Metaruang | Rumah Chef
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17061
post-template-default,single,single-post,postid-17061,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Rumah Chef

 

Oleh Raymond Carver

 

MUSIM PANAS itu Wes menyewa sebuah rumah tinggal bagian utara Eureka dari seorang ahli rehab pecandu alkohol bernama Chef. Kemudian dia menelpon agar aku meninggalkan apa yang sedang aku kerjakan untuk singgah ke sana dan tinggal bersamanya. Dia mengatakan sedang berada di sebuah gerbong kereta. Aku tahu mengenai gerbong tersebut. Namun dia tak akan menerima kata tidak sebagai jawaban. Dia menelepon kembali dan berkata, Edna, kau bisa menyaksikan lautan dari jendela depan. Kau bisa menghirup aroma garam di udara. Aku menyimak apa yang dikatakannya. Dia tidak memberi jeda pada bicaranya. Aku menjawab, aku akan mempertimbangkannya. Dan aku memang mempertimbangkannya. Seminggu kemudian dia menelepon lagi dan berkata, jadi ke sini? Aku menjawab aku masih mempertimbangkannya. Dia berkata, kita akan memulai semuanya dari awal. Aku berkata, jika aku ke sana, aku ingin kau melakukan suatu hal untukku. Sebutkan saja, jawab Wes. Kataku, aku ingin kau berusaha dan menjadi Wes yang selama ini aku kenal. Wes yang dulu. Wes yang menikah denganku. Dan Wes menangis, namun aku menganggapnya sebagai pertanda niat baiknya. Jadi kukatakan, oke, aku akan ke sana.

Wes memutuskan pacarnya, atau pacarnya yang memutuskannya—aku tak tahu, tak peduli. Saat aku memastikan diri untuk pergi bersama dengan Wes, aku mesti pamitan ke temanku. Temanku berkata, kau mengambil keputusan yang keliru. Dia berkata, jangan perlakukan aku seperti ini. Bagaimana dengan kita? Katanya. Jawabku, aku harus melakukan ini demi kebaikan Wes. Dia berjuang untuk tetap waras. Kamu ingat betul bagaimana rasanya seperti itu. Aku ingat, kata temanku, tapi aku tak ingin kau pergi. Aku berkata, aku pergi untuk liburan musim panas. Kemudian aku akan menikmatinya. Aku akan kembali, kataku. Dia berkata, bagaimana denganku? Bagaimana dengan kebaikanku? Tak perlu kembali lagi, ujarnya.

 

KAMI meminum kopi, soda, dan segala jenis jus bebuahan musim panas. Seluruh musim panas, adalah apa yang mesti kita minum. Aku menemukan diriku berdoa agar musim panas tak pernah berakhir. Aku mengetahui lebih baik, tapi setelah sebulan bersama dengan Wes di rumah Chef, aku pakai kembali cicin pernikahan di jariku. Aku telah tak memakainya selama dua tahun. Tidak semenjak malam itu Wes teler dan melemparkan cincinnya ke arah kebun persik.

Wes memiliki beberapa jumlah uang, jadi aku tak harus pergi bekerja. Sedemikian Chef membiarkan kita menghuni rumah nyaris tanpa apapun di dalamnya. Kami tak punya telepon. Kami membayar gas dan listrik dan membeli barang-barang khusus di Safeway. Satu minggu sore Wes pergi untuk mencari alat penyiram dan kembali dengan sesuatu untukku. Dia pulang dengan sebungkah bunga aster cantik dan sebuah topi jerami. Selasa malam kami pergi ke bioskop. Malam lainnya Wes akan menghadiri apa yang ia sebut sebuah pertemuan Jangan Mabuk. Chef akan menjemput menggunakan mobilnya tepat di depan pintu dan mengantarkan pulang setelahnya. Sesekali Wes dan aku akan pergi memancing ikan di salah satu danau jernih sekitar sini. Kami memancing di tepian dan menghabiskan seharian untuk menangkap beberapa ikan yang kecil-kecil. Mereka akan baik-baik saja, kataku, dan malam itu aku akan menggorengnya untuk sajian makan malam. Sewaktu-waktu aku melepas topi dan tertidur lelap di karpet bersebelahan dengan pancinganku. Hal terakhir yang aku ingat akan menjadi awan gemawan yang melintas di atas kepala menuju ke tengah lembah. Di malam harinya, Wes akan menggamitku dengan tangannya dan bertanya apakah aku masih kekasihnya.

Anak-anak kami menjaga jarak. Cheryl tinggal dengan beberapa orang pada sebuah pertanian di Oregon. Dia merawat sekumpulan kambing dan menjual susu. Dia memelihara lebah dan menghasilkan berkendi-kendi madu. Dia mendapatkan hidupnya sendiri, dan aku tak menganggapnya salah. Dia tak peduli satu hal dan lainnya mengenai apa yang dilakukan ayahnya dan aku selama ini sebagaimana kami tak melibatkannya. Bobby di Washington bekerja di lumbung jerami. Setelah musim semai jerami usai, dia berencana bekerja di lumbung apel. Dia memiliki seorang kekasih dan menabung uangnya. Aku menulis surat dan membubuhkan, “Cinta Selamanya.”

 

SUATU sore Wes tengah di halaman menebar bibit ketika kendaraan Chef tiba di depan rumah. Aku sedang membersihkan sesuatu di bak cuci. Aku memperhatikan dan melihat mobil besar Chef masuk. Aku bisa melihat mobilnya, jalan masuk dan jalan kosong, dan, di belakang jalan kosong, segundukan pasir dan lautan. Awan menggantung di atas air. Chef keluar dari mobilnya dan menarik ke atas celananya. Aku tahu pasti ada sesuatu. Kami menghentikan apa yang dilakukannya dan bergegas. Dia memakai sarung tangan dan topi kanvasnya. Dia membuka topinya dan mengelap wajahnya dengan punggung tangan. Chef melangkah dan meletakan tangannya melingkupi bahu Wes. Wes melepas satu sarung tangannya. Aku menuju pintu. Aku mendengar Chef berkata pada Wes, Tuhan maha tahu, dia amat tidak enak hati, namun dia harus segera meminta kita agar meninggalkan rumah di akhir bulan. Wes membuka sarung tangan yang lainnya. Tapi kenapa, Chef? Chef berkata anaknya, Linda, perempuan yang Wes biasa panggil Linda Gendut di waktu-waktu dia mabuk, membutuhkan tempat untuk tinggal dan rumah ini tempatnya. Chef menceritai Wes bahwa suami Linda pergi mengendarai perahu ikannya melaut beberapa minggu ke belakang dan tak seorang pun mendengar kabarnya sejak itu. Dia adalah darah dagingku, kata Chef pada Wes. Dia kehilangan suaminya. Dia kehilangan ayah dari anaknya. Aku bisa menolongnya. Aku senang sedang dalam posisi bisa menolongnya, kata Chef. Aku sungguh menyesal, Wes, tapi kau harus segera mencari rumah lain. Kemudian Chef mendekap Wes lagi, mengangkat celananya, dan masuk ke mobil besarnya lalu pergi.

Wes masuk ke rumah. Dia menggeletakkan topi dan sarung tangannya di karpet dan duduk di sebuah kursi besar. Kursi milik Chef, yang kini gamblang bagiku. Karpet Chef, bahakan. Wes tampak pucat. Aku menyeduh dua cangkir kopi dan memberikan satu untuknya.

Tak mengapa, kataku. Wes, tak usah memusingkan hal ini, lanjutku. Aku duduk di sofa milik Chef dengan kopiku.

Linda Gendut akan tinggal di sini tak lama lagi mengusir kita, Wes berkata. Dia menggenggam cangkirnya, tapi dia tak meminum apapun di dalamnya.

Wes, jangan gugup, kataku.

Lakinya akan berlabuh di Ketchikan, kata Wes. Suami Linda Gendut telah direnggut dari mereka begitu saja. Dan siapa yang tega menyalahkannya? Ujar Wes. Wes melanjutkan jika kejadiannya akan seperti itu, dia sudah telah mendarat dengan perahunya, juga, daripada menghabiskan sisa hari-harinya dengan Linda Gendut dan anaknya. Kemudian Wes meletakkan cangkirnya di bawah bersebelahan dengan sarung tangannya. Rumah ini telah menjadi sebuah rumah bahagia hingga sekarang, lanjutnya.

Kita akan mendapatkan rumah lain, aku mengatakan.

Tidak yang seperti ini, kata Wes. Tak akan sama, bagaimanapun. Rumah ini adalah rumah yang nyaman bagi kita. Rumah ini memiliki kenangan bagus akan itu. Sekarang Linda Gendut dan anaknya akan menempatinya, lanjut Wes. Dia memungut cangkirnya dan menyeruput isinya.

Rumah ini milik Chef, kataku. Dia harus melakukan apa yang harus dilakukannya.

Aku tahu itu, ujar Wes. Namun bukan berarti aku harus menyukainya.

Wes menatap seperti itu untuk dia. Aku mengenal tatapannya itu. Dia terus saja menyentuh-nyentuh bibirnya menggunakan lidah. Dia terus saja menekan ibu jari ke baju di bagian bawah sabuknya. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan ke jendela. Dia berdiri memandang ke lautan dan awan, yang membentuk. Dia mengetuk-ngetuk dagunya dengan jemari seakan dia sedang memikirkan sesuatu. Dan dia memang memikirkan.

Ambil enteng, Wes, kataku.

Dia ingin aku untuk ambil enteng, ujar Wes. Dia tetap tugur di tempatnya.

Namun semenit kemudin dia mengampiriku dan duduk bersebelahan denganku di sofa. Dia menyilangkan satu kaki ke lainnya dan mulai berlaku konyol dengan kancing di kemejanya. Aku memegang tangannya. Aku membuka pembicaraan. Aku berbicara mengenai musim panas. Aku tiba-tiba menemukan diriku berbicara seperti ini persis seperti yang pernah terjadi di masa lalu. Bisa jadi bertahun-tahun yang lalu. Yang kuperkirakan, seperti suatu hal yang telah berakhir. Lalu aku membahas mengenai anak-anak. Wes berkata dia ingin agar dia melewati ini semua dan melakukannya dengan benar untuk kali ini.

Mereka mincintaimu, kataku.

Tidak, mereka tidak mencintaiku, jawabnya.

Aku melanjutkan, suatu hari, mereka akan memahami sesuatu.

Mungkin saja, jawab Wes. Namun semuanya akan sia-sia saja.

Kamu tak akan tahu, kataku.

Aku tahu beberapa hal, jawab Wes, yang kemudian menatapku. Aku tahu aku bahagia kau hadir di sini. Aku tak akan melupakan itu, lanjut Wes.

Aku merasa bahagia juga, jawabku. Aku bahagia kau menemukan rumah ini, lanjutku.

Wes mendengus. Kemudian dia tertawa. Kami berdua tertawa. Chef lah yang menemukan rumah ini, ucap Wes, dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia melontarkan candaan mesum mengenai kita berdua, yang jorok sekali. Namun aku bahagia kamu mengenakan cincinmu. Aku bahagia kita memiliki kebersamaan saat ini, ucap Wes.

Lalu aku mengatakan sesuatu. Aku berkata, barangkali, yaa barangkali, tak pernah ada yang terjadi. Barangkali semua ini terjadi untuk pertama kalinya. Hanya barangkali. Tak ada yang menyakitkan dalam berandai-andai. Katakan saja tak ada peristiwa lain yang pernah kita alami. Kamu mengerti apa yang kumaksud? Lalu apa? lanjutku.

Wes memaku tatapannya pada mataku. Dia berkata, lalu aku mengandaikan kita akan harus menjadi seseorang yang berbeda jika demikian. Seseorang yang bukan kita. Aku tak memiliki pengandaian seperti itu tersisa dalam diriku. Kita terlahir sebagaimana kita. Tidakkah kamu mengerti apa yang kukatakan?

Aku menjawab aku tak membuang hal baik dan datang sejauh enam ratus mil untuk mendengar dia berkata demikian.

Dia melanjutkan, maafkan aku, namun aku tak bisa berbicara sebagai seseorang yang bukan diriku. Aku bukan orang yang berbeda. Jika aku orang yang berbeda dari aku sebelumnya, aku yakin seyakin-yakinnya tak akan berada di tempat ini. Jika aku adalah orang yang berbeda, aku tak akan menjadi diriku. Tapi aku adalah aku seperti adanya. Bisakah kau mengerti?

Wes, tak perlu dipermasalahkan, jawabku. Kuletakkan tangannya di pipiku. Kemudian, entah bagaimana, aku mengingat seperti apa dia saat berumur sembilan belas tahun, bagaimana dia berlari melewati ladang ini menuju ke tempat di mana ayahnya duduk di sebuah traktor, tangannya diletakan di atas mata, memandang Wes yang menghampirinya. Kami baru sampai setelah perjalanan dari California. Aku membawa Cherly dan Bobby bersamaku dan mengatakan, itu kakek. Namun mereka masih sepasang bayi.

Wes duduk di sampingku mengetuk-ngetukan jari ke dagunya, seakan-akan dia sedang berusaha memahami apa yang selanjutnya terjadi. Bapak Wes meninggal dan kedua anak kami tumbuh membesar. Aku menatap Wes dan kemudian beralih memperhatikan sekeliling ruang tamu rumah Chef pada benda-benda milik Chef yang ada, dan aku pikir, kami harus segera memutuskan sesuatu dan melakukannya sesegera mungkin.

Sayang, kataku. Wes, dengarlah.

Apa yang kamu inginkan? katanya. Tapi dia tak melanjutkan perkataannya. Dia terlihat sedang mengembalikan pikirannya. Tetapi, saat sedang mengembalikan pikirannya, dia sama sekali tak terburu-buru. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa, melipat kedua tangan di pangkuannya, dan memejamkan mata. Dia tak mengatakan apapun lagi. Dia memang tak harus mengatakan sesuatu lagi.

Aku menggumamkan namanya pada diriku sendiri. Namun dia tak menghiraukanku. Dia hanya duduk di tempatnya dan menatap ke arah jendela. Linda Gendut, dia berkata. Tapi aku tahu bukan dia yang dimaksudkannya. Dia bukanlah siapa-siapa. Hanya sebuah nama. Wes beranjak dan menutup gorden dan lautan lenyap begitu saja. Aku pergi ke dalam menyiapkan makan malam. Kami masih punya beberapa ikan di kotak pendingin. Tak ada sesuatu lainnya. Kami akan membersihkannya malam ini, pikirku, dan itu akan menjadi akhir dari semua ini.

 

 

Catatan:

Diterjemahkan oleh Yagus Prasetyo dari kumpulan cerpen “Cathedral” (Vintage Books, 2015)

RAYMOND CARVER (25 Mei 1938 – 2 Agustus 1988) adalah seorang cerpenis dan penyair asal California, AS. Karya-karyanya banyak menginspirasi penulis pasca 90-an, yang mana bagi Stephen King, Carver merupakan sumber inspirasi terbesarnya. Karya-karya Carver ditulis dengan sederhana, dengan irama dan pemilihan kata yang sederhana. Tema-temanya bersinggungan dengan kondisi masyarakat rural yang dibayang-bayangi perubahan modernitas, urban, dan ragam efek bawaannya: kemiskinan, hutang, candu, dan permasalahan seputar alkohol-rehab-alkohol. Seketika pembaca menyerapnya, ada semacam makna yang luar biasa dalam. Ibarat analogi gunung es, itulah karya-karya Carver.

___

Ilustrasi: Lana Syahbani

 

Penerjemah partikelir | Bergiat di komunitas Anak Semua Bangsa | prasetyodamnagus@gmail.com

No Comments

Post A Comment