Metaruang | Rusdi Mathari
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16820
post-template-default,single,single-post,postid-16820,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Rusdi Mathari

Rusdi Mathari adalah buruh warta yang gigih. Catatan investigatifnya bisa sama persisten dengan kehendak eksistensial Rusdi sebagai individu. Karirnya terbentang sejak 1990-an: mencatat peristiwa penting krisis ekonomi yang memukul mundur Cendana dan kroni. Berada di balik kemudi pasang-surutnya lajur jurnalisme cetak di 2000-an.

Tapi, jurnalisme yang berurat-akar dalam tubuhnya itu, bukan lahir dari suatu pilihan dalam situasi yang sifatnya moderat. Ibarat memilih kolom jurusan akademik di satu perguruan tinggi: terdapat jurusan A, B, dan C. Untuknya, memang tak ada pilihan. Hidup tak menyediakannya untuk saat itu. Jurnalisme Rusdi, justru lahir sebagai putusan eksistensial.

Di Tirto, Nuran Wibisono menulis:

“Rusdi lalu minggat dari kampus dan merantau ke Jakarta. Ia memutuskan jadi wartawan yang memegang teguh prinsip. Ia pantang menulis berita bohong dan terburu-buru, seperti wartawan yang ia gebuk.”

Wartawan yang digebuknya tersungkur ke selokan. Sang wartawan telah dengan leluasa menjuduli sepenggal malam dalam hidup Rusdi muda, sebagai segerombolan mahasiswa yang berpesta narkoba dan pesta seks. Rusdi muda membalasnya dan menunjukkan pada kita dengan jalannya yang tak lazim. Namun, keunikan inilah yang membuat Rusdi Mathari sebagai Rusdi Mathari, bukan yang lain.

Kegigihannya dibuktikan di tahun-tahun ia bekerja sebagai redaktur pelaksana Koran Jakarta (2009-2010). Tak hanya memberi perintah kepada para reporter, Rusdi mengorganisir para kuli tinta di sana. Ia mengadakan aksi protes atas pemecatan sewenang-wenang dua jurnalis Koran Jakarta. Protesnya ini berlanjut pada aksi mogok oleh sejumlah wartawan Koran Jakarta. Satu edisi Minggu koran tersebut akhirnya terbit seadanya, alias tak layak disebut sebagai koran akhir pekan.

Negosiasi ia lancarkan. Tuntutannya, antara lain, berupa pemenuhan kartu asuransi kesehatan. Perbaikan formulir penilaian untuk para wartawan, yang sebelumnya mirip formulir penilaian buruh pabrik yang hanya menyinggung soal absent dan hubungan antarkaryawan. Rusdi juga menyoroti keputusan sepihak manajemen yang hanya membatasi uang kesehatan untuk anggota keluarga karyawan menjadi hanya 70 persen setelah hak uang kesehatan setiap karyawan dibatasi sebesar Rp 1 juta per tahun.

Dalam catatan yang ditulis pada Maret 2010, tuntutan atas hak-hak yang diingkari manajemen itu pun mencakup kenaikan gaji reporter, seluruhnya. Memberi lebih, atau menyesuaikan dengan standar AJI (Aliansi Jurnalis Independen) yang pada saat itu sebesar 4,5 juta. Manajemen memberi janji kenaikan bertahap, tapi hanya pepesan kosong.

Tuntuan kedua, Rusdi meminta perbaikan rapat redaksi agar dapat dilakukan pagi hari seperti masa-masa awal Koran Jakarta terbentuk. Rusdi pun meminta agar diadakan semacam sistem keredaksian yang memadai, yang memungkinkan kontrol arus berita dan penilaian yang tepat atas setiap wartawan. Keempat, Rusdi meminta agar diadakannya rapat opini (perspektif) setiap hari yang diikuti oleh asisten redaksi pelaksana ke atas.

Yang terpenuhi hanya poin kedua soal rapat pagi. Sisanya, yang ia rumuskan bersama teman-teman serikat jurnalisnya, tidak dipenuhi. Kronisnya penyakit dalam Koran Jakarta dicatat Rusdi di bulan yang sama, “Sebagian  redaktur dan asisten redaktur di KJ memang tidak layak dengan jabatannya… Bukan saja mereka tidak becus menulis, tapi juga tidak bisa memberikan petunjuk jelas kepada para reporternya dan sebaliknya malah hanya memberikan perintah-perintah,” papar Rusdi, bertitimangsa 15 Maret 2010.

Tubuh manajemen Koran Jakarta saat itu sedang sakit. Serangkaian intrik politik berlangsung di meja keredaksian. Rusdi ada di sana, dengan upaya menyembuhkan, dan membuat teman-teman jurnalis mendapati hak-haknya sebagai pekerja. Tapi Rusdi dipecat, lebih tepatnya, ditendang setelah dikriminalkan. Dan ibarat seorang kriminal, ia dicatat aktivitasnya, dan dilarang memasuki kantornya sendiri. Perusahaan menghadiahinya tuduhan penggelapan laptop inventaris, dan provokator aksi mogok.

Persoalan ketenagakerjaan yang mulai merembet ke ranah pidana itu pun disikapi oleh AJI—organisasi tempat Rusdi bernaung—dengan menggelar aksi demonstrasi di depan Polres Jakarta Pusat pada 11 Oktober 2011. Mereka menilai Koran Jakarta telah melakukan kriminalisasi terhadap jurnalis.

Atas watak dan kehendaknya itulah, dunia jurnalistik yang diemban Rusdi penuh gelora dalam aras eksistensialnya. Membuat dunia catat-mencatat itu menjadi benar dan berpihak. Tapi di saat yang sama, Rusdi Mathari pun tak lebih dari sekedar buruh yang berjuang demi sistem kerja yang manusiawi. Rusdi tak terjebak ke dalam paradoks eksistensial. Ia tak seperti sesosok individu yang selalu merasa selesai dengan pelbagai kelokan di jalan hidup, untuk tampil dan merasa jumawa.

Pada 1999, Rusdi Mathari terpilih sebagai salah satu wartawan investigatif terbaik versi ISAI. Dirinya diterbangkan ke Bangkok untuk mengikuti program penulisan jurnalistik tentang HAM. Dan ia tahu bagaimana mengaktualisasikannya, memompanya sebagai tinta pena, dan menggelontorkannya ke dalam praksis.

Dalam Aleppo, yang diterbitkan di tahun yang sama (2016) dengan Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya, Rusdi Mathari tampak sebagai sesosok ayah yang gemar mendongeng. Namun, bukan dongeng sebagaimana melelapkan, tipikal dongeng sebelum tidur. Aleppo adalah jurnal yang mengajak, sedangkan Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya, adalah ajakan yang memprovokasi dengan pertanyaan-pertanyaannya akan hal yang kukuh diyakini tanpa disertai akal sehat, dan kehendak hidup yang total.

Karenanya, totalitas adalah nama panjang Rusdi Mathari. Seorang eksistensialis pantang melakukan apapun dengan gelora yang setengah-setengah. Pantang menghidupi hidup dengan penyesalan harian. Barangkali, dengan batas-batas tertentu, Rusdi Mathari boleh jadi Zarathustra yang dibalut baju koko dan kopiah. Sang organisator yang turun gunung. Melantai dan bersolidaritas untuk teman-teman jurnalis. Sang perawi kata, yang rajin meremukkan karya tulis yang tak efisien dan urung total dalam kepenulisan.

Tak heran jika Cak Rusdi, begitu ia akrab disapa, yang juga seorang penggemar glam rock itu, rajin mewartakan suasana benak dan hatinya seturut imajinasinya melanglang. Gagasannya diramu, diolah, dimampatkan ke dalam kalimat-kalimat yang inspiratif, hampir setiap pagi, di dinding facebook. Legasinya itu menjadi catatan utuh kemudian. Seperti misal antologi Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya.

Diam-diam, ia memang membuka hatinya dengan sungguh-sungguh. Agar semua orang dapat membacanya, belajar darinya, dari blunder dan kemenangan-kemenangan kecilnya. Saya kutipkan penggalan lirik Home Sweet Home dari Motley Crue, salah satu grup band favorit beliau, sebagai marka. Tentang sang maestro Rusdi yang mereguk hidup sejak 2 Oktober 1967 (Situbondo), tentang kepulangan abadinya, pada 2 Maret 2018 di Jakarta. Selamat jalan, maestro…

My heart’s like an open book

For the whole world to read

Sometimes nothing keeps me together

At the seams.

I’m on my way

I’m on my way

Home sweet home

 

F. Ilham Satrio

F. Ilham Satrio (Juni, 1989) | buruh pabrik onderdil

No Comments

Post A Comment