Metaruang | Wildes Herz: Musik Punk dan Si Kulit Bundar yang Melawan
Bergerak, mengakar, kritis.
Media Alternatif, Literasi, Sastra, Musik, Budaya, Filsafat, Politik, Bandung,
17508
post-template-default,single,single-post,postid-17508,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.1.2,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Wildes Herz: Musik Punk dan Si Kulit Bundar yang Melawan

Judul: Wildes Herz
Genre: Dokumenter Musik, Biografi
Sutradara: Charly Hübner
Durasi: 90 menit
Rilis: 12 April 2017 (Jerman)

 

Merindukan masa lalu adalah hal yang wajar. Masa bagi seutas garis waktu, yang historis, sinkronik-linear, yang kadang bisa sangat singkat tetapi juga alot dan diupayakan hadir sejelas mungkin. Untuk dengan pasti memaparkan rangkaian peristiwa yang mengarah pada puncak cerita, seperti yang hendak diutarakan lebih lanjut, yakni menceritakan sejarah olahraga, klub dan fandom-nya.

Sebuah cerita menyediakan waktu bagi titik berangkat narasi. Dalam hal yang sama pun kerap menunjukkan muatan propaganda daripada fakta yang teruji secara metodis. Namun, keduanya tetap menjadi penting secara genealogis, atas bergulirnya kultur olahraga dalam aras politik-geografis yang khas: sepak bola di Indonesia, atau seperti Persib Bandung di Bandung.

Dalam sosiologi figurasional Norbert Elias, sepak bola memberikan proses originasi untuk lebih mengontekstualisasikan pengaruh fenomena budaya saat itu, bahkan hingga saat ini dalam banyak faktor dan sektor. Ilustrasi Elias yang paling jelas adalah tentang terbitnya sebuah figur yang berasal dari permainanan sepak bola saat kedua tim dari total 22 pemain di lapangan bertarung dalam beberapa periode tertentu. Apa yang berkembang dalam sepak bola ini merupakan sejarah kultural yang terdokumentasi secara kompleks dan saling berkontestasi dalam ruang sosial.

Permainan ini memosisikan sebuah figur yang mengalir, yang tindakan dan pengalamannya secara terus-menerus saling terkait, sebagai suatu proses sosial dalam miniatur (sepak bola). Lebih sering proses sosial ini tak dapat dikontrol karena didorong oleh perselisihan. Perilaku kompensatori – favoritisme, fanatisme, optimisme yang tidak realistis, dan dukungan serta makian dalam satu bingkai itu merupakan kelanjutan partisipasi dalam sebuah wahana waktu luang yang ditanggapi secara tidak main-main. Perilaku semacam itu dijelaskan dalam konteks aktivitas waktu senggang seseorang—yaitu fandom sepak bola—untuk menjelaskan mengapa keterlibatan dalam kegiatan yang kelihatannya tidak menarik ini dapat dipertahankan. Sebuah model partisipasi rekreatif yang emosional disajikan berdasarkan perilaku ini.

Sepak bola selalu populer dalam transformasi budaya yang berubah cepat, akibat kemampuannya untuk mengambil alih pendukung dari ragam bentuk formasi sosial yang lebih luas. Merengkuh penggemar fanatik di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Seiring dengannya, terdapa “tackle” yang mempertanyakan dan melibatkan kekuasaan, mengajukan identitas nasional dan regional, bahkan unsur-unsur rasial dalam sepak bola. Mendemonstrasikan sepak bola dalam sejarah revisionis dengan tujuan silogisme asal kelas, malah menunjukkan cara di mana saluran revisionis ini mengabaikan kekuasaan administratif dan yurisdiktif yang dimiliki dalam struktur organisasi sepak bola baik itu  lokal, nasional, atau internasional. Karenanya, suatu evaluasi kritis dan dialog ihwal sepak bola sebagai upaya kelas pekerja yang public-driven menjadi penting sebagai lapangan bagi kerja diskursus, sebagai taktik dan strategi kultural multi-lini agar si kulit bundar tetap menggelinding bersama publik.

Meski populer, tetap ada pertanyaan yang mesti diajukan terkait sepak bola yang kadung dianggap sebagai ‘permainan rakyat’ itu, untuk meretas gerak si kulit bundar di luar operasi prioritas komersial. Ruang seperti apa yang tersisa untuk para penggemar saat mereka berjuang mendemokrasikan sepak bola  dan menjadi momentum politik untuk mengubah tatanan sistem yang tidak adil, fasis hingga rasis, dalam kehidupan keseharian sebagai perjuangan untuk menguasai permainan kehidupan sebagai warga biasa?

Hal ini bisa dilacak dalam penelusuran budaya rasisme dan nasionalisme ekstrim dalam sepakbola itu sendiri. Di setiap negara, di seluruh dunia, dengan pola, taktik, penentrasi dan daya tahan serta daya juang yang berbeda dengan hasil yang berupa yang situasi berbeda. Apakah ini akan terkait dengan sepak bola dan penggemarnya, untuk mempertimbangkan masa depan pendukung pada saat ‘menonton pertandingan’, yang cenderung beralih ke televisi daripada pergi ke lapangan sepakbola.

Ini sebuah tantangan terhadap pandangan umum perihal rasisme dalam sepak bola. Masalah rasisme telah diterbitkan sebagai pengecualian terhadap kebijakan publik dan perilaku penggemar anti-sosial. Hal tersebut bertransformasi dan bermutasi dalam dunia yang lebih kontemporer termasuk dalam perkembangan penggemar fanatik, terutama dalam sepak bola. Hal ini juga menyediakan beberapa manifestasi perubahan aktivitas rasis dalam budaya fandom tersebut. Maka, rasisme dan sepakbola diekspresikan dalam suatu tradisi ekspresif yang berkisar dari bunyi dangkal yang dikomunikasikan secara individu, yang dibangun di sekitar identitas kolektif implisit berdasarkan ruang dan teritorial tertentu dalam lansekap sepak bola, olahraga, kota, dan negara. Ada perebutan ruang hidup di sini, celakanya melalui olahraga sepak bola yang populer di seantero jagad, termasuk di Indonesia, di kota-kotanya yang penuh sesak dengan fandom lokalitas, nasional bahkan internasional.

Sepak bola Indonesia tampaknya berisi ‘kota-kota gemuk’ fandom yang awalnya hanya berdasarkan lansekap geografis teritorial bahkan etnisitas. Namun dalam perkembangan kontemporer, hal ini berubah menjadi lansekap geo-politik yang bervarian dan mencengangkan. Pendukung Persib Bandung di Kalimantan, penggemar Persebaya-Surabaya di Sumatra, pengikut PSM Makasar di Jawa, pengagum  PSMS Medan di Sulawesi, pemuja Persija Jakarta di Bali dll. Tanah Indonesia diisi penuh oleh fandom dengan varian kelas sosial-kultural beragam yang menjadikan olahraga ini menjadi santap utama favorit di negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar nomor empat di dunia.

Sepak bola menarik kelas-kelas tertentu untuk menikmati tentang bagaimana pertarungan menjadi sebuah tontonan publik. Hooliganisme muncul dalam situasi yang sangat intim dengan persinggungan antara bola dan masyarakat. Semua orang tampaknya menyukai sepakbola sekaligus mendukung sebuah tim. Media sepak bola Indonesia umumnya gembir, amat reseptif terhadap antusiasme budaya sepak bola kontemporer hingga ke situasi sekarang di mana konteks sosial dan politik saling berkelindan. Dunia sepak bola Indonesia  yang “mulai” dikomodifikasi secara besar-besaran dan diperjualbelikan dengan begitu banyak oleh politisi kontemporer dan hal lainnya, telah menciptakan, memperburuk, atau terus mengabaikan masalah-masalah sosial yang serius. Masalah kelas, komunitas, ras-etnis dan gender; hal yang sebelumnya telah dan justru kembali terjadi di Eropa sana.

Sepak bola kemudian merekomendasikan hal-hal yang relasional, aksi kolektif, dan penggemar fanatik sepak bola dalam beragam literatur kerja. Meletakkan fondasi untuk konsep dan dinamika ini adalah hubungan  antara relasi, interaksi,  jaringan, aktor sosial, dan  kekuatan serta kontra-kekuatan yang menunjukkan bagaimana mereka saling terhubung dalam mengisi kota-kota gemuk yang disediakan sebagai titik pijak. Salah satunya lewat dokumentasi, bukan dalam pengertian suatu penelitian lingkungan yang identik, tetapi dapat melampauinya. Terdapat waktu untuk berada ‘di sana’ atau tidak di sana, untuk menggali harta karun berlimpah berupa foto keluarga dan video rumah, mengambil artefak yang terkadang putus-putus, dan menampilkan urutan kisi kronologi yang kasar. Dan itulah yang terjadi pada sepak bola, musik punk, gerakan sosial, hingga sejarah individu. Film Wildes Herz ini contohnya.

“Orang Asing keluar!”, teriakan yang lazim terdengar di beberapa tempat di waktu lampau bahkan hingga sekarang ini, adalah contah nyata dari mentalitas yang bergerak dan bekerja untuk kemudian mengambil batu-batu dan dilemparkan bersamaan dengan molotov. Contoh tersebut bisa dimulai dari gedung  Sunflower House yang mendasari kenapa film ini muncul. Gedung ini merupakan asrama yang dipenuhi oleh pekerja dari Asia dan sebagai pusat penerimaan untuk para pengungsi. Pada 22 Agustus 1992, ribuan orang termasuk ekstrimis sayap kanan mulai menguasai gedung dan situasi ini berlanjut dalam formasi politik lebih besar hingga pengambilalihan kekuasaan oleh ekstremis sayap kanan dari seluruh Jerman, yang menunjukkan bahwa pergeseran ke ‘kanan’ sudah sangat kuat terasa.

Rostock-Lichtenhagen 1992 menjadi pengalaman yang menyeramkan. Jelas bahwa rasisme sangat hidup dan itu yang dialami oleh anak-anak Rostock yang juga berkelindan menjadi pendukung klub sepak bola Hansa Rostock. Sejarah dan pengalaman ini terbawa dalam keseharian, terdapat upaya untuk melawannya agar hal itu tidak terjadi lagi. Dan melalui sepak bola sekaligus musik, upaya itu terus dilakukan. Film ini bukan untuk membalaskan dendam atas peristiwa lampau itu, tetapi mengingatkan bahwa “Antifa telah gagal di Lichtenhagen.”

Wides Herz, film tentang seorang pria dari daerah pedesaan Mecklenburg-Vorpommern, yang kini menjadi vokalis untuk salah satu band punk paling sukses di Jerman, Feine Sahne Fischfilet. Untuk mememekarkan demokrasi di wilayah tertentu yang sudah sangat terkontaminasi, yang menyebabkan rasa benci pada hal-hal yang berbau luar negeri, ultras serta kerusuhan sepak bola, neo-Nazisme hingga partai politik AfD yang berkembang, itu semua tidak muncul begitu saja. Band punk bernama Feine Sahne Fischfilet-FSF dan frontman-nya  Jan “Monchi” Gorkow ini  mengabdikan dirinya secara luas untuk band yang tepat secara ideologis. Untuk melawan situasi ini yang kemudian terekam apik dalam dokumenter Wildes Herz. Mengingat Rostock, jika kembali dari tempat bersejarah itu dengan anak Anda, maka Anda harus memastikan itu tidak terjadi lagi. Toh, ini bukan hanya tentang Antifa, tetapi tentang semua orang yang tidak membeda-bedakan latar sosial dan terang-gelap warna kulit.

Meluncurkan kampanye di bawah semboyan “Belum sepenuhnya gagal”, berkaitan dengan pemilihan lokal, saat AFD akan menjadi partai terbesar kedua di sana. Selama 43 minggu, band ini sedang dalam perjalanan tur, yang menjadi fokus utama film ini. Charly Hübner dan Sebastian Schultz menempel erat Monchi dan rombongannya dalam tur panjang anti-kanan tersebut. Polemik tidak hanya dari panggung, tapi aktualisasi kata-kata mereka ke dalam tindakan keseharian pun banyak menuai masalah. Mereka bekerja menjadi mesin politik melalui sepak bola dan musik yang direkam, untuk kemudian menjadi sebuah film.

Awalnya, band ini memposisikan dirinya berhadapan dengan sayap kanan. Teks-teks mereka muncul karena iklim politik yang ekstrim dalam keseharian hidup.  Namun, terdapat fakta menarik yang sebagian kontroversial, seperti fakta bahwa FSF tidak diizinkan untuk tampil di acara lokal karena lirik-lirik mereka. Selain itu, juga banyak meninggalkan pertanyaan yang tidak terjawab seperti misal, apakah band ini benar-benar terkenal hanya oleh kepribadian Monchi, mengapa mereka berdiri sebagai satu-satunya band sayap kiri untuk waktu yang cukup panjang.

Wildes Herz mendekati karakter frontman karismatik itu secara sinematik via musik dari Feine Sahne Fischfilet. Film ini dimulai dengan masa kecil Monchi, yang menunjukkan sejak awal bahwa bocah itu tahu apa yang diinginkannya. Pembuat film tampaknya memahami diri mereka sebagai asisten ideologis dan penguat iklan untuk band. Ini sudah cukup untuk mendapatkan ruang publik; tidak masalah bila pada akhirnya cenderung nostalgik, karena toh “semua orang dapat merekam film dokumenter hari ini”.

Hübner dan Schultz memberi Monchi ruang untuk menjelaskan sudut pandangnya. Mereka menunjukkan tekadnya, komitmennya yang tinggi dan semangatnya untuk bertindak, tetapi  juga menunjukkan ketidaknyamanan, dan ketegangan di dalam dirinya. Hal ini terlihat ketika ia berdiri bersama dengan band di atas panggung, Anda akan memahami pesan penting yang disampaikannya, yang bukan melulu tentang musik punk. Ambivalensi ini membuat Wildes Herz menjadi film dengan pengalaman yang agak bulat dengan banyaknya aksentuasi emosi yang halus. Musik band terjalin berurutan, berulang kali dijalin ke dalam urutan lain yang menirukan suasana konser dengan sempurna.

Dalam film ini menunjukkan bagaimana Feine Sahne Fischfilet secara teratur dimainkan di demonstrasi Antifa. Secara musikalitas mereka memang tak berpengaruh, tetapi lain hal secara politik. Melalui kerja musik dan sepak bola, dengan upaya melakukan pekerjaan terhormat melalui tour, konser, orasi, berkampanye untuk meraba-raba peta politik di desa-desa kecil, di kota-kota yang melawan sayap kanan, dan sungguh itu semua merupakan prestasi tersendiri. Muncul kemudian dua cerita: satu menceritakan tentang tindakan kemanusiaan dan menghubungkannya dalam keseharian, dari pemisahan ke orang yang benar dan salah. Kedua, jenis impuls yang selalu ada dalam geo-politik dan lansekap sosial di mana pun mereka berada.

Kerja film tentu menjadi sedikit diplomatis, dan hal ini tentunya tidak menjadikannya moderat dalam berekspresi. Wildes Herz merupakan upaya penyediaan sedikit dokumentasi spesifik dari kerja anti-fasis di lapangan dan memiliki karakter unik di dalamnya secara individu maupun band atau musik. Kondisi ini menjadikanya khas dan spesial mengingat iklim politik sangat diperlukan sebagai seruan mendesak atas sesuatu hal yang dianggap tidak sesuai dalam aras kehidupan. Monchi dan Feine Sahne Fischfilet  memberi sesuatu yang tak ternilai, sebuah karya seni dengan getaran baik di sekitarnya untuk menunjukkan sesuatu hal telah terjadi dan ada upaya untuk berbuat terhadap situasi dan kondisi itu. Film ini seolah mengatakan bahwa seseorang tidak boleh bergantung pada monopoli kekuasaan negara saja dan tunduk kepada rezim autoritarian secara kultural maupun struktural.

Wildes Herz menjadikan punk, sepakbola, gerakan sosial, menjadi dinamis. Menjadikannya sinema penting untuk zaman sekarang ini, selain memiliki kekuatan dan karakter yang sama dengan band yang menyertainya serta potret seorang musisi yang sangat jujur terhadap apa yang dicintainya. Membongkar lansekap geografis, musik, dan sepakbola, menjadi arena yang rupanya telah terkontaminasi bagi demokrasi, dan di balik itu malah memperkenalkan kompleksitas yang lebih besar dari pada argumen evolusi dari sekedar praktik hiburan di sebuah arena geografis tertentu.

Film ini membawa jauh melampaui dan menjadikan Monchi sebagai karakter film. Di sisi lain, munculnya kebingungan yang lazim dirasakan terkait masalah sistem tempat kita hidup dalam kapitalisme. Film ini membahas dasar yang relatif aman untuk identitas, yakni fandom sepak bola saat mendukung klub sepak bola adalah proyek seumur hidup yang dimulai pada usia dini dan berakhir dengan kefanatikannya yang menunjukkan bahwa sepakbola adalah jalan kehidupan. Agenda harian dan mingguan fandom ditentukan oleh hubungannya dengan klub sepak bola. Yang terpenting, fandom sepak bola adalah komponen identitas yang signifikan, karena banyak orang dalam politik kehilangan fakta bahwa kejelasan kata memerlukan tindakan yang sesuai yang mengarah pada efek sosial. Melalui sepakbola, minimal semua ini dapat dikerjakan secara signifikan.

Saya ingin mengutip lirik ini dari band lokal Bandung-Indonesia bernama Rentenir (2000) untuk membungkus semua yang terjadi di lapangan gerakan-sepak bola, melalui pesan lirik musik:

Kobarkan semangat kebersamaan | Hentikan semua bentuk kekerasan
Kami sudah muak benci dan marah | Ketika cinta dipur setengah

Frans Ari Prasetyo

Peneliti mandiri | Urbanist

No Comments

Post A Comment