Metaruang | Senartogok: Forward into the Abyss
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17216
post-template-default,single,single-post,postid-17216,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Senartogok: Forward into the Abyss

 

Album: Forward into the Abyss
Artis: Senartogok
Rilis: Juni 2017
Label: Maraton Mikrofon
Genre: Hip Hop
Recording: Rand Slam Labs, Bandung 2017
Mixing & Mastering: Senartogok di ISH Tiang Bendera, 2018
Jumlah Track: 14
Desain Sampul: Teguh Pure

 

Engkau harus membakar diri dalam apimu sendiri; bagaimana mungkin engkau bisa menjadi baru jika engkau tidak menjadi abu terlebih dahulu.”

Also sprach Zarathustra, aforisme no. 126, Friedrich Nietzsche

 

Malam itu hujan amat tebal untuk dapat ditembus motor. Udara dingin Bandung, apalagi di saat hujan, mulai menjalar sampai ke balik jaket. Tempiasnya sesekali menyapu wajah kami. Kacamata saya beberapa kali memburam karena embun. Berkalang lantai marmer di pelataran gedung museum kampus UPI, hanya obrolan ngalor-ngidul yang dapat menyelamatkan kami dari mati kedinginan.

Meski tak ada lagi gorengan yang dapat dikunyah selain kepul sigaret, Tarjo masih tampak cekatan. Kami bertukar gosip dan umpatan. Dari mulai aksi kejar-kejaran dengan ormas bayaran saat bentrokan di Tamansari, pentingnya Gil Scott-Heron dan Company Flow, betapa emo-nya Sage Francis, dan soal penerjemahan teks Sabda Zarathustra karya Nietzsche yang diterjemahkan secara kurang serius oleh salah satu penerbit besar.

Khusus tentang Nietzsche, Tarjo boleh sompral karena mampu melahap langsung dari sumber utamanya. MC yang juga merangkap sebagai solois bergitar kopong ini sempat menetap di Jerman untuk beberapa waktu, dan kembali ke tanah air bak Zarathustra turun gunung. Ia menyimpan banyak amunisi dan akan terdengar hibrid bilamana menyejajarkan “Gott ist Tot” dengan ranah eskatologi dari dunia Timur.

Barangkali memang hanya Nietzsche, sosok filsuf yang ‘kegilaannya’ relevan untuk laku kreatif-destruktif dalam kancah kultural. Dan amat berkaitan erat dengan elan berkesenian, meski tak terbatas pada hal-hal yang disebut barusan. Aforismenya terbilang mudah dibungkus ke dalam larik dan lirik, ke dalam dialog atau ke dalam imaji visual. Contoh dari dunia sinema datang dari karya Stanley Kubrick berjudul 2001: A Space Odyssey, sebuah film fiksi-ilmiah yang dilansir pada tahun 1968.

Fast forward ke tahun 2012, ranah hip hop dibuat gaduh gara-gara tuduhan plagiarisme pada single “Stronger” milik Kanye West. Tuduhan datang dari Vincent Peters dan memaksa hakim pengadilan menelusuri kembali aforisme Nietzsche. Ujung perkaranya, hakim memutuskan bahwa unsur-unsur literer dari Nietzsche-lah yang menjadi sumber ilham “Stronger” tinimbang plagiarisme yang dituduhkan Vincent, yang memiliki lagu dengan judul serupa lansiran tahun 2006.

Tak bisa ditolak bahwa kini Nietzsche pun lumrah menjadi ikon kultural. Sabda Zarathustra menjadi bacaan yang ‘ngepop’ di beberapa tangkringan. Saya sendiri baru mendapatkan bukunya di sekitar tahun 2009, tak lama dari situ sampulnya mulai kumal karena rajin menginap di kamar beberapa kawan, dan kembali lengkap dengan catatan dan coretan. Nietzsche juga muncul di poster Homicide. Dengan boombox ia berpose bersama Marx dan Gramsci. Gara-gara ulah MC gaek Ucok inilah barangkali sosok berkumis baplang itu makin mewabah di kantung-kantung anti-otoritarian di Bandung.

Meski demikian, saya tak melihat Homicide dan kini Senartogok (sebagai representasi kultural dari legasi artistik Dionysian), khususnya dalam Forward into the Abyss, menggunakan Nietzsche hanya sebagai ornamen estetik belaka. Tak juga sekedar meminjam-pasangkan narasi will to power sebagai sebuah medan makna yang sentral pada album ini. Ia tak sedang memaksa kita untuk membaca Beyond Good and Evil karya Nietzsche, yang mana nama album ini berasal. Lebih dari itu, Forward into the Abyss merupakan penggalan hidupnya, manifestasi aktifnya, atas gagasan Dionysian dengan energi yang meletup-letup.

Uniknya, diksi-diksi yang ia pilih guna membangun bentangan rima kadang mengingatkan para pembaca sastra milenial akan hal-ihwal yang “kolot”. Ada jejak-jejak Pujangga Baru, pantun melayu, stilistika poetik pra-45’, bahkan rukun sastra yang terkesan kanonik. Sebuah warisan sastrawi yang kental dengan pakem a-b-a-b demi menjaga rima agar tetap berasonansi selain juga saling beraliterasi.

Pada nomor Tauba misalnya, dengan latar sampling Al-I’tiraf dan vokal dari Gus Dur, Senartogok tak ragu menyisipkan bait-bait puisi Amir Hamzah berjudul Tuhanku Apatah Kekal? (Juni, 1941) yang mengandung pararelisme anaforik, yang dalam khazanah hip hop lazim disebut rima internal dan rima eksternal. Sementara pada nomor Litani, kehadiran sampling Semakbelukar menambah kental unsur melayu klasik, yang lagi-lagi menyematkan pronomina ‘apatah’ dalam bait “...karena penyair tidaklah berguna apatah / dia hanya ajarkan kita berani hidup segera”.

Tak ayal, Senartogok membuat kedua nomor tersebut terdengar begitu rohaniah, padat sekaligus memiliki keluwesan medan makna horizontal dan vertikal, yang berhasil memberangkatkan dirinya melampaui religiusitas tipikal. Ibarat Zoroaster malih rupa menjadi pujangga, melahap habis aksentuasi seloka dan gurindam, lengkap dengan molotov di genggaman tangannya. Dari sini usaha lirikal Young Ikhwan akan terdengar begitu menggemaskan berbicara belaka fenomena alih-alih membongkar noumena.

Mengingat Nietzsche kadung mahsyur lewat diktum “Tuhan telah mati”, tentu akan terasa kontradiktif dengan upaya sastrawi klasik yang sepenuhnya bertopang pada logos. Kecuali via Heidegger misalnya, yang membangun pondasi sistemik bagi pembacaan Nietzsche secara filosofis, yang turut menyelami perlawanan terhadap pragmatisme akut dan empirisme tulen, di saat yang bersamaan juga mendekonstruksi metafisika. Meski pada akhirnya usaha fenomenologinya itu melempar Nietzsche ke wadah esensialis guna menemukan jantung ontologi bernama Kehendak Kuasa.

Motif yang sama pun berceceran dalam Forward into the Abyss. Konstruksi rima sekujur album diberangkatkan dari kausa prima sang pengembara, yang tak lain Senartogok sendiri. Ia memulai dengan 8 bar pada intro yang disusul masuk oleh 16 bar dalam nomor pembuka bertajuk Anti Climacus. Nomor sepanjang 3 menit 10 detik ini memberi kita landasan historis bagi laku esksistensial Senartogok dalam laju will to power justru selepas “pulang kecewa setelah menonton Too Phat di Semarang”.

Story telling pada nomor pembuka memang membongkar habis referensi literer Senartogok yang lumayan brutal. Tampak bahwa MC avontur ini tak sekedar penasaran, melainkan turut ‘curiga’ atas apa yang orde simbolik suguhkan sebagai realitas. Ia tak lantas mengambil poros juang yang bombastis “pasca Vol. 1 Das Kapital mulai terbaca”. Ia justru menerka ulang bahan bacaan yang baginya personal lagi berbahaya, dari Gerpolek ke Oliver Twist; meninjau ulang C-60 Maxell, mengosongkan dan mengisi kembali CPU dengan folder-folder “…yang sehari-hari revolusioner dan yang pribadi juga radikal.”

Meski demikian, aksentuasi poetik dalam nomor ini masih terbilang minim. Cadence yang simplistis dengan latar instrumen yang kadang mendistorsi artikulasi fonetik (barangkali telinga saya memang buruk) membuat nomor pembuka ini rentan jatuh pada sabda kisah, yang hanya berjarak beberapa langkah untuk menjadi track yang preachy. Beruntung kita dapat menemukan konstruk rima internal dalam set up yang dapat menyelamatkan nomor ini dalam segi craftmanship, misalnya pada baris berikut: “Ketika isi The Slim Shady LP jadi teman setia / Tatkala Said Thalib diracun dan “I Try” Kweli menjadi penanda / Tari kejang Radio Tidar memopor ingatan.

Ghalib kita ketahui bahwa pengupayaan metafora dan pengayaan simile dalam lirik mudah tergoda menjadi semata verbal complex. Sedemikian barisan rima Senartogok menantang kita sekaligus meresikokan diri dari maraknya name-dropping, untuk terhindar dari perangkap legislatif bahasa sebagai simbol (dan penjara), guna melesapkan imaji yang diemban tiap kata. Bedanya, Senartogok memiliki konsistensi sintaksis yang dapat membedakannya dari sekedar wordplay, meski kadang terkesan bersayap.

Ia menggelar tantangan tekstual seperti MF Doom menggelar That’s That, dengan kadar semiotik sepejal Patriotism milik Company Flow dan daya emosional setara Sage Francis. Hal ini belum dihitung apabila terkandung cross the bar rhyme yang membuat pertukangan rima dalam kancah hip hop similar dengan rancangan arsitektur musikal; struktural dalam teknik, sekaligus membangkang terhadap guru yang sama, yakni logika bahasa itu sendiri.

Beranjak setelahnya, kita bertemu nomor pendek berjudul Verse 142 bernada battle khas hip hop yang dilengkapi dengan spoken words. Dasar Senartogok, judul nomor kedua pada album ini mengambil urutan surah dalam al-Quran, yang merupakan tempat bagi QS Ali Imran (ayat 142) yang berbunyi: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang bersabar.” Nomor ini tegas, getas, dan pedas, dengan punchline yang memorable: “Akulah masbuq neraka saat kalian iqamat.”

Verse 142 juga sekaligus menjadi yang paling menyalak dan berenergi. Senartogok terdengar marah dan berserapah. Saya jadi teringat akan keheranan yang jamak kami rasakan, pasca berbondong-bondongya remaja masuk ke dalam barisan yang konon bernama pemuda hijrah. Tren demikian terjadi di Bandung dengan mesjid al-Latif sebagai biro jodoh episentrumnya. Meski toh fenomena ini tak lebih dari lelucon –sebagaimana yang dimaknai Nietzsche atas proses keharusan mangkat bagi tuhan—kapitalisme kultural sekali lagi mengomodifikasi psikologi massa spektakel yang teralienasi itu, untuk kembali menanggalkan sensibilitas nalar kemanusiaan, menggantinya dengan spekulan pasar yang oportunis.

Berangkat dari ketelitian yang sama, Senartogok melanjutkan kritiknya lewat nomor Genesis, dengan flow yang mengingatkan kita pada Doyz; untuk kemudian disusul Hallaj Capetown yang padat akan alusi. Kegemarannya mengusung tuhan ke tengah gelanggang, membuat makna abyssal serasa lengkap. Terdapat nuansa kekacauan yang sinkretik, yang akbar sekaligus yang degil di kalangan. Profanitas, tetes darah, disaturasikan dengan unsur-unsur samawi dan asketik. Genesis sendiri merupakan salah satu ayat dalam Injil, yang oleh Senartogok justru diselami lewat terminologi dalam ranah Islam.

Unsur vertikal imagery yang dirapatkan ke dalam rima membuat Senartogok tak lantas mabuk dan menjadi seorang Rumi atau sufi pasca modern. Hallaj Capetown, yang menarik garis referensial dari kisah Al Hallaj dan Siti Jenar misalnya, juga berbicara tentang otokritik dalam tatanan horizontal. Agama yang dianalogikan sebagai candu oleh Marx, didorong untuk juga menjadi senjata pendobrak kemapanan institusional yang-simbolik, sekaligus dalam koridor kehendak yang sama, Senartogok tak ragu menantang dekadensi lumpen dan ratapan demor para oponen pembangkangan.

Highlight tersendiri dalam album ini saya temukan pada nomor Aksara Dandelia dan nomor Menjelang Insureksi. Dua nomor tersebut amat personal, mengandung kedekatan yang kentara, menggoda sekaligus menantang titik-titik yang saya anggap paling sukar untuk saya raih di hari-hari ke depan. Memaksa saya untuk kembali berhitung; memeriksa pembuluh hasrat dan kepal tangan yang mesti dibebat berulangkali namun dengan pongahnya kembali saya langitkan. Mengetes sampai sejauh mana kemungkinan yang saling bersimbiosa dengan harapan; beriris angan dengan gagasan paling tengik sekali pun, untuk saya rengkuh sebagai suatu kesatuan amor dan fate.

Meski terdengar utopis, saya tak bisa menampik betapa kolosalnya Menjelang Insureksi mampu hadir dengan rima yang rapi terjaga, sederhana tetapi juga powerful. Nomor itu mengusung kembali ingatan akan malam-malam yang membuat saya dapat terus menggenggam nyala di saat ngarai mulai menampakkan nganga kegelapan. Saya ingat tawa dan celoteh kawan saat malam jatuh di Tamansari, atau olengnya kami saat berbagi kehangatan dari botol anggur merah di bawah keangkuhan menara kondotel Dago Maj.

Penjuru kota rata dengan tanah / Paska ledakan dentuman bom bergema / Kepemilikan memang hasil curian / Aneka properti luluh lantak berserakan / Gadis kecil menari di hadapan sekam / Pasangan kasmaran bercumbu di puing logam / Rongsokan mesin pabrik hantaman palu godam.”

Saya akan dengan senang hati menyalin seluruh liriknya di sini, namun saya tak tega menandaskan imaji pembaca atasnya.

Ada kejutan tersendiri pada nomor pamungkas berjudul Warta Merta yang membawa kita kembali ke hal-hal yang subtil, khususnya aforisme no. 157 dalam Beyond Good and Evil: “Pikiran bunuh diri merupakan pelipur lara yang kuat. Ia membantu kita melewati malam-malam yang menyedihkan.” Hal ini paralel dengan lirik, “Hiduplah dengan segala kematian yang menggoda,” dalam Aksara Dandelia.

Pertanyaannya barangkali sejurus dengan penelusuran Heidegger ihwal mengapa Nietzsche melupakan Ada. Atau luput mencatat kekosongan (nihil) yang bersifat konstitutif bagi ada, sebagaimana kematian bersifat konstitutif bagi Dasein, yang justru acap Nietzsche hindari. Suatu corak yang menandakan bahwa Nietzsche juga berada pada oposisi antara Welt (dunia) dan Nichst (kekosongan) yang amat khas metafisis, dan akhirnya mengafirmasi suatu kepengulangan-yang-abadi.

Namun, dalam hal ini pula lah Forward into the Abyss dapat menjawabnya. Warta Merta tak serta-merta menolak kematian, seumpama anak ayam yang lari bersembunyi karena takut pada gerhana matahari. Diiringi minus-one dari Vic Chesnutt berjudul “I Flirted With You All My Life”, Senartogok secara subtil memberi referensi akan suatu bentang hidup dari seorang Vic Chesnutt, dan tentang apa itu kematian. Ia hadir justru bukan sebagai kekalahan, kemenyerahan, tapi berkebalikannya, yakni sebagai hidup yang berlangsung penuh dan total.

Secara personal album ini mengingatkan saya akan pentingnya suatu akselerasi. Tentang bahaya demor, yang bila gagal dilampaui maka akan tersuruk secara mudah ke dalam ngarai. Ke-14 nomor dalam album ini seolah berujar, “Less talk more rock, carry on!” dan menjadi marka juga penaja hasrat.

___

Dokumentasi: Okik A (IG: @highersound)

 

F. Ilham Satrio

F. Ilham Satrio (Juni, 1989) | buruh pabrik onderdil

No Comments

Post A Comment