Metaruang | Sedeng Sang: Konflik Batin Pertaruhan Lahan Leluhur 
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16667
post-template-default,single,single-post,postid-16667,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Sedeng Sang: Konflik Batin Pertaruhan Lahan Leluhur 

 

Produser: Irnanda Shinta Dewi
Sutradara: M. Reza Fahriyansyah
DOP: Rakhmad Maulana Ramadhan
Pemain: Be Get, Khairul Adha
Tahun: 2016
Durasi: 19.52 menit
Bahasa: Dayak Wehea

 

Berharap meningkatkan perekonomian keluarga, pendidikan lebih tinggi menjadi salah satu jalan keluar. Tak ada sekolah tinggi di kampung, maka orangtua mengirim anak-anak mereka bersekolah di kota. Sekolah boleh saja memberikan pendidikan dan menjanjikan penghidupan lebih baik. Namun, mereka belum tentu mencetak seseorang menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan latar belakang persoalan pendidikan di kalangan masyarakat pelosok, Sutradara M. Reza Fahriansyah meramu Sedeng Sang menjadi film bertema konflik ayah dan anak. Lebih besar dari tema utama, ia membawa isu lingkungan yang kini tengah dihadapi masyarakat adat Kalimantan.

Sedeng Sang merupakan tugas akhir mahasiswa ISI Yogya, Rakhmad Maulana Ramadhan. Ia bertindak sebagai  director of photography sekalilus penggagas ide cerita. Film ini menceritakan keluarga kecil suku adat Dayak Wehea di pedalaman Kalimantan. Hat (Khairul Adha) kembali ke kampung halamannya untuk membantu sang bapak bekerja di ladang. Ia ingin sang adik, Baq, melanjutkan sekolah seperti dirinya. Keterbatasan ekonomi membuat mereka tidak memiliki banyak pilihan. Hal ini berujung pada dilema Pak Be (Be Get) yang hanya bekerja sebagai petani. Perlahan, tanah di sekitar ladang tani Pak Be berubah menjadi perkebunan kelapa sawit milik perusahaan swasta. Pak Be turut dibuat bimbang dengan penawaran untuk menjual lahan tani miliknya. Tak lama kemudian, Hat pun meminta Pak Be menjual lahan demi impian Baq melanjutkan pendidikan.

Pergulatan batin Pak Be dan Hat

Kita tidak pernah bisa menebak apa yang sedang dirasakan Pak Be. Wajahnya selalu menunjukkan ekspresi datar. Untuk melihat sorot matanya saja sulit. Ia pun tak banyak bicara kepada orang-orang di sekitar, termasuk kedua anaknya. Di sisi lain, Hat sangat ekspresif dalam menunjukkan dan menyembunyikan perasaan. Kita dapat melihatnya tersenyum ketika berbicara dengan Baq dan memerlihatkan mimik benci sewaktu berbicara dengan Pak Be. Dari perilaku yang mereka tunjukkan, ayah dan anak ini jelas memiliki masalah.

Dibandingkan berbicara dari hati ke hati, keduanya menyimpan kegelisahan masing-masing. Baik Pak Be maupun Hat sangat sering terlihat termenung di sela keseharian. Hal ini membawa kita pada titik berat yang diperlihatkan sepanjang film: pergulatan batin. Diam yang ditunjukkan Pak Be dan Hat cukup mengaduk-aduk emosi penonton. Mereka tidak pernah mengatakan sepatah katapun tentang apa yang mereka rasakan dan pertanyakan. Semua hanya dihadirkan dengan simbol dan gestur.

Melalui simbol dan gestur yang ditunjukkan dalam Sedeng Sang, Reza Fahriansyah cukup berhasil menuntun penonton memahami pergulatan batin yang dialami kedua tokoh utama. Teknik long take yang ia gunakan dapat menggambarkan perasaan tokoh utama dengan baik. Kita diajak untuk memahami apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan, melalui pengambilan gambar dengan durasi cukup panjang. Namun, ada pula adegan dengan durasi cukup panjang yang tidak begitu berpengaruh mempermainkan emosi, seperti adegan Pak Be pulang dan pergi dengan truk bak terbuka mendekati bagian akhir film.

Kehilangan hubungan spiritualitas dengan alam

Berladang merupakan cara tradisional masyarakat Dayak untuk memenuhi kebutuhan hidup. Secara berkelompok, masyarakat Dayak bercocok-tanam dari bukit ke bukit. Dengan ikatan kekerabatan masyarakat lokal yang cukup kuat, semua pekerjaan dilakukan secara bersama-sama. Sama halnya dengan realitas yang menjadi tradisi masyarakat Dayak, kita dapat melihat Pak Be dan Baq meladang dengan cara berkelompok. Kita pun diajak tenggelam dalam rutinitas para petani Dayak; perjalanan dengan truk dengan bak terbuka, menggemburkan tanah dengan bambu runcing dan istirahat di bawah tenda terpal seadanya.

Zaman sudah berubah. Masyarakat Dayak tak lagi mendapatkan hak mengelola tanah adat warisan leluhur secara cuma-cuma. Konsep kepemilikan tanah sudah berubah, masyarakat lokal tak bisa sembarangan klaim tanah. Semua lebih formal, bersertifikat dan tak lagi bersifat kolektif. Pemikiran masyarakat lokal tentang tanah leluhur pun berangsur berubah. Sebelumnya, masyarakat adat menggantungkan hidup pada alam dan hutan, serta menjadikan keseimbangan alam sebagai media komunikasi dengan Pencipta. Namun, hutan adat dan lahan tani perlahan berubah menjadi hamparan perkebunan kelapa sawit. Tak lama kemudian, perubahan pola bercocok tanam (corak produksi) ini mengikis identitas organik penduduk asli.

Generasi muda pun tidak menunjukkan ketertarikan dengan isu spiritualitas dan warisan leluhur. Alih-alih mempertahankan tradisi dan menjaga keseimbangan alam, mereka lebih memilih untuk melukainya atas imbalan materi. Sepanjang film, kita disuguhi kegelisahan Hat yang tampak kentara dalam diam dan sorot matanya. Konflik batin yang Hat alami bergejolak setiap ia melakukan obrolan kecil dengan Pak Be. “Makanya aku harus sekolah, jadi aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,” cetus Hat dalam salah satu adegan. Ya, bagi Hat yang terpenting adalah mendapatkan pekerjaan lebih baik, memperbaiki nasib dan menyekolahkan Baq. Soal tanah leluhur, menjaga tradisi dan kaitan spiritualitas atas semua hal tersebut bukanlah urusannya.

Kecenderungan apatis terhadap warisan leluhur tidak datang secara tiba-tiba. Lihat saja Baq yang belum kenal perkotaan dan pendidikan lebih tinggi. Dengan senang hati, ia meladang bersama Pak Be dan menjadi anak yang manut ketika di rumah. Tak ada alasan yang membuatnya bersikap seperti sang kakak. Hat berbanding terbalik dengan Baq, ia sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan untuk meladang. Lingkungan pedalaman yang cukup jauh dari kota kemungkinan membuat Hat terisolasi dari dunia luar. Untuk tiba di rumah saja, ia mesti menumpang naik truk bak terbuka. Dengan kemasan yang lebih modern, lingkungan perkotaan sangat mungkin membuat Hat mengalami kaget budaya (shock culture). Nilai-nilai kearifan lokal yang selama bertumbuh terpatri dalam kepribadian Hat, lambat-laun tersapu dengan nilai-nilai yang lebih modern.

Di samping Hat, kita dapat melihat cerminan remaja seusianya dalam film ini. Dalam satu adegan, kedua teman sebaya Hat, Ding dan Lung, sempat menawarkan Hat untuk bekerja di lahan perkebunan sawit. Kedua remaja tanggung ini nampak sedang berdiri di sisi truk bermuatan kelapa sawit. Salah satu dari mereka mengenakan seragam berlabel cokelat—Sekolah Menengah Atas—yang sudah dipreteli bagian lengannya. Dari adegan ini kita dapat melihat, bukan hanya Hat yang tak melanjutkan pendidikannya. Ketiga sosok remaja lelaki ini merupakan representasi generasi muda Kutai Timur dalam realitas film. Mereka putus sekolah, mementingkan diri sendiri, dan sangat peduli dengan materi yang didapat dengan cara-cara yang pragmatis dan vulgar.

Revisi terakhir, 7 Februari 2017

 

Lana Syahbani

Penulis, ilustrator (terkadang), dan pemusik. Suka sayuran, kantung mata, warna pastel, angka ganjil, dan percakapan seksi. Bisa ditemui di kedai/warung kopi seputaran Bandung.

Tags:
No Comments

Post A Comment