Metaruang | Tiny Moving Parts, “Swell”
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16793
post-template-default,single,single-post,postid-16793,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Tiny Moving Parts, “Swell”

Album: Swell
Band: Tiny Moving Parts
Tanggal Perilisan: 26 Januari 2018
Label: Triple Crown Records (US)
Jumlah Track: 10 track
Durasi: 31.52
Genre: punk, midwest-emo, math-rock
Produser: Greg Lindholm
Mixing: Vince Ratti

 

Tiny Moving Parts sejatinya memang emo revivalist yang layak diperhitungkan. Kini setelah merilis album keenam, semakin membuktikan bahwa mereka tak hanya prolifik dalam produktivitas karya, namun juga terkandung elan eksploratif yang kian hari terasa kematangannya. Bagi para pendengar unit midwest-emo kampiun asal Minnesota ini sejak dari album awal, tentu saja mereka bakal menginsafi tranformasi Tiny Moving Parts dari album satu ke album lainnya. Kendati eksperimentasi Tiny Moving Parts berkutat di sirkuit emo revival dengan segala riff-riff khasnya, namun selalu saja ada kesegaran terbarukan di tiap albumnya. Bisa dikatakan bahwa Tiny Moving Parts memang terus bertualang mengeksplorasi tanah air tak dikenal dan tak bernama dalam jagad musikal.

Lewat label Triple Crown Records, pada 26 Januari 2018, Tiny Moving Parts merilis album baru yang bertajuk Swell. Album ini sendiri adalah album keenam mereka setelah sebelumnya merilis Waves Rise, Waves Recede, the Ocean Is Full of Waves (self-released, 2008); Moving to Antarctica (self-released, 2010); This Couch Is Long & Full of Friendship (Kind of Like Records, 2013); Pleasant Living (Triple Crown Records, 2014); dan Celebrate (Triple Crown Records, Big Scary Monsters, 2016). Swell pun sekaligus jadi markah satu dekade petualangan Tiny Moving Parts. Total hingga saat ini mereka telah merilis 6 album penuh, 2 album split bersama Victor Shores dan Old Gray, serta dua single “Old Maid” dan “Coffee With Tom” yang dirilis dalam format vinyl.

Duo Cavalier bersaudara dan Dylan Mattheisen mantap menaruh 10 track pada album Swell. Komposisi musikal yang dibangun di album terbaru betul-betul mengaburkan tapal batas eksperimentasi. Mulai dari vokal skramz dan clean yang bertautan, riff-riff twinkly Dylan dan ketukan drum tanggung William, tekstur jazzy yang kemudian berbalutkan pula distorsi, hingga tak ayal sejurus arpegio dari Dylan dan Matthew bisa berjumpa dengan latar vokal melismatik dari William. Dengan hanya berbekal Thinline Telecaster kesayangan dan stompbox 1 ½ Line 6 DL-4s serta Boss RC-30, dengan kepiawaiannya, Dylan memberi warna tersendiri bagi musikalitas Tiny Moving Parts. Sedangkan Matthew dengan Jaguar dan dua ampeg combo amps (1×15 dan 2×10) serta William dengan set drum SJC sederhananya, justru menghasilkan kombinasi musikal yang terdengar megah.

Sebagai karya yang lahir dari rahim emo revivalist, medan lirikal album Swell tak hanya menghadirkan perbendaharaan ansietas saja. Ia bukan kumpulan nomor-nomor soundtrack bagi kawula muda yang tengah bangkar asmara. Bahkan nomor-nomor dalam album Swell pun tidak layak dijadikan lagu pendamping bagi pasien yang tengah menjalani terapi hipnosis. Kendati ada beberapa nomor yang menghadirkan atmosfer romantisme yang spesifik (dan juga kondisi pasca patah hati), namun album Swell justru hampir menyerupai simpul montase yang menarasikan problema eksistensial keseharian yang jauh lebih kompleks. Dylan Mattheisen yang berada di dapur lirik, menaruh metafora-metafora segar dan citraan apik di banyak babakan lirik lagu.

“Applause” didapuk sebagai prelude album Swell. Lagu ini dibuka dengan tapping riff twinkly dan kemudian disusul vokal Dylan yang berteriak “Send applause to your heart string / Send it / Send it all down”. Lagu ini kemudian naik temponya kala memasuki verse. Di bagian verse pertama, tersempil penggalan “May they strum and feel everything / Letters will help you / Spring a farewell”. Di verse kedua, subjek aku-lirik berupaya lebih menegaskan maksudnya: “There’s always anniversaries for moments we refuse belief / And I can’t tell you / How much it hurts to be reminded all the time”. Hal itu kemudian diparipurnakan di verse ketiga yang memuat “We are the overcast that refused to pass / Every afternoon when the sun left / […] all I have is the damage”.

Jika subjek aku-lirik dalam penggalan lirik lagu itu tengah membicarakan kenangan yang telah jadi tembilang, maka Tiny Moving Parts berhasil menyublimkannya lewat komposisi musik yang energik. Meski lirik lagu itu menyiratkan seberapa dalam bilur masa lalu di punggung sang aku-lirik, namun tapping riff twinkly Dylan sepanjang lagu mampu menjagai nomor ini tetap mempunyai porsi rancaknya. Sebetapa amblasnya deklamasi “All i have is the damage” pada verse akhir, namun bagian bridge antar verse lagu ini yang berbunyi “Don’t doubt your alphabet!” sontak mematahkan itu semua. Lagu ini semacam penghormatan dari para personil Tiny Moving Parts untuk sosok di masa lalu yang pernah meruang-inap di hati mereka, namun justru menyisakan kenangan yang menyesakkan pada akhirnya.

Lanjut pada nomor selanjutnya, “Smooth It Out” masih mengusung atmosfer seperti lagu pembuka. Sedari bagian intro hingga menuju verse akhir, ada unsur suara synth yang disisipkan dan kemudian bersitaut dengan instrumentasi semua personil. Lirik di lagu ini pun tak kalah deklamatif: “Scan an open road, distort the traffic / Never getting used to these second guesses / I can’t pretend these things never happened / In every silence, ​there is a static / It’s all in your head”. Secara eksplisit, penggalan lirik itu hendak mengungkapan apa yang tengah berkecamuk di benak seseorang yang dimaksud oleh si protagonis; entah itu beban masa lalu maupun sebuah akumulasi kekalutan. Bagian chorus akhir lagu inilah yang kemudian mencuatkan keinginan sang aku-lirik: “So I’ll try to smooth it out / It’s whatever / Let me be the weight on your shoulders / I’ll try to smooth it out”.

Permainan tapping ciamik Dylan betul-betul jadi pusaran artistik Tiny Moving Parts. Tentu saja hal itu tidak bermaksud mengenyampingkan peran duo Cavalier bersaudara—yang tentunya mengemban peran penting pula di band. Dengarkan saja nomor lain di album Swell semisal “Feel Alive”, “It’s Too Cool Tonight”, dan “Wishbone”; meskipun tengah memainkan tapping riff-riff twinkly rumit, namun dalam waktu bersamaan Dylan pun tengah mengisi vokal. Tak perlu disangsikan lagi kepiawaiannya. Karena kedua hal itu tidak mudah apabila dilakukan secara simultan, butuh latihan intens untuk bisa menguasai tekniknya. Namun sekali lagi, Dylan Mattheisen melakukannya dengan luar biasa. Di satu sisi, riff-riff twinkly Dylan menguarkan nuansa yang ceria, namun tak dipungkiri pula bahwa kadang lirik yang dinyanyikannya justru tengah mengampu sebuah tragedi.

“Caution” menjadi salah satu nomor favorit di album ini. Sepintas apabila didengarkan dengan seksama, vokal Dylan di lagu ini mirip dengan tipikal vokal Tom Delonge era “Enema of the State”. Namun setelah memasuki chorus, Dylan mengeluarkan teknik vokal skramz khasnya. Lagu ini punya kompleksitas tersendiri tinimbang nomor-nomor lain di album Swell. Mulai dari arpegio dari awal hingga akhir lagu, permainan tempo ralletando menuju bagian akhir lagu, peralihan tempo ketukan drum dari 1/4 ke 1/16 yang begitu cepat di beberapa babakan, hingga tapping riff twinkly yang dibarengi vokal skramz, adalah rupa-rupa kerumitan teknikal lagu ini. Namun manakala kita mendapati sengkarut kerumitan di medan pertukangan lagu ini, di medan lirikal, lagu ini justru cukup kontemplatif dengan kelebatan-kelebatan permenungannya.

Refrain yang berbunyi “The caution tape wrapped around my brain / Has continued to stay / A constant strain right behind my face / I’m still waiting for a slight break / For a slight break”, mengisyaratkan ihwal kejenuhan—baik itu rutinitas harian atau aktivitas mekanis lainnya—yang kadung berada di titik kulminasi. Pesan ihwal bentuk alienasi itu diteruskan oleh verse berikutnya yang berbunyi: “I know we’re just different / Keep drinking from the same cup / It’ll fill you up / It’ll keep you numb”. Namun lirik di bagian bridge menuju outro lagu ini seolah ingin menampik keterasingannya, “You are caffeine in my bloodstream / You are the energy hidden in-between two muscles sleeping / Please don’t wake me up / I miss myself too much…”.

Entah siapa sebenarnya yang diibaratkan oleh sang aku-lirik itu sebagai kafein dalam arus darahnya. Namun jika menilik larik akhir yang berbunyi “I miss my self too much…”, ada dua kemungkinan yang mencuat perihal untuk siapa lagu itu dialamatkan. Pertama, ia adalah pengejawantahan kerinduan sang aku-lirik akan alter egonya—akan seseorang yang kerap mengisi penuh hari-harinya. Yang semula membuat gulitanya menjadi benderang, yang acap kali menambah gairah hidupnya, namun kemudian presensinya mesti terenggut. Kedua, lagu “Caution” bisa saja dimaknai sebagai solilokui yang diutarakan sang aku-lirik kepada Jin Qorin ataupun Doppelgänger-nya.

Dalam album Swell, termaktub pula nomor-nomor nelangsa lain semisal “Wildfire” dan “Whale Watching”. Hal apa yang membuatmu tetap bersitahan ketika mendengar penggalan refrain yang berbunyi “The highest rising moment of us was a blur”? Meskipun penggalan refrain kedua lagu itu bangkar sebangkar-bangkarnya, tetap saja nuansa musik yang dikomposisi oleh Duo Cavalier bersaudara dan Dylan, seolah membawa pendengar untuk masuk pada wahana yang tak menghendaki notasi-notasi tragis berdiang di telinga mereka.

“Malfunction” ada di entri nomor favorit selanjutnya dalam album Swell. Di lagu ini, Dylan bereksperimentasi membuat efek looping pada output sound gitarnya, sebelum nantinya kembali memainkan tapping-tapping mautnya di bagian refrain hingga akhir lagu. Lirik pada verse akhir lagu ini cukup menohok: “It was a malfunction / It was hard to grasp it / The truth of you leaving me behind / You never said goodbye / Resurrect my aching cells /Let’s restart my aging health”.

Nomor penutup pada album Swell diisi oleh tembang yang tak kalah nelangsa berjudul “Warm Hand Splash”. Dylan sendiri bahkan memberi eksplanasi mengenai lagu ini dalam sleeve album Swell. Tragis memang apabila dipaparkan. Kita setidaknya bisa menyimpulkan sendiri sejauh mana kenelangsaan itu hadir dari penggalan verse akhir lagu itu: “You’re the copper / I’m the litter / At the bottom of the wishing well / It looks as if we both have drowned / Warm hand splash comes down on the reach / You’ll never mean much to anyone / But you mean the world to me”. Semoga tak ada yang menenggak gasolin setelah menyanyikan verse itu.

***

Jemari yang terpotong, puntung sigaret yang patah, delapan jahitan pada telapak, serta dominasi biru toska; detail ilustrasi itu seolah menggambarkan sejumput trauma yang tak tertanggungkan (unassumable trauma). Terlalu dini memang untuk menyimpulkan bahwa anasir demikian memang terkandung dalam album Swell milik Tiny Moving Parts. Duo Cavalier bersaudara dan Dylan Mattheisen seolah membiarkan hal-hal seperti cinta dan maut ingsut dalam setiap lirik karya-karya mereka. Lantas pada akhirnya memang bukan hal yang mudah untuk mengguar selubung-selubung estetis itu tampil ke permukaan.

Seperti halnya pendahulu mereka—mulai dari Sunny Day Real Estate hingga American Football, semuanya mengeksplorasi tema lirikal ihwal romantisme yang acap kali begitu spesifik. Andai saja Tiny Moving Parts bertolak dari para pionir DC punk yang bertarung di ranah simbolik dengan provokasi kulturalnya seperti Fugazi, atau legasinya semacam Boysetsfire yang mengembalikan emo pada khitahnya, mungkin Tiny Moving Parts bakal lebih berbahaya.

Di medan teknis pertukangan, bisa dibilang album Swell milik Tiny Moving Parts sudah sangat mumpuni. Tak ada yang namanya pola galib dalam instrumentasi mereka. Dan hal itu akan semakin dilengkapi apabila mereka sadar bahwa marwah emo revival bukan untuk melanggengkan ekses-ekses gemalau khas mental borjuasi, namun menjadikan emo sebagai entitas perlawanan politik dan kultural.

 

Fajar Nugraha

Lahir di Bandung, 22 Juni 1996. Pecinta masakan Ibunda

No Comments

Post A Comment