Metaruang | Satu Malam di Tamansari dan Perenungan tentang Rumah
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16779
post-template-default,single,single-post,postid-16779,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Satu Malam di Tamansari dan Perenungan tentang Rumah

Saya tiba sekitar pukul 19:30 di halaman masjid al-Islam Tamansari, dalam keadaan sedikit kuyup. Ya, sudah sedari sore Bandung diguyur hujan. Dengan rinai hujan yang turun perlahan namun rapat itu, udara malam Bandung kian terasa lebih mencucuk. Malam Minggu, hujan, dan dingin. Mungkin bagi anak-anak muda, situasi seperti itu sangat pas untuk dihabiskan dengan berleha-leha bersama pasangan di atas sebuah sofa empuk sambil menonton film drama dan menyantap sepiring kentang goreng. Tapi pemandangan yang saya temukan di halaman masjid al-Islam malam itu sungguh berbanding terbalik.

Usai memarkirkan motor, saya melihat beberapa anak muda dengan semangat sedang sibuk menata meja dan kursi. Sebagian yang lain memasang sound system. Ada juga yang dengan sigap memindahkan posisi motor-motor yang parkir sembarang. Yang lainnya sedang memasang kabel lampu. Usai meja-meja tertata rapi, buku-buku mulai disusun di atasnya. Macam-macam jenis buku. Dari buku wacana hingga novel; dari Tan Malaka hingga Y.B. Mangunwijaya.

Di tembok sebelah kiri dari arah gerbang, terpampang sebuah kain besar bergambar. Di kain itu juga terdapat sebuah tulisan, “Tamansari Melawan” dan “Tolak Rumah Deret”.  Sementara itu beberapa meter ke depan, terdapat sebuah mimbar yang sudah dilengkapi dengan kursi-kursi plastik berwarna oranye lengkap beserta dua buah microphone di depannya. Kain putih berukuran cukup besar dengan gambar seorang anak kecil yang sedang menendang rumah susun melatari mimbar tersebut. “Festival Tamansari Melawan” begitulah tulisan yang terpampang di kain putih itu.

Festival ini diadakan oleh warga Tamansari khususnya yang tinggal di RW 11 beserta segenap kawan-kawan Jaringan Solidaritas dan Aliansi Rakyat Anti Penggusuran (ARAP), dalam melawan ancaman penggusuran dan pembangunan rumah deret yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung di kawasan tersebut. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, pembangunan rumah deret ini merupakan bagian dari implementasi program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). Berdasarkan informasi yang dimuat di situs Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), program Kotaku merupakan program strategis yang dicanangkan pemerintah melalui  Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Cipta Karya, yang sasarannya adalah terciptanya pengentasan permukiman kumuh perkotaan menjadi 0 Ha (tidak ada sama sekali). Dalam pelaksanannya, program Kotaku dipimpin langsung oleh pimpinan daerah dan dirancang bersama pemerintah daerah. Jadi dalam konteks Bandung, Pemkot Bandung sangat berperan melaksanakan program ini.

Bandung memang sedang masif digempur kasus perampasan ruang hidup akhir-akhir ini. Selain Tamansari, sebelumnya juga ada kasus serupa di daerah Kebon Jeruk dan Dago Elos. Pada tahun 2015 lalu  juga ada kasus penggusuran permukiman warga Kampung Kolase, yang kini kampung tersebut sudah berganti wujud menjadi Taman Teras Cikapundung. Diprediksi kasus-kasus penggusuran dan perampasan ruang hidup ini akan semakin marak terjadi di sejumlah titik di kota Bandung—bahkan  Jawa Barat—dalam  beberapa tahun ke depan.

Untuk kasus di Tamansari, Pemerintah Kota Bandung mengimbau warga agar sementara pindah ke rusun Rancacili selama proses pembangunan rumah deret. Setelah pembangunan selesai, warga diperkenankan kembali ke Tamansari dengan menempati hunian baru di rumah deret. Lima tahun pertama warga dapat tinggal tanpa harus membayar biaya sewa. Namun selepas itu, warga wajib membayar uang sewa setiap bulannya.

“Kita dari dulu lahir, tumbuh, dan tinggal di sini, di Tamansari ini. Kenapa sekarang tiba-tiba kita harus bayar uang sewa segala untuk bisa tinggal di tanah kita sendiri,” ujar Pak Sambas yang merupakan salah satu tokoh di RW 11 Tamansari, saat memberikan pidato sambutan di pembukaan acara Festival Tamansari Melawan malam itu.

Usai Pak Sambas memberikan sambutan, acara dilanjutkan dengan penampilan dari Dimas Wijaksana. Salah satu personel Mr. Sonjaya ini tampil membawakan tiga buah lagu dengan gitar akustiknya. Pada beberapa bagian lagu ia ubah liriknya dengan kata “Tamansari” ketika melantunkannya untuk memberi pesan semangat kepada para warga yang bertahan. Seperti ketika membawakan lagu terakhir berjudul Sang Filsuf. Di akhir lagu ia mengubah lirik lagu tersebut menjadi, “Bukanlah suatu tragedi, jika kita cinta Tamansari…”  Tepuk tangan dan riuh rendah teriakan “Hidup Tamansari!” dari beberapa warga langsung pecah usai Dimas melantukan lirik tersebut. Saya juga melihat senyum mengembang di bibir beberapa orang yang hadir menikmati penampilan Dimas tersebut.

Tapi yang paling berkesan di acara itu bagi saya adalah ketika menyaksikan sekelompok Ibu-ibu warga RW 11 Tamansari turut tampil menyanyikan beberapa lagu. Enam orang Ibu berpakaian seragam berdiri berjejer di mimbar. Mereka membuka penampilan dengan lagu Buruh Tani yang langsung disambut riuh antusias orang-orang yang hadir di tempat. Banyak yang turut bernyanyi.

Terakhir mereka membawakan lagu Rumah Kita milik band legendaris God Bless. Lagu yang bercerita tentang hangatnya suasana sebuah rumah ini dinyanyikan oleh Ibu-ibu penuh semangat dan penghayatan. “Lebih baik di sini, rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah yang kuasa. Semuanya ada di sini. Tamansari…” begitulah mereka menyanyikannya.

Bagi saya penampilan dari Ibu-ibu ini sangat mewakili betapa kuatnya semangat perlawanan yang diusung. Seorang Ibu merupakan orang yang paling tahu tentang kehidupan. Ia meraskan langsung bagaimana pahit getir sulitnya merawat, menjaga, dan melahirkan sebuah ‘kehidupan’. Dari rahim mereka, lahir sebuah ‘kehidupan’ yang sebelumnya oleh mereka begitu telaten dirawat  selama sembilan bulan agar ‘kehidupan’ yang ada di rahimnya itu bisa tetap hidup, dan sangat ia nanti-nantikan kelahirannya. Maka seorang Ibu adalah orang yang paling berhak tersinggung ketika ruang hidupnya, yang telah menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri, hendak dirampas begitu saja.

Lagu yang mereka bawakan pun tak kalah menarik. Lagu Rumah Kita bercerita tentang hangatnya suasana rumah. Diceritakan dalam lagu ini bahwa saking betahnya sebuah keluarga dengan suasana rumah yang kini mereka tinggali, mereka enggan untuk pindah ke kota walaupun niscaya menawarkan gemerlap kehidupan.

Ini mengingatkan saya tentang betapa kompleksnya arti dari sebuah rumah bagi manusia. Dalam KBBI, rumah diartikan sangat sederhana sebagai:  [1] bangunan untuk tempat tinggal dan [2] bangunan pada umumnya (seperti gedung). Begitu sederhana, nyaris tanpa emosi. Padahal tentunya sebuah rumah bukan hanya sebatas itu saja. Di dalamnya terdapat jalinan emosi dengan si penghuninya. Sebentuk hal yang membuat penghuni tersebut mempunyai perasaan tersendiri yang dapat menghubungkannya dengan setiap sudut ruangan yang ada di rumahnya. Yang tak jarang ketika penghuni tersebut sedang berada jauh dari rumahnya, timbul perasaan rindu dalam dadanya akan suasana rumah.

Bahasa Inggris kiranya dapat menjelaskan hal ini dengan lebih mudah. Dalam bahasa Inggris dikenal kata “house” dan “home”. Walau sama berarti rumah, namun ada jurang perbedaan yang sangat kentara antara dua kata ini. House lebih berarti rumah sebagai bentuk fisik; bangunan yang terdiri atas lantai, tembok, dan atap. Sementara kata “home” merujuk ikatan emosional kita dengan rumah tempat kita tinggal.

Saya juga jadi teringat kisah Tuan Biswas dalam sebuah novel berjudul Sepetak Rumah untuk Tuan Biswas karya V.S Naipaul. Dalam novel realis ini, dikisahkan seorang pria bernama Mohun Biswas yang berdarah India dan menjadi imigran di Trinidad. Biswas dikisahkan tinggal bersama banyak orang dalam sebuah rumah besar. Kendati rumah yang ia tinggali itu besar, namun Biswas tidak merasa betah tinggal di sana. Karena tinggal bersama banyak orang, suasana dalam rumah itu sering disesaki oleh riuh dan bisingnya konflik-konflik remeh antar penghuninya. Biswas sangat ingin pindah dari rumah itu dan mendambakan bisa memiliki rumah sendiri agar bisa mendapatkan suasana rumah yang tenteram.

Kisah Biswas dalam novel itu dan lagu Rumah Kita yang didendangkan Ibu-ibu di Tamansari menjelaskan kepada kita bahwa arti rumah, memang tidak sesederhana pengertian dalam KBBI.  Oleh karenanya, mengganti rumah-rumah hunian warga di Tamansari dengan rumah deret tanpa persetujuan warganya, bukan saja merupakan tindak pelanggaran hak. Hal itu  juga merupakan tindak kejahatan kemanusiaan karena di rumah-rumah yang sederhana itu—dan ini yang terpenting—terdapat  segenap suasana, perasaan, ingatan, dan kenangan yang menyejarah bagi para warga yang tinggal di sana. Yang mana hal-hal yang begitu sarat emosional tersebut, merupakan bagian intrinsik dari diri kita sebagai manusia, dan tidak boleh dirampas begitu saja.

 

___

Ilustrasi: Forum Juang Tamansari Melawan

Rio Rizky Pangestu

Rio Rizky Pangestu, lahir dan tinggal di Bandung. Pengagum Pramoedya Ananta Toer dan bobotoh Persib Bandung sejak dalam pikiran. Blog: riorizkyp.blogspot. com | @riorpangestu (Twitter&Instagram)

No Comments

Post A Comment