Metaruang | The Neon Demon, Sisi Gelap Industri Kecantikan
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
13
post-template-default,single,single-post,postid-13,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

The Neon Demon, Sisi Gelap Industri Kecantikan

 

Judul: The Neon Demon
Rilis: 20 Mei, 2016 (Cannes)
Sutradara: Nicolas Winding Refn
Produksi: Gaumont Film Company

 

Konsep kecantikan yang secara massal dibuat oleh para penguasa industri itu tampaknya masih menjadi perbincangan alot dan belum akan berakhir dalam waktu dekat. Mereka sengaja menjebak perempuan dengan standarisasi kecantikan lewat berbagai produk. Beragam kampanye yang bertujuan meruntuhkan hal itu pun belum bekerja sepenuhnya untuk semua khalayak. Elemen-elemen kecantikan seperti rambut pirang, kulit putih, dan mata biru terang, masih kerap muncul dalam berbagai film Hollywood.

Budaya yang berlangsung cukup lama ini berhasil membuat perempuan bersusah payah untukmenjadi “cantik”.

Mereka menjadi narsis hanya demi memuaskan tatapan orang-orang di sekitarnya, termasuk bagi para lelaki. Seperti yang dikatakan oleh tokoh feminis Simone de Beauvoir, ketika perempuan sudah sampai pada taraf demikian, mereka akan percaya bahwa dirinya adalah objek terpenting, sebagaimana yang ditegaskan melalui respon orang-orarngdi sekitarnya. Perempuan akan terobsesi dengan citra dirinya sendiri, dari mulai kulit, wajah, kecantikan, sampai pakaian.

Sutradara asal Denmark, Nicolas Winding Refn, pada akhirnya tergiur untuk menggarap perihal narsisme dan kecantikan perempuan barusan ke dalam film horror-thriller satir besutannya, The Neon Demon.

Film ini sempat mendapat tanggapan buruk ketika diputar di Cannes Film Festival 2016 karena muatan kanibalisme dan nechropilia. Sebagian penonton sampai walkout dan meninggalkan tempat pemutaran film dengan kekecewaan. Meski demikian, tidak semua film yang mendapatkan respon buruk di Cannes sama ekual dengan “tidak menarik”. Masih ada hal lain yang membuat The Neon Demon memesona dan pantas untuk ditonton. Tema klise mengenai kecantikan dan kaitannya dengan industri fesyen, dieksekusi sedemikian rupa dalam balutan sinematografi memukau dari Natasha Brairer. Ditambah banyaknya selipan metafora dalam bentuk adegan yang dimainkan para karakter, bumbu thriller, photograpic image, serta karakter dengan personality disorder, ide film yang sebenarnya sangat sederhana ini menjadi menarik untuk disimak.

Dengan modal mimpi besar, Jesse (Elle Fanning) seorang model yatim piatu berusia 16 tahun, nekat mendatangi kota metropolis Los Angeles seorang diri. Tak ada satupun yang dikenalnya, bahkan Jesse membuat portofolio modelling dengan Dean (Karl Glusman), seorang fotografer yang baru saja menjalin kontak dengannya. Tanpa kesulitan yang berarti, Jesse mendapatkan kontrak dengan agensi model top. Seiring pertemuannya dengan desainer dan fotografer veteran ternama, karirnya menanjak dengan cepat dan menjadi ancaman bagi model senior Sarah (Abbey Lee Kershaw) dan Gigi (Bella Heatcote). Jesse pun bertemu dengan makeup artist Ruby (Jena Malone) yang menaruh ketertarikan pribadi padanya. Tanpa rasa curiga, Jesse menjalin pertemanan dengan Ruby—karakter nechropilia sekaligus lesbian yang pada akhirnya membahayakan diri Jesse sendiri.

Sejak awal, sosok Jesse memang digambarkan sangat naif. Siapa pula yang bakal percaya pada setiap orang yang ditemuinya di kota yang benar-benar asing? Kenaifan Jesse semakin terlihat jelas, ketika ia memilih untuk tinggal di motel kumuh wilayah Pasadena milik pria berotak cabul bernama Hank (Keanu Reeves). Hanya beberapa adegan setelah kedatangannya ke motel tersebut, Jesse didatangi singa yang mengobrak-abrik kamar motelnya. Sebuah denotasi sekaligus konotasi akan bahaya yang ia hadapi saat itu. Di saat karirnya melejit pun Jesse tetap tinggal di sana. Sampai suatu ketika, sang pemilik melakukan kekerasan pada perempuan yang tinggal di kamar sebelah Jesse. Ia pun lantas mengontak Ruby dan beranjak dari motel tanpa ayal. Sementara waktu, ia memutuskan untuk tinggal di mansion besar yang Ruby tinggali.

Berhasil keluar dari bayang-bayang sang kakak, Dakota Fanning, Elle Fanning sejak awal memang punya kharisma tersendiri dalam berakting. Mulai dari aktingnya pada film drama independen semacam Somewhere (2010) dan Ginger & Rosa (2013), sampai blockbuster sekelas Maleficent (2014), belum ada satu pun yang mengecewakan. Memutuskan untuk berakting dalam The Neon Demon pun menambah daftar panjang kesuksesan akting Fanning di dunia perfilman. Kemampuannya memerankan perempuan lugu sekaligus kelewat narsis dalam satu film adalah sesuatu yang patut dipuji.

Perubahan sikap yang dialami setiap karakter dalam The Neon Demon terasa absurd. Jika tidak diiringi dengan sinematografi, serta soundtrack mendukung dari Cliff Martinez, berbagai transisi emosi dan gestur erotik mungkin tidak akan semulus ini. Pilihan tone film dengan sentuhan film horor 1970-an pun turut mendukung itu semua. Misalkan ketika Jesse yang lugu menyadari kelebihan dirinya dan termakan habis narsisme di tengah-tengah pagelaran busana. Ia menyadari kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh para pesaingnya, dan Jesse benar-benar merasa superior.

Adegan lainnya yang patut menjadi perhatian adalah ketika Ruby melakukan adegan seksual bersama mayat perempuan. Tindakan menyetubuhi mayat atau necrophilia yang Ruby lakukan tentu bukan semata-mata tanpa alasan. Salah satu sebab menjadi necrophile adalah keinginan untuk memiliki pasangan yang tidak akan menolak dirinya. Hal ini pula lah yang memang sedang dirasakan Ruby saat itu, sebuah pilihan menyedihkan di saat dirinya patah hati. Tidak bertahan lama, Ruby langsung melupakan kesedihan dan seketika merubahnya menjadi dendam. Dari kedua adegan itu sudah terlihat jelas, tanpa dialog atau monolog interior sang tokoh yang selama ini jadi bumbu utama sinetron, film ini sanggup menyampaikan pesan hanya dengan bantuan visual.

Meski demikian, dialog yang terdapat dalam film ini pun tidak bisa kita kesampingkan begitu saja. Percakapan satir menjadi bahan yang diaduk sempurna dalam setiap adegan. Salah satunya, adalah bincang-bincang soal lipstik yang Ruby, Jesse, Sarah dan Gigi lakukan sebelum menghadiri pertunjukan tari pagan di sebuah klub: “They say women are more likely to buy a lipstick if it’s named after food or sex. Just think about it. Black honey,  plum passion, peachey keen.

Bukan sekadar celetukan, hal di atas merupakan fakta yang terdapat dalam penelitian yang dirilis oleh Profesor Debra Merskin. Di samping warna, perempuan terbukti tertarik membeli lipstik karena alasan penamaan yang berkaitan dengan makanan dan tema seks. Siapa pula yang bakal tertarik membeli kosmetik dengan nama-nama hewan atau musisi? Bahkan, salah satu produk terlaris dari brand besar, NARS, mempunyai nama ‘Orgasm’. Makanan dan seks adalah hal yang erat berkaitan dengan naluri perempuan. Keduanya merupakan hasrat paling dasar yang dimiliki oleh setiap manusia. Selain itu, perempuan pun merasa nilai percaya diri mereka lebih terangkat ketika memilih lipstik dengan kedua tema barusan.

Dengan segala doktrin soal kesempurnaan sosok perempuan, kecantikan masih menjadi produk yang diperjualbelikan secara massal. Winding Refn berhasil memberikan sentilan soal hal tersebut lewat The Neon Demon. Dan hingga kini, di antara mereka yang berbicara bahwa kecantikan bukan segalanya, masih tetap ada yang percaya kecantikan adalah mata uang tertinggi. Industribudaya tak hentimembuat persyaratan yang mendekati mustahil untuk dilaksanakan bagi para perempuan yang ingin memasuki dunia hiburan. Hingga sedemikian, kiranya memang sudah jelas bahwa standar ilusif itu masih ajeg bertahan, sebagaimana tersirat dalam dialog pada film ini, yang nyatanya tak perlu kita sama-sama tampik, “Beauty isn’t everything, it’s the only thing”.

 

Lana Syahbani

Penulis, ilustrator (terkadang), dan pemusik. Suka sayuran, kantung mata, warna pastel, angka ganjil, dan percakapan seksi. Bisa ditemui di kedai/warung kopi seputaran Bandung.

No Comments

Post A Comment