Loader

Tamansari, Sehari Setelah Digusur

HALAMAN depan Masjid Al-Islam, Tamansari, Bandung sore ini dipenuhi tumpukan barang-barang dan perabot rumah tangga yang basah-kuyup. Lemari, kulkas, televisi. Mesin cuci, kipas angin, kardus-kardus basah berisi baju. Semuanya barang-barang dan perabot dari rumah warga RW 11 Tamansari yang dibongkar dan digusur paksa oleh Satpol PP sehari sebelumnya, Kamis, 12 Desember 2019.

Kebetulan, cuaca Bandung Wetan belakangan ini memang terus berawan. Selama sepekan kemarin, hampir setiap hari Tamansari diguyur hujan. Sore ini hujan lebih deras dari biasanya, merembes karung beras yang diisi baju-baju dan sarung, masuk ke sela-sela peralatan elektronik, menggenangi gerobak yang memuat rice cooker dan peralatan masak lainnya.

Sepasang tangan mengangkat televisi. Tama, warga RW 11 Tamansari yang rumahnya ikut digusur oleh Pemerintah Kota Bandung, ia angkut satu per satu perabot rumah tangganya ke atas truk bersama-sama warga dan kawan-kawan solidaritas

Beberapa warga Tamansari sekitar, yang tidak terdampak penggusuran, berdiri berkumpul di sisi-sisi jalan gang. Mereka ikut melihat proses pengangkutan barang-barang. Seorang ibu, menggenggam anaknya di satu tangan dan mengulas dada, bertanya khawatir pada warga yang lewat di depan rumahnya. “Ini pada mau dipindahin kemana?”

***

Dapur umum adalah satu dari sedikit sudut yang tersisa di Tamansari. Ada hiruk-pikuk dan kerepotan selepas diguyur hujan. Di dapur umum ini, beberapa kawan solidaritas punya tugas: memastikan semua orang (baik warga maupun massa solidaritas) sudah makan.

Pada Jumat, 13 Desember 2019, mereka menerima cukup banyak sumbangan makanan berat. Dari komunitas masjid hingga warga sekitar, makanan yang mereka terima bahkan bisa dibilang surplus: nasi, ayam bumbu kacang, acar timun, dan banyak lagi. Dengan cekatan mereka membagi-bagikan makanan, mengelola persediaannya, dan berbelanja untuk pasokan di hari mendatang.

Konstruksi dapur umum ini sangat sederhana, dan di bagian atas hanya ditutup oleh terpal. Hujan deras sore itu bukan hanya membuat dapur umum kebanjiran, namun membuat terpal di atas mereka goyah, tidak kuat menahan beban air.

“Kayak air terjun,” sebut Suhandi, salah satu kawan di dapur umum, sambil tertawa. Guyuran air dari terpal menyiram mereka, ikut membasahi kompor dan tas. Seorang warga, di tengah hujan deras itu, ikut berusaha membetulkan terpal supaya siraman air tidak makin parah.

***

Pasca penggusuran, massa solidaritas memutuskan untuk membagi diri menjadi beberapa tim dengan tugas masing-masing. Ada tim evakuasi, tim logistik, tim pendamping warga, tim keuangan hingga tim dapur umum. Sebagian orang membantu warga memindahkan barang dan menjaga tempat mereka tidur; sebagian mencatat kebutuhan darurat warga. Sebagian lagi mendampingi dan menenangkan warga secara psikis, sebagian mengelola keuangan.

Setelah rumah dibongkar dan diratakan dengan tanah, warga dan massa solidaritas tidur di Masjid Al-Islam. Masjid ini, yang terletak persis di belakang Balubur Town Square (Baltos), sempat menjadi masjid yang dijadikan pusat kegiatan warga Tamansari dan kawan solidaritas. Forum warga, konferensi pers, hingga kelas belajar bagi anak-anak sering diadakan di masjid ini. Masjid ini tentunya menyimpan banyak ingatan dan emosi kolektif—sungguh pahit rasanya mengingat bahwa esok hari bisa saja masjid ini sudah ikut rata dengan tanah.

Malam pertama setelah rumah digusur, beberapa kawan solidaritas bergilir tidur, agar selalu ada yang berjaga. Perihal urusan makan, tim dapur umum dapat menjamin tak ada yang kelaparan.

Anak-anak warga beberapa hari ini tidak sekolah. Bayi dan balita nampak sehat, meski sehari sebelumnya ikut terkena dampak gas air mata.

Namun tentunya luka dan trauma masih sangat segar dalam ingatan mereka, baik warga maupun kawan solidaritas. Di antaranya dalam ingatan Koswara dan Satria.

***

Di Hari Penggusuran: Satria

Satria berusia 12 tahun. Keluarganya telah turun-temurun tinggal di Tamansari, dan baik orangtua maupun neneknya merupakan bagian dari warga RW 11 Tamansari yang menolak pembangunan proyek rumah deret Ridwan Kamil.

Kamis pagi, di hari rumahnya digusur, mama membangunkannya pukul 6 pagi. “Sat, bangun tuh, ada beko,” kata mama, seperti dikutip Satria pada Jumat, 13 Desember 2019.

Satria pun bergegas pergi ke Taman Film untuk melihat situasi. Ekskavator belum ada, namun ia melihat personel intelijen lalu-lalang. Tak lama kemudian, Satpol PP datang membanjiri wilayah sekitar rumahnya.

Sesaat setelah bentrok terjadi, Satria melihat gerbang pertahanan yang dibangun warga dan massa solidaritas untuk menghadang aparat jebol. Di tengah keramaian, ia melihat ibu-ibu warga Tamansari lain menghadang aparat. Di hadapan ancaman kekerasan aparat, ibu-ibu harus berteriak: “Ini mah warga! Semua di sini warga!”

Satria sempat dilindungi dan diamankan oleh kawan-kawan solidaritas. “Ini mah warga,” tegas mereka kepada aparat, agar Satria tidak dipukuli. Aparat tak menghiraukan mereka. Satria tetap ditarik, diseret dan berkali-kali dipukuli oleh Satpol PP.

“Pukulnya ada yang ke muka. Tapi lebih banyak sih ke tangan,” kata Satria. “Tangan aku ditarik, terus ditonjok, pas lagi jalan.”

Satria tidak ingat siapa saja yang menarik dan menonjok mukanya. Yang pasti ada tiga orang: dua personil menarik tangannya, satu personil memukulnya. Yang menarik tangannya punya badan gemuk.

Muka Satria lebam. Sebelum hari penggusuran, tangannya juga pernah patah—pukulan bertubi-tubi dari aparat membuat sakit di tangannya kambuh kembali. Ia bilang kepalanya pusing sejak kemarin, setelah menerima kekerasan dari aparat.

Ia juga ingat menerima bentakan dari Satpol PP. “Ngapain anak kecil ikut-ikutan kayak gini? Bukannya sekolah!”

Ketika menceritakan kembali peristiwa ini, Satria hanya bisa bilang, “Ya masa sekolah tapi rumah ilang, terus gak tau apa-apa?”

Satria berkata ia sedih. Sejak kecil ia sudah hidup di Tamansari. “Rumah dihancurin sewenang-wenang,” ucapnya.

Satria juga bercerita, dulu punya banyak teman di RW 11. Namun satu per satu sudah pindah. “[Mereka] pernah bilang ke aku, ‘Udah, Sat, pindah-pindah aja lah, buat apa kalian kayak gitu demo-demo. Macetin jalan aja.’ Jadi bukan teman lagi, jadi kayak lawan.”

Satria mempertanyakan peran aparat yang melakukan kekerasan. “Tugas mereka itu, yang seharusnya melindungi dan mengayomi masyarakat, itu kayak tidak ada gitu. Malah merusak masyarakat, menindas masyarakat…”

***

Massa Solidaritas: Koswara

Koswara takut beranjak keluar dari kosannya. Ia tahu ia harus pergi ke kampus untuk kuliah, harus bertemu dosen untuk bimbingan skripsi. Tapi ada yang membuatnya was-was dan gelisah belakangan ini: figur berseragam coklat, dengan sepatu lars dan pentungan di tangan. Koswara takut bertemu polisi, setelah dipukuli, ditendangi, dan diangkut ke Polres Kamis lalu (12 Desember 2019) ketika datang ke Tamansari sebagai salah satu massa solidaritas.

Koswara berada di lokasi penggusuran saat aparat mulai menembakkan gas air mata. Ketika itu, ia melihat semua orang berlari, berusaha mengamankan diri. Aparat mengejar-ngejar kawan solidaritas yang berada di lokasi. Koswara melihat sebagian orang lari ke masjid. Ia lari ke pasar.

“Salahnya di situ. Aku di situ justru dikepung sama polisi,” ujar Koswara ketika ditemui di Bandung, Jumat, 13 Desember 2019.

Koswara ditarik, diseret sembari dipukuli. Kemudian Koswara dibawa lagi ke seberang Baltos, dimana ia ditendangi berkali-kali (lagi) oleh banyak polisi. Saking berkali-kalinya ia ditendangi, Koswara sudah hapal untuk mengantisipasi tiap ada aparat yang berkata, “Sia!”

“Pokoknya setiap ada suara, ‘Sia!’ itu siap-siap aja sepatu lars nempel di kepala,” ucapnya.

Koswara kemudian diangkut ke Polrestabes Bandung. Di perjalanan, ia juga bercerita terus dipukuli, ditendangi, dan dijambak. “Teman sebelahku [di mobil angkutan polisi] sampai ngomong, ‘Wah enggeus paeh di dieu sigana, paeh, paeh ieu mah…’” (Wah, kayaknya mati di sini, mati…)

Di Polres, mereka yang ditangkap disuruh jalan jongkok. Ponsel mereka disita. Perut Koswara ditendangi.

Sekitar magrib, Koswara kemudian dipindahkan ke Satpol PP. Di sana menurutnya keadaan ‘agak’ lebih baik—ia dan kawan lainnya yang ditangkap diberi makan. Sayangnya, perut Koswara sudah terlalu mual untuk makan karena ditendangi polisi berkali-kali. Ia tak jadi makan. Ia juga merasa sangat lelah dan lemas, hingga kesusahan berjalan. Di tengah-tengah kondisi ini semua, mereka semua masih diceramahi berjam-jam oleh polisi.

Koswara dilepas pukul 12 malam, dan dijemput oleh temannya. Ia sempat berpikir untuk mengambil ponselnya kembali di Polres, namun ia takut. “Malah-malah aku kena pukul atau ditahan lagi…”

Koswara akhirnya pulang ke kosan, setelah ponselnya bisa diambil dengan bantuan LBH Bandung. Badannya sakit dan kaku: “Tapi aku mesti kuliah, bimbingan skripsi. Pas keluar kosan aku takut; aku takut ketemu polisi…”

 

____

Dokumentasi: Anzhari

____

Militansi, 2019

___

Artikel terkait:

 

No Comments

Post A Comment