Metaruang | Shulamith Firestone
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16720
post-template-default,single,single-post,postid-16720,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Shulamith Firestone

 

Pembebasan Perempuan di Amerika Tahun 1970

Shulamith Firestone lahir di Ottawa, Ontario, Kanada pada tanggal 5 Januari 1945. Firestone merupakan anak kedua dari enam bersaudara dan menjadi anak perempuan pertama dalam keluarganya. Firestone terlahir dari keluarga Yahudi orthodox yang taat, ayahnya bernama Saul Firestone yang merupakan seorang salesman yang hidup nomaden.

Di usia yang masih muda, ia mempelajari sendiri agama Yahudi, untuk kemudian berasimilasi dengan keluarga Yahudi ortodoks di Brooklyn. Saul pun diberitakan “pernah bergabung di Angkatan Darat ketika Perang Dunia Kedua. Yang tahun 1945 unitnya pergi ke kamp konsentrasi pembebasan Bergen-Belsen, dan istrinya melahirkan Shulamith Firestone tanpa didampingi olehnya” (Faludi, 2013, newyorker.com). Ibu Shulamith Firestone bernama Kate (Weiss) Firestone, ia “merupakan keturunan Yahudi Jerman yang berhasil melarikan diri dari serangan holocaust di Jerman dan berpindah ke Amerika” (Faludi, 2013, newyorker.com). Kate juga merupakan keturunan dari tokoh agama Yahudi yang merupakan rabidan kantors.

Firestone mengalami berbagai macam diskriminasi di dalam lingkungan keluarganya, ia sering mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan kakak laki-lakinya. Hal itu membuatnya berontak dan ingin bebas. Firestone kecil merasa telah diperlakukan tidak adil dan ingin menuntut haknya. Sebagai penganut Yahudi yang taat, keluarga Firestone menjadi sangat patriakis. Dalam struktur keluarga Yahudi, laki-laki ditempatkan dalam tokoh sentral dan perempuan dipandang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Posisi perempuan yang dipandang lebih rendah bahkan diperkuat di dalam kitab Taurat yang menyatakan bahwa “perempuan dianggap sebagai sumber dosa yang telah membuat Adam terusir dari surga” (Umar, 1999, hlm.xxviii).

Setelah masuk ke perguruan tinggi, Firestone merasa bebas untuk mengekspresikan diri. Ia memilih jurusan sejarah dan sastra Inggis di University of Washington, St. Louis, sebelum akhirnya pindah ke jurusan seni lukis di Chicago University yang membuat dirinya mengenal berbagai macam gerakan-gerakan hak sipil dan terinspirasi untuk mendirikan gerakan tersendiri bagi perempuan. Menurutnya, perempuan yang ikut aktif dalam gerakan-gerakan hak sipil di tahun 1960-an tidak terfasilitasi dengan baik, mereka sering mendapatkan diskriminasi hanya karena mereka perempuan, seperti yang dialaminya ketika konferensi nasional untuk politik baru di Chicago.

Konferensi dihelat pada pekan hari buruh tahun 1967 oleh koalisi kelompok kiri yang terlibat dalam pertempuran mengenai hak-hak sipil dan perang Vietnam. “Sebuah kaukus perempuan terbentuk di sana, dipimpin oleh Firestone dan Jo Freeman, mereka mencoba untuk mempresentasikan tuntutannya sendiri pada sesi paripurna” (Hall, 2011, hlm.61). Mereka memberikan resolusi yang menyerukan “undang-undang perkawinan dan properti yang adil, kontrol penuh oleh wanita dari tubuh mereka sendiri, dan representasi wanita lima puluh satu per persen di lantai konferensi” (Faludi, 2013, Newyorker.com). Namun, para perempuan diberitahu bahwa resolusi mereka tidak cukup penting untuk menjadi diskursus, hingga akhir resolusi dibacakan, resolusi mereka tidak pernah dibahas, akhirnya lima orang perempuan berusaha naik podium untuk membacakan resolusinya, William F. Pepper menepuk-nepuk kepala Firestone dan berkata “Pergilah para gadis kecil, kami memiliki masalah yang lebih penting untuk dibicarakan di sini daripada pembebasan perempuan” (Hall, 2011, hlm.61).

Pengalaman buruk Firestone di dalam konferensi akhirnya memacu dirinya untuk mendirikan organisasi-organisasi feminisme radikal, seperti Westside Group yang didirikan pasca Konferensi Poltik Baru dan menjadi organisasi feminis radikal pertama di Chicago, sekaligus menjadi organisasi petama yang didirikan Firestone. Setelah lulus kuliah Firestone pindah ke New York dan mendirikan New York Radical Women (NYRW). NYRW di bawah Firestone cukup banyak melakukan pergerakan-pergerakan. Di antaranya gerakan protes untuk Miss America dan penulisan essai Notes From The First Year yang merupakan kumpulan esai-esai yang ditulis anggota kelompok. Selain NYRW, Firestone juga mendirikan The Redstocking dan New York Radical Feminist yang semuanya berafiliasi di New York City.

Firestone menjadi pendiri berbagai organisasi-organisasi pembebasan perempuan yang radikal, namun dari berbagai organisasi tersebut, ia memutuskan keluar dari berbagai organisasi tersebut karena tidak sepakat dengan sikap yang diambil oleh suara mayoritas berbagai kelompok tersebut. Nampaknya, Firestone memang teguh pendirian, ia lebih memilih keluar dari kelompok dibanding harus mengorbankan idealismenya. Karena itulah organisasi yang didirikannya cukup banyak, namun pada akhirnya ia keluar juga dari kelompok-kelompok tersebut.

Pemikiran Firestone mengenai pembebasan perempuan ia tuangkan dalam buku yang berjudul The Dialectic of Sex (1970). Firestone mendasarkan analisisnya melalui sumber penindasan yang dialami perempuan. Menurutnya, penindasan yang selama ini dialami oleh perempuan bersumber dari sistem biologis perempuan yang diciptakan berbeda dengan laki-laki, serta keluarga berbasis pernikahan yang menindas perempuan sejak ia lahir di dalam keluarga. Firestone merumuskan argumennya mengenai sistem biologis perempuan yang menjadi sumber penindasan berdasarkan ketidaksetaraan gender yang tumbuh dalam struktur masyarakat patriarki. Ketidaksetaraan gender dalam masyarakat patriarki menciptakan supremasi laki-laki atas seksualitas perempuan melalui fungsi biologis mereka. Menurutnya, “ketidaksetaraan gender berasal dari struktur masyarakat patriarki yang dipaksakan pada perempuan melalui fungsi biologis mereka; Kerugian fisik, sosial dan psikologis yang dipaksakan oleh kehamilan, persalinan, dan pembesarkan anak berikutnya” (Firestone, 1970, hlm.70).

Reproduksi merupakan basis subordinasi perempuan yang dilakukan oleh laki-laki. Resiko biologis di seputar reproduksi, seperti kehamilan, menstruasi, melahirkan, menyusui dan mengasuh anak membuat perempuan rentan dan tergantung pada laki-laki. Di saat-saat demikian perempuan akan menjadi lemah, dan menurut Firestone, “ketika perempuan tergantung pada laki-laki, mereka menyerahkan kerentanan mereka demi reproduksi, saat itu juga pengalaman cinta dikorupsi oleh permainan kuasa” (Walby, 2014, hlm.97).

Dalam definisi Firestone, reproduksi alamiah adalah akar dari kejahatan, terutama kejahatan yang muncul dari rasa memiliki yang menghasilkan rasa kebencian dan kecemburuan di antara umat manusia. Baginya, berapa pun banyaknya kesetaraan pendidikan, hukum, dan politik yang dapat dicapai oleh seorang perempuan ataupun jumlah perempuan yang memasuki industri publik semakin meningkat, tidak akan terjadi perubahan yang fundamental bagi perempuan selama reproduksi alamiah tetap menjadi suatu keharusan.

 

Selain argumentasi yang provokatif mengenai fungsi reproduksi yang menyebabkan penindasan perempuan, Firestone juga berargumen bahwa keluarga berbasis pernikahan adalah sumber penindasan. Firestone berasumsi bahwa asal mula penindasan perempuan dimulai dengan pembentukan kelas seksual di dalam keluarga. Ia menggabungkan aspek dari formulasi Engels bahwa “sentimentalitas superfisial yang mengelilingi keluarga, bahwa keluarga barasal dari istilah Romawi ‘famulus’ yang berarti budak domestik, dan ‘familia’ yang mengacu pada jumlah total dari budak rumah tangga domestik hanya dimiliki oleh satu orang” (Nappi, tanpa tahun, hlm. 90-91).

Dalam instansi keluarga, perempuan dianggap sebagai budak rumah tangga domestik; menjadi budak dari nafsu laki-laki sekaligus sebagai alat untuk memproduksi keturunan belaka. Firestone berasumsi bahwa “gender dan produksi di dalam rumah tangga menekankan eksploitasi para istri oleh para suami” (Walby, 2014, hlm. 96). Asumsi Firestone tersebut mengkonseptualisasikan tentang kaitan antara kehidupan keluarga berbasis pernikahan dengan ketidaksetaraan gender. Menurutnya, keluarga berbasis pernikahan merupakan sentral dari subordinasi perempuan. Oleh karena itu, Firestone menganjurkan penghapusan pernikahan sebagai institusi, ia mendukung penghapusan keluarga inti (ayah, ibu dan anak) untuk mewujudkan pembebasan perempuan. Firestone juga membangun sebuah argumen bahwa penghancuran keluarga inti juga merupakan salah satu agenda dari pembebasan perempuan.

Firestone mengungkapkan bahwa “semakin sedikit perempuan yang terlibat dalam proses reproduksi, semakin banyak waktu dan energi yang harus mereka lakukan dalam proses produktif masyarakat” (Tong, 2008, hal.78). Dengan demikian, perempuan dapat terbebas sepenuhnya dari fungsi biologis yang menjeratnya. Firestone berasumsi bahwa di dalam keluarga berbasis pernikahan terdapat pengagungan peran keibuan. Pengagungan tersebut hanyalah sebagai sebuah opium yang membuat para perempuan khilaf bahwa mereka pun makhluk rasional dan dapat mementingkan diri sendiri. Puji-pujian yang diberikan kepada peran ibu pada hakikatnya untuk memenjarakan perempuan dalam sangkar emas. Sehingga perempuan mau terbius dan mau mengorbankan dirinya untuk menjalankan peran keibuan. Firestone menjabarkannya dalam wacana berikut:

Munculnya keluarga inti modern, dengan masa kanak-kanak tambahannya memperketat tali pengikat di sekitar kelompok yang sudah dapat bergantung secara ekonomi dengan memperluas dan memperkuat apa yang baru saja menjadi ketergantungan singkat, dengan cara yang biasa: pengembangan ideologi khusus, dari Gaya hidup, bahasa, pakaian, perilaku, adat istiadat, dan sebagainya. Dan dengan bertambahnya dan melebih-lebihkan ketergantungan anak-anak, perbudakan wanita menjadi ibu juga diperluas sampai batasnya. Perempuan dan anak-anak sekarang berada dalam perahu yang sama. Penindasan mereka mulai saling menguatkan (Firestone, 1970, hlm.89).

Karakteristik alami yang dimiliki perempuan, khususnya kemampuan mereka untuk melahirkan dan menjadi ibu bagi Firestone telah melampaui alam. Hal tersebut menurutnya merupakan beban bagi perempuan. Hasrat untuk mengandung dan membesarkan anak bukanlah akibat dari kesukaan autentik terhadap anak-anak, melainkan lebih merupakan penggantian dari kebutuhan pengembangan ego. Bagi seorang laki-laki, seorang anak adalah cara untuk mengabadikan namanya, hak miliknya, serta identifikasi kelas dan etnik. Sedangkan bagi perempuan, seorang anak adalah cara untuk membenarkan eksistensinya yang terikat dengan rumah sebagai keharusan absolut. Ketika ini terjadi, bagi Firestone “anak-anak yang kurang sempurna tidak terelakan, mereka akan menderita” (Firestone, hlm.242). Anak-anak akan menderita karena anak-anak dijadikan kebutuhan akan keabadian ayah dan dijadikan pembenaran patologis seorang ibu.

Teknologi reproduksi merangkul perempuan dalam melepaskan diri dari rantai keibuan dan persalinan. Dengan adanya teknologi reproduksi tersebut, perempuan dapat sepenuhnya bebas dari tirani biologis yang menjeratnya. “Manusia akan terbebaskan dari beban kewajiban reproduksi, Firestone memperkirakan perempuan tidak akan lagi ingin mengandung anak dalam kesakitan, dan bekerja atau membesarkan anak tanpa akhir dengan mengorbankan diri sendiri” (Tong, 2008, hlm. 123). Dimulai dengan pembebasan perempuan dari tirani biologis, perempuan akan sepenuhnya terbebas dari tugasnya untuk bereproduksi. Penggunaan teknologi untuk melakukan reproduksi menjadikan proses berkembangbiak manusia tetap berjalan dan perempuan tidak dibebani lagi oleh tugas tersebut. Bentuk-bentuk teknologi yang berkembang, menurut Firestone, “menyediakan peluang bagi masyarakat manusia untuk membebaskan diri dari keterbatasan biologis, tetapi hanya jika alat-alat reproduksi tersebut dapat dikontrol demi kepentingan perempuan” (Walby, 2014, hlm.97). Teknologi yang diusulkan Firestone adalah teknologi reproduksi di laboratorium, serta proliferasi kontrasepsi dan aborsi. Seperti yang dikemukakannya berikut ini:

Akan membutuhkan lebih dari sekedar reformasi sederhana di dalam seks/gender, untuk membebaskan seksualitas perempuan (dan laki-laki) dari titah bilogis prokreasi, dan untuk membebaskan kepribadian perempuan (dan laki-laki) dari penjara procrustean feminintas dan maskulinitas yang dikonstruksi secara sosial. Reproduksi buatan  (ex utero) akan harus menggantikan reproduksi alami (in utero) dan apa yang disebut dengan keluarga yang direncanakan yang anggotanya memilih satu sama lain atas alasan pertemanan atau bahkan sekedar kenyamanan, mesti akan menggantikan keluarga biologis tradisional yang dibangun di dalam dan melalui hubungan genetik anggotanya. (Firestone, 1970, hlm. 11).

Firestone berasumsi bahwa teknologi bisa digunakan untuk bergerak melampaui sistem biologis alami yang dimiliki perempuan. Karena pada hakikatnya gerakan pembebasan perempuan adalah “untuk mengendalikan inovasi teknologi, terutama teknologi reproduksi dan menggunakannya untuk membebaskan perempuan” (Firestone 1970, hlm. 11). Tidak seperti teori feminis yang menemukan argumen untuk masa depan feminis dalam karakteristik alami perempuan, Firestone melampaui karakteristik alami tersebut dan membayangkan sebuah hubungan baru antara perempuan dan laki-laki. Dia berpendapat bahwa “tujuan akhir dari revolusi feminis seharusnya tidak seperti pergerakan feminisme pertama, bukan hanya penghapusan hak istimewa laki-laki, tetapi dari perbedaan jenis kelamin itu sendiri: perbedaan jenis kelamin diantara manusia akan harus menjadi suatu budaya yang tidak dipedulikan lagi” (Firestone, 1970, hlm.19).

Adanya teknologi reproduksi yang dimaksud Firestone mengakibatkan ketiadaan keluarga berbasis pernikahan, yang merupakan instansi pertama dalam pembentukan kelas seksual. Dengan adanya penghapusan keluarga berbasis pernikahan, berakhir pula keluarga inti (keluarga biologis) yang melarang keluarga oedipal dan inses antara orang tua dan anak. Sehingga tidak ada lagi kekhawatiran mengenai apa yang disebut sebagai inbreeding (perkawinan antar anggota keluarga), kemudian manusia juga dapat merasakan kembali kebahagiaan dengan segala jenis perilaku seksual. “Hubungan seksual melalui genital yang sangat penting untuk keperluan hubungan biologis akan menjadi salah satu dari berbagai pengalaman seksual, dan manusia akan menikmati kenikmatan berhubungan seksual dari siapa saja, baik yang berjenis kelamin sama maupun yang berlawanan jenis” (Firestone dalam Tong, 2008, hlm.78).

Manusia yang androgin adalah tujuan dari revolusi biologis yang diusulkan oleh Firestone. Menurutnya, manusia androgin akan mendapati diri mereka hidup di dalam kebudayaan yang di dalamnya terdapat kategori teknologis dan estetis sejalan dengan kategori maskulin dan feminin yang akan hilang melalui apa yang diistilahkan Firestone sebagai pembatalan mutual. Pembatalan mutual merupakan suatu “ledakan mater-antimater yang berakhir dengan kilat” (Firestone, 1970, hlm.90). Setelah itu terjadi, stuktur budaya patriarkis yang ada akan runtuh dan tercipltalah masyarakat androgini, seperti yang dijelaskan oleh Thornham (dalam Gamble, 2004) sebagai berikut:

Dalam visi Firestone mengenai utopia feminis, teknologi reproduksi akan menggantikan kekejaman pembedaan seks berdasarkan sisi biologis. Dengan penggantian semacam ini akan runtuh struktur sosial dan budaya keluarga, mitos budaya tentang romantika, pernikahan dan keibuan yang telah memberikan dukungan ideologis pada pembedaan seks ini. (hlm.45)

Di dalam masyarakat androgini yang dibayangkan Firestone, laki-laki dan perempuan sebagaimana didefinisikan oleh sistem gender pada waktu sekarang tidak akan ada lagi. Manusia ideal dalam utopia Firestone memungkinkan untuk melakukan penggabungan serangkaian kualitas di dalam dirinya, yang pada saat ini kita istilahkan sebagai maskulin dan feminin. “Besar kemungkinan transeksualitas sebagai norma” (Firestone 1970, hlm.53-54). Akhir dari klaim Firestone adalah “modus teknologi pada laki-laki akan dapat berproduksi dalam aktualitas apa yang sebenarnya telah dibayangkan oleh modus estetis perempuan” (Firestone, 1970, hlm.191) yaitu “suatu dunia dimana laki-laki tidak harus bekerja mati-matian untuk hidup, dan perempuan tidak lagi mengandung anak di dalam kesakitan dan kesulitan” (Firestone, 1970, hlm. 242). Dengan demikian, perempuan dapat benar-benar terlepas dari beban reproduksi yang menjeratnya, sehingga perempuan dapat terbebas sepenuhnya terdefinisikan.

Pemikiran yang dikemukakan oleh Firestone di dalam bukunya merupakan sebuah usaha bagi gerakan pembebasan perempuan untuk memerangi norma-norma sosial di antara hubungannya dengan laki-laki, perempuan dan anak-anak. Tujuannya adalah untuk membangun materialisme dialektis baru berdasarkan jenis kelamin, serupa dengan apa yang Karl Marx dan Friedrich Engels lakukan untuk ekonomi. Dengan cara yang sama, Marx menyimpulkan bahwa pembebasan buruh memerlukan revolusi ekonomi, sedangkan Firestone menyimpulkan bahwa pembebasan perempuan menuntut revolusi biologis. Sementara kaum proletar harus memanfaatkan alat reproduksi untuk menghapuskan sistem kelas ekonomi, perempuan harus dapat memperoleh kuasa sebagai alat reproduksi untuk menghapuskan kelas seksual. Sebagaimana tujuan akhir revolusi komunis adalah untuk menghapuskan perbedaan kelas, tujuan akhir revolusi feminis adalah masyarakat androgin untuk menghapuskan pembedaan seksual yang akan menciptakan suatu masyarakat tanpa kelas seksual.

Firestone memang terkesan ambisius untuk merubah tatanan yang telah ada dalam budaya masyarakat saat ini. Banyak yang menganggap gagasannya saat itu hanyalah sebuah khayalan perempuan saja. Namun tidak dapat dipungkiri sejak dikeluarkannya gagasan radikal tersebut, banyak yang berubah dari kehidupan perempuan Amerika Serikat. Bagaimana perempuan Amerika memandang hidup dan menjadi seperti apa perempuan Amerika terbentuk saat ini akan sangat berbeda dengan perempuan sebelum tahun 1970.

Jika dilihat dari sejauh mana perempuan melangkah sejak buku Firestone diterbitkan pertama kali, efeknya memang cukup menakjubkan. Karya Firestone ini tentunya banyak merubah berbagai aspek kehidupan perempuan sejak itu. Pantas saja apabila bukunya meledak saat pertama kali buku tersebut diterbitkan. Banyak dampak yang dirasakan oleh perempuan Amerika Serikat, berbagai argumen yang diusung karya itu setidaknya dapat memberi pengaruh terhadap pandangan perempuan Amerika Serikat pada awal tahun 1970-an.

Sekelumit dampak dari gagasan yang Firestone usung, sayangnya, malah menjadi gema ihwal bagaimana feminisme melangkah terlalu jauh dan kehilangan esensinya. Khususnya di dunia Timur, Feminisme kerap dikambinghitamkan atas pelbagai hal negatif yang terjadi terhadap perempuan. Yang paling mencolok dari gerakan feminisme liberal (yang kehilangan akarnya, radix), di antaranya hak serta keluasaan untuk melakukan aborsi bagi para perempuan di Amerika Serikat, ditambah dengan rendahnya angka perempuan yang menikah dan memiliki anak, serta menguatnya pilihan untuk menjadi lesbian.

Pada tahun 2012 bulan Agustus, di umurnya yang ke 67 tahun, Firestone ditemukan tak lagi bernyawa oleh pemilik apartemen tempat Firestone menetap. Beberapa bulan kemudian, Esais Susan Faludi menulis memoar Firestone di The New Yorker. Mengungkapkan serangkaian perjuangan hidupnya, termasuk pertempuran Firestone dengan dirinya sendiri, melawan skizofrenia.

 

Pustaka

Faludi, S. (2013, 15 April).Death of a Revolutionary: Shulamith Firestone helped to create a new society. But she couldn’t live in it [online]. Diakses dari: http://www.newyorker.com/magazine/2013/04/15/death-of-a-revolutionary

Firestone, S. (1970). The Dialectic of Sex: The Case for Feminist Revolution. New York: Batan Book.

Gamble, S. (Penyunting). (2004). Pengantar Memahami Feminisme dan Postfeminisme. Edisi Terjemahan. Yogyakarta: Jalasutra.

Nappi, M. (tanpa tahun). Shulamith Firestone: Cybernetics and Back to a Feminist Future. Jurnal Situation, 6 (1) hlm. 89-114.

Tong, R. (2008). Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis. Edisi Terjemahan. Yogyakarta: Jalasutra.

Umar, N. (1999). Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Paramadina.

Walby, S. (2014). Terorisasi Patriarki. Edisi Terjemahan. Yogyakarta: Jalasutra.

___

Visual: F. Ilham Satrio

 

Fitri Auliyatul

Fitri Auliyatul Mujtahidah lahir di Purwakarta, 14 Februari 1994. Alumni  Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Departemen pendidikan sejarah, Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di Himpunan Mahasiswa Departemen Pendidikan Sejarah (HIMAS) UPI pada tahun 2012, dan pengurus HIMAS periode 2013-2014 (anggota biro sosial dan politik). Memiliki hobi fotografi dan kini menetap di Purwakarta.

No Comments

Post A Comment