasia sebagai pesan terakhir dari Nyai Manggis agar bisa sampai ke istana Watugunung.

Ia harus menemani Raden Mandasia pergi ke Kerajaan Gerbang Agung di negeri Atas Angin untuk menuntaskan misinya. Raden Mandasia ingin menggagalkan peperangan antara kerajaannya dengan kerajaan Gerbang Agung. Tapi, Raden Mandasia gagal dan perang tetap terjadi. Pada suatu kesempatan saat masa peperangan, Sungu Lembu berada di dekat Watugunung, tapi ia tidak bisa langsung menuntaskan dendamnnya karena melihat ke saktian sang raja.

Dalam novel ini, kamu pun akan bertemu dengan banyak sekali tokoh dengan perilaku yang unik. Wajar, karena ini merupakan cerita pengembaraan yang tokoh utamanya pasti akan bertemu dengan banyak hal. Setiap latar berganti, pasti akan ada tokoh baru. Raja Gilingwesi saja mempunyai 27 anak. Tetapi, tokoh yang bejibun ini tidak akan memusingkan kepalamu, karena hanya beberapa tokoh saja yang memiliki peran penting.

Anehnya, dalam sebuah dongeng, tokoh-tokoh ini memiliki pimikiran yang rasional seperti manusia saat ini. Mereka tidak percaya pada hal-hal yang berbau klenik dan mistik. Misalnya, ketika Raden Mandasia harus menembus penjagaan ketat istana Putri Tabassum, ia malah membeli kulit seorang sida-sida untuk dipakainya menyamar. Kenapa Raden Mandasia tidak menggunakan ilmu sakti atau semacamnya yang membuat dirinya bisa menghilang lalu muncul di dalam istana Putri Tabassum? Ah, bodo amat. Justru pikiran-pikiran rasional tokoh-tokoh itu yang membuat kau berada dekat dengan mereka. Mungkin kau akan membayangkan dapat mengeplakkepala Raden Mandasia ketika selesai mencuri daging sapi lalu merapikan daging dan kulit yang tidak terpakai dan menyimpan emas sebagai ganti rugi.

Kamu juga akan mendapatkan humor yang segar. Yusi akan membuatmu tertawa dengan humor yang dekat denganmu atau mungkin yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari. Misalnya ketika Sungu Lembu akan pulang ke negerinya setelah selesai berpetualang di negeri Atas Angin, ia tidak mengingat hal-hal besar yang sudah terjadi tapi ia malah mengingat babi panggang Loki Tua yang belum pernah ia cicipi.

Selain bertemu dengan tokoh-tokoh yang menarik, kamu akan disuguhkan deskripsi yang sangat detail. Deskripsi bagian-bagian daging sapi dari ujung kepala sampai ujung buntut dengan cara memasaknya yang pas dan lezat membuatmu ingin sekali pergi ke warung steak. Cara pembuatan perahu di sebuah desa. Penggambaran adegan seks yang sugestif membuat hasratmu berontak lalu langsung loncat ke penggambaran lain yang akan membuatmu sedih sekaligus tertawa. Penceritaan yang naik-turun, seperti… ah, sudahlah. Atau deskripsi sebuah desa yang penduduknya tidak boleh menyebut warna secara langsung. Untuk menyebut warna, penduduk itu menyebutnya dengan metafor yang asyik seperti darah untuk warna merah, yang keluar dari puting hewan atau puting perempuan untuk warna putih, yang khianat untuk kuning kehijau-hijauan serupa muntahan, yang patah hati untuk jingga pudar, yang ragu-ragu untuk ungu, yang sakti untuk hitam pekat, dan yang langit awal musim dingin untuk biru pucat. Yusi juga sangat hebat dalam menjaga latar. Ia menggunakan sepenanakan nasi, tujuh tombak¸ dua hari berkuda¸ seribu langkah, dsb. untuk menyebutkan jarak dan waktu, sehingga latar cerita tetap terjaga di tempatnya.

Seperti yang tertulis di cover belakangnya, novel ini meminjam berbagai khazanah cerita dari masa-masa yang berlainan. Yusi meramu bahan-bahan itu menjadi dongeng yang segar seperti sop buah. Ketika kamu menyantapnya, lidahmu akan bertemu dengan potongan buah-buahan yang segar dan susu kental manis. Misalnya, sebuah peristiwa pemenggalan kepala yang akan mengingatkanmu pada pembantain masal di tahun 1965, juga cara pembuatan roti dengan ragi secara turun-temurun seperti pada novel Madre karya Dee Lestari, atau Loki Tua yang membaca kisah seorang lelaki tua dan pengawalnya yang berpetualang dan bertempur dengan hal-hal aneh seperti dalam novel Miguel de Cervantes, Don Quixote. Dan Watugung yang mempunyai pitak di kepalanya dan menikah dengan ibunya sendiri seperti cerita Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Aku tidak akan memberitahumu lebih banyak lagi. Tentu kamu akan menemukan pelbagai interteks yang lain sesuai pengalaman bacamu, saat membaca Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi.

 

No Comments

Post A Comment