Metaruang | Surat Genta: “Eyang, Ayah Saya Bukan Penjahat”
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17263
post-template-default,single,single-post,postid-17263,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Surat Genta: “Eyang, Ayah Saya Bukan Penjahat”

AYAH tak kunjung pulang.

Sudah terlalu banyak peristiwa-peristiwa penting yang Genta lalui tanpa kehadiran Ayah: dari bulan puasa, mudik lebaran, hari ulang tahunnya dan hari ulang tahun Raffi, hingga bagi rapot. Genta telah melalui libur antar semester, dan Genta telah kembali lagi ke sekolah.

Tapi Ayah masih belum juga pulang.

Dulu, siang hari seperti ini ketika ibu pergi ke pabrik dan ayah masih ada di rumah, ayah akan mengajaknya memancing di dekat sawah. Ayah Genta memang hobi memancing. Pulang ke rumah, menyambut ibu yang baru pulang bekerja, Genta dan ayah kemudian akan membawa banyak jenis ikan—wader, jambal, patin.

Sekarang bukan hanya ayah yang telah pergi. Sungai-sungai di desa juga tidak lagi bisa dijadikan tempat memancing; sungai-sungai sudah berbau busuk dan penuh limbah, penuh ikan-ikan yang mati mengapung karena racun.

Hari-hari pertama ketika ayah pergi, Genta dan kedua adiknya sudah sering bertanya kepada ibu soal keberadaan ayah. “Ayah ke mana, bu?” tanya mereka. “Ayah kapan pulang?”

Saat itu, ibu hanya menjawab bahwa ayah sedang bekerja.  Namun Genta sudah berumur 13 tahun, lebih tua dari adiknya yang masih berumur 3 dan 10 tahun. Genta mengerti lebih dari itu.

Sekarang, tanpa ada ayah di rumah, Genta lebih sering bermain dengan Raffi dan anjingnya Boby. Kadang, kak Jire yang sudah mahasiswa juga sering menemaninya menonton Naruto.

Kak Jire, salah satu dari banyak kakak-kakak yang bersolidaritas bersama warga desa di Sukoharjo, yang membantu Genta melawan.

Melawan limbah dan racun PT. Rayon Utama Makmur (RUM) yang merusak lingkungan hidup desa Genta, dan merenggut ayah darinya.

Menulis surat

Saat itu akhir bulan Juli 2018. Ibu Genta membawa kabar. Warga-warga di desa baru saja membuat rencana untuk bersilaturahmi ke rumah ibu Presiden Joko Widodo, kata ibu. Mereka juga akan membawa surat, yang berisi curahan-curahan hati mereka soal kondisi Sukoharjo sejak PT. RUM beroperasi, dan soal keluarga mereka yang dikriminalisasi karena memprotes limbah pabrik tersebut.

Memang, sejak Oktober 2017 ketika PT. RUM mulai beroperasi di dekat desa mereka, udara menjadi penuh dengan racun. Baunya begitu menyengat dan banyak warga jatuh sakit. Limbah pabrik juga mengotori sungai dan membuat ikan-ikan mati. Dalam upaya memprotes limbah pabrik PT. RUM, ayah Genta yang bernama Sukemi dan enam orang lain ditangkap, ditahan di penjara. Sukemi dituntut hukuman penjara selama 4 tahun 6 bulan.

Karenanya, ketika Genta mendengar kabar ini, ia langsung menyahut cepat. “Saya juga mau, bu!” kata Genta.

“Ya sudah,” balas Venny, seperti yang ia ceritakan ketika dihubungi Metaruang pada Kamis, 2 Agustus 2018. “Kalau mau kirim surat juga, nanti ibu bilang ke Mas Jire biar diajarin gimana caranya bikin surat pakai kata-kata yang baik.”

Genta pun mulai menulis. Ia merobek kertas dari buku tulisnya, dan mengambil pulpen.

“Untuk Eyang Putri Pak Jokowi,” tulisnya. “Eyang ayah saya bukan penjahat. Ayah saya hanya memperjuangkan lingkungan dan udara bersih untuk masa depan saya…”

Surat itu lalu Genta beri kepada ibunya, untuk dikumpulkan bersama surat-surat warga lainnya.

Venny: Mengantar surat Genta

Mereka menaruh surat Genta bersama surat-surat lainnya ke dalam sebuah bakul dari anyaman kayu. Diikat dengan kain batik, bakul itu Mas Jire panggul di pundaknya.

Venny, ibu Genta dan istri dari Sukemi, menceritakan kejadian hari itu.

Pagi hari pada Senin, 30 Juli 2018 itu, sekitar pukul 06.00, dengan persiapan yang singkat, warga dan keluarga korban sudah hadir dengan atribut lengkap di titik kumpul. Venny memakai masker di wajahnya dan melihat sekitar. Ada yang memakai caping, ada yang membawa bendera dan spanduk. “Permisi, korban Sritex mau lewat!” seru spanduk itu.

Puluhan orang ini berkumpul untuk melakukan aksi jalan kaki ke rumah ibunda Presiden Jokowi. Beberapa warga lain ada yang membawa motor dan ambulans. Anak Venny yang paling kecil, Daffa, ada di dalam mobil yang juga tergabung dalam rombongan mereka, bersama seorang saudara Sukemi. Namun mereka tiba-tiba dihadang polisi, ketika tepat sedang berjalan di depan pabrik PT. RUM.

“Kita dikasih tahu, intinya gak boleh ke sana,” kata Venny.

Warga dan kawan solidaritas pun mencoba melakukan negosiasi dengan pihak kepolisian. Pasalnya, sebelum melakukan aksi jalan kaki ini, mereka sudah memberikan surat pemberitahuan kepada Polres Sukoharjo dan Surakarta. Pihak polisi pun telah menerima surat pemberitahuan mereka, dengan berbagai bukti-bukti.

Namun kepolisian malah menyangkal hal ini. “Pemberitahuan resmi ke kita gak ada,” ucap Kabag Ops Polresta Surakarta AKBP Arif Djoko pada hari yang sama. Pihak kepolisian juga berkata bahwa massa yang mengikuti aksi jalan kaki tersebut seharusnya meminta izin terlebih dahulu kepada Paspampres.

Venny dan warga lain menunggu selama berjam-jam, sembari negosiasi berjalan lambat. Matahari semakin terik dan semakin tinggi; waktu sudah menunjukkan pukul 11.00.

Aksi jalan kaki akhirnya boleh dilanjutkan. Namun terus menerus, di berbagai titik, barisan-barisan polisi dan tentara—lengkap dengan mobil patroli dan truk-truk kacang hijau—menghadang mereka.

Rasanya Venny sudah berjalan sepanjang hari. Sekitar pukul 15.00, bangunan bertingkat berwarna kuning dengan tiang-tiang hitam muncul di hadapannya: Polsek Grogol. Venny telah berjalan belasan kilometer jauhnya.

Kali ini barisan polisi membentuk benteng yang semakin kuat. Mereka terpaksa berhenti total. Lagi-lagi, warga dan kawan-kawan solidaritas harus adu mulut dengan polisi. Polisi menyuruh Venny dan yang lainnya untuk pulang.

“Mau ke tempat ibu Jokowi untuk apa? Ada perlu apa?” tanya polisi yang ketika itu tengah berdebat dengan mereka.

Venny saat itu sudah menangis. Sudah banyak energinya yang terkuras—ia telah berjalan kaki belasan kilometer, dan harus melawan barikade-barikade polisi sepanjang perjalanan, berkali-kali. Venny pun membalas, “Pak, saya cuma mau nyari keadilan, kenapa dihadang-hadang terus? Kasihan anak saya ditinggal bapaknya, kita ke sana damai kok cuma pengen ketemu.”

Kawan-kawan solidaritas pun berinisiatif untuk melakukan orasi di depan Polsek Grogol. Venny menerima pengeras suara dari kawan-kawan dan membacakan surat Genta kepada bapak-ibu polisi.

Namun keadaan tidak kunjung berubah. Tekanan dari polisi kepada mereka masih begitu kuat; Venny memutar otak untuk mencari cara agar surat Genta bisa sampai ke tangan Ibu Jokowi.

Ia pun berseru kepada aparat. “Bapak bisa jamin gak surat ini nyampe ke tangan ibu Jokowi?” Karena jika mereka bersedia mengantarkan surat Genta, Venny dan warga lainnya akan pulang, kata Venny kepada mereka.

“Tidak bisa,” jawab polisi.

Mungkin ketika itu Venny terus teringat anak-anaknya. Teringat Genta, Raffi dan Daffa, teringat kata-kata “Ayah kapan pulang?” yang menjadi dorongan Venny ketika itu. Surat Genta harus sampai.

Di tengah-tengah barisan puluhan polisi berseragam abu dengan tameng dan pentungan, Venny akhirnya  mengambil surat-surat yang ada di dalam bakul, mengabaikan tekanan aparat, dan nekat menerobos kerumunan untuk melanjutkan jalan kaki seorang diri.

“Saya lalu jalan sendiri, gak ada yang kawal. Saya nekat. Warga yang lain masih ditahan di belakang. Saya benar-benar sendiri,” tutur Venny.

Venny terus berjalan dan berjalan. Awalnya ia dapat berjalan kaki dengan lancar. Sayangnya, setelah beberapa waktu, ia dihadang lagi. Warga dan kawan solidaritas lain juga ada yang mengejar Venny, dan mengajak Venny pulang. Menolak dibujuk untuk pulang, Venny terus lanjut berjalan, hingga akhirnya terpaksa berhenti di Dawung, perbatasan Sukoharjo dan Surakarta. Di sana, barikade polisi membentuk benteng kuat yang nampaknya sangat sulit ditembus.

Surat Genta dan keluarga korban lainnya, akhirnya dititipkan kepada seorang bapak berkumis, berkulit coklat dan berperawakan besar. Ia memakai kemeja putih, dan Venny sempat berfoto dengannya sebagai bukti dokumentasi bahwa surat-surat mereka sudah dititipkan. Laki-laki itu adalah Kasat Intel Polresta Surakarta, dan namanya adalah Bowo.

Venny pun pulang ke rumah. Lalu menunggu dan menunggu kabar.

Namun hingga hari tulisan ini diturunkan, Venny masih belum tahu, apakah surat Genta sudah sampai atau belum.

Padahal, sidang vonis Sukemi dan enam orang aktivis lingkungan lainnya akan dilaksanakan pada Selasa, 7 Agustus 2018. Dalam sidang itu, akan ditentukan nasib ayah Genta dan yang lainnya: apakah akan dipenjara selama 4 tahun dan lebih, atau tidak.

 

Tulisan terkait:

___

Dokumentasi: SAMAR

Dipanggil Stik. Sehari-hari kegiatannya ngejar-ngejar narasumber dan berusaha nulis berita secepatnya pakai dua jempol.

1Comment
  • satriani
    Posted at 05:38h, 07 August Reply

    Saya sangah sedih membaca ini. Tulisan ini sangat menyentuh hati saya. Semoga ada keadilan untuk ayah genta dan warga lainnya. Amien

Post A Comment