Metaruang | Sarana: The Art of Noise
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
45
post-template-default,single,single-post,postid-45,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Sarana: The Art of Noise

 

Pernahkah kau merasakan sebuah kesepian abisal—yang justru bermula dari rahim kebisingan—saat momen tertentu? Bentuk kesepian yang datang bukan dari perasaan gemalau atau melankoli. Juga bukan dari lamunan-lamunan paling murung layaknya seorang pujangga romantik. Melainkan kesepian ini pertama kali masuk mengetuk tragus telinga, saat kondisi di sekitarmu benar-benar kaotis. Hingga kesepian itu perlahan merambat ke dalamnya. Setelahnya, kesepian itu luruh menuju sanubari. Kesepian yang hadir dari kebisingan itu dinamakan gejala kenopsia.

Kesepian atau gejala kenopsia semacam inilah yang kemudian muncul setelah mendengarkan Heal EP. Mini album ini lahir dari trio noise asal Samarinda, SARANA. SARANA resmi dibentuk pada 14 Mei 2015. Diawaki oleh para wanita jelita nan perlente yaitu Anni(sa) Maharani, Istana(ra) Julia Saputri dan Sabri(na) Eka Felisiana. Dimana suku kata terakhir dari nama awal mereka kemudian dijadikan nama unit musik yang mereka garap. Heal EP lahir pada Mei 2016 dalam format cakram padat dan kemudian dirilis kasetnya oleh D’Kolektif selang tiga hari dari malam Nuzulul Qur’an, atau tepatnya pada tanggal 24 Juni 2016. Mini album yang menjadi perkenalan awal karya mereka pada khalayak. Sekaligus menjadi arombai kecil yang mengantarkan pula sajian noise yang tak melulu gulita, pada setiap telinga yang mendengarkannya.

***

“Hari ini kebisingan duduk memerintah lebih tinggi melampaui kepekaan manusia. Selama beberapa abad, kehidupan berlanjut dalam keheningan, atau dalam kebisuan. Suara-suara paling bising itu tidak melulu intens, atau berkepanjangan bahkan bervariasi. Faktanya, alam ini lazimnya diam, kecuali petir, taifun, longsor, air terjun dan beberapa pengecualian gerakan-gerakan telurik. Inilah sebabnya mengapa manusia secara menyeluruh kagum oleh suara pertama yang terdengar kala memperoleh dirinya keluar dari lubang di alang-alang atau senar yang membentang.” —Luigi Russolo, The Art of Noise.

Luigi Russolo adalah seorang pelukis, komposer sekaligus seorang futuris kelahiran Portogruaro, Italia. Pernyataan Russolo dalam manifestonya itu tak ayal bukan sebuah kelakar mentah yang dituliskannya secara sembarang. Russolo sendiri menyatakan bahwa revolusi industri telah memberikan kapasitas lebih kepada manusia modern untuk mengapresiasi suara-suara yang jauh lebih kompleks dari sebelumnya. Lewat revolusi industri pula bagaimana kebisingan telah menghancurkan tempurung solitud dunia kala itu.

Saat itu ia bereksperimen dengan seperangkat instrumen yang dinamakan Intonarumori. Instrumen itu adalah suatu perangkat yang ia rancang dan bangun sedemikian rupa untuk menghasilkan suara, dan membentuk suatu simpul nada yang bising, mendobrak pakem-pakem segala sesuatu yang disebut musik kala itu.

Pementasan pertama Intonarumori pada publik dihelat pada 2 Juni 1913 di Storchi Theatre, Modena. Russolo mendemonstrasikan Intonarumori dalam bentuk orkestra dan berkolaborasi bersama seorang pelukis bernama Ugo Piatti. Kala itu Storchi Theatre dipenuhi oleh lebih dari 2000 pengunjung. Antusias tinggi dari para pengunjung itu tak lain berasal dari rasa penasaran, terlebih akan musik dari seperangkat mesin aneh dengan peranti tambahan yang dirancang Russolo.

Dalam konser itu disisipi kampanye yang digagas oleh Russolo sendiri—yang dituliskannya pula pada manifesto The Art of Noise; Awakening of a City, Meeting of Cars and Airplanes, Dining on the Terrace of the Casino, Skirmish in the Oasis. Intonarumori yang dirancang kala itu terdiri dari 15 komponen. Komposisi itu terdiri dari 3 buzzers, 2 gurglers, 2 bursters, 1 shatterer, 1 thunderer, 1 shriller, 3 whistlers dan 2 rustlers. Pementasan orkestra itu diklaim sebagai pementasan noise pertama yang dihelat di dunia.

Saat April 1914, Russolo bersama Marinetti (sang pencetus Manifesto Futurisme) menghelat konser orkestra Intonarumori kembali. Sejak saat itu, Intonarumori dan segala centang-perenang bebunyian bising yang dihasilkannya, menjadi awal perdebatan sengit dari banyak pihak. Terutama kaum konservatif dan para elitis yang kemudian dibuat geram dan mencak-mencak tak karuan oleh para begundal ini.

Oleh karena Intonarumori, Luigi Russolo dan kemudian saudara kandungnya, yakni Anthonio Russolo, adalah sosok yang dianggap sebagai bapak noise dunia. Tonggak dan pangkal dari mana noise berasal. Sama halnya dengan saudara kandungnya, Anthonio Russolo meneruskan proyek noise kakaknya itu. Anthonio menghelat sebuah pertunjukan Intonarumori dengan peranti tambahan yang dirancangnya sendiri. Dalam pertunjukannya tersebut, Anthonio mengkombinasikan kebisingan yang dihasilkan dari Intonarumori dengan orkestra konvensional. Selain itu, Anthonio pun menggarap sebuah phonograph recording pada tahun 1921 yang diberi judul Corale and Serenata. Dimana konsepnya masih sama yaitu merekonstruksi ulang Intonarumori.

Membicarakan Futurisme kurang lengkap apabila kita tak menyebutkan pula Dadaisme yang berkait-kelindan dengannya. Poin nomor satu dari Manifesto Futurisme dengan tegas dan benderang menyatakan bahwa mereka membuat sebuah spektrum musik yang sewenang-wenang.

Menentang segala bentuk estetika konservatif. Baik Futurisme dan Dadaisme, menjunjung sebuah pembaharuan. Mereka menolak bentuk seni sebagai pemusnahan diri yang hadir sebagai kenikmatan estetis paling unggul. Maka dari poin itulah waruga dan jejak pelopor musik noise berasal.

Tak hanya Russolo yang membuat eksperimentasi noise dengan Intonarumorinya. Tristan Tzara dan karib-karib Dadaisnya menghelat pertunjukan pembacaan puisi secara simultan yang diiringi oleh orkestra bising di Zunfthaus Zur Waag sekitar tahun 1916. Pementasan itu tak pelak melecut banyak pementasan orkestra bising lain yang dihelat setelahnya. Mereka kian menorehkan spektrum kesewenang-wenangan dalam pembongkaran linear (arsitektur musik) demi suatu perspektif batin dan substansialisasi elemen-elemen di dalamnya. Karena itulah, nama-nama di atas acap kali dijadikan runutan bagi pelaku atau siapa saja yang tengah membuat proyek noise sebagai pula sesuatu entitas musik yang kudus.

***

Sebelum SARANA terbentuk menjadi sebuah unit-kontinum noise, mereka telah terlebih dahulu berkutat dengan proyeknya masing-masing. Namun Sabrina mungkin bisa dibilang adalah inisiator pertama yang meracuni Istanara dan Annisa, untuk masuk ke bentala noise ini. Sabrina memulai avontur noise lewat sebuah momen koinsiden. Yakni kala mencoba alat yang dimainkan kawannya saat rehat sesi rekaman untuk sebuah proyek noise. Aksinya itu lantas direkam dan diikutkan pada kompilasi Loudness War dengan tema Judgment Day.

Lewat noise pula, Sabrina diperkenalkan dengan banyak nama yang menginspirasinya. Sebut saja Xiu-Xiu, Ariel Pink, John Maus hingga Prurient. Tak pelak deretan nama itu menjadi pemantik untuk Sabrina dalam proyek kerja kreatifnya. Banyak karya yang telah Sabrina hasilkan di luar Sarana. Jika mesti disebutkan; kolaborasi dengan To Die (Jogja), 3 ways split bersama Jurumeya juga Theo Nugraha yang masuk ke dalam kompilasi “Dissonance From Woman” serta “Tantric Supersonic”. Sabrina pun didapuk menjadi salah satu pembuka pada rangkaian Veganophon Asia Tour 2015 yang diadakan di Samarinda. Dimana kala itu DJ Urine yang berasal dari Prancis adalah penampil utamanya. Dari rangkaian itulah, yang menjadikan Sabrina sebagai pekerja kreatif noise yang cukup prolifik.

Tanpa mengesampingkan peran atau kapasitas Annisa dan Istanara, mereka berdua juga adalah sosok yang mempunyai peran penting di SARANA. Meski di salah satu sesi wawancara D’Kolektif bersama SARANA, Annisa dan Istanara mempunyai pengakuan lain. Bahwa sejatinya yang mengalirkan toksik noise pada mereka berdua adalah Sabrina. Annisa dan Istanara pun tak pelak menemukan titik nyamannya sendiri saat awal mendalami hingga memproduksi musik noise. Bahkan Annisa adalah salah satu dari line up yang mengisi helatan Jogja Noise Bombing pada 22 Januari 2016. Dimana line up kala itu diisi mulai dari Bob Ostertag dan Timeghost (Amerika), Wayan Mizu Sumitro (Slovakia), R.E.D (Singapura), Ghora (Singapura) dan beberapa unit noise lokal yang tak kalah energik.

Tak lengkap rasanya apabila tak menyebutkan Seek Six Sick, Black Boot, Techno Shit dan Kalimayat sebagai leluhur SARANA. Tiga unit musik lokal yang telah mendekati paripurna ihwal pendekatan terhadap penerjemahan auditif musik noise. Bahkan Danif Pradana (Kalimayat, Khurusetra dan Ghost Plague), Riar Rizaldi (Mati Gabah Jasus) dan Adythia Utama (Distortion) telah membuat sebuah dokumenter yang menghimpun jejak pergerakan noise lokal sekaligus menapak-tilasi lingkup skenanya. Indonesian Noise Movement Documentary berupaya merekam jejak noise lokal mulai dari unit Sodadosa, To Die, Terror Incognita, Aneka Digital Safari hingga Sangsaka Worship. Dimana Sarana mungkin meneladani proses musikal dari beberapa pelaku noise yang sebelumnya disebutkan.

SARANA hadir sebagai penyambung senur waris noise selanjutnya. Sebuah keberanian pula bagi tiga wanita ini memainkan jenis musik yang menghasilkan remnan perdebatan hingga saat ini. Semua itu karena noise masih secara nyata mengeksperimentasi musik yang relai, futuristik dan avant-garde. Namun tak hanya mengeksploitasi kebisingan dan mendobrak tebing musikalitas saja yang mereka coba teruskan. Heal EP berusaha lebih menggali lagi muatan-muatan lain yang bisa diolah menjadi noise yang berbeda.

Seperti yang saya katakan di awal tulisan, bahwa Heal EP menghadirkan gejala kenopsia. Kesepian di sini mencakup peranakannya dari mulai keresahan, teror, kekhawatiran, keterasingan akan hidup ini yang kadung jejas. Heal EP, dari namanya saja pikiran saya terasosiasikan langsung pada sebuah penyembuhan yang tak melulu soal luka. Ia tak berbicara ihwal pertolongan pertama, kiat-kiat membuat ramuan jamu pengobatan atau bahkan teknik akupuntur tertentu. Juga saya yakin SARANA pun tak sungguh-sungguh berafiliasi dengan Palang Merah Indonesia. Pada Heal EP, justru saya menemukan kandungan yang juga mencekam tinimbang sebuah upaya penyembuhan. Heal EP tak hanya menawarkan beberapa botol eliksir. Di dalamnya, mini album ini ternyata telah menyimpan lansekap gulita dengan kelebatan kenangan hingga lelembutan.

***

“Anxiety Inhaler” didaulat menjadi nomor pembuka. Menurut mereka, track ini direkam secara tak sengaja menggunakan perekam suara di ponsel. Berawal dari kunjungan Sabrina dan Istanara ke kantor Annisa saat tak ada siapa pun di sana. Seperti yang mereka katakan; track ini direkam dengan bantuan wifi kencang, track muram di soundcloud, fitur free calls pada line, kunci motor dan peranti-peranti kecil lainnya. Track noise-spoken-word ini terbukti tahkik dengan apa yang coba dihadirkan lewat ‘Inhaler’.

Ia yang datang menyatronimu di tengah malam musim kemarau kala sedang kalut via panggilan telepon seluler. Selain tak tersimpan di kontak, nomornya pun berasal dari provider asing yang tak terdaftar di negaramu. Dimulai dari sapaan lirih, hingga perlahan desibelnya meninggi dan terus mengulang pertanyaan sebamnya; Halo, siapa di sana? Kau tak tahu panggilan itu berasal dari mana. Kau coba menerka satu-dua teman lama, saudara jauh atau bahkan mantan kekasih yang telah lama tak menghubungi. Tapi bukan, yang menghubungimu bukan mereka. Lantas inhaler itu akan bekerja, saat mengetahui bahwa sosok di balik panggilan itu adalah sahabatmu yang kini tengah tertidur lelap di bawah epitaf.

Lanjut pada “Binatang” yang masih diliputi dengan firmanen temaram. Track ini mereka klaim sebagai track pertama yang SARANA garap. Mereka mengaku bahwa pada track inilah mereka memulai eksperimentasi noise dengan berbagai peranti. Mulai mengenal dan memakai efek gitar delay, reverb, distorsi, kaosilator dan monotron. Lantas memadukannya dengan spoken-word yang serampangan. Dalam proses perekaman dan mixing, track ini dibantu oleh Happy Latemonthster.

Mempertanyakan akan eksistensi makhluk hidup, begitu pesan yang dihantarkan SARANA lewat nomor kedua ini. Saya teringat akan kisah Old Major si babi sepuh dalam Animal Farm karya Orwell. Pada malam yang hening di peternakan Jones, babi sepuh itu mewartakan pada hewan lain untuk berkumpul. Pertemuan itu diadakan untuk membicarakan sebuah pemberontakan untuk mengusir keluarga Jones. Alhasil setelah pertemuan itu, mereka berhasil berontak, menduduki peternakan tanpa tuan dan berhasil pula mengusir keluarga Jones dari sana.

Transisi dari detik 18 menuju 19 adalah titik gedor awal. Untuk kemudian dilanjutkan dengan derit pergeseran tune yang sangat kasar. Jeritan yang terputus-putus memekik hingga akhir track. Kutipan dari bagian akhir Animal Farm mungkin paralel dengan spoken-word di awal track ini: “Para hewan di luar melihat dari babi ke manusia, dari manusia ke babi, dan dari babi ke manusia lagi; tetapi sangat sulit untuk mengatakan yang mana babi yang mana manusia,”

Nomor berikutnya tak kalah ganjil dan masygul. “Domikado” membawa siapa saja yang mendengarkannya diseret pada sebuah permainan berkelompok masa kecil. Dimainkan bisa lebih dari empat orang. Membuat lingkaran kematian dan memanggil Belphegor untuk singgah dalam permainan. “Do mikado, mikado, eska, eskado, eskado beya beyo, cis, cis, one-two-three-four five six seven eight i can’t feel my fresh avocado.”

Saya membayangkan bahwa yang bermain Domikado adalah Chekhov, Vonnegut, Beckett, Pessoa dan Stirner. Mereka bermain saat senja yang kemuning di atas perahu Canal Cruise, Bruges. Mereguk satu-dua gelas Tequila yang telah dioplos Jus Lemon dan Tabasco. Tak peduli meskipun besok adalah kiamat. Ronde kedua dimulai dan dengan demikian setiap ronde berkurang satu peserta. Hingga akhirnya tinggal dua orang, yakni Vonnegut dan Stirner. Permainan berubah menjadi Damdamdeli. Namun akhirnya mereka semua tumbang dan meludahi malam yang menjelang. Lantas mengangkangi hidup dengan menceburkan diri menuju sungai Bryggia.

Meskipun SARANA memainkan noise, namun track berikutnya lebih mirip sebagai perenungan seorang petapa. “Jouska” bagi saya adalah track favorit dan yang paling punya pesan kentara di Heal EP. Jika dalam drama kita mengenal Solilokui, maka Jouska mempunyai kandungan yang lebih terjal tinimbang istilah itu. Jouska merangsek pada aspek yang paling dalam. Ia menggedor terumbu batin dengan pertanyaan-pertanyaan ihwal hidup yang dijalani. Ia semacam percakapan dengan diri sendiri yang dilakukan hanya pada momen tertentu. Track inilah yang menjadi alasan mengapa saya berujar bahwa SARANA telah menghadirkan gejala kenopsia; kesepian abisal di tengah kebisingan.

Meskipun dari detik awal hingga akhir track ini hanyalah spoken-word yang berulang, namun ada kenikmatan di sana. Tak ada raungan atmosfer tune yang begitu kasar seperti pada track-track sebelumnya. Seperti apa yang saya bahas ihwal kandungan judul Jouska sebelumnya. Bahwa spoken-word yang SARANA sisipkan di nomor inipun adalah semacam percakapan dengan diri sendiri; percakapan seorang aulia di sebuah gua curam tak bernama. Di jam-jam paling hening, track ini akan membuktikan bahwa kebisingan tak melulu selalu menghasilkan perasaan gusar dan geram.

Satu menit tiga puluh enam detik yang menghantam. “Kuebiko” memang layak dijadikan nomor penutup. Lagi-lagi SARANA mencoba bermain dengan wahana emosional seperti pada Jouska. Dalam kandungan judul, Kuebiko adalah perasaan mempersetankan terhadap semua yang banal dalam hidup. Dalam track ini terdengar gemuruh gema yang binaural apabila didengarkan melalui headset. Apabila merujuk pada pesan yang disampaikan dalam lagu ini, maka sahih rasanya jika jawabannya adalah pelesit yang tak menapak.

***

Mendengarkan SARANA, bagi saya seperti membaca puisi-puisi Afrizal Malna. Di mana kita menemui sebuah dunia yang kacau balau. Penuh dengan suara-suara dari benda asing yang tersembunyi di balik halimun tebal. Puisi-puisi yang lahir dari kebisingan zaman kapitalisme kontemporer. Di mana setiap benda hanya berguna sebagai pembentukan image untuk mendapatkan nilai lebih. Terutama ketika melihat video-video Afrizal di kanal YouTube miliknya. Nampak serupa sedang bermain di wahana yang mengabsorpsi kebisingan hampir di semua babakan dengan kadar yang berbeda.

Durhaka memang apabila mesti mempertemukan SARANA dengan Afrizal. Selain perlu membuka kelambu tebal gagasan apa yang Afrizal sampaikan lewat karyanya, kita pun mesti menelaah bagaimana ide gagasannya itu bekerja melalui pendekatan yang cukup pelik. Karena kita mungkin akan menyepakati pula bahwa Afrizal sahih didapuk sebagai bapak weirdo nusantara. Apa yang Afrizal lakukan dengan pensil, penggaris, kotak maskara, sapu ijuk, mangkuk cap ayam jago dan banyak benda lainnya adalah upaya serupa dengan yang SARANA lakukan dalam proyek noisenya.

Sebenarnya Heal EP tak hanya menyodorkan nomor-nomor yang bisa menghadirkan gejala kenopsia. Serupa pernyataan dalam surat Russolo pada Pratella; kebisingan ini akan membawamu pada satu kondisi di mana suara piston, dinamo, membran baja dan semua gemuruh mesin pabrik menghantarkan kemerduan lain pada telingamu. SARANA pun  menghadirkan perspektif demikian meski dalam cakupan yang berbeda.

Memang belum ada set atau peranti aneh bin asing dalam aksi panggung SARANA. Seumpama Hanatarash misalnya yang saat tampil pernah menghadirkan buldozer, rongsokan besi, gerinda hingga mesin senso untuk menunjang aksi panggungnya. Bahkan di satu sesi, Hanatarash pernah diusir karena mengokupasi stage dan memulai molotov party. Atau bahkan Merzbow yang menghadirkan manekin yang bisa berbicara, glockenspiel aneh hingga perabotan dapur dalam aksi panggungnya. Memang, SARANA tidak seharsh-noise itu. Namun mereka senantiasa dihubungkan oleh sebuah garis patron yang sama; upaya mendobrak nilai estetika luhung dan tradisi ihwal musik hari ini.

Jika mesti menyambat Derrida, pelakon musik noise ini adalah dekonstruktor yang paling mulia. Jika dekonstruksi Derrida pertama kali muncul sebagai kritik terhadap teori Sausserian. Di mana Saussure merumuskan teorinya melalui adanya oposisi biner (2 hal yang berlawanan) seperti langueparole, ucapan-tulisan, ada-tidak ada, murni-tercemar, yang mana yang pertama sifatnya lebih menguasai yang kedua alias yang pertama ini lebih superior sedangkan yang kedua cenderung inferior sehingga seolah-olah yang pertama memiliki hak istimewa sementara yang kedua dilecehkan. Lantas, untuk perkara ini, dekonstruksi akan bekerja membuka celah yang lebih lebar di mana terdapatnya wilayah yang membentang antara “differ” (berbeda) menuju “defer” (menangguhkan) entitas kudus musik. Menolak adanya petanda absolut musik yang tak menyediakan barang sedikit pun bentuk lain yang bisa merangsek tatanan luhungnya. Menelanjangi pula maksud-maksud tersembunyi yang mengandung banyak kelemahan dan kepincangan dalam pesan yang dihantarkan dalam sebuah konten musik.

Konsep nada, bentuk, dinamika, tempo, harmoni, timbre, dan ritme dirombak bahkan direlai habis-habisan. Selain menawarkan perspektif baru dari musik konvensional—juga mendobrak pakem tradisi musik, noise telah lebih dulu mengamini bahwa seni yang luhung telah rubuh. Meski disadari pula bahwa upaya ini tak ubahnya seekor semut rangrang yang sedang menggelitik seekor gajah goliath. Kendati demikian, upaya musikal SARANA ini patut diapresiasi lebih. Butuh keberanian untuk memulai misa kematian akan nilai keluhungan musik yang masih terpancang di menara gading.

Pada 4 April 2016, seorang kolumnis musik bernama Raymond Cummings menulis tentang daftar musik noise terbaik bulanan untuk sebuah media alternatif mingguan bernama The Village Voice. Di tulisannya itu, Cummings memilih tiga musik noise terbaik untuk bulan Maret. Tidak peduli dengan apa yang Cummings utarakan ihwal SARANA di tulisannya itu. Amit-amit jabang koramil, Cummings menobatkan “Anxiety Inhaler” dari SARANA sebagai March’s Best Noise Music bersama dua unit musik noise lain; “Noise Opera” dari Dial dan “s/t” dari Toska.

Jujur, saya tak tahan dan dibuat mual dengan penobatan itu. Parameter macam apa yang Cummings pakai untuk menentukan baik, istimewa dan bagusnya suatu unit musik noise? Seberapa jauh mereka mafhum ihwal pesan sublim apa yang terkandung dalam medium musik noise? Saya hanya akan kembali ongkang-ongkang, menahan diri untuk tidak buang hajat tekstual keterlaluan soal perkara ini. Namun tetap saja, alih-alih membuat list tembang noise terbaik, Cummings belum masuk ke tataran di mana noise tak pernah menyediakan sebuah  podium untuk urusan musik yang luhung.

Jika noise masih dihadapkan dengan dikotomi baik-buruk, tak ubahnya itu adalah upaya bunuh diri di tengah medan puputan. Saya sontak membayangkan Russolo bangkit dari kubur dan menjalani hidup kembali. Di suatu waktu ia mengetahui ada ajang atau sayembara yang mencari unit musik noise terbaik. Percaya pada saya, ia akan mencari ngarai terdekat lantas lompat ke sana dengan Intonarumorinya. Atau mungkin meminjam revolver seseorang dan mengarahkannya tepat di kranium. Kemudian menekan pemicunya dibarengi dengan senyum cerah-seminau. Di akhirat, ia masih akan terpingkal-pingkal akan perkara itu. Tak hanya Russolo yang mati, demikian pula bahwa semenjak itu noise telah mati.

Pada akhirnya, SARANA lagi-lagi menjadi pemrakarsa kesadaran. Menggedor setiap telinga bahwa musik yang kudus bukan ia yang hari ini ada di pementasan orkestra megah semata. Ia justru bisa lahir dari rahim kebisingan. Di hari-hari ke depan, akan ada waktu bagi SARANA untuk menyambat kembali Hugo Ball dan Emmy Hennings untuk membuka kembali Cabaret Voltaire. Membangunkan kembali Russolo untuk bermain Intonarumori dan berkolaborasi bersama. Mencoba eksplorasi lain dengan gelombang radio, circuit bending atau bahkan suara detak jantung kala menunggu surat balasan dari ia yang jauh di pelukan.

 

Fajar Nugraha

Lahir di Bandung, 22 Juni 1996. Pecinta masakan Ibunda

Tags:
No Comments

Post A Comment