Loader

Saksi Batu

SEANDAINYA boleh memilih, saya tidak mau menjadi batu, sebab batu tak diperbolehkan berbuat apapun. Kata teman batu saya, barangkali Tuhan punya rencana lain. Katanya, “bayangkan saja kalau kamu lunak dan bisa bicara. Tak akan ada julukan otak batu, kepala batu, atau pun kencing batu”. Teman batu saya yang satunya lagi ikut menambahkan, “diamnya batu itu adalah sebuah kebijaksaaan.”

Saya tak setuju dengan mereka, sebagai batu saya berusaha sebaik-baiknya untuk selalu memerhatikan manusia. Saya tak bisa diam dan mengeras begitu saja melihat manusia menggunakan batu seenaknya. Sebagai batu saya harus punya sikap, yang mana yang harus saya bela dan yang mana yang tidak. Teman-teman batu saya yang sableng itu tak mengerti politik batu sepertinya. Maka dari itu, saudara manusia yang budiman, jika saya diizinkan berbicara, kesaksian ini yang akan saya berikan. Saudara tinggal diam dan mengeras saja. Tak akan lama.

Sekian abad yang lalu, sejak saudara-saudara masih entah di mana, gunung yang bernama Gunung Sunda Purba meletus, letusannya begitu dahsyat. Saudara tahu letusan gunung ‘kan? Pertama, ibu saya bergemuruh seperti kelaparan, kemudian memuntahkan cairan merah yang panas, lalu batu-batu beterbangan seperti laron. Letusan itu meninggalkan lubang yang menganga, kemudian oleh saudara yang katanya mengerti perbatuan diberi nama Kaldera Sunda. Ah, saya tak peduli apa itu Kaldera, bebaslah saudara mau menyebutnya apa. Hal terpenting bagi saya bahwa letusan itu telah melahirkan saya ke permukaan bumi, dan memberikan sebuah kehidupan yang lebih benderang. Saya bisa melihat matahari, saya bisa melihat bulan dan bintang, dan terutama saya bisa merasakan angin segar. Saudara tahu?  Di perut ibu saya sangat panas dan gerah.

Saya sebal, lagi-lagi saudara menyebut saya dengan nama yang lain, Gunung Tangkuban Perahu. Huh, bukan berarti saya mirip perahu yang terbalik lantas saya diberi nama Tangkuban Perahu. Saya tetaplah batu sebagaimana perahu adalah perahu. Tapi tak apalah, itu urusan saudara. Sekarang tubuh kasar saya setiap hari bisa dielus matahari, dan itu cukup untuk menutupi kesebalan saya terhadap saudara.

Elusan matahari itu begitu enaknya sampai saya tak mendengar bahwa ibu sedang marah-marah di dalam sana. Hingga suatu waktu kemarahan ibu membludak, tahu-tahu saya sudah diusir dan dilemparnya ke angkasa. Tubuh saya terpecah belah menjadi bagian-bagian kecil, berhamburan begitu jauhnya, mungkin ke seantero Tatar Sunda. Saya tak tahu bagian tubuh saya berceceran ke mana, yang saya tahu saya mendarat di sebuah sungai yang cukup besar. Saudara sekarang memanggil sungai itu dengan nama sungai Cikapundung.

Saya terus saja mendekam dalam air, beratus-ratus tahun lamanya. Dari air yang mengalir jernih, sampai air keruh seperti yang saudara tahu sekarang. Badan saya yang besar terkikis oleh air sampai sebesar kepalan tangan.

Suatu waktu ada seorang manusia dengan karung dipunggungnya menyelematkan saya dari kikisan air. Manusia itu mengambil dan memasukkan saya ke dalam karung. Apa maksudnya? Saya tak tahu. Hingga di suatu jalan manusia itu melihat karungnya dan berkata, “aku kira emas, sialan.” Kemudian laki-laki tua itu membuang saya begitu saja di jalanan. Manusia sebangsa saudara yang satu ini agaknya tak bisa membedakan yang mana warna kuning dan yang mana warna abu. Lagi pula mana ada emas sebesar saya? Kalau pun ada saudara tahulah siapa yang punya.

Saya ini batu yang terasing, saudara harus tahu itu. Saudara-saudara saya yang warna hitam, warna putih bening, warna kuning, semuanya dielu-elukan oleh manusia. Sementara saya, ya seperti ini, berakhir di jalanan.

Cukup lama saya terbujur di jalanan, hingga segerembol anak kecil menemukan saya dan membuat saya jadi bola gelinding untuk menghancurkan serpihan genteng kecil yang bertumpuk. Saya terus digelindingkan, terus menerus sampai serpihan genteng yang menjadi lawan saya berceceran. Anak-anak kemudian berlari belingsatan. Mereka berkata, “Ayo sembunyi, ayo sembunyi. Sebelum dia merapihkan kembali gentengnya”. Saya mulai mengerti, ternyata tumpukan genteng yang dihancurkan oleh saya dibuat menjadi semacam lama waktu untuk mereka lari dan sembunyi. Saya dibuat jadi permainan. Ah, alangkah senangnya saya ketika melihat anak-anak manusia tertawa bahagia.

Saya dilempar, kali ini keterlaluan melesetnya. Saya meleset jauh, kemudian menggelinding ke tengah jalan. Ada sebuah motor yang melaju cepat menghantam saya, bannya tergelincir. Manusia yang menaiki motor itu terpental jauh, melayang, kemudian mendarat dengan kepala lebih dulu menghantam aspal. Kepalanya songklak, cairan kental keluar dari kepalanya. Manusia itu tak bergerak lagi. Mati. Saya pun ikut menggelinding cukup jauh, dihantam lagi oleh mobil, menggelinding lagi, terus begitu sampai saya berakhir di sebuah jalan di mana saudara menyebut daerah itu Saritem. Saudara pasti tahu, sebab salah satu dari saudara pasti pernah ke sana. Sekedar berkunjung atau pun menikmati sajian yang ada.

Kejadian itu terus membayangi saya, seolah saya yang bersalah. Orang-orang yang lewat dihadapan saya terus membicarakan bahwa sayalah pembunuhnya. Saya ingin berbicara, tapi apalah arti sebuah batu yang tak bisa memberikan sebuah pembenaran.

Matahari tergelincir ke balik bangunan rumah-rumah yang berjajar. Hari berubah gelap seakan keceriaan anak-anak sebelumnya dalam kepala batu saya telah direnggut oleh kejadian kecelakaan itu.

Tak lama, seorang perempuan dengan bedak tebal dan gincu merah dibibirnya keluar dari sebuah gang. Saya pikir, sejak ribuan tahun saya hidup, tak pernah sekali pun saya melihat perempuan secantik itu. Saya tak tahu apakah selera cantik saudara dan saya sama atau tidak. Yang saya ingat dalam kepala batu saya, asal mukanya tak keropos seperti muka batu-batu pada umumnya, itulah yang dianggap cantik oleh batu.

Sepanjang malam saya terus memandanginya, lupa oleh kejadian kecelakaan sebelumnya. Perempuan itu duduk di sebuah bangku di bawah pohon di pinggir jalan. Tersenyum sambil melambaikan tangannya pada kendaraan yang lalu lalang di depannya. Datang sebuah mobil menepi di depan perempuan itu. Dari dalam mobil itu keluar dua orang laki-laki berbadan besar, jalannya sempoyongan. Saya tak tahu nama mereka. Untuk memudahkan kesaksian, saya sebut dua laki-laki yang berbadan besar dan kekar itu si Besar Satu dan si Besar Dua. Perempuan itu saya sebut si Cantik. Saudara setuju kan? Sudahlah setuju saja. Baik, saya lanjutkan. Mereka mendekati perempuan itu.

“Hallo manis,” kata si Besar Satu.

“Berapa nih?” Kata si Besar Dua.

“Dua ratus, Bang.” Jawab si Cantik.

“Mahal banget, Neng. Udahlah gratis aja. Sama-sama enak ‘kan?” Cetus si Besar Satu.

“Enak aja, emangnya ini memek milik negara?” Teriak si Cantik tersinggung.

“Wah berani nih jobong!” Celetuk si Besar Dua.

“Emang situ siapa? Enak aja pengen gratisan. Sekelas preman kelas kakap, sampe pejabat gedongan aja bayar, Bang. Cuman laki saya yang saya kasih gratis.” Sambil menunjuk-nunjuk muka si Besar Satu dan Dua.

Si Besar Satu dan Dua saling bertatapan, mereka mengangguk seolah tahu siasat apa yang akan dilakukan untuk menaklukan lawannya. Si Besar Satu, laki-laki yang tubuhnya paling besar kemudian memegang badan si Cantik dari belakang. Si Besar Dua menamparnya di pipi, lalu memukulnya tepat kena hidung, bocor. Satu tendangan lutut menyusul, kena ulu hatinya, memaksa si Cantik membungkukkan badannya. Si Besar Satu yang bertugas menyekap si Cantik kemudian menempelkan tubuh si Cantik ke kap mobil. Roknya dirobek, selangkangannya dipaksa dibuka, kemudian bergiliran mereka memperkosanya.  Tak selesai di situ. Setelah diperkosa, si Cantik dipukuli lagi hingga tersungkur ke tanah, lalu diludahi. Sesudah mendapat kenikmatan purba, kedua laki-laki itu pergi.

Saya ingin menolongnya. Sekuat otot batu, saya mencoba menggerakan tubuh batu saya. Tak seinci pun tubuh saya bergerak. Saudara tahu saya telah dikutuk untuk diam. Hmm, menjadi batu memang sialan. Tapi saya berjanji, saya akan membalaskan pelecahan ini. Ini tak bisa dibiarkan, saya tak bisa diam saja, manusia macam begitu harus dilenyapkan. Saudara setuju kan? Caranya saya tak tahu. Entahlah, saya akan memikirkannya dulu.

Datang seorang laki-laki bertubuh kurus dan kecil berlari dari sebuah gang sempit yang gelap. Laki-laki ini saya sebut si Cunkring. Si Cungkring kemudian menggendong perempuan itu masuk ke dalam gang. Saya tak tahu siapa, semoga saja si Cungkring bisa mengobatinya. Esoknya, si Cantik dan si Cungkring itu kembali, saya melihat si Cungkring membawa sebuah golok.

Tiap malam si Cantik dan si Cungkring itu duduk di sebuah bangku di bawah pohon rindang hingga kesempatan yang mereka tunggu-tunggu itu datang. Sebuah mobil melaju pelan, mobil yang sama yang dipakai dua laki-laki yang memukuli dan memperkosa si Cantik. Si Cungkring kemudian lari ke tengah jalan, mengacungkan goloknya. Si Besar Satu dan si Besar Dua keluar dari mobilnya. Perkelahian pun dimulai.

Si Cungkring dengan goloknya tak sebanding dengan si Besar Satu dan Dua. Sabetan golok pertama si Cungkring berhasil ditangkis, dengan gaya silat pitung si Besar Satu memukul si Cungkring, kena matanya. Si Cungkring sempoyongan, kemudian sebuah pukulan susulan menyodok dagunya. Si Cungkring tumbang. Si Besar Satu dan Dua kemudian mengerumuni si Cungkring, mereka menendangnya terus menerus.

Selanjutnya saudara tahu? Saya diambil oleh si Cantik. Dengan tangan bergetar, si Cantik menggenggam tubuh saya. Si Cantik kemudian berlari ke arena perkelahian, dari belakang si Cantik menghantamkan tubuh saya ke kepala si Besar Satu. Darah muncrat dari kepalanya, satu tumbang. Si Besar Dua menoleh, dihantamnya si Cantik. Si Cantik tersungkur, dan saya pun ikut terpental.

Muka si Besar Dua mendidih. Si Besar Dua mendekati si Cantik dan kemudian menendang perutnya. Saya diambil lagi oleh si Cungkring. Berlarilah si Cungkring ke arah si Besar Dua, kemudian diayunkannya tubuh saya dengan sekuat tenaga, kena tengkuk si Besar Dua. Tak cukup di situ, si Cungkring nampaknya kurang puas. Tubuh saya diayunkan lagi, berkali-kali mendarat di kepala si Besar Dua, sampai kepalanya remuk. Setelah itu si Cantik dan si Cungkring berjalan gontai masuk ke gang yang gelap itu. Saya tetap mematung di tempat, dengan darah berlumuran di sekujur tubuh.

Berhari-hari saya diam di tempat itu, sampai gerombolan pemuda dengan baju putih abu datang. Salah satu dari gerombolan itu membawa saya dan memasukkan saya ke dalam tasnya. Saya dibawa pergi. Ah, saya tak bisa melihat si Cantik lagi. Saya tak tahu akan dibawa ke mana. Pemuda itu terus berjalan dan berhenti di suatu tempat. Saya diambil kemudian dilempar begitu saja menuju arah gerombolan lain di sebrang jalan. Lalu diambil lagi, dilempar lagi, terus diambil dan dilempar ke sana kemari, seperti bola pimpong. Terakhir saya dilempar begitu jauh melewati target sasaran, dan terbujur di tempat sekarang ini.

Saudara saya yang budiman. Saya memang batu, tapi bukan berarti saya tak bisa melakukan apa pun. Meskipun saya tak memiliki telinga dan mata seperti saudara, saya tetap bisa melihat dan mendengar. Walaupun saya tak mempunyai kaki dan tangan seperti saudara, saya bisa bergerak dengan cara saya sendiri.

Sekarang saya berada tepat di depan sebuah gedung. Saudara sering memanggilnya gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Entah apalagi yang akan saya lihat dan dengar. Mungkin saudara bisa menebaknya. Mungkin saudara…

 

Bandung-Cianjur, 2017

___

Ilustrasi: F. Ilham Satrio

 

No Comments

Post A Comment