Metaruang | Touché Amoré, “Stage Four”
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
16913
post-template-default,single,single-post,postid-16913,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Touché Amoré, “Stage Four”

Album: Stage Four
Band: Touché Amoré
Tanggal Perilisan: 16 September 2016
Label: Epitaph Records
Jumlah Track: 11 track + 1 bonus track
Durasi: 34:58
Genre: punk, emo, post-hardcore
Produser: Brad Wood
Mixing: Brad Wood (Seagrass Studios)
Mastering: Emily Lazar (The Lodge)
Desain Sampul: Nick Steinhardt
Kolase: Anthony Gerace
Fotografi: Ryan Aylsworth

 

“There is a time when death is an event, an ad-venture, and as such mobilizes, interests, activates, tetanizes. And then one day it is no longer an event, it is another duration, compressed, insignificant, not narrated, grim, without recourse: true morning not susceptible to any narrative dialectic.” (November 15)

The Mourning Diary, Roland Barthes.

 

Tidak ada suara paling menyesakkan dalam hidup Jeremy Bolm selain isi pesan audio terakhir dari Ibunya. Dalam pesan audio itu, sang Ibu mengabari Bolm bahwa dirinya diperbolehkan pulang dari rumah sakit untuk sementara waktu setelah menjalani rawat inap. Ia tinggal menebus resep obat di apotek yang jadi rujukan. Namun Ibunya tak ingin pulang apabila Bolm tidak sedang berada di rumah. Nahas, berselang beberapa pekan, sang Ibu mangkat meninggalkan Bolm pada 2014 silam dalam upayanya melawan kanker yang telah mencapai stadium empat. Pesan audio terakhir dan kepergian Ibunya itulah yang kemudian menuntun Bolm untuk melahirkan album Stage Four bersama rekannya di Touché Amoré.

Seperti halnya Barthes yang kemudian merilis catatan biografis The Mourning Diary (Hill & Wang, 2012) untuk didedikasikan kepada ibunya, apa yang dilakukan Bolm dan rekannya di Touché Amoré pun sama halnya, yakni didedikasikan untuk mendiang ibu Bolm. Perbedaannya, Barthes menulis The Mourning Diary selama rentang waktu manakala ibunya tengah dalam upaya berjuang melawan penyakit komplikasi yang diderita, sedang Touché Amoré merilis Stage Four pasca kematian ibu Bolm.

Touché Amoré sendiri adalah satu dari sederetan band lainnya yang mengibarkan panji renaisans post-hardcore Amerika. Mereka dibentuk dalam lingkar skena hardcore punk Los Angeles, California, pada medio 2007. Meskipun Touché Amoré lekat dengan pelabelan band screamo / emocore, namun mereka masih terus meruwat etos kerja otonom hardcore punk dengan menolak segala bentuk elitisme dalam industri musik. Band yang beranggotakan Jeremy Bolm pada vokal, Clayton Stevens dan Nick Steinhardt pada gitar, Tyler Kirby pada bass, dan Elliot Babin pada drum ini, telah melahirkan corak hardcore punk yang lebih emosional sekaligus melodius dalam album-albumnya.

Eksperimentasi itu sudah terasa semenjak album …To the Beat of a Dead Horse (2009, 6131) yang dipertahankan hingga Stage Four. Eksperimentasi lain semisal tekstur atmospheric, bisa bertaut sedemikian canggih dengan dentam melodic. Tak tanggung-tanggung, mereka pun menyeret wahana soundscape yang mampu berpadu-padan dengan epos kemarahan via vokal Bolm. Dan bukti dari kecemerlangan eksperimentasi mereka bisa kita dengarkan dalam album keempat. Tak ayal, Stage Four pun menjadi album paling kaya akan komposisi mutakhir dalam diskografi Touché Amoré.

Pada 16 September 2016, label Epitaph Records resmi merilis album Stage Four dari Touché Amoré. Stage Four sendiri adalah album keempat setelah sebelumnya Touché Amoré merilis album …To the Beat of a Dead Horse (2009, 6131), Parting the Sea Between Brightness and Me (2011, Deathwish), dan Is Survived By (2013, Deathwish). Tak hanya itu, Touché Amoré pun telah merilis Demo EP (2008, No Sleep Records) dan beberapa split album dengan La Dispute, Make Do and Mend, The Casket Lottery, Pianos Become the Teeth, Self Defense Family, hingga dengan Title Fight.

Stage Four adalah rilisan paling menjelaga dari Touché Amoré. Album ini bisa dimaknai ganda, selain sebagai pencapaian musikal album keempat Touché Amoré, ia pun memang perbendaharaan duka Bolm akan Ibunya yang mangkat manakala berjuang melawan kanker yang telah berada di stadium empat. Personil Touché Amoré lainnya sepakat untuk memberi ruang sepenuhnya pada Bolm di medan lirikal album Stage Four. Bolm menulis semua lirik lagu pada album yang ditunjukkan sebagai penghormatan untuk mendiang ibunya. Dalam upayanya itu, Bolm betul-betul menjadikan medium auditif penyampaian pesan sebagai memento mori, sebagai catatan pengingat akan maut yang menjemput ibunya.

Dari sampul album Stage Four yang didesain oleh gitaris Touché Amoré sendiri, yakni Nick Steinhardt, kita bisa merasakan atmosfer kedukaan yang begitu kentara. Sampul itu memuat sebuah kolase dari foto badan pintu berwarna kuning daffodil dengan beberapa ornamen yang menghiasinya. Kolase itu sendiri adalah hasil tangan seorang Anthony Gerace, yang digarap dari tangkapan layar Ryan Aylsworth. Berkuntum bunga hias dengan gantungan ucapan selamat datang, kotak surat, gagang pembuka pintu, angka 300 yang entah menunujukkan nomor apa, serta tak lupa bingkai merah rosewood yang mengelilingi foto kolase itu, menjadi detail relikui yang seolah hendak mewakili secara visual duka Bolm akan kepergian ibunya.

“Flowers and You” didapuk sebagai nomor pembuka pada album Stage Four. Pada track inilah Bolm mengafirmasi sebuah kegilaan dari kehilangan sosok yang sangat ia cintai. Nomor ini dimulai dengan petikan gitar dari output pedal efek chromatic milik Steinhardt dan Stevens. Menuju menit pertengahan lagu, nomor ini mulai menaik temponya, seiring Bolm yang langsung memuntahkan kedukaannya di verse awal: “I’m heartsick and well rehearsed / Highly decorated with a badge that reads “It could be worse” / So prideful I choose to live in disguise / With a levee set for my heavy eyes”. Bolm tahu bahwa maut memang karib terdekat, namun ia menyadari sesuatu bahwa duka akan kepergian ibunya betul-betul menyeligi tajam di punggungnya pada hari-hari ke depan.

Di verse selanjutnya yang menyuling tenaga kuatren, Bolm mengutarakan kepergian ibunya seumpama lelayu berkuntum bunga kesayangannya: “I apologize for the grief / When you’d talk about belief / I didn’t know just what to say / While watching you wither away”. Larik vocal gang dari personil lain yang menyuarakan “It was time this whole time” menjadi elemen getir lainnya dalam lagu ini. Seperti halnya potret bunga yang memudar pada sampul Stage Four, begitu pula dengan apa yang dirasakan Bolm. Ia tahu bahwa segala kenangan antemortem bersama ibunya tak akan pernah kembali. Manakala Tuhan memetik napas ibunya, kala itu pula sebuah jarak menuju sosok ibunya membentang dan tak akan lagi bisa ia tempuh. Dan Bolm menutup lagu ini dengan verse pamungkas “I took inventory of what I took for granted / And I ended up with more than I imagined / I’ve kept it bottled up and to myself in the cellar / Kept for my ever-changing mental health”.

Pada malam penghujung Oktober manakala warasnya terjaga, Bolm memutar berulang kali pesan audio terakhir yang ditinggalkan ibunya. Pesan audio itu ia putar bersamaan dengan nyala api unggun di pekarangan, beberapa batang kembang api yang dibakar, serta setengah lusin buah apel yang ia ambil dari dalam air dengan mulutnya. Pasca ibunya mangkat, bagi Bolm, ada Halloween baru yang tak hanya jadi malam perayaan kostum mambang saja. Tatkala Halloween tak lebih dari sekedar malam selebrasi spektral bagi banyak orang, bagi Bolm, Halloween lain yang sebenarnya adalah malam ketika ibunya mangkat. Nomor kedua pada album Stage Four yang berjudul “New Halloween”, secara subtil menjelaskan pengalaman itu.

Kendati menyematkan judul yang menyimpan aura spektral, nomor kedua pada album Stage Four ini terdengar cukup melodic dan langsung menggedor dengan balutan tremolo arm pada kedua gitarnya, serta bassline yang apik dari Kirby. Sementara itu, Bolm membuka lagu ini dengan empat larik yang begitu deklamatif: “Somehow it’s already been a year / Embracing all diversions to make this feeling disappear / Now I just feel you everywhere / It coincides with the guilt of knowing that I wasn’t there”. Ada harapan yang dibalsami, ada kenangan yang dikafani. Lantas akhirnya Bolm mengungkapkan keinginannya untuk tetap menjadi lentera bagi hidup ibunya pada bagian chorus: “I tried to be your light / Did my best to shine / Nothing I do feels right / As I went out all the time”.

Babakan yang tak kalah getir hadir pada verse kedua: “How has it already been a year? / I skip over songs because they’re too hard to hear / Like track 2 on “Benji” or “What Sarah Said” / They just hit too close when I’m already in my head”. Ada dua lagu yang dianggap Bolm begitu mempunyai kesan mendalam tentang ibunya. Semoga tebakan perihal intertekstualitas dua lagu itu tak meleset. Pertama, “Benji” dalam penggalan lirik itu kiranya merujuk pada judul album milik Sun Kil Moon yang dirilis pada tahun 2014 (Caldo Verde Records). Nomor kedua pada album itu berjudul “I Can’t Live Without My Mother’s Love” yang bercerita tentang seorang anak yang tak kuasa hidup tanpa kehadiran ibunya. Sedangkan “What Sarah Said” adalah salah satu track milik Death Cab for Cutie dari album Plans yang dirilis pada tahun 2005 (Atlantic Records).

Nomor selanjutnya dalam album Stage Four diisi oleh track yang berjudul “Rapture”. Masih dengan kabut duka serupa nomor pembuka, track inipun menguarkan rasa kehilangan dan kesepian. Tentu saja hal itu akan dengan mudah kita temukan pada penggalan chorus nelangsa yang berbunyi “Like a wave / Like the rapture / Something you love is gone / Something you love is gone”. Dan sedari mukadimah lagu ini pun, kita telah diwanti-wanti Bolm bahwa tanpa ibunya, dia hanyalah lembar kartu yang tak lengkap, dadu tak bermata, dan biru sungai yang kehilangan beningnya: “With so much gloom surrounding / Ι feel cornered up against the wall / Pulled down and slowly drowning / Taking bets on who was next to fall”.

“Displacement” yang ditaruh di susunan keempat, menjadi salah satu nomor anthemic Touché Amoré pada album Stage Four. Selain menjadi nomor favorit yang bakal melecut siapa saja untuk merebut mic Bolm apabila dibawakan saat live, nomor ini pun akan menakik kita menuju pengalaman insidental yang dialami Bolm sebelum dan pasca ibunya mangkat. Cerita di balik lagu ini berkisah tentang Bolm yang mengalami kecelakaan di salah satu ruas jalan di Los Angeles. Kekhawatiran dan kepanikan ibunya—yang baru saja dikabari Bolm akan insiden yang dialaminya— digambarkan oleh Bolm pada penggalan verse yang berbunyi  “You cried at the thought of never seeing me again”. Dan verse selanjutnya yang berupa rekognisi kasih sayang seorang ibu pada anaknya, tersemat pada larik “She gave me her best, she swore I was her heart”.

Nomor kelima yang bertajuk “Benediction” merupakan track yang memuat montase kisah Bolm beserta ibu dan saudaranya—mulai dari kisah keseharian mereka manakala di Glendale, hingga di kampung halaman ibunya, yakni Norfolk. Merujuk pada chorus “May the lord / Mighty God / Bless and keep you forever / Grant you peace / Perfect peace / Courage in every endeavor”, sepintas terdengar himne “Edelweiss” dari Rodgers dan Hammerstein dengan muatan lirik serupa. Sedangkan pada bagian verse menjelang chorus yang berbunyi “There’s a crack in this shell / And some light is shining through”, Bolm mendedikasikan babakan itu untuk penyanyi panutannya, Leonard Cohen. Salah satu nomor Cohen yang memuat chorus serupa dengan verse “Benediction” milik Touché Amoré itu adalah “Anthem”, yang berbunyi “There’s a crack in everything / That’s how the light gets in”.

Lanjut pada nomor berjudul “Eight Seconds” di tempat keenam. Lagu ini mempunyai durasi tersingkat dari lagu lain dalam Stage Four, yakni 1 menit 32 detik. Namun siapa sangka, cerita di balik lagu ini tak kalah getir dengan nomor-nomor lainnya. Eight Seconds sendiri adalah nama dari salah satu bar di Gainesville, Florida, tempat Touché Amoré pernah tampil. Di tempat ini pula Bolm dikabari oleh saudaranya bahwa ibunya telah mangkat. Kala itu Touché Amoré tampil pada sebuah gigs yang dihelat di sana. Manakala gigs tengah berlangsung, Bolm menerima bertubi panggilan telepon dari saudaranya. “She passed away about an hour ago / When you were onstage living the dream” pungkas saudara Bolm kala itu lewat telepon—yang kemudian penggalan ucapan saudaranya itu ia jadikan verse terakhir dalam lirik “Eight Seconds”. Saat itu pula, langit seolah rubuh dan bintang-bintang seketika rontok di hadapan Bolm.

Penyusuran duka Bolm terasa semakin menjelaga manakala kita mendengarkan nomor paling impresif dari album Stage Four yang berjudul “Palm Dreams”. Dalam nomor ini, Bolm mengeskalasi kedukaannya dengan menarik jauh sebuah tanda tanya besar di masa lalu tentang alasan kepindahan ibunya ke California. Ya, lagu ini bercerita tentang kisah hijrahnya keluarga Bolm yang semula dari kota kecil Nebraska, menuju California pada tahun 1970. Pohon Palma adalah ikon dari Hollywood yang tumbuh subur di sana. Sampai akhir hayat ibunya, Bolm tak pernah tahu alasan sebenarnya mengapa ibunya memutuskan pindah rumah. Pada verse pertama lagu “Palm Dreams”, Bolm melayangkan pertanyaan tentang kepindahan itu kepada mendiang ibunya: “What was it that brought you west? / I assume but can only guess / It’s the questions that went unasked / That appear when time has passed”.

Halimun teka-teki itu terus dibiarkan menyelimuti permukaan lirik lagu. Pada bagian chorus, Bolm berupaya mengguar dorongan hingga postulat semacam apa yang ada di benak ibunya kala itu, sehingga ia mantap memutuskan pindah pada kota Hollywood: “Was it all the palm trees / Placed where they shouldn’t be / That made you feel complete / In this land of make believe”. Pada akhirnya Bolm membiarkan semua itu menjadi perkara yang tak lagi ia butuhkan jawabannya.

Secara apik, upaya berhenti menagih jawab itupun dilantunkan Bolm pada babakan bridge menuju chorus kedua: “Like going 65 on the 5 at 5”. Seperti menyusuri lajur tol Insterstate 5 (I-5) di wilayah West Coast pada pukul 5 sore dengan kecepatan 65km/jam: semua itu tak akan berarti apa-apa jika kau menempuh perjalanan itu sendiri. Sama halnya dengan jawaban dari pertanyaan Bolm, sebetapa seringnya ia melayangkan pertanyaan pada ibunya itu, tak akan pernah ada jawaban untuk Bolm karena sosok ibunya telah tiada.

Maklumat duka Bolm berlanjut pada nomor “Posing Holly”, “Water Damage” dan “Softer Spoken”. Nomor “Softer Spoken” sendiri begitu apik dengan menyandang elan skramz dari babakan awal lagu. Empat untai lirik di verse awal menjadi deklarasi Bolm akan jejak yang menenggarai masa lalu: “When words are softer spoken / They often sound the best / But now so interwoven / They’ve burrowed in my chest”. Tak ada hal yang bisa Bolm harapkan, terlebih mengutuki kealpaan di pusara ibunya. Chorus lagu ini cukup untuk melukiskan perasaan Bolm akan the trace of an absence dari kepergian sosok ibunya: “I’m seeking out a place / One to give me peace / ‘Cause ever since you died / I can’t control anything”. Ketika presensi ibu yang sangat Bolm cintai terenggut, spektrum pelangi pun serasa menjadi warna ajal di matanya.

Meskipun “Gather” adalah bonus track sekaligus nomor terakhir dari Stage Four, namun “Skyscraper” lah yang didapuk sebagai lagu penutup. Pada lagu ini, Touché Amoré berkolaborasi dengan vokalis sekaligus gitaris perempuan pentolan The Star Killers, yakni Julian Baker. Perempuan yang memiliki vokal bertipikal emotively cathartic dan dikenal lewat album Sprained Ankle ini, memberi sentuhan yang sangat lirih manakala Bolm sampai di ujung tenggat dalam memuntahkan dukanya. Track penutup Stage Four ini cukup ekstatik. Terlebih rekaman suara dari pesan audio terakhir ibu Bolm ditaruh di babakan akhir lagu ini: “Hi Jeremy, I just wanted to tell you that just, finally left the hospital. Um, and we’re going to drop off a prescription at CVS so I probably won’t be home when you get there okay? Bye bye”.

Album Stage Four tak hanya sebagai memento mori musikal akan kepergian sang ibu Bolm, namun juga sebagai satu album megatruh. Kendati struktur atau medan lirikal setiap lagu dalam album ini tidak merujuk pada apa yang menjadi kaidah penyusunan tembang macapat megatruh, namun makna maupun pengimplementasiannya hampir serupa: yakni nyanyian tentang maut. Jeremy Bolm adalah trubadur yang berkoalisi dengan segala kepahitan akan kepergian ibunya. Stage Four bukan hanya pencapaian mutakhir dalam diskografi musikal Touché Amoré, ia pun betul-betul menjadi poket memori yang akan selalu mengingatkan Bolm akan sosok ibunya.

 

Fajar Nugraha

Lahir di Bandung, 22 Juni 1996. Pecinta masakan Ibunda

No Comments

Post A Comment