Metaruang | Suami untuk Kakak
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16940
post-template-default,single,single-post,postid-16940,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Suami untuk Kakak

 

BERTAHUN-TAHUN sebelum ia menjadi gila, aku telah tahu Kakak akan menghabiskan sisa umur dalam kesunyian nasib.

Aku telah memelihara anggapan ini sejak lama. Kalau tidak gila, kupikir ia akan memupus nyawanya sendiri. Jauh dari perkiraan banyak orang, aku menyimak banyak episode kehidupan keluarga kami. Orang-orang memang menganggapku sebagai si bungsu yang terlalu asyik melenakan diri.

Seorang aktris, apalagi mereka yang bermain di puluhan film, mudah melupakan penampilan mereka di film-film tersebut. Lain halnya dengan penggemar. Mereka tahu di film apa aktris M menampilkan performa terbaik; di film apa aktris P meraih status sebagai artis kawakan. Aku adalah penonton setia dalam kehidupan keluargaku, yang terus-menerus menyimak setiap adegan tanpa diperkenankan ambil bagian. Pada dasarnya aku memang penonton yang baik. Kira-kira seperti itulah gambarannya.

Semua bermula saat Ayah mengalami musibah yang memaksanya pensiun dini dari jabatan strategis di perusahaan kayu. Perusahaan itu bagai raksasa di kota kecil tempat tinggal kami; kota yang mana lautnya mengembuskan ombak terlalu senyap sehingga tak menarik minat orang untuk berkunjung.

Ayah mendapat penyakit aneh yang berhubungan dengan saraf berkat kebiasaannya mencongkel gigi dengan peniti. Kata Ibu, itu cara dia untuk menunjukkan kemewahan. Kau takkan mencongkel gigi bila lauk makanmu bukan daging atau ikan. Sayangnya, meski  manusia telah lama menciptakan peranti bernama tusuk gigi, Ayah lebih memilih peniti. Lambat laun, peniti pasti berkarat dan itulah yang menjadi muara kesialan Ayah.

Perusahaan kayu hanya mau menanggung separuh biaya pengobatan. Tidak ada rumah sakit mumpuni di kota kami. Dokter kota kami, Dokter Nung, bahkan terlalu ringkih untuk sekadar mengoperasikan stetoskop. Ayah harus berobat ke pulau seberang, Jawa.

Meski menyita hampir segala daya hidup keluarga, Ibu selalu pulang dengan sikap yang riang. Yang paling melegakannya justru bukan perihal pengobatan Ayah, melainkan oleh-oleh yang ia bawa dari Jawa. Menurutnya benda-benda itu dapat ia jual di pasar dengan harga berlipat. Nyatanya, upaya Ibu hanyalah kesia-siaan selanjutnya bagi keluarga kami.

Seperti politisi yang terjangkiti delusi, ia menganggap investasinya berjalan dengan baik, hanya berdasarkan ramainya pengunjung di los Ibu. Tiap hari mungkin ada sepuluh orang berkerumun di situ, namun hanya dua orang yang membeli barang dagangan Ibu. Itu pun dengan mengutang atau mencicil.

Ayah, meski berangsur membaik, telah kehilangan hasrat untuk hidup. Dunianya runtuh manakala perusahaan tak bisa menerima kondisi fisiknya yang payah. Ia hidup semata mengenang masa-masa yang telah lewat. Ia tak ubahnya bayi: makan, berak, tidur, minus menangis.

Secara beruntun dan bertumpuk, kemalangan mendatangi keluarga kami, bertubi-tubi, seperti tak mau berhenti.

Abangku, yang Ayah harapkan menjadi penerus tongkat estafet keluarga, ikut frustasi dengan apa yang terjadi. Hari demi hari uang saku yang ia terima berkurang. Itu berdampak pada kejayaan yang ia miliki di warung minum, yang berada di bibir jalan seberang pasar. Baginya, kunjungan ke sana tak sebatas duduk untuk minum, tapi juga membayari kawan-kawannya tuak, umbi-umbian rebus, juga modal judi kartu. Itu telah menjadi rutinitasnya sebagai putera seorang anak kampung yang sukses.

Abang berjalan sepongah Ayah, meski Abang tak pernah mengenakan baju dinas sepertinya. Kakak memang anak pertama, tetapi ia perempuan, sehingga tak bisa mencicipi kemakmuran yang dirasakan Abang.

Tidak seperti Ayah, Abang lebih memilih langsung tidur ketika pulang dalam kondisi mabuk. Abang juga kerap memberiku buku-buku bekas yang entah ia peroleh dari mana. Hal itu berubah ketika Ibu terpaksa menjual motor kesayangan Abang, yang tiap hari ia elus dan cuci laksana perlakuan gembala terhadap kambing-kambingnya.

Abang serta-merta melakukan hal terbaik yang dilakukan tiap lelaki terhadap ayah mereka: pemberontakan.

Mendapat ilham dari kemalangan ini, Abang menemukan harapan yang ditiup dari pendeta kota kami, Bapa Mario, untuk mengabdi di jalan Kristus. Abang merasa tercerahkan dan menganggap Ayah telah salah dalam mengatur keluarga. Ia meninggalkan kami, hidup di seminari yang terletak puluhan kilometer dari sini. Terputuslah sudah segala harapan Ayah, yang semakin membenamkannya dalam penjara ketidakberdayaan.

Tanpa diperhatikan orang, Kakak menempa diri begitu keras. Ia dengan gigih menamatkan sekolah dengan memuaskan, walau itu tak sedikit pun membuat Ayah bangga atau menoleh kepadanya saat bicara. Kakak pun membagi beban yang ditanggung Ibu dengan sabar. Berkat kepandaiannya di bidang tata usaha dan administrasi, Kakak dipercaya bekerja di bank kecil kota kami. Karena buruknya akses transportasi dan minimnya tenaga ahli, mereka dengan senang hati menerima Kakak walau ia tak pernah menimba pendidikan perguruan tinggi.

Mulailah Kakak menjalani kehidupan baru sebagai penjaja kredit usaha kecil, berseliweran dengan lincah dari pintu ke pintu. Ia tak malu mendengar bisik-bisik penduduk, tak peduli dengan gagasan kosong bahwa ia layak hidup mulia andaikata musibah itu tak terjadi. Ia pergi dari rumah dengan mata letih dan kembali dengan mata yang lebih letih lagi.

Walau upayanya tak membuahkan hadiah senyum dari Ayah, walau jerih payah selalu habis di hari kelima setelah tanggal gajian, Kakak selalu bisa menyisakan senyum untukku dan Ibu. Padahal aku tahu tubuhnya semakin kurus dan sorot matanya semakin pudar.

Pada suatu sore di saat hujan tak henti-hentinya turun ke bumi, Kakak pulang dengan mata berbinar dan tubuh basah kuyup, sembari menggandeng tangan seorang lelaki.

“Saya mencintai Lily,” kata lelaki itu. Sebelum Ibu tuntas menyiapkan penganan dan teh untuk sang tamu, kemarahan Ayah sekonyong-konyong meledak. Kemarahannya seperti menggantikan peran halilintar di hujan sore itu. Aku tahu itu jenis kemarahan yang telah manusia tahan sekian lama.

Kata Ibu, Kakakku jatuh cinta dengan orang yang salah. Cinta sebenarnya tak pernah salah, tetapi perbedaan imanlah yang membuat cinta Kakak dan kekasihnya terbenam ke lumpur kesia-siaan. Sejak itu Kakak secara total menjadi bunga yang gagal. Ia layu, lalu jatuh ke tanah dan diinjak-injak nasib. Ia sering melamun di tepi jendela rumah kami yang berjelaga.

Kakak masih bisa melanjutkan hidup, tetapi segalanya tak lagi sama. Ia seperti tanah kutukan yang tak bisa ditanami tumbuhan jenis apa pun, yang saking seramnya membuat orang jeri untuk sekadar mampir. Tak ada lagi senyum untukku dan Ibu.

Walau demikian, Kakak bisa sedikit menemukan keceriaan tiap berkunjung ke sekolahku.

Telah satu tahun aku sekolah di kolese yang mewajibkan murid-murid tinggal di asrama. Hidup di sini sebenarnya tak jauh berbeda dengan di rumah: sama-sama sepi. Bedanya, kami mendapat jatah sebotol susu per minggu. Selain itu, koleksi buku di perpustakaan sekolah begitu membuatku tercengang, sehingga menjadi satu-satunya tempat yang selalu ingin kukunjungi meski kesempatanku terbatas.

Satu bulan terakhir, tiap berkunjung ia selalu menghabiskan malam di sini. Di kamarku memang ada dipan kosong, setelah satu murid bernama Rena dijemput orangtuanya satu bulan yang lalu.

Memanfaatkan kekosongan itu, Kakak bersama seorang lelaki bernama Lembu pun berkunjung tanpa memedulikan waktu. Mereka dengan cermat bersembunyi di balik selimut atau lemari, guna menghindari kecurigaan penjaga asrama. Mereka selalu pulang secara tergesa-gesa ketika matahari baru saja mengintip di jendela.

Lembu. Nama yang aneh. Namun jika kelak Ayah merestui cinta mereka, aku sama sekali tak keberatan Kakakku bersuami Lembu. Sepertinya ia lelaki yang baik.

Kejanggalan lain, Lembu memanggil Kakak dengan sebutan Dahlia. Hal itu sempat mengkhawatirkanku, jangan-jangan kesintingannya bertambah parah. Tapi hal itu berhenti ketika aku menyadari bahwa mungkin ia membutuhkan nama baru demi mengubur masa lalunya yang buram.

Malam ini pelukan Lembu terhadap Kakak semakin erat saja. Aku mengetahuinya karena ketika ia semakin erat dipeluk, rintihan Kakak menjadi semakin keras meski kerap diselingi cekikikan. Cekikikan itu membuatku paham ia sedang tidak berada dalam kondisi terancam.

Setelah kupikir-pikir, antara Dahlia atau Lily sebenarnya tak perlu terlalu kuhiraukan. Toh keduanya sama-sama bunga. Selama Kakak terus bisa tersenyum; selama ia menyikapiku dengan penuh kasih sayang; selama Lembu sanggup membuatnya bersinar: itu bukan sebuah masalah.

***

“Aku punya cerita tentang kisah tragis seorang perempuan.”

“Ini bukan taktikmu untuk menunda percintaan, kan?”

“Husy! Tentu saja tidak, sayang. Perempuan dalam ceritaku ini selalu menatapku dengan cara yang dalam dan aneh, seperti telah lama mengenalku.”

“Yang mana? Kecuali aku, semua orang di bangsal ini perempuan.”

“Si cantik yang berada di sebelah kita, Lembu.”

“Teruskan.”

“Namanya Rosa. Semua bermula saat dia berhubungan dengan lelaki yang salah. Ketika Rosa merasa lelaki itu tak layak untuk dijadikan kekasih, ia pun berinisiatif mengakhiri hubungan.”

“Bukan cerita yang spesial…”

“Tunggu! Nah, lelaki itu tak sudi kehilangan tambang emasnya. Keluarga Rosa luar biasa kaya. Suatu malam, Rosa diajak bercinta dalam kondisi mabuk dan lelaki itu merekamnya. Gila, kan! Ia mengancam akan menyebarluaskan video jika Rosa tetap mengakhiri hubungan mereka.”

“Bedebah! Pengecut sekali.”

“Rosa tentu saja terjepit. Ia tak bisa menceritakan masalah itu ke orang tua, teman, atau polisi. Ia hanya mengunci diri di kamar, berharap belas kasih lelaki itu. Ternyata ancamannya bukan sebatas gertak sambal. Seantero kota telah menonton tiap sudut tubuh telanjangnya, seminggu setelah ia mengunci diri.”

“Sebab itu dia menjadi sinting?”

“Begitulah. Tapi menurut Dokter Nung, lewat terapi sederhana, ia sebenarnya bisa kembali seperti sediakala. Tapi itu mesti melibatkan keluarga dan waktu yang dibutuhkan lumayan banyak. Ah, menjenguknya pun mereka tidak sudi…”

***

Duh, Kak, aku turut berbahagia dengan hubunganmu dan Lembu. Tapi sejak kapan aku punya kekasih, jika yang kulakukan selama ini hanya mendoakan dan mendoakanmu agar Tuhan memberimu suami?

 

___

Ilustrasi: Lana Syahbani

 

Fajar Martha

Media sosial: fajarmartha.wordpress.com | twitter.com/fjrmrt | facebook.com/fjrmrt. Profil: Menulis esai-esai bertema musik, sepak bola, dan politik sejak 2009. Sejak 2017 mulai gandrung mengarang dan menerjemahkan cerpen. Cerpen-cerpennya pernah tayang di Majalah Kartini, Pikiran Rakyat, serta Radar Surabaya.

No Comments

Post A Comment