Metaruang | Sleep Party People: Tuhan Bagi Mereka yang Terluka
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
151
post-template-default,single,single-post,postid-151,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Sleep Party People: Tuhan Bagi Mereka yang Terluka

 

Hanya Tuhan yang mampu menari yang mungkin bisa dipercaya, ucap seorang nabi dari Röcken, Prussia. Hal inilah yang saya setujui. Terlepas dari pernyataan deksura itu, di benak kepalamu mungkin Tuhan yang baik tidak seperti itu. Ada yang menganggap Tuhan yang baik itu adalah tuhan para penyair, pelukis, presenter acara talkshow, pendaki gunung atau bahkan seorang atlet karambol. Hanya kau sendiri yang tahu, Tuhan yang baik itu seperti apa. Tanya pada dirimu sendiri di jam-jam paling hening di setiap malam yang kau lalui. Apakah Tuhan yang kau maksud adalah Sasha Grey atau Kwon Yuri SNSD.

Adalah seorang Brian Batz —dengan unit musiknya bernama Sleep Party People— yang menjadi Tuhan dream pop modern hari ini. Tuhan bagi mereka yang terluka. Penuntun bagi siapa saja yang mencari pelarian menuju ngarai musik pop di kedalaman sebuah mimpi yang terus menjauh dari lajur pop di Denmark. Tak pernah sekalipun ia akui bahwa Sleep Party People adalah sebuah band yang utuh. Sleep Party People adalah Brian Batz seorang diri yang dibantu beberapa kawannya. Ia kerap menyebut “My Bunnies” bagi sosok-sosok yang membantunya di dapur rekaman atau saat pertunjukan langsung. Banyak nama yang bergiliran membantu Batz dalam proses kreatif pengerjaan musiknya serta dalam pertunjukan langsung. Seperti—untuk menyebut beberapa nama—Kaspar Kaae, Jacob Høegh, Ash Bock, Casper Hegstrup, dan juga Frederik Thybo.

Topeng kelinci putih —yang hanya sampai hidung dan tidak menutupi mulut— yang dipakai semua personil adalah tirai wajah cantik untuk bisa menutupi sosok siapa saja di baliknya. Hingga sulit untuk sebatas menerka siapa saja yang membantu Batz saat live atau dalam video klip. Yang paling brengsek, kita tak akan pernah tahu Batz itu memainkan instrumen apa di Sleep Party People. Selain selalu berganti-ganti posisi, Batz tak pernah mengungkapkan instrumen apa yang mau ia mainkan sebelum pertunjukan.

Memaknai Kelinci Putih Batz

Tak dipungkiri kita sudah mahfum pada logo kepala kelinci Hugh Hefner dan Eldon Sellers sejak tahun 1953, bagi majalah Playboy yang mereka pelopori. Logo itu dirancang dan disempurnakan dengan penambahan dasi kupu-kupu tuxedo oleh seorang desainer grafis bernama Art Paul. Menurut Hefner, pemilihan logo kelinci lebih kepada inklinasi akan kandungan makna “lucu” dalam isu seksual. Kelinci dianggap sebagai hewan yang jago bereproduksi dan memiliki nafsu tinggi untuk bercinta dalam kondisi apa pun. Hingga kelinci lah yang dijadikan lambang Playboy.

Tapi, tidak untuk Batz yang memaknai kelinci dalam tahapan yang lebih makrifat. Bukan hanya soal kelinci itu makhluk yang kecil, terlihat rapuh, dan terkesan lemah. Di balik kekurangannya itu, ia punya telinga yang panjang hingga bisa mendengar dengan amat jelas pada desibel terendah sekalipun. Ia menggunakan telinganya untuk mendengarkan hal-hal penting dalam hidupnya: bertahan dari para predator. Ia pun hidup di alam bebas dalam lorong aparisi kecil.

Kelinci juga mengajarkan kita bahwa mendengar untuk kebaikan itu benar. Karena tiap kata-kata yang terdengar dapat menjadi ancaman juga kabar gembira bagi setiap orang. Oleh sebab itu, seorang bravado dengan kejumawaannya bukanlah sahabat yang baik bagi kelinci. Ia pun mengajarkan kita agar hidup dengan penuh motivasi dan tidak mudah menyerah meski hidup begitu memuakan.

Tak hanya pada Sleep Party People saja Batz menerapkan pemakaian topeng kepala kelinci putih. Ia pun tetap memakainya pada saat proyek solo. Misalnya di Scarlet Chives, proyek paralel dream pop lain yang ia garap bersama Maria Mortensen, Pete Esben, Rasmus Lindahl dan Daniel Kolind. Baginya, makna kelinci mewakili kedalaman perihal racik-meracik musik dreamy yang ia buat. Ada kalanya, kita akan merenungi diri kita sendiri di hadapan aberasi sferis: cacat cermin yang membuat kita tak bisa memproyeksikan balik siapa diri kita. Namun kelinci putih Batz akan selalu menemanimu dalam sunyi, yang kiranya bisa membuatmu mati di atas badkuip.

Sleep Party People sebagai Kelinci Keikhlasan

Dibentuk pada tahun 2008 di Copenhagen yang dingin, Batz memutuskan menjalankan Sleep Party People dengan bantuan sahabat-sahabatnya. Batz mengambil garis musik dari Board of Canada, David Lynch, Erik Satie, Slowdive bahkan Sigur Ros dan Radiohead. Suara vokal falsetto-ethereal-nya mengawang dan tidak ada dominasi lead gitar di dalamnya. Ditambah dengan efek-efek distorsi/fuzz, delay dan reverb yang bersahutan, nomor-nomor mereka menghasilkan dinding suara yang berisik dan padat.

Hingga saat ini, Sleep Party People sudah menelurkan tiga album studio, S/T: Sleep Party People album (2010); We Were Drifting on a Sad Song (2012) dan album ketiga yang diberi tajuk Floating (2014). Batz cukup prolifik dengan setiap jeda dua tahun menghasilkan satu album. Semua album itu sudah cukup untuk jadi pengantar seorang Bélizaire bunuh diri melompat menuju sungai Saint Lawrence di ujung frustasi akibat mesin slot judi ilegalnya terbongkar.

Seiring Efterklang bubar, Batz memberi warna tersendiri bagi khazanah musik pop Denmark yang masih berada di bawah bayang-bayang Alphabeat, Tiger Tunes dan Efterklang. Dimana para pendahulunya itu memainkan pop yang tak sehalusinatif yang dimainkan Batz. Apa yang dilakukan Batz sangat mempengaruhi perkembangan skena pop Denmark. Seperti halnya Northern Portrait, Hymns for Nainveh, The Asteroid Galaxy Tour dan Treefight for Sunlight yang juga terinspirasi oleh Batz.

***

“Can I hear your dance around myself? Can you recall the alarm?”—Ten Feet Up.

Album Selt Titled pertama Sleep Party People tak hanya sebuah eksplanasi awal akan kehadiran kolektif kelinci-kelinci patah hati ini. Album ini pula sebenarnya adalah kumpulan lulabi yang Batz dan kawan-kawannya garap guna menina-bobokan para somnambulis, berjalan menuju tempat nun jauh di sana. Album perdana mereka langsung jadi pengkultusan di kalangan remaja patah hati se-Baltik Raya dan tanah Skandinavia. Namun, lain halnya dengan para kritikus musik di sana yang menganggap bahwa apa yang dilakukan Batz dengan album perdananya, tak lebih dari kawanan badut sirkus yang mencoba mencari perhatian di altar gereja.

Semuanya berubah saat Batz menelurkan album kedua untuk Sleep Party People yang diberi judul We Were Drifting on a Sad Song. Di album inilah Batz menambahkan instrumen dial-pad dan toybox lo-fi yang membuat suasana musik semakin lezat. Eksplorasinya pada tune electro-pop yang temaram pun semakin kentara. Dengan eksperimen ini, album kedua yang digarapnya membuka jalan pada dunia bahwa Sleep Party People adalah kelinci-kelinci bahaduri yang mengetuk pintu rumah siapa saja yang sedang merasa ambrol, remuk dan runtuh. Empat puluh tiga menit delapan belas detik, durasi yang cukup untuk memacu kendaraanmu dengan kecepatan yang kurang dari 40km/jam menuju Sidratil Muntaha.

A Dark God Heart, misalnya, adalah gerbang track yang sudah menempatkan kesuraman pada intro; sebuah musik yang kaya dengan nada piano, dilanjut susurrus synth yang menyayat. Sedangkan pada We Were Drifting on a Sad Song, menjadi track yang paling sahih dengan cinematic strings dance dan vokal crysstalline sepanjang lagu. Video klip yang digarap untuk track ini pun masuk di jajaran nominasi skenario terbaik di helatan Berlin Music Video Awards.

Lagu ini membuat saya yang mendengarkannya serasa ingin mengubur diri pada sebuah lubang yang di dalamnya digenangi lumpur kenangan. Bahkan, seorang psikolog dari Denmark, Murphy Higgins, yang mendengarkan lagu ini mengatakan bahwa We Were Drifting on a Sad Song bisa membuat pendengarnya mengalami Hypophrenia. Sebuah gejala atau kondisi dimana seseorang merasakan kesedihan tanpa sebab atau alasan yang jelas. Meskipun geli mendengar testimoni itu, namun apa mau dikata. Mendengarkan lagu ini dalam sebuah bus yang sedang melaju di Cipularang bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Bahkan ketika hati sedang kopong dan kegelisahan lumer, lagu ini tetap bukan opsi yang pas untuk diperdengarkan. Saya kira, pesan yang ingin disampaikan Batz dari lagu ini adalah tetap menarilah dalam kesedihanmu. Betapa pun kesedihan itu serupa shai hulud yang akan memangsamu.

Lanjut pada Heaven Is Above Us —sebuah mars kematian intergalaktik dalam duet piano dan suara alien yang menyedihkan. Lagu yang merupakan catatan diari masa kecil Batz saat menghabiskan waktunya di Bornholm, akan menyeretmu pada leluhur Batz dari Mogwai hingga Cocteau Twins. Bornholm adalah sebuah pedesaan kecil, di sana berdiri rumah-rumah kayu dan gereja di sekitarnya, tempat Batz biasa duduk di pagi hari bersama temannya di pinggir sungai yang bening. Jauh dari gadis-gadis kosmopolitan Copenhagen yang kerap berlenggak-lenggok di sepanjang Strøget. Demikianlah Batz hanyut dalam keheningan yang begitu nikmat.

Album ini ditutup oleh The City Light Dead, tembang pamungkas yang menyimpulkan bahwa; Ya, kita sedang di perjalanan tanpa antimo di kerongkongan. Dengan mendengarkan lagu yang membuatmu memuntahkan kesedihan akan seseorang yang tak kunjung berlabuh di pelukan.

***

“Why would you do this. Blood of my heart?Color in your red dying. Floating blood of mine”—Blood of Mine.

Pada 2013, Batz melancong ke San Francisco untuk memulai penggarapan album ketiganya di bawah naungan produser Jeff Saltzman dan Mikael Johnston. Dimulai komposisi materi lagu dan lirik ia garap di sana. Namun, setelah momen itu berselang dan proses produksi rekaman selesai, Batz pulang kembali ke kampung halamannya untuk merilis album. Kantung album ketiganya yang diberi judul Floating resmi dirilis di seluruh Skandinavia dan Asia pada 30 Mei 2014.

Floating, dari namanya saja kita sudah diberi tahu bahwa album ini berusaha membawa pendengarnya terapung. Entah dari palung kelelahan atau jurang kenangan masa lalu. Dalam sebuah interview, Batz mengakui jika pemilihan nama itu didasari oleh apa yang ia rasakan saat penggarapan album Floating. Ia berpikir terlalu banyak hal yang harus diabadikan ke dalam karyanya. Dari mulai komposisi materi lagu hingga lirik yang ingin membuncah keluar dari kepalanya tanpa menyisakan satu dan lainnya.

Namun, Batz mengolahnya secara apik semua materi itu dalam albumnya sehingga materi itu menjadi album paling rapih dan mewah yang pernah ia garap. Batz berusaha menghadirkan ruh Henrik Pontoppidan juga Gjellerup di setiap lagunya. Keduanya adalah novelis sekaligus penyair Denmark peraih nobel kesusastraan tahun 1917. Obsesi Batz pada penyair sekaligus novelis itu sangat kentara dari penamaan salah satu judul lagunya, Death is the Future. Notabene, itu adalah salah satu judul puisi Gjellerup dalam kumpulan puisinya, From Spring to Autumn (1898). Dengan demikian orang-orang Denmark menganggap Batz adalah salah satu dari deretan musisi puitis yang membawa napas leluhurnya pada setiap karyanya.

Ekspektasi awal pada album ini bakal jadi lebih temaram dari kedua album Sleep Party People sebelumnya. Namun faktanya, Floating masih terasa lembut dan tune khas Sleep Party People masih sangat dominan. Hanya Blood of Mine saja yang chaos seperti menyiratkan pengalaman sakaratul maut seseorang. Hadir pula A Stranger Among Us dengan pesan jukstaposisinya: You’re stranger among us, and you can no longer touch us. Kombinasi sound primer dan bebunyian atraktif pada lagu itu mengingatkan akan petualangan Rick and Morty.

Syahdan, In Another World lah yang menjadi track favorit saya di album ini. Hanya lagu inilah yang menciptakan firmanen gulita di album ini —di samping track lain yang begitu menggemaskan. Nada-nada minor yang kemudian secara berangsur menjadi pekat kegelapan.

Lantas, membayangkan seorang Heidi kecil dalam novel Johanna Spyri yang diculik kemudian dibawa menuju Dol Guldur. Dan sekali lagi, Batz tak menghilangkan identitas Sleep Party People. Batz mengatur tempo lagu ini selembut mungkin dan menyisipkan suara dial-pad yang agak bertolak dari tema lagunya. Sungguh, racikan luar biasa dari seorang Batz.

Track instrumental dari album Floating semisal I See the Sun, Harold, pun tak bisa disepelekan. Pada Only a Shadow, Batz seolah kerasukan Elton John yang menuliskan balada untuk Connan Mockasin saat malam-malam begadang. Atau pada Scattered Glass, seakan merasakan bukan Batz yang bernyanyi, melainkan Jón Þór Birgisson atau Jonsi pada Animal Arithmetic. Track lain album Floating pun nampaknya memang harus diputar pada jam-jam saat berkubang-dior di kasur menunggu balasan pesan orang yang kau kagumi. Setelahnya, kau akan terapung entah di samudera mana. Tanpa ada satu pun orang yang akan membawamu menuju daratan.

Sleep Party People adalah jalan pengalaman transenden bagi pintu-pintu transenden lain yang menunggu di tempat yang paling temaram. Batz adalah tuhan yang membuat siapa pun pendengarnya akan menapak-tilasi masa lalunya. Menghadirkannya kembali dengan luka tanpa aneksasi. Seakan mengajakmu untuk menikmati perihal yang telah berlalu, seiring membiarkannya jadi abu.

Kelinci-kelinci putih Batz akan senantiasa menemani siapa pun yang mendengarkan Sleep Party People pada avontur kesunyian. Di mana di dalamnya sudah berkelabatan kenangan-kenangan masa kecil, jejak-jejak orang yang datang dan pergi dari hidup kita. Mereka akan terus menari-nari di lazuardi hatimu. Tak peduli kesedihan berlinang sederas air terjun Gullfoss.

 

Fajar Nugraha

Lahir di Bandung, 22 Juni 1996. Pecinta masakan Ibunda

No Comments

Post A Comment