Loader

Rumah Lentera Rayakan Ulang Tahun yang Ke-2

Apa perbedaan antara makna dari kosakata home dan house? Bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia, kedua kosakata itu memiliki arti yang sama, yakni rumah. Tetapi memiliki makna yang tentu berbeda.

House memiliki arti sebuah bangunan fisik berbentuk rumah, atau bangunan sejenisnya yang berfungsi sebagai tempat tinggal. Tempat tinggal tersebut biasanya terdiri dari ruang tamu, ruang makan, dapur dan kamar mandi. Sedangkan home merujuk kepada suatu keadaan ataupun perasaan aman, senang, nyaman, damai dan tentram yang menggambarkan tempat tinggal.

Dengan kata lain, kata home menyiratkan perasaan kita akan suasana rumah. Kita dapat tidur dengan pulas, menyantap makanan, belajar, bermain, bisa berkumpul, bercanda bercengkrama bersama ayah, ibu, kakak dan adik. Sebuah perasaan yang menggambarkan betapa bahagianya tinggal di rumah, bagaimanapun penampakan fisik dari rumah itu, baik rumah yang tidak besar dan mewah, atau mungkin hanya sebuah gubuk.

Pada 13 Oktober 2018 kemarin, komunitas pendidikan anak alternatif Rumah Lentera merayakan hari ulang tahunnya yang kedua. Di ulang tahunnya yang kedua itu juga, mereka merayakan dan mempertahankan nilai dari makna “home,” mempraktikkannya sesuai dengan kondisi objektif di lingkungan.

Sejak sore hari, di bawah guyuran hujan deras, panitia acara harlah dan kawan-lawan lainnya menyiapkan kebutuhan logistik dan non-logistik untuk menunjang keberlangsungan acara. Lahan kosong di depan Gang Sugema, Kampung Cipagalo, Buah Batu, dirias sangat cantik dengan ornamen kertas lipat warna-warni serta memanfaatkan gundukan tanah sebagai podium panggung yang disulap dengan tata panggung yang unik.

Tak hanya itu, pameran karya seperti lukisan, anyaman kertas dari anak-anak Rumah Lentera terpajang rapi di dekat stand-stand bazar warga dan stand pemeriksaan kesehatan gratis. Tembok-tembok berwarna hijau di sekitar rumah warga yang dijadikan sebagai medium kreatif pun dilukis mural memakai cat warna putih oleh kawan-kawan dengan gambar anak-anak sedang berlari.

Perayaan harlah kedua Rumah Lentera yang bertajuk “Jangan Berhenti, Teruslah Meraih Mimpi” mungkin dapat dibilang sederhana. Namun suasana terasa hangat, karena momen ini dijadikan ajang silaturahmi antar komunitas pendidikan anak alternatif dan lainnya. Di tengah acara, berlangsung pemutaran film Rumah Lentera yang berdurasi sekitar kurang lebih dua puluh menit. Film ini menceritakan sedikit perjalanan Rumah Lentera, awal mereka berdiri dan bagaimana kondisi sosial di lingkungannya.

Dari pukul 19.00 WIB hingga hampir tengah malam, satu per satu anak-anak mementaskan kebolehannya. Dari mulai Rumah Lentera, Rumah Bintang, Ruang Mimpi, Ruang Baca Linggasarakan, dan Lingkar Angsokan. Ada yang bernyanyi, menari, dan beradu akting dalam pentas kabaret.

 

***

Kehadiran Komunitas Rumah Lentera di lingkungan Gang Sugema, kampung Cipagalo, Buah Batu, mendapat respon baik dari warga sekitar.

Salah satunya Teti, ibu rumah tangga yang memiliki tiga orang anak. Teti mengaku senang dengan kehadiran komunitas Rumah Lentera, karena ia merasa anak-anaknya mendapat bimbingan yang lebih baik dan dapat dipercaya, daripada ia khawatir karena anak-anak bermain tanpa pengawasan.

Ketiga anaknya, Cici, Putra dan Zakiyah mengikuti berbagai kegiatan di Rumah Lentera. Mereka nampak sangat antusias merayakan harlah kedua Rumah Lentera. Zakiyah, putri bungsu Teti yang berusia tiga tahun, tak berhenti merengek. Si bungsu rupanya ingin cepat-cepat tampil kabaret bersama kawan lainnya dari Rumah Lentera.

Sambil menitipkan dagangan bakso ikan kepada tetangganya, Teti bercerita soal banyaknya perubahan positif yang ia lihat dari anaknya setelah mengikuti berbagai kegiatan bersama Rumah Lentera.

“Anak saya jadi gak takut ngobrol sama orang baru. Kiya (Zakiyah) juga suka joged-joged, seneng ikut kegiatan (di Rumah Lentera),” ujar Teti.

Tak dipungkiri olehnya, memang ada pihak yang mendukung dan tidak mendukung keberadaan Rumah Lentera. Tapi, kebahagiaan buah hatinya adalah hal utama. Modal sosial berupa saling percaya dengan tetangga membuatnya tak begitu khawatir akan kegiatan Cici, Putra, dan Zakiyah.

Pendidikan alternatif untuk anak

Komunitas Rumah Lentera resmi berdiri pada 10 Oktober 2016. Sejak itulah Rumah Lentera mulai menempati bangunan bekas pos kamling di Gang Sugema, Kampung Cipagalo, Buah Batu; walau sebelumnya mereka sudah melapak buku dan berkegiatan di rumah Prima.

Prima Arief Febriyanto, Penggiat Komunitas anak Rumah Lentera, becerita mengenai latar belakang berdirinya Rumah Lentera. Prima melihat keresahan akan kondisi objektif di lingkungan sekitar rumahnya. Anak-anak tak lagi mendapatkan hak bermain yang aman dan nyaman serta hak mendapatkan pendidikan yang memerdekakan. Selain tempat bermain dan belajar, berdirinya Rumah Lentera pun merupakan bentuk kritis terhadap dunia pendidikan sekarang yang dirasa tidak memerdekakan bagi manusia, khususnya anak-anak.

Ia mengilustrasikan bagaimana dunia pendidikan tidak memerdekakan manusia sebagai individu yang bebas.

“Misalnya dalam satu kelas anak-anak dipaksa mendapat kurikulum yang sama. Padahal, kita sama-sama tahu bahwa setiap manusia memiliki kecerdasan [bawaan] yang berbeda-beda. Sedangkan di sekolah formal, semua disama-ratakan,” jelas Prima ketika ditemui di lokasi harlah pada hari yang sama.

Paulo Freire dalam Pendidikan Kaum Tertindas (2016) menganalogikan pendidikan formal yang ada hari ini sebagai kegiatan menabung: para murid adalah celengan dan guru adalah penabungnya. Yang terjadi bukanlah proses komunikasi timbal balik, melainkan guru menyampaikan pernyataan-pernyataan dan “mengisi tabungan” yang diterima, dihafal dan diulangi dengan patuh oleh para murid. Inilah konsep pendidikan gaya bank, saat ruang gerak yang disediakan bagi para murid hanya terbatas pada menerima, mencatat dan menyimpan.

Memang, model pembelajaran seperti ini disebabkan pendidikan formal digunakan sebagai alat untuk memproduksi tenaga kerja, bukan untuk mencerdaskan manusia dan membuat mereka bisa mengaktualisasi dirinya. Pendidikan juga dipandang sebagai suatu komoditas yang diperjual-belikan, bukan sebagai suatu hal fundamental yang berhak diakses semua orang.

“Padahal tanpa usaha mencari, tanpa praksis, manusia tidak akan menjadi benar-benar manusiawi,” tulis Freire dalam bukunya.

Prima juga melihat bahwa kondisi material yang ada hari ini telah membentuk karakter yang berbeda pada anak-anak. Anak-anak hari ini belajar berbagai hal lewat internet dan televisi. Namun dengan mudahnya akses informasi ini, ada berbagai hal positif dan negatif yang ditimbulkan.

Tidak hanya media yang dikonsumsi, kondisi pembangunan yang kian masif pun berdampak terhadap mereka. Ruang-ruang publik yang bisa mereka gunakan untuk berkumpul dan bermain semakin berkurang, disingkirkan oleh ruang-ruang komersil, direbut lewat penggusuran dan perampasan lahan.

“Semua [perubahan karakter itu] salah satunya dampak dari ketidakpunyaan pilihan si anak untuk bermain dengan aman dan nyaman sesuai porsi anak,” tutur Prima. Karena semua alasan inilah, Prima merasa menciptakan ruang pendidikan alternatif untuk anak sebagai sesuatu yang harus dilakukan.

***

Sembari beristirahat seusai harlah, Prima menceritakan kegiatan Rumah Lentera beserta suka-dukanya selama dua tahun ini. Ia dibantu dengan kawan-kawan lainnya membuat kegiatan bersama seperti kelas seni rupa, kelas seni tari, kelas seni musik-teater atau kelas kondisional. Biasanya kelas kondisional diadakan bila ada keperluan tertentu saja. Misal, saat anak-anak ingin mendaki gunung, mereka membuat kelas pengenalan hewan reptil supaya anak-anak mengenal jenis reptil dan meminimalisir kecelakaan.

Selama Rumah Lentera berkegiatan pada dua tahun ini, kondisi sosial di sekitar Rumah Lentera cukup baik—dari hubungan antar orangtua dan anak hingga keakraban warga. Sayang, tak semuanya selalu berjalan mulus. Ada pula beberapa konflik yang muncul dari permasalahan pribadi, menurut Prima.

Perdebatan alot, misalnya, selalu muncul menjelang perayaan kemerdekaan Indonesia, antara Rumah Lentera dan anggota karang taruna Gang Sugema, Kampung Cipagalo, Buah Batu. Para pemuda lokal yang tergabung dalam karang taruna tersebut kerap mengamen sebagai cara untuk mengumpulkan uang, namun pengurus yang tergabung dalam Rumah Lentara merasa kurang cocok dengan hal ini dan berupaya mengkritik mereka.

“Aku kurang setuju (dengan mengamen), soalnya gak sesuai sama prinsip kemandirian Rumah Lentera,” ujar Prima.

Kesulitan lain yang dihadapi Rumah Lentera berkaitan dengan anak-anak yang mereka bina. Prima mengakui, memang sulit untuk selalu mempertahankan suasana hati anak-anak yang mereka bina agar tetap semangat. Mereka harus terus mencari metode baru untuk mengemas proses belajar, dengan cara bermain games atau apapun yang tidak membosankan.

Rumah Lentera juga kadang memiliki hambatan di bagian logistik; mereka tidak punya alat musik untuk menunjang kegiatan mereka. Namun kadang anak-anak yang mereka bina sendirilah yang memulai inisiatif untuk membuat kegiatan. Prima sangat senang ketika hal ini terjadi. Walau tak jarang juga mereka akhirnya berulah dan membuat para pengurus Rumah Lentera kerepotan.

Terlepas dari kesulitan dan masalah-masalah tersebut, Prima tak bisa memungkiri banyaknya suka-duka yang dirasakan selama dua tahun ini. Ia memiliki harapan yang besar kepada anak-anak yang belajar bersamanya. Salah satunya, Prima ingin mereka pada akhirnya dapat memiliki kesadaran penuh terhadap diri sendiri.

“(Sadar bahwa) anak-anak bisa bebas menjadi apa pun yang mereka mau. Bila ingin menjadi seniman, jadilah seniman yang baik,” katanya. “Menjadi pengusaha, jadilah pengusaha yang baik. Apapun yang terbaik untuk mereka…”

***

Selamat ulang tahun yang kedua Rumah Lentera. Mengutip tulisan yang dipasang di hari ulang tahunnya, di atas sebuah spanduk dengan cat warna-warni: “Terbanglah melayang menembus rasi bintang, lalu tajam menukik menebas sistem pelik. Berlarilah lebih kencang merebut mimpi yang hilang, lalu bergembira meski tanpa dihujani pahala…”

___

Catatan:

  • Freire, Paulo. 2008. Pendidikan Kaum Tertindas (terj. Pedagogy of the Opressed, Paulo Freire), Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia.

___

Dokumentasi: Militansi, Rinaldi Fitra Riandi

 

No Comments

Post A Comment