Loader

Brutalitas = Meremas Testikel

Barangkali Anda kaget membaca judul tulisan ini. Mungkin tergelitik, atau bahkan merasa jijik. Tapi bagi kami warga kota ‘ramah HAM’, lars dan pentungan yang mendarat di muka adalah hal rutin yang kami jumpai di pojokan kota sampai pusat kemeriahan menyemut di episentrumnya. Ulu hati Anda disodok baton? Itu hal yang biasa. Dijambak dan diseret? Lumrah adanya. Disemprot dan diancam diculik saat aksi membela warga korban gusuran? Anggap saja kicau burung ciblek. Namun tidak untuk yang satu ini.

Mari kita sama-sama bayangkan. Saat aparat merangsek dan mulai melayangkan bogem plus tendangan ke segala arah (juga pekat gas air mata), ternyata yang perlu Anda lindungi dari sasaran amuk itu bukan hanya kepala dan muka. Selangkangan rupanya turut jadi target empuk otoritas menunaikan agresivitasnya. Rambut dijambak, muka tak lagi berbentuk, badan remuk, dan testikel Anda jadi bulan-bulanan aparat. Berikut ini adalah catatan bagaimana brutalitas dan  kekuasaan itu mengambil bentuk libidinal sebagai teror, dan berupaya melemahkan kebenaran dengan caranya yang amat jahiliyah: melecehkan, meremas testikel.

***

 

SERET-MENYERET, bogem demi bogem, tendangan demi tendangan, jambakan demi jambakan hingga remasan demi remasan dengan ringan tangan dilakukan aparat ketika menggusur ruang hidup warga RW 11 Tamansari pada 12 Desember, 2019. Seolah tidak cukup dengan kekerasan yang menyasar benjol dan bocor darah di kepala, lebam yang membiru di sekujur tubuh dan guratan luka di pelipis wajah, aparat gabungan Kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)  juga melakukan pelecehan seksual terhadap massa aksi solidaritas yang ditangkap.

Hari eksekusi penggusuran rumah warga RW 11 Tamansari berlangsung ricuh dikarenakan aksi brutal aparat tersebut yang turun untuk “mengamankan” perampasan tanah. Banyak dari massa aksi solidaritas yang berusaha mempertahankan ruang hidup warga, digempur oleh pentungan, tameng, dan tangan kosong yang digunakan aparat untuk menghajar dan menjabak mereka. Kekerasan pun tak berhenti di area konflik. Bahkan ketika beberapa massa aksi telah berada dalam sekapan , tangan-tangan aparat masih saja gatal untuk melancarkan bogem-bogem lainnya. Sarpandi [1](24) dan Dodi (20) merupakan dua dari massa aksi solidaritas yang diseret dan mengalami kekerasan oleh aparat ketika mereka ditangkap maupun setelah ditangkap. Salah satu bentuk kekerasan yang mereka juga dapatkan adalah pelecehan seksual.

Melucuti Diri

“Waktu itu saya ditangkap pagi-pagi. Jam 9 kalau gak salah. Saya ditangkap pas Satpol PP lagi mendesak masuk ke rumah Umi. Saya dipisahkan dari Satria yang lagi saya jagain, terus saya diseret ke depan Koramil, tempat polisi-polisi itu ngumpul.” Buka Sarpandi ketika ia mulai menjelaskan kekerasan aparat yang terjadi padanya.

Ketika ia sampai di depan Koramil, ternyata terdapat sekumpulan orang yang mengaku sebagai warga Tamansari. Mereka sudah siap mencemooh massa aksi yang ditangkap seperti dirinya. Dari banyaknya cemoohan yang disemburkan, Sarpandi mengingat beberapa kalimat yang membuatnya meledak di tengah-tengah serangan mereka. Beberapa kalimat tersebut di antaranya adalah mereka menyebutkan bahwa ia dan kawan-kawan massa aksi solidaritas yang selama ini setia mengawal dan membantu warga yang bertahan telah ditipu dan dimanfaatkan oleh Teh Eva sebagai salah satu warga RW 11. Sambil berteriak, mereka menyebut-nyebut soal usaha konveksi Teh Eva dan menyudutkannya dengan dugaan bahwa ia telah dimanfaatkan untuk kepentingan satu orang saja. Mendengar lanturan seperti itu, giliran Sarpandi yang menyerang mereka dengan aksinya yang tak terduga.

Dengan suara parau, nafas terengah-engah dan tubuh yang bergetar menahan tangis, ia mengeluarkan ledakannya sambil sesekali menunjuk-nunjuk mereka.

Sok, weh. Urang mah didieu karena maranehna daek mempertahankeun hak hirupna, teu jiga maraneh nu ngan saukur dibere sangu sabungkus ge nya daek weh nyalahkeun aing.” [2]Cecar Sarpandi. Setelah itu ia melanjutkan, “Sok maneh hayang naon ti aing?”[3]

Orang-orang yang mengaku sebagai warga setempat pun diam, Sarpandi memandangi mereka semua dan langsung melakukan aksi yang membuat mereka tak berkutik sedikitpun.

Maneh hayang baju urang? Tah baju urang!”[4] Sarpandi tiba-tiba melepas kaus yang sedang dipakai lalu ia melemparkannya. Ia melakukan hal yang sama pada kalimat-kalimat selanjutnya.

Teu cukup? Maneh hayang sapatu? Tah sapatu urang!”
“Mun teu cukup keneh mah bawa calana urang tah!”
“Teu cukup keneh? Maneh hayang cangcut urang?”[5]

Ketika ia hendak melepaskan celana dalamnya, salah satu polisi menahan tangannya. Semua orang yang mencemoohnya masih diam tak menyaut. Hanya ada tatapan gusar dan wajah-wajah yang berpaling ketika mereka bertemu tatap dengan Sarpandi. Polisi menyuruhnya mengenakan pakaiannya kembali dan kemudian membawanya ke kantor Satpol PP.

Dikepung, Dikeroyok, Diseret, dan Diremas Polisi

Setelah 6 jam ia mesti menunggu, polisi yang mengantarnya ke kantor Satpol PP datang untuk membawanya ke Polrestabes. Ia diangkut dengan mobil dalmas. Di dalam dalmaslah, ia menerima perlakuan yang melecehkan dirinya.

Sarpandi merasa terancam dan tubuhnya kembali bergetar. Ia menangis di sepanjang jalan menuju Polrestabes. Polisi memakinya berkali-kali. Sarpandi masih menangis. Kemudian salah satu polisi membentaknya sekali lagi, “Maneh teh boga kontol teu?!” [6]Yang lebih membuat Sarpandi bergetar dan lemas adalah polisi tersebut lanjut meremas kemaluannya secara tiba-tiba.

Tidak hanya sampai di situ, Sarpandi mesti merasakan lagi pelecehan lain yang diberikan aparat kepolisian ketika ia sampai di Polrestabes. Ia melihat kawan-kawan massa aksi solidaritas yang lain sedang dimaki-maki dan dipukuli. Bersamaan dengan pemandangan itu, seorang polisi datang menendang kemaluannya.

Perlakuan getir tersebut tidak hanya menimpa Sarpandi. Ia bercerita, ada satu teman massa aksinya yang juga ditangkap dan mengalami hal tersebut.

Dodi membenarkan hal tersebut. Ia tak menyangkal bahwa kekerasan seperti kemarin di Tamansari terjadi padanya. Dengan balasan yang terkesan lambat dan bertitik-titik yang cukup panjang, ia meng-iyakan semua pertanyaan terkait peristiwa yang menimpanya.

“Waktu itu massa aksi udah terpencar, buyar pokoknya,” buka Dodi ketika mulai menceritakan kronologi kekerasan aparat terhadapnya.

Dodi bersama beberapa kawannya yang kalang kabut, akhirnya masuk ke dalam bangunan Balubur Townsquare (Baltos) untuk menyelamatkan diri dari gas air mata yang ditembakkan. Belum sempat sampai di pertengahan mall, ia sudah harus berpapasan dengan dua personil polisi yang menenteng kayu besar dan tameng. Sontak Dodi dan kawan-kawan kocar-kacir dan terpisah.

“Waktu itu aku gak ngeuh kalau baltos tuh udah dikepung polisi.” Ujar Dodi.

Dodi bersama kawan-kawan awalnya berlari bersama ke arah pertama mereka masuk yaitu parkiran samping Baltos. Namun kemudian mereka terpisah ketika di pintu keluar; satu lari ke lantas atas dan yang lainnya memanjat tembok. Sementara itu, karena panik Dodi lari ke parkiran. Polisi telah berkerumun di area itu, siap dengan pentungan besar dan tamengnya.

“Awalnya aku berhasil kecot, [7]tapi pas berbelok arah aku kepeleset di rumput. Nah di situ lah aku babak belur.”

Dodi tak bisa berdiri, sekompi polisi mengerumuninya bagai orang kelaparan. “Mereka menghajarku dengan membabi buta.” Jelas Dodi.

Para polisi menghajar Dodi dengan berbagai cara dan alat; tangan kosong untuk mencecar kepalanya, tameng untuk mencabik tulang rusuknya, dan pentungan beserta kayu balok untuk mengoyak anus. Sambil menyiksa, para polisi itu berteriak “Paeh siah anjing!” [8]

“Ngilu sekali kalau diingat kembali.” Tambah Dodi.

Tubuhnya dibuat lemas, penglihatan kabur, membuat sulit untuk Dodi berdiri. Setelah itu, polisi menggeledah tasnya dan menemukan botol di dalam tasnya.

“Aku dijambak dengan geragasan dan dipaksa ngaku bahwa botol itu disimpan untuk dilempar ke polisi. Namun aku tetap diam karena rasa sakit di bagian dada.” Ia meneruskan.

Dodi dipaksa berdiri oleh seorang Polisi Wanita (Polwan), ia juga dipaksa untuk berjalan dalam keadaan remuk redam. Tentu saja Dodi tak mampu melangkahkan kaki. Namun polisi sama sekali tak melihat hal itu. Seorang polisi kembali memukulinya dengan tangan kosong dan pentungan. Kemudian dari belakang, seorang polisi lainnya membuat ia ambruk di tanah.

“Setelah dipukuli, ada satu polisi dari sisi belakangku yang meremas penisku dari bawah, dan itu beberapa kali diremas sampai aku jatuh lagi.” Ungkap Dodi ketika sampai pada perilaku pelecehan seksual yang dilakukan aparat.

Ketika ia ambruk, dua polisi tanpa seragam memaksanya berdiri. Pinggang Dodi terasa dingin. Kedua polisi itu sudah menodongkan pistol pada pinggangnya dari belakang. Sambil menodongkan pistol, polisi itu berteriak “Ayo cepet kamu jalan! Jangan banyak gerak, nanti kamu saya tembak!”

Dengan mata yang tak lagi bisa melihat apapun dan sulit dibuka, benjolan di kepala, darah mengucur dan lebam di mana-mana, Dodi berjalan dengan kondisi setengah mati. Setelah ia dipaksa berjalan, semuanya kabur. Ia tak sadarkan diri dan kemudian menemukan dirinya sudah ada di Polrestabes Bandung. Ia bangun dan muntah-muntah akibat kepala yang berat.

Dodi kemudian mengaku bahwa guncangan psikologis masih ia rasakan hingga saat ini. Selain itu, lebam dan linu di tubuhnya masih ia rasakan akibat aksi kekerasan yang dilakukan aparat kepadanya. Ia juga berterus terang, akibat kejadian brutal yang getir tersebut, rasa trauma masih menyelimutinya untuk kembali ke Tamansari.

Ia masih dalam pengobatan untuk luka-luka yang dihasilkan kekerasan aparat di Tamansari ketika penggusuran terjadi. Tapi ia tak menyesal. Ia menutup keterangannya dengan berkata, “Iya, saya gak nyesel, kok. Cuman di sini jadi jelas aja bahwa aparat gak pernah berpihak kepada rakyat.”

Pernyataan serupa diungkapkan oleh Sarpandi ketika ia selesai dengan keterangannya sendiri. “Urang mah teu paduli urang rek dikumahakeun, anu urang pikiran terus mah soal warga kumaha. Nasibna kumaha, babaturan urang kumaha.”[9]

 

 

___

Catatan:

[1] Nama disamarkan.

[2] “Terserah. Saya di sini karena mereka  mau mempertahankan hak hidupnya. Gak kayak kalian semua yang dibayar pake nasi bungkus juga mau aja nyalah-nyalahin saya.”

[3] “Bilang, kalian mau apa dari saya?”

[4] “Kalian pingin baju saya? Nih baju saya!”

[5] “Gak cukup? Kalian pingin sepatu? Nih ambil!”
“ Kalau masih gak cukup juga, nih bawa celana saya!”
“Masih gak cukup juga? Kalian pingin kancut saya?”

[6] Kamu punya kontol gak sih?!

[7] Menghindar

[8] “Mati, anjing!”

[9] “Saya gak peduli saya mau digimanain, yang saya pikirin terus adalah soal warga, nasib warga gimana, kawan-kawan saya gimana.”

___

Artikel terkait:

___

Militansi 2019, Metaruang

 

No Comments

Post A Comment