Loader

Udara Semakin Tajam, Sayang

 

Udara semakin tajam, Sayang. Sebaiknya kita masuk ke rumah dan merelakan segalanya. Tatapan macam apa yang rela kau berikan padaku malam ini. Sepasang purnama berkantung embun, atau sepasang celurit berkantung tuba? Keduanya tak pernah kusuka. Bagiku kantung mata hanya menyimpan rahasia luka.

Seperti sebulan yang lalu aku menemukan kantung di matamu. Pertanyaan-pertanyaanku berkumpul pada kantung mata itu. Apa yang telah kulakukan hingga sepasang purnama di wajahmu berubah menjadi celurit berkantung seperti itu. Kantung yang kamu tutupi dengan make-upnamun selalu gagal disembunyikan, selalu terseret air pasang. Bahkan ketika aku bertanya padamu tentang kantung itu, kamu hanya menciptakan bendungan bagi setiap pertanyaanku “Sebaiknya kamu tak pernah tahu.”

Aku harus tahu! Aku cemburu pada apapun yang membuat matamu berkantung seperti itu. Apa salahku? Kebahagiaan semacam apa yang meninggalkanmu? Mata yang terus meleleh sepanjang hari, kantung yang hampir pecah, membuat bantalmu tak pernah kering, makananmu tak pernah habis, dan setiap hari awan mendung menutupi langit wajahmu. Siapa yang berani mencuri sepasang purnama di wajahmu? Aku tak pernah tahu.

Waktu itu malam jumat, aku masih ingat. Aku sengaja pulang lebih awal dari kantor. Malam jumat itu aku ingin mengejutkanmu, ingin bercinta denganmu. Bukankah kita tidak pernah bersama selama malam jumat? Ya, aku selalu lembur di malam itu.  Tapi waktu itu aku malah menemukanmu di kamar, menangis. Kamu memeluk bantalmu, menangis. Dan ketika aku datang, aku memang mengejutkanmu. Kamu salah tingkah, mencoba tersenyum sebisanya. Tapi kantung mata itu tak bisa membohongiku. Lantas kehawatiranku yang berlebihan, pertanyaan yang bertubi-tubi, segelas air yang kuberikan padamu, kamu balas dengan bentakan hebat “Aku tidak apa-apa!” kamu hebat sayangku, sungguh. Kamu pandai membuatku marah.

Setiap hari setelah kejadian itu, aku terus bertanya pada diriku sendiri. Apa yang telah aku lakukan padamu. Dan kenapa setelah kejadian itu, kamu selalu termenung sendirian, lupa memadamkan api di dapur, lupa memasangkanku dasi, berlama-lama di kamar mandi, dan seperti biasa, di pagi, sore, dan seusai kau mandi itu, matamu selalu merah api, selalu berkantung dan menyebalkan. Apa salahku Sayang? Aku tak pernah tahu.

Hingga hari ini pun datang. Hari di  mana aku mulai mengerti arti kantung matamu. Ketika satu per satu barang-barang yang kamu sukai hilang dan orang-orang yang kamu cintai pergi. Anak-anak kita telah mati malam ini. Akhirnya aku pun mengerti kesedihan semacam ini. Dan semakin aku mengetahui arti kantung matamu, semakin aku sadar, sepanjang perjalanan cinta kita, aku tak pernah membuatmu menangis. Kepergianku tak pernah menciptakan kantung di matamu.

Ya, dua anak kita telah mati malam ini. Leher mereka digorok, bahkan si bungsu kepalanya hampir putus. Ya, Sayangku, anakmu, anak yang lahir dari lubang sempitmu yang amat aku sukai itu. Yang kita besarkan dengan susah payah. Si Sulung, anak laki-laki yang baru duduk di bangku taman kanak-kanak itu, yang pernah kamu pakaikan baju pilot ketika ia naik ke kelas nol besar. Sementara waktu itu, aku ingin ia menggunakan jas coklat, dia akan lebih gagah jika jadi pejabat sepertiku. Dan Si Bungsu, ya, bayi perempuan yang memiliki mata bulat seperti dirimu, berhidung besar seperti diriku, kematiannya tentu amat membuatmu terpukul. Mereka, darah daging kita itu, kini tergeletak di dalam rumah dan bersimbah darah.

Tapi kamu harus mengerti. Kamu harus memahami kematian anak-anak kita sebagai takdir saja. Seperti alasan pada kantung matamu, kematian di rumah ini memiliki alasan yang sama. Kekecewaan. Tak ada yang  bisa mencegah kematian. Dan kamu  sebaiknya mengerti, tindakkanku malam ini hanyalah sebuah jalan, bukan sebuah alasan.

Maka aku mengajakmu ke beranda rumah kita. Duduk berdua saja, menatap pekarangan yang lengang. Aku tak ingin kamu terus menangis di dalam rumah. Menangisi anak kita yang jelas-jelas sudah tak bernyawa. Biarkanlah, barangkali demikianlah takdir mereka. Aku hanya ingin kamu berhenti menangis. Aku benci kalau kamu menangis. Aku benci pada kantung mata yang membesar setelah kamu menangis. Dan kenapa harus juga aku gunakan sebilah pisau, kutodong-todongkan padamu, mengancammu agar berhenti menangis? Kenapa harus kudekap kamu dengan sebilah pisau menempel di lehermu agar kamu berhenti menangis? Kenapa harus demikian? Bisakah kamu berhenti menangis tanpa harus aku lakukan itu semua? Kenapa harus dengan sebilah pisau, kamu bisa diam dan duduk manis di sampingku? Kenapa, sayangku?

***

Sekarang kita berdua berada di beranda rumah. Duduk berdua menatap pekarangan kita yang lengang. Seharusnya hening, tapi isak tangismu terus terdengar. Kamu menggigil, padahal pisau itu telah aku simpan di atas lantai. Barangkali kamu kedinginan. Aku dapat mendekap tubuhmu erat-erat jika kamu mau. Malam ini udara memang terasa semakin tajam.

Sebaiknya memang begini. Kita pandangi pekarangan kita yang semrawut. Aku melihat pandanganmu tak pernah lepas dari lubang tanah di depan itu. Kemarin di atas lubang itu masih berdiri cemara besar yang sering kamu banggakan. Aku ingat bagaimana kagetnya kamu dulu melihat pohon sebesar itu tiba-tiba tertanam begitu saja. Seperti biasa, aku selalu ingin menciptakan kejutan untukmu. Ketika kamu bangun dari tidurmu, lantas membuka jendela, di depan rumah telah tertanam 3 cemara raksasa. Tapi sayang, hari ini cemara ajaib itu harus juga lenyap dari pekarangan kita. Pagi tadi, sebuah buldozer telah menumbangkannya. “Mereka telah menyeret cemara kita seperti menyeret dosa-dosa,” katamu sambil menangis. Dari sana aku menyangka kamu telah mengetahui alasan dari segala kejadian mengerikan ini.

Kamu pun harus tahu, segala yang terjadi pada kita hari ini telah kuketahui sebelumnya. Bahkan aku mempersiapkan mentalku matang-matang. Sekarang kamu hanya perlu duduk manis di sampingku, dan menunggu udara mengusir kita. Sementara kita menunggu, cobalah untuk rela. Atau kamu mau aku bercerita tentang kenapa ini semua bisa terjadi? Tidak, sayang, kamu tak perlu tahu. Seperti yang kamu katakan padaku dulu, “Sebaiknya kamu tak pernah tahu.”

Tapi jika aku meminta sesuatu padamu malam ini, kamu harus menurut dan mengerti. Jangan paksa aku menggunakan pisau ini, membuatmu berlari ketakutan, berteriak-teriak minta tolong. Tak patut sayangku, tetangga mengenal kita sebagai pasangan romantis, pasangan yang harmonis. Tapi jika kamu tak juga mau mengerti, kamu pasti tahu, aku selalu pandai memaksamu mengerti.

Sebaiknya kamu tak tahu.

Empat bulan yang lalu siang tiba-tiba mengganas di kantorku. Aku kedatangan tamu. Seorang lelaki berperawakan preman menawarkan kerjasama di atas map berwarna merah. Entah kenapa tiba-tiba darah seseoranglah yang terbayang pada map merah itu. Lalu Tuhan mengisi ruang di kepalaku. Sementara lelaki itu memasang wajah badut dan terus membujukku. Mulutnya komat-kamit seperti membaca mantra ajaib. Tuhan di dalam pikiranku pun hilang dan bayangan darah itu lenyap. Ia berkata, “Ini bukan soal tanda tangan Bapak, tapi soal keselamatan Bapak.” Aku benar-benar tersihir.

Setelah itu bermunculanlah barang-barang di rumah ini, cemara raksasa itu, dan segala yang kamu dan anak kita nikmati. Memang benar-benar keajaiban. Keajaiban-keajaiban yang akhirnya sering aku ciptakan. Semakin sering map merah itu berdatangan ke kantorku semakin sering pula aku menandatanganinya. Aku kira ini baik untuk kita. Tapi pesanmu di setiap pagi, di setiap aku berangkat ke kantor itu benar. “Hati-hati di jalan Mas, banyak berdoa, orang selamat itu jika ia berjalan di jalan yang selamat.” Ah, terlebih orang-orang kantor tak pernah kuberitahu dan mereka tak pernah kubagi kebahagiaan. Mereka pun menciptakan kasus ini untuk kita.

Aku tahu, kamu pasti membenci hal ini. Tapi kamu harus mengerti, di negeri ini jalan termudah untuk selamat adalah membuat orang lain tersesat. Setelah menusuk seseorang dari belakang, kita akan tetap bertahan.

Orang-orang kantor itu menusukku. Map merah itu telah mereka kirim ke kantor polisi, ke televisi dan koran pagi. Lantas seketika darah yang sering terbayang-bayang itu, yang sering aku takutkan itu, menjelma di kantorku, menggelontor seperti banjir, membuat seluruh kantor heboh, aku diperiksa, dan dipermalukan.

Seharusnya aku kembali menyerang mereka. Tapi kamu tahu, sayangku, sebaik-baiknya orang yang menyerang adalah yang juga pandai bertahan. Dan sebaik-baiknya bertahan adalah memiliki teman yang bisa diandalkan. Mereka jauh lebih siap berperang. Orang-orang yang menyita barang-barang kita, polisi yang akan menangkapku, telah mereka temani dengan sangat baiknya.

Besok aku akan ditangkap. Tapi aku tak akan memberi tahumu. Aku takut kamu bersedih. Aku takut kamu menangis. Maka malam ini telah kusiapkan kejutan lain untukmu. Aku telah menyalakan perapian, agar segala yang kamu pikirkan, segala masalah kita hari ini, terbakar di sana. Persoalan kasus korupsi yang menjeratku itu kamu tak perlu tahu, kamu tak perlu capek-capek memikirkannya. Persoalan itu tak begitu berarti. Ada yang lebih berarti. Ini seperti perapian rumah kita yang lebih mirip perasaanku padamu.

Mari kita masuk ke rumah. Udara sudah tidak begitu sehat.

Setelah anak-anak kita berhasil kubunuh, pembantu-pembantu kita tamat kupecat, di rumah ini kita bisa sedikit tenang. Kamu sebaiknya menghentikan tatapan tajam pada langit yang akan tetap hitam, tanah yang akan tetap berlubang. Pisau itu, yang tergeletak di lantai itu, telah kadung menyimpan darah. Aku telah mensiasati rasa sakit mereka. Sebelum mereka mati, anak-anak itu telah kuberi martini. Pisau ini telah sangat tajam dan membuat kematian menjadi sederhana. Ah, darah mereka masih berbincang-bincang di pisau ini. Kamu mendengarnya?

Ya, sayang, semua sesuai permintaanmu. Aku memahami tangisanmu sebagai kebahagiaan yang kamu ciptakan. Tamparan, pukulanmu padaku, jeritan histerismu ketika melihat aku membunuh mereka hanyalah kegenitanmu saja. Kita memang harus sepakat. Setelah aku mengirim mereka ke dunia yang lain, mereka pasti mengerti. Dunia mereka akan jauh lebih indah. Dunia yang tak sedikitpun disibukkan dengan urusan-urusan semacam ini. Mereka tak perlu dijebak, menjebak dan terpaksa masuk perangkap. Kita tahu, di sana mereka akan dijaga Tuhannya.

Ingatkah kamu, perkataan seorang pemuka agama yang kita undang untuk merayakan kekayaan kita? “Seorang anak yang masih segar, jika dijemput kematiannya, akan menjadi pelayan-pelayan surga.” Bukankah anak-anak kita masih segar? Mereka belum mengerti adegan ranjang yang sering kita lakukan. Sudahlah, sayangku, mereka pasti bahagia.

Ah, udara memang semakin tajam. Aku rasa sudah cukup kita duduk di beranda ini. Semua akan percuma jika aku tak menceritakannya padamu. Tapi sebaiknya memang begitu. Jikapun aku ingin memberitahumu, bukan kasus itu yang akan aku beritahu padamu. Aku akan memberitahumu tentang sebuah suara yang terus terngiang-ngiang di dalam pikiranku. Suara yang muncul dari peristiwa kantung mata itu, hingga kini suara itu yang membawa kita pada situasi ini. Suara itu ada di dalam rumah kita. Mari, kita masuk ke dalam.

***

Sebuah perapian membakar kertas-kertas ini atau segala dokumen-dokumen itu, tak menjadi hal yang berarti. Surat tanah, surat cinta kita, sebaiknya dikumpulkan dan dibakar saja. Udara semakin dingin, kita butuh api yang besar.

Ya, sayangku, di rumah kita ini hanya sofa ini saja yang tersisa. Barang ini pun hasil keajaiban map merah itu. Seharusnya petugas itu menyita sofa ini tadi siang, tapi aku meminta mereka untuk mengakhirkannya besok, biar aku sendiri yang akan mengantarkannya ke kantor mereka. Lantas aku pun membujuk mereka dan berkata, “Kami belum memikirkan tempat tinggal baru dan tak terbiasa tidur di lantai.” Lalu dengan wajah yang asing bagiku, wajah yang penuh belas kasih, petugas itu memberikan sofa ini untuk kita.

Ya, mari kita duduk di sofa ini. Kamu dengan tatapan celurit berkantung rahasia itu, aku dengan senyum cekung bulan sabit segaris cahaya. Aku punya sebotol martini dan perapian yang lebih mirip perasaanku.

Semuanya telah kurencanakan jauh-jauh hari. Setelah kamu tak memberitahuku tentang kantung mata itu, rasa penasarankulah yang mencari arti kantung matamu. Dan seminggu yang lalu. Ya, seminggu yang lalu, aku mempersiapkan takdir ini. Malam ini telah aku bayangkan seperti saat ini. Kita, yang hanya berdua duduk di atas sofa, di depan perapian yang menyala, di samping kita tumpukan kertas dan buku yang belum kita larung satu persatu ke dalam api, dan anak-anak kita yang tertidur abadi berselimut darah di tengah rumah. Betapa semua sesuai rencanaku sebelumnya.

Ah, kenapa tadi kamu memeluk anak-anak kita? Kamu jadi berlumur darah. Kamu harusnya mengerti, aku benci amis darah. Padahal malam ini aku ingin mencium bibirmu, memelukmu, dan menghirup aroma lehermu yang khas. Dalam keheningan malam ini, aku ingin kita berbincang dengan cara yang berbeda. Aku ingin kamu tahu tentang suara yang sering menggangguku setiap hari.

Baik, aku akan mulai bercerita. Aku menemukan suara itu sebulan yang lalu, beberapa hari setelah aku menemukan kantung di matamu. Suara itu memasuki hari-hariku seperti udara. Melingkupi paru-paruku, helaan nafasku, dan pikiranku tentunya. Mengikutiku kemanapun aku pergi, di kamar mandi, di kamar kita, di kantorku dan suara itu seperti seseorang yang berlari mengejar mobilku, suara itu benar-benar membuntutiku. Hingga akhirnya suara itu kini bermuara pada pisau ini. Suara yang saling berdesakan dengan darah anak-anak kita. Suara yang sepertinya akan cemburu jika kukecup lehermu malam ini. Hingga aku mengerti tatapan tajammu di luar tadi sebagai isyarat ketakutan. Kamu takut aku mengetahuinya. Jangan berbohong, sayang. Matamu telah menjelaskan segalanya.

Aku pernah berpikir, barangkali kamu sedang meniru kelakuanku di kantor. Tapi siapa yang memberitahumu kalau aku sering korupsi? Suara pada pisau ini? Yang selalu berbisik ketika kamu memasak? Ya, aku memang sering berbohong. Tapi semuanya untukmu, untuk anak-anak kita. Tak pernah sedikitpun terbersit dalam pikiranku untuk membohongi kalian yang begitu aku cintai. Apakah kamu tak mencintaiku?

Aku tahu, kamu pasti punya alasan. Barangkali untuk kebahagiaanmu. Ataukah kebahagiaanku? Ya, itu nampak ketika aku cemberut seperti rambutmu yang kusut dan kamu takut jika aku berlaku demikian. Sedangkan aku akan selalu kusut padamu jika suara itu datang lebih dekat di rumah ini, di dapurmu, di tas gendong yang sering kamu kenakan setiap malam jumat. Sebenarnya setiap malam jumat kamu pergi ke mana? Dengan teman-temanmu? Ah, aku tahu. Setelah aku menemukan suara itu pada buku harianmu. Keluar dari foto yang membuat dadaku terbakar. Foto kamu dan lelaki yang barangkali si pemilik suara ini, sedang beradu cium. Ya, seperti halnya surat cinta kita dengan api itu. Kalian begitu lekat, begitu mesra.

Itulah yang ingin aku beritahukan padamu. Itulah alasan aku menyerah pada kasus korupsi itu dan tak memberitahumu. Kasus itu tak menjadi penting bukan? Itulah alasan aku memecat semua pembantu di rumah ini, dan membunuh anak-anak kita. Bagiku, rumah ini memang seharusnya terdengar sepi dan sunyi. Aku ingin mendengar suara itu dengan lebih jelas. Dan siapa bisa menyangka suara itu semakin kuat pada pisau ini? Tapi benarkah kamu tak dapat mendengarnya? Atau kamu berbohong lagi?

Memang sulit, aku tahu. Barangkali kamu harus sedikit tenang. Jangan tegang. Mendekatlah padaku. Bersandarlah. Biar kudekap segala ketakutanmu. Dan coba lagi dengarkan suara itu kini menyengat seperti gesek biola sebelum terputus. Tataplah perapian di depan kita itu. Di sana ada api yang merayakan cinta kita terbakar. Mungkin api itu akan sangat bahagia saat pisau ini berhasil mencium lehermu begitu dalam. Lantas aku melarung kepalamu pada api sebagai puncak kebahagiaanku, karena aku tahu kamu telah berbohong.

Tenang sayang, kebahagiaanmu adalah tanggung jawabku. Maka aku pun akan tetap di sampingmu dan kamu bisa menyaksikan aku tetap memegang tanganmu, memelukmu yang tanpa kepala itu dan kita saling berpelukan di sofa ini. Sementara kepalamu di perapian itu menciptakan kantung mata yang besar. Kamu mungkin sedang menatap suami paling sempurna, yang mencintai seseorang dengan cara berbeda.

Ya, udara memang semakin tajam. Kini kamu begitu dingin dan beku. Tapi aku tahu, tak ada api abadi bagimu jika aku melakukan hal itu padamu. Seperti juga anak-anak kita, kalian akan bersama Tuhan kalian. Kamu sudah siap, sayang?

Udara memang tajam, Sayang.

 

 

Ilustrasi: Adinda Rizki Primafera

No Comments

Post A Comment